Uang

Ariffani

 

Money is nothing, but everything without money is nothing. Sebenarnya uang hanyalah selembar kertas atau koin dengan sebuah nominal, tetapi karena uang adalah alat tukar. Nilai ‘uang’ menjadi ‘sesuatu yang berharga’. Tidak terbayang jika saja kita masih melakukan barter hingga saat ini.  Pasti ribet sekali.

moneyrootallevil

Karena uang pula kita  ‘dilihat’ orang lain. Uang katanya bisa membeli apa saja. Uang bisa membeli martabat, uang bisa membeli ‘selangkangan’, uang bisa organ tubuh manusia. Uang bisa menjadi inspirasi, inspirasi yang positif dan negatif. Uang bisa membeli bahagia? Katanya bisa, tapi bahagia yang seperti apa ya yang bisa di beli uang? Intinya demi uang, manusia mereakan apa saja. Ou ya, satu lagi uang membuat manusia takut miskin.

Waktu kecil, aku selalu berpikir untuk mencari uang yang banyak kemudian melakukan perjalanan dan tinggal di suatu tempat di pulau terpencil dan menikmati hidup. Tapi hidup nyatanya tidak seperti itu. Demi uang bukan demi Tuhan. Hahahaha…

Satu pertanyaan yang menohok buatku dari seniorku. “Kamu bekerja untuk apa?”,

Aku jawab “untuk mencari uang”

Beliau menyanggahku  “Memangnya kamu pernah nemu duit  saat kamu kerja”

Dahi saya berkerut  “Maksud bapak bagaimana?”

Bukannya menjawab beliau malah bertanya lagi, “Kamu kerja di mana saja?”

“Ya, saya kerja di kantor, apron sama pesawat” jawab saya

“Jadi kamu pernah nemu uang selama kerja di tempat tersebut?”

Reflek saya jawab “iya gak pernah lah, Pak?!”

“Nah, makanya itu, kerja itu bukan untuk mencari duit, toh kamu sudah terima kan setiap bulan?! Kecuali kamu usaha sendiri, saat kamu bekerja dan berusaha, uang itu akan ‘mengikuti’  kamu sendiri, sesuai dengan usaha yang kamu keluarkan”, jelas beliau.

Benar juga apa kata beliau, selama saya kerja selama 3 tahun ini, belum menemukan apa yang saya cari, mungkin kata yang tepat adalah untuk ‘mendapat’ uang. Saya ini orang gajian. Tiap tanggal 26 saya mendapat gaji bukan gajih ya.  Karena gajian, jadi terkadang jika mendapat gaji kurang, sepertinya ada yang salah dan bertanya “kok cuma dapat segini?”, ‘lho tadinya dapat segini kok sekarang dapat segini?’, ‘apa yang kurang ya?’, ‘lho kenapa saya gak dapat extra uang lagi?’. pokoknya banyak pertanyaan.

Dulu saat saya masih di lapangan, gaji yang saya dapat masih dapat ‘extra’ uang, selain gaji pokok dan lembur, karena kerjanya bukan berdasar normal shift, tetapi jam dan hari kerja yang flexible. Kemudian saat saya pindah ke kantor setengah di lapangan, saya tidak mendapat extra lagi. Protes? Tidak, cuma bertanya “kenapa”. Kemudian dijelaskanlah oleh manager saya. Dan saya bisa menerima hal tersebut.  Ya, hanya karena terbiasa mendapat ‘banyak’ dapat sedikit pasti terasa lah.

Dan gara-gara hal ini pula, beberapa minggu terakhir ini, kantor saya selalu didatangi oleh teman kerja lain yang tidak terima karena hal seperti ini. Ada yang datang dan bicara baik-baik, ada yang datang dengan marah-marah bahkan ancam-mengancam terjadi. Kebetulan saya dan manager saya satu ruangan. Dan beliau adalah manager baru di unit saya, beda manager beda kebijakan kan pastinya, jika manager terdahulu karena didorong oleh rasa kasian, maka ia membolehkan anak buahnya untuk sedikit memanipulasi lembur, tetapi manager yang baru ini, tidak mau seperti ini, jika lembur harus jelas dan jika ada pembicaraan seperti ini maka beliau akan membuka peraturan kerja.

Bukannya tidak kasihan atau apa, tetapi apa yang beliau sampaikan ada benarnya juga, uang yang di dapat dari usaha kita untuk keluarga haruslah halal dan toyib. Orang lain bilang terlalu realistis, tidak. Menurut saya, karena apa yang beliau sampaikan benar, percuma uang yang didapat banyak tetapi tidak halal. Selain itu juga kan harus dilihat pula kinerjanya. Jika menilai diri sendiri pastilah akan bilang  “Saya ini loyal sama perusahaan, sampai saya sakit saya rela masuk”, misalnya seperti ini. Tetapi orang lain yang menilai kan?! Dan jika sudah banyak yang berkata jika dia tidak bagus kinerjanya, jadi masih pantaskah dia seperti itu?

Hal-hal seperti ini ujung-ujungnya kembali lagi ke urusan dapur dan sekolah anak. Pernah sampai terjadi perkelahian. Ngeri? Pastilah. Untungnya bisa dilerai dan diademkan. Ada lagi di rumah tangga, jika si suami tidak memberi cukup uang, maka si istri akan marah-marah, ya kalau ini saya melihat kedua orang tua saya, terkadang ibu saya marah kepada ayah, yah hanya karena uang. Wanita itu butuh vitamin ‘D’. Vitamin Duit, hahahaha… saya wanita, bukannya matre, tetapi realistis, memangnya saya mau dikasi makan modal cinta doank. Jelas tidak!! Tapi jangan salah. Saya juga bisa hidup susah kok. Tapi masa iya mau susah terus. Mengutip tulisan di truk-truk ‘ada uang abang sayang’. Hahahahahahaha…. :D

Lain hal lagi, seperti penyakit yang melanda Indonesia tercinta ini. KORUPSI. Korupsi sudah menjadi hal yang lumrah di negara ini. Demi uang, Korupsi dilakukan, sebenarnya saya penasaran sekali dengan orang-orang yang berkorupsi, apa seh yang dipikirkannya saat ia melakukan korupsi, kalau saya jelas tidak bisa korupsi uang, lha saya kerja bukan di bagian keuangan. Hahahaha… mau korupsi juga paling korupsi waktu, karena datang terlambat, tetapi pulang kerja pasti lebih lambat. Untuk membayar keterlambatan yang saya lakukan.

Uang sudah menjadi dewa, bahkan  mendewakan. Ou, mungkin orang yang korup itu medewakan uang kali ya?! Anda yang mengatur uang, bukan uang mengatur anda, jika uang sudah mengatur anda, maka kita akan rela melakukan apa saja. Menukar apa saja, hingga nyawa. Itu kalau anda kerjasama dengan jin dan setan untuk mendapat uang, macam babi ngepet atau memelihara tuyul. Hiii….ngeriii!!!!

Uang,

Karena dirimu manusia serakah

Karena dirimu pula manusia sederhana.

Uang,

Jika aku boleh bertanya,

Bagaimana rasanya menjadi dirimu.

Selalu di elu-elukan,

Selalu di teriakkan,

Uang,

Padahal kau hanya selembar kertas,

Dimana letak kekuatanmu?

Jika terkena air kau basah dan akan menjadi bubur.

Jika  kau di sobek, kau akan tercecer.

Uang,

Padahal kau hanya sekeping koin,

Dimana kekuatanmu?

Jika aku meleburmu ke api, kau akan menjadi cair,

Jika aku memukulmu, kau akan menjadi tak berbentuk lagi.

Uang,

Jika saja kamu hidup,

Aku yakin kamu akan menertawakanku,

Karena Aku menjadi budakmu.

Uang, uang dan uang.

Ah, capek aku denganmu.

Uang.

 

14 Comments to "Uang"

  1. Dewi Aichi  6 January, 2014 at 20:19

    uang..lagi..lagi uang…., aku sependapat dengan komentar-komentar di sini….

  2. Cesar  6 January, 2014 at 20:16

    Maaf ya koreksi dikit ( for your own good ), bukan “root of the evil ” itu pemahaman yg salah dan menyesatkan. “the love of the money ” itu yg root of the evil krn jadi serakah, mendewakan uang dll…

  3. Lani  6 January, 2014 at 11:44

    ARIFFANY : bener banget, hidup dan mati tetep butuh duit

  4. ariffani  6 January, 2014 at 11:13

    @PAK DJASMERAHPUTIH : Terimakasih tautan linknya, sya sudah baca pak, setuju sama artikel di blog bapak.

    @Pak SUMONGGO : waduhh, ngamen di sini , saya tidak punya uang receh pak?!? gimana kalau uang besar saja ?!?! ,, saya suka puisinya .. terimakasih

    @MBAK NONIK : terimakasih atas koreksinya mbak nonik, sebagai penambah artikel saya

    @BU PHIE : sama bu ,, dulu pas kecil saya masih inget nyatut duit ibu saya cuma 25rupiah, tapi ketahuan dn sya dimarahi… heheheheh….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.