Ke Luar Negeri ≠ Nasionalis?

Nonik (Louisa Hartono)

 

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca artikel di Baltyra yang berjudul “Indonesia di Ambang Kehilangan (1): Terbiasa dengan Luar Negeri“. Saya memahami rasa frustrasi yang ada tersirat di dalam tulisan tersebut bahwa sekarang ini kelihatannya semakin banyak orang Indonesia yang memilih untuk hijrah ke luar negeri daripada tinggal dan mengabdi di Indonesia. Namun, saya tidak sependapat bahwa semua orang yang ke luar negeri (LN), entah itu untuk berobat, jalan-jalan, sekolah, atau bahkan sudah menjadi WNA sekalipun, lantas dicap tidak nasionalis. Dalam artikel ini, ada beberapa argumen yang ingin saya kemukakan menanggapi artikel tersebut.

Pertama, beliau mengutip pendapat salah seorang dosennya bahwa “kalau ingin menikmati pemandangan indah saja, di Indonesia juga bisa. Ngapain harus jauh-jauh ke luar negeri?” Well, masalahnya Pak, pemandangan di LN dengan di Indonesia itu berbeda. Sama-sama indah, tapi berbeda keindahannya. Dan keindahan itu tidak bisa dibandingkan. Keagungan Candi Prambanan dan Candi Borobudur, misalnya, berbeda dengan keindahan Pura Besakih atau tanah Lot di Bali dan indahnya resort diving di Raja Ampat, Papua.

Itu masih di Indonesia. Keindahan alam di LN, misalnya di Guilin, China; Candi Angkor Wat di Kamboja, atau pemandangan desa di Swiss, pasti jelas beda dengan Indonesia! Kita tidak bisa menyama(rata)kan keindahan pemandangan desa di dua tempat yang berbeda, apalagi kalau berbeda negara atau benua. Jadi, apa salahnya kalau orang Indonesia pergi jalan-jalan ke LN untuk melihat-lihat dan menikmati suasana berbeda di negara lain? Saya rasa tidak ada salahnya, apalagi langsung diklaim bahwa pergi ke luar negeri berarti tidak nasionalis.

Kedua, pergi ke LN untuk berobat juga terancam dibilang tidak nasionalis. Saya sebenarnya meragukan pendapat beliau yang mengatakan bahwa teknologi pengobatan di Indonesia sudah secanggih teknologi di LN. Oke, katakanlah bahwa kita telah mempunyai teknologi yang sama canggihnya. Tetapi bila masih banyak fenomena dimana rakyat kita masih pergi ke LN, hal itu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang nggak beres di bumi pertiwi ini.

nasionalisme

Apakah itu layanan dokter terhadap pasien, biaya yang tak terjangkau bagi orang miskin, urusan administrasi dan birokrasi yang berbelit-belit, layanan pasca-perawatan, dan lain-lain. Kita tahu bahwa akhir-akhir ini ada demo mogok dokter di Indonesia, karena katanya nasib dokter kurang diperhatikan pemerintah. Dahulu saya menyangka bahwa jadi dokter itu enak dan pasti kaya raya, tetapi setelah bertemu dengan teman-teman dokter dan mendengar cerita-cerita mereka, kemudian membaca berita mengenai jeritan hati para dokter di Indonesia, saya jadi tahu bahwa jadi dokter itu ternyata “sengsara” juga.

Sudah kuliahnya lama (belum kalau spesialis), dapat ijin praktik yang susah, dituduh malpraktik, buka praktik sendiri susah dapat pasien (mau pasang tarif mahal ga enak; kalau pasang murah, anak istri mau makan apa?), kalau kerja di RS pemerintah gaji bulanan juga kecil karena uang juga digunakan untuk biaya obat dan administrasi rumah sakit, dll.

Kok kayaknya ribet banget jadi dokter di sini. Ujung-ujungnya yang kena pasien. Mereka merasa layanan RS di Indonesia tidak nyaman, bahkan kadang mentingin duit dulu, nyawa orang belakangan, sehingga tidak heran bila mereka pada ke negara tetangga untuk berobat. Kenapa? Ya karena layanan di negara tetangga memang sudah terbukti bagus dan terpercaya. Daripada sudah habis ratusan juta rupiah di sini tapi layanannya masih tidak memuaskan atau malah terjadi komplikasi. Jadi, bila gak ingin WNI kabur ke negara tetangga untuk berobat, ya benahilah layanan kesehatan dan kesejahteraan tenaga medis di Indonesia dulu, jangan lantas menuduh orang Indonesia tidak nasionalis.

Ketiga, pergi ke LN dengan alasan untuk menuntut ilmu. Saya adalah orang yang masuk dalam kategori ini dan saya punya alasan yang kuat untuk berkata mengapa LN mempunyai sistim pendidikan yang lebih baik daripada di Indonesia (dalam hal ini LN adalah negara-negara maju). Pertama, sistim pendidikan (SP) di LN mendorong murid-muridnya untuk berpikir kritis sejak dini. Murid-murid didorong untuk berani beropini dan tidak takut berbeda pendapat dengan guru di kelas. Di LN murid-murid tidak dikatakan bodoh bila mereka membuat kesalahan. Sedangkan di Indonesia, tak peduli sudah berapa kali kita ganti sistim kurikulum, guru masih memegang peranan yang dominan di kelas, dan murid-murid kita lebih pemalu, lebih “takut”, untuk mengeluarkan pendapat yang berbeda, karena takut dikatakan bodoh.

Sepertinya budaya takut salah masih mengakar kuat di SP kita. Di LN tidak ada budaya baris-berbaris, senioritas apalagi perploncoan yang menurut saya tidak ada gunanya, apalagi tidak ada pelajaran agama, tapi mereka bisa mendidik dan menghasilkan generasi yang berkualitas. Yang ditekankan di LN adalah proses belajar dan bukan hasil. Tidak masalah bila murid tidak bisa mencapai nilai seratus di kelas, tidak masalah bila dia bukan ranking satu, asalkan dia telah melakukan yang terbaik. Belajar di LN juga memungkinkan seseorang untuk memperluas cakrawala dan memperkaya pengalamannya: bertemu dengan teman-teman baru, bahasa baru, budaya baru, cara belajar yang baru, dan juga pola pikir baru. Jadi saya tidak melihat apa buruknya bila seseorang pergi ke LN untuk belajar apabila ia mampu dan mendapat kesempatan untuk itu.

Tentu tidak berarti bila orang yang belajar di Indonesia sampai tamat belajar, wawasannya menjadi kurang luas dibanding orang  yang sudah pernah tinggal di LN. Dengan kemampuan teknologi yang ada sekarang, orang bisa belajar tentang apa saja, dimana saja, dan kapan saja secara online. Tapi tentu saja keuntungan dengan bisa pergi, belajar, dan hidup di LN secara langsung terasa lebih besar. Dan bukan berarti pula bahwa pemerintah Indonesia tidak melakukan sesuatu untuk meningkatkan kualitas di Indonesia. Oh, saya percaya bahwa pemerintah kita telah berusaha sebaik mungkin untuk itu, agar pendidikan bisa diakses oleh semua orang; jangan sampai orang miskin tidak bisa belajar. Tapi sudah menjadi rahasia umum bahwa kualitas pendidikan kita masih di bawah pendidikan LN. By the way, membicarakan dan membandingkan mengenai studi di Indonesia maupun studi di LN itu bisa memakan tulisan tersendiri, yang tidak akan saya bahas di sini.

Keempat, ketiga faktor di atas mungkin alasan yang wajar bagi orang Indonesia untuk pergi ke LN. Namun, bagaimana bila ke LN sudah menjadi hobi atau candu? Rasanya kalau belum pergi ke LN itu belum afdol, masih ada sesuatu yang kurang. Pendapat saya masih sama: ya nggak apa-apa. Kalau orang yang bersangkutan memang punya uang, ya tidak apa-apa, asalkan itu uangnya sendiri, bukan dari uang negara yang dikorupsi. Apa salahnya dengan orang yang sudah bekerja keras dengan cara halal dan ingin menghadiahi dirinya sendiri dengan jalan-jalan ke LN?

Bukankah seorang pekerja patut mendapat upahnya? Terus kalau pilihan jalan-jalannya bukan ke Indonesia, apakah itu salah? Enggak juga. Lantas apakah kontribusi ekonominya selama ini terhadap Indonesia – entah itu sebagai wiraswasta, pemilik waralaba, direktur perusahaan besar, atau cuma karyawan biasa – tidak dianggap? Toh dengan ke LN, wawasan dan pengalaman orang akan bertambah, seperti yang saya bilang sebelumnya. Pengalaman saya sendiri berbicara, bahwa justru dengan ke luar negerilah, saya menyadari bahwa ternyata saya mencintai Indonesia. Saya mempunyai passsion untuk Indonesia. Malah sebelum saya ke luar negeri, saya benci setengah mati sama Indonesia. Dan hal ini tidak terjadi pada saya saja, tetapi juga banyak saya temui pada kawan-kawan lain setanah air yang saya jumpai ketika saya tengah menempuh studi di Swiss.

Kelima, katakanlah bila orang Indonesia yang ke LN memutuskan untuk menjadi WNA. Itu juga tidak bisa serta merta dikatakan bahwa dirinya tidak nasionalis. Alasan dan kondisi setiap orang berbeda-beda dan tidak bisa dipukul rata. Ada yang menjadi WNA karena dirinya menikah dengan orang asing, ada yang karena mendapat pekerjaan di sana. Di artikel ini saya akan membatasi alasan saya untuk alasan yang kedua.

Orang yang mendapat pekerjaan di LN, atau telah bekerja di LN dalam waktu lama dan kemudian memutuskan untuk menjadi WNA, juga karena faktor-faktor pendukung yang kuat. Pertama, gaji dan kesejahteraan di LN lebih baik daripada di Indonesia karena tenaga manusia di sana lebih dihargai. Bayangkan, untuk memompa ban sepeda di Belanda saja bisa bayar 15 euro alias sekitar Rp 200,000, sedangkan di Indonesia tarifnya paling banter juga cuma Rp. 5,000. Hal ini diakui juga oleh penulis artikel tersebut, yang mengatakan bahwa temannya hanya kerja jadi tenaga part time cuci piring tapi bisa membiayai kuliah anaknya sampai S2. Fenomena jutaan TKW yang kerja jadi pembantu rumah tangga di LN juga sekelebat gunung es yang secara tidak langsung menyatakan, bahwa kerja di LN masih lebih menghasilkan, sekalipun harus disiksa dan nyawa kadang jadi taruhannya.

Faktor pendukung kedua adalah, kadangkala tidak ada lapangan kerja di Indonesia yang mendukung atau sesuai dengan bakat, minat, atau profesi individu yang bersangkutan. Teman saudara saya ada yang belajar food processing and biochemistry technology, saat pulang ke Indonesia dia susah sekali dapat kerjaan yang mendukung background studinya. Kalaupun ada, biasanya terbentur pada masalah birokrasi atau teknologi yang belum memadai. Paling-paling larinya jadi pegawai Bank.

Kalau begitu, apakah mereka lantas dicap sebagai tidak nasionalis? Well, saya tetap tidak sependapat. Okelah, mereka lahir, besar, dan numpang hidup di bumi pertiwi. Mereka telah menyerap banyak sumber daya di negara ini, dan sudah seharusnya jika mereka berkontribusi balik. Masalahnya, kami-kami yang dicap tidak nasionalis ini, sebenarnya juga rindu dan ingin sekali berbuat sesuatu untuk Indonesia, tapi kami tidak suka dengan sistim dan birokrasinya yang korup, perlindungan hukum yang tidak jelas, dan infrastruktur yang tidak memadai.

Pendapat penulis artikel tersebut yang mengatakan bahwa untuk memajukan negara ini tidak harus melalui negara dan negara ini tidak perlu ikut campur, menurut saya hampir mustahil untuk dilakukan, dan, maaf, itu tidak masuk akal. Negara harus dan perlu terlibat. Apalah yang bisa dilakukan warga negara (baca: individu) untuk memberikan sumbangsihnya bagi negara tanpa adanya perlindungan atau setidaknya bantuan dari negara itu sendiri?

Benar bahwa setiap individu harus berperan aktif, tetapi negara – melalui institusi dan aparatnya – juga sangat diperlukan. Misalnya, dalam memberikan perlindungan hukum yang jelas, kepastian bahwa aparatnya berfungsi dengan baik, atau insentif-insentif lain untuk kembali ke Indonesia. Dalam hal ini, saya melihat bahwa usaha pemerintah Indonesia telah cukup banyak, misalnya usaha untuk meningkatkan kewirausahaan dan ekonomi kreatif. Hal itu patut terus ditingkatkan dan dipertahankan.

Namun sebaliknya, apabila itu tidak terjadi, maka ya maaf maaf saja, akan ada banyak orang Indonesia yang tetap memilih tinggal bahkan mengalihkan loyalitasnya bagi negara lain. Malah terkadang kami merasa bahwa kami lebih bisa berkontribusi terhadap Indonesia dengan tinggal di negara lain daripada tinggal di Indonesia sendiri! Kami bisa mempromosikan Indonesia: bahasanya, masakannya, budayanya, dengan bisnis yang mempromosikan unsur Indonesia karena iklim bisnis yang baik dan jelas. Lagi-lagi, apakah kami patut dicap bahwa kami tidak lagi nasionalis?

Dalam hal ini, saya berpendapat bahwa setidaknya ada satu hal yang bisa pemerintah Indonesia lakukan, yaitu dengan serius mempertimbangkan opsi dwi kewarganegaraan. Benar diakui bahwa Indonesia telah kehilangan banyak putra-putrinya yang cerdas (brain drain), tapi hal ini bisa diatasi dengan pemberian/pengakuan dwi kewarganegaraan. Saya memiliki banyak teman-teman dengan lebih dari satu kewarganegaraan, dan saya tidak melihat apa jeleknya dengan itu. Sesungguhnya banyak orang Indonesia yang cerdas dan sukses di LN dan masih cinta Indonesia. Sayangnya, ketika mereka dihadapkan pada opsi untuk tetap menjadi WNI atau beralih menjadi WNA karena adanya pekerjaan yang mapan, mereka dengan berat hati terpaksa harus melepaskan statusnya sebagai WNI. Dan yang rugi adalah Indonesia sendiri karena salah satu anak bangsanya diambil negara lain.

Akhir kata, tidak benar bila dikatakan bahwa orang yang ke luar negeri berarti tidak nasionalis, atau Indonesia ada di ambang kehilangannya gara-gara banyak warga negaranya yang ke LN. Indonesia baru berada di ambang kehilangannya jika negara tidak melakukan sesuatu yang nyata dan berarti untuk membuat rakyatnya betah tinggal di sini.

 

About Louisa Hartono

Nonik – cewek kelahiran Semarang dan besar di Purworejo. Setelah menamatkan studi masternya di Swiss, dia kembali ke Indonesia. Saat ini bekerja sebagai CSR Field Coordinator & Donor Liaison Officer di salah satu perusahaan ternama di Surabaya. Hobinya masih sama: jalan-jalan, membaca, dan belajar bahasa asing. Walaupun tulisannya banyak mengkritik Indonesia, tapi mimpi dan hatinya tetap bagi Indonesia. Suatu saat ingin bisa kerja di UNESCO sambil membawa nama Indonesia di kancah internasional, lalu pulang dan bikin perpustakaan dan learning center di Purworejo, kampung halamannya.

My Facebook Arsip Artikel

39 Comments to "Ke Luar Negeri ≠ Nasionalis?"

  1. Edy  16 January, 2014 at 13:13

    hallo mbak Alvina, apa kabarnya?
    Denger cerita temannya jadi mengingatkan saya di tengah lautan kidul sana, tapi saya mancing lho, jadi tetep enjoys saja, nggak dikejar2 hrs naik pesawat.

  2. nia  8 January, 2014 at 09:13

    Nonik, mbak Alvina, mbak Tammy… pengamatan saya ngobrol-ngobrol dengan traveller dari Negara maju mereka lebih suka Indonesia dari pada (contoh) Singapore karena mereka cari sesuatu yang lain yang gak didapat di negaranya. macet, semrawut, komunikasi pakai bahasa Tarzan, tempat makan gak bersih, jadwal transportasi gak jelas dsb dsb itu hal yang bikin petualangan lebih seru.
    sekali lagi itu berlaku untuk traveller (backpacker) bukan sekedar turis yang maunya liburan diisi dengan mengunjungi tempat-tempat indah, gampang dicapai, tinggal di tempat nyaman, makan di tempat bersih dsb dsb. kalau ngobrol dengan yang model begini ya adanya complain dan keluhan.
    TAPI… keduanya sebagian besar mau kembali lagi mengunjungi Indonesia karena masyarakat Indonesia ramah, toleran, suka menolong.
    nah kalau yang dari Negara miskin yang 11-12 sama Indonesia lain lagi ceritanya

  3. Tammy  8 January, 2014 at 07:52

    Nonik: tempat2 eksotik ini bisa rame nantinya, tp nunggu kalo para bule itu menyebarkan keindahannya ke dunia. Jg nunggu pebisnis dan pengembang bule yg tau potensi tempat2 ini. Sama kayak bali dulu ceritanya. Begicuuuu….

  4. Nonik  7 January, 2014 at 19:56

    Alvina: wah, makasih banget sharingnya. Seru n menantang banget ya pengalaman temenmu itu, pasti jadi pengalaman tak terlupakan!!

    Dan memang benar kata Mbak Tammy, banyak tempat2 eksotis di Indonesia yang baguuus sekali, tapi susah dijangkau dan hanya cocok buat mereka yang petualang sejati. Dan sejauh ini yang aku rasain sih, lebih banyak orang bule yang punya jiwa petualang daripada orang Indonesia. Bayangin aku lebih banyak teman2 bule yang sudah pernah ke Raja Ampat daripada orang Indonesia…. Makanya kadang aku suka heran, kenapa yah banyak bule yang sudah pernah ke tempat2 di Indonesia?? Lha gue, boro-boro… di Indonesia ga pernah keluar dari Pulau Jawa, paling banter cuma ke Bali itupun baru 2x hahaha.

    Mlompat dikit, mungkin salah 1 faktor kenapa banyak bule yang cinta sama Indonesia itu karena mereka menjelajah lebih luas daripada kita, jadi mereka sudah pernah liat tempat2 cantik yang pasti beda sekali kondisinya dengan Jakarta & Pulau Jawa. Sedangkan kita ya lebih prefer dolan ke LN, karena kemudahan fasilitas, terutama transportasi & infrastruktur. Jalanan mulus diaspal semua, ga kaya jalanan daerah2 terpencil yang masih lumpuran….

    Dear Menteri PU, cepatlah diperbaiki jalan2 itu… T___T Seperti kata Pak Anies Baswedan, kalau jalanan & infrastruktur baik, dampak positifnya itu akan sangat luas. Kualitas hidup para petani & peternak di desa akan meningkat 2x lipat (atau lebih) karena hasil produksi mereka akan sampai UTUH di kota semuanya dengan selamat….. Turis2 (baik domestik maupun internasional) juga bakal lebih betah & nyaman buat jalan2….

  5. tammy  7 January, 2014 at 08:35

    AL: memang begitu deh. banyak tempat yg katanya indah di indo yg susah dijangkau, jadinya muahal!! hanya utk orang2 yg berjiwa petualang dan punya budget lebih. sama sekali bukan utk family holiday, apalagi kalo bawa anak kecil.

    kami sendiri kalo liburan selalu milih tempat yg bisa dicapai pakai direct flight, ato max transit sekali saja. kalo masih harus naik bus berjam-jam, apalagi naik boat, gak bakal kami lirik.

  6. Lani  7 January, 2014 at 06:23

    AL : baca cerita temanmu……..bener2 berpacu dgn mauuuuuuuuut! rontok dah jantungku……….

  7. Alvina VB  7 January, 2014 at 05:36

    Nonikkkk….ini salah satu contohnya kenapa banyak org lebih milih pergi ke LN buat liburan dari pada berlibur di pulau eksotik di tanah air, berikut ini cerita dari temen yg baru ke Wakatobi thn lalu, selamat menikmati:
    Pokoke pergi yg ke wakatobi kmaren itu pjalanan yg plg menyeramkan slama gw bepetualang kmane2… heheheheh…… Sebenernye yg seremnye bkn pas nyelem di lauttt… itu mah plg seru bgt tp pjalanan naek kapal kayu pas pulang dari Wakatobi

    Gw kan nek pesawat dr Jkt – Makasar, utk ke Wakatobi gada pesawat yg jadwal sesuai, jd gw ambil pesawat yg transit ke pulau Buton dulu, perjalanan ke pulau Buton seh cuma 1 jem, cuma dr pulau Buton ke pulau Wakatobinya kudu naek kapal cepet/ express (via laut) selama 4 jem

    Rencana kan PP naik kapal cepet itu. Nah waktu perginya naek kapal cepet gak ada masalah, perginye jg siang jem 12an, nyampe jem 4an sore dijemput ama org resort-nya.
    Gue inep di patuno resort wakatobi namanye, resortnye bagus & bersih, pokoke slama disana enak & nyaman, tidur, makan, diving asik dah…

    Nah yg bikin shock waktu org resortnye bilang kolo kapal cepet yg anter kite plg ke pulau butonnye gak berlayar besok jadwal kita mao plg. alesannye gak jelas tp biasanye krn ombak tinggi… bahhhh…… terpaksa kite plg lebih awal yaitu malemnye naek kapal kayu, soale kolo gak kejar kapal mlm nanti kita gak kekejer pesawat balik ke Makasar.

    Tau gak naek kapal kayu tuh 10 jemmmm…… masaolohhhhh dahhhh……Udeh tuh kapal berangkat malem jem 9 trus nyampe di pulau buton jem 7 pagi, udeh gitu namanye tu kapal spesialis berangkat malem jd di kapal kayu tuh kagak ade nyang namanye tmp duduk, jd tuh kapal isinye kek barak2 kayu isi matras tipis bahan kulit dijejer2in kek ikan asinnn buat org tidur/ rebahan

    Untunggg ajeee (biar ude apes msh untung ye kate org indonesa… heheheh), untung ada kamar2 yg isi 2 tmp tidur susun, trus tau gak ruangannye?? ukuran 2 x 1,7 mtr kaleeee saking kecilnyeeeee… bahhh…… Gw kan ber-4 ama tmn2 gw (malah cewek smua) untung dianterin masuk kapal ama org resortnye, jd ada cowok yg anterin at least sampe kita dpt kamar. udeh kamarnye bauuuu apekkkk pula bahhhh……

    Tdnye tmn gw mau pesen 2 kamar kan, tp gw blg mening kita 1 kamar, biarin kek ikan asin tp 1 room, soale gw seremm bgt tuh ama org kapal yg urus sewa kamar udeh mukenye serem2, tmn gw blg die nyium bau alkohol geto pas die ngomong, masyaolloh dahhhhh…. Loe bayangin kita ber-4 di kamar ukuran 2 x 1,7 mtr lebih gede toilet rmh kita kaleeee

    Kanggwan dehhh drpd kita pisah2 kamar, bknnye ape2 jg, udeh kamar gada koncinye lagiii… & gak bs ditutup rapet kolo angin/ ombak kenceng itu pintu bs kebuka ndiriii bahhh….. tmn gw yg tidur di bwh aje bs nutup itu pintu pake kaki saking kecilnye tu kamarr…

    Gw mah lgs nenggak obat antimo dah 2 skaligus, drpd eneq ye & bs lgs tidur, tdnye gw mah tenang2 aje tidur, soale tmn2 gw blg bakalan kagak bs tidur soale gak nyaman, kalo gw pan cuek aje yg ptg bs selonjoran kaki.
    Ternyata benerrrr… sepanjang perjalanan udeh ujannnn…. ombak tinggi… udeh kayak diayak dahhh blom lagi suara mesin namanye kapal kayu bahhh….. bayangin slama 10 jemmmm…..

    Gw kan mendusin jem 3 pagi (krn udeh gak mempan obat antimonye kali jd kebangun hehehh… ) jd gw bangun maksud mao nenggak tuh antimo lg, bener aje ye, gw duduk mao ambil minum ama antimo aje udeh kek mao dilempar2 tu gara2 ombak gede bner goyang kanan kiri, untung aje tmn gw yg tidur di pinggir kaga mentallll dieee hhehhehe…. (gw pinteran ambil posisi dalem hehehhe,,,)

    Gw br brasa bener tuhhh tipisnye idup ama mati yeee… lha kapal kayu getooo…. kalu mesin mati ape kebalik krn ombak gede sape yg bs nyangka….. mane ada tuh catet nama/ manifes apalagi asuransi sebelom naek kapal, org udeh serasa manusia perahu gw ama tmn2 gw

    Gw aje yg kebangun cm sekali udeh shock getoh, ada tmn gw sama skali kaga bs tidur die crita, udeh tiap jem kbangun liat jem, jagain takut pintu kebuka, mesin berisik, blom lg denger org2 pd muntah di luar, bhuekkkkkkk… uwekkkk …. begonohhhh…. bahhhhh

    Pokoke akhirnye jem 7 pagi nyampe jg dah yeee….. halleluyahhh…alhamduileeeeee heheheh
    Gw turun tuh kapal kayu bak pahlawan perang rasanye… ehhehehehh kae menang m’lawan mauttttt hehheheheh, judul cerita: KAPOK….mending ke Macao/ P. di Vietnam/ Thailand yg gak gandein nyawa gw nyang cuman atu….

  8. phie  6 January, 2014 at 03:09

    ya itulah makanya hahaha…apalagi ngomongin kelakuan pejabat yg begitulaaaahhh…ya semoga saja akan ada perbaikan yg lebih berarti supaya tidak semakin mundur, miris melihatnya! semua hrs dimulai dgn hal kecil memang dan butuh proses yg lama bukan artinya tidak mustahil kan?!

  9. Nonik  6 January, 2014 at 02:49

    @phie: hahahaha. bener. Seperti kontroversi yang terjadi baru2 ini, apa manfaatnya sih buat nyantumin agama di kolom KTP kita? Pemeluk agama minoritas merasa itu hanya sebagai bentuk diskriminasi…. Lha wong negara2 barat atau sekuler yang tidak terlalu peduli soal urusan agama saja, nyatanya bisa maju. Tapi kenapa Indonesia yang katanya berketuhanan, masih tertinggal jauh di belakang? Yang lebih menyedihkan lagi, kelakuan para pejabat sekarang itu seperti nggak bertuhan saja

    Jujur, saya tertawa ketika membaca alasan yang menyebutkan kenapa agama penting dimasukkan di kolom KTP. Katanya biar kalau orang ybs meninggal, kita bisa tahu dengan cara agama apa mereka hendak dikuburkan. Menurut saya this is a shallow reason sih, karena:

    1. Orang ybs sudah mati, lha mana dia peduli mau dikubur dengan cara gimana?
    2. Kan bisa ditanya dengan keluarganya. Kalo keluarga saya dan Sasayu sih, mungkin milih dibakar saja dan bukan dikubur hahahaha.
    3. Negara2 Barat yang tidak mencantumkan kolom agama/kepercayaan di KTPnya, tidak pernah ribut2 atau terjadi kasus hendak dikubur dengan cara bagaimana kalau orang ybs meninggal,
    4. Kalau amit2 terjadi bencana atau kecelakaan dimana kartu identitas orang ybs juga ikut hancur (mis: tersapu banjir, ikut terbakar, dll yang penting musnah), ga ada gunanya juga toh mencantumkan kolom agama? hehehe.

    Just my two cents

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.