Menawar Ulangan

Anik – Kediri

 

Pelajaran seminggu yang lalu Pak Agus menyampaikan akan ada ulangan harian pada pertemuan selanjutnya. Sehingga seisi kelas Dina sibuk untuk mempersiapkan ulangan. Dari foto copy sampai mencatat materi semua dilakukan untuk belajar.

Langkah kaki pria itu ditakuti oleh seisi kelas Dina. Ada yang berdoa semoga tidak jadi ulangan. Guru Bahasa Indonesia kelas Dina memang jarang memberi tugas. Beliau hanya sering menerangkan materi melalui power point. Cara mengajarnya yang sangat santai membuat anak-anak menggampangkan beliau. Padahal kebanyakan  dari mereka sulit memahami Bahasa Indonesia. Mereka kewalahan belajar untuk ulangan ini, materi segitu banyaknya dikebut hanya satu malam. Beberapa menit setelah bel pergantian jam pelajaran, Pak Agus sudah menginjakkan kakinya di kelas Dina. Semua seisi kelas berkeringat dingin.

ulangan-nyontek

“Kita lanjutkan materinya” Seisi kelas kaget.

“Pak.. tidak jadi ulangan?” Tanya Dion dengan bingung.

“Siapa bilang ulangan?” Pak Agus balik bertanya.

“Ris.. Pak Agus kan orangnya disiplin walaupun orangnya santai dalam mengajar tapi beliau tidak mungkin membebaskan kita dari ulangan begitu saja” Dina berbisik pada Risma.

“Iya juga ya Din, selama ini kan kita tidak pernah ulangan. Darimana pak Agus mendapat nilai kita?” Rupanya Risma mempunyai perasaan yang sama dengan Dina. Sedangkan Anak-anak lain terlihat sumringah karena tidak jadi ulangan.

Pak Agus menjelaskan materi seperti biasanya, tidak ada yang berbeda. Satu-persatu slide power point diterangkan dengan serius. Setelah materi terakhir selesai diterangkan oleh pak Agus, beliau meminta semua anak menutup bukunya dan mengeluarkan selembar kertas. Semua tersentak kaget karena ternyata ulangan tetap diadakan.

“Pak, katanya nggak jadi ulangan” Tanya Dion lagi. Memang hanya dia yang berani dengan pak Agus. Semua isi kelas mengkerut kalau sudah di hadapan beliau. Bagaimana tidak? Pak Agus bukanlah orang yang bisa dikalahkan dengan ucapan. Beliau pasti bisa membantah apa saja yang dikatakan muridnya yang memang tidak berkenan dihatinya.

“Mau dapat nilai nggak?” Jawab beliau.

“Pak.. ulangannya buka buku saja bagaimana?” Nina memberanikan diri membuka mulutnya.

“Kalian mau ulangan dengan buka buku?” Tanya Pak Agus ingin memastikan.

Sebagian menjawab iya dan sebagian tidak. Anak-anak yang menjawab tidak justru ditentang banyak pihak. Anak-anak yang menjawab iya adalah anak-anak yang tidak siap ulangan wajar saja kalau mereka ingin ada kemudahan dalam ulangannya.

“Baik kalau begitu, silahkan kalian buka buku” Ucap Pak Agus yang terlihat serius.

“Ris.. mana mungkin sih Pak Agus memberikan kemudahan seperti itu kepada kita kalau tidak ada sesuatu di belakangnya” Ucap Dina yang terlihat ragu. Dia ingin mengatakan kepada Pak Agus kalau dia tidak ingin membuka buku. Sebenarnya dia juga tidak cukup menguasai materi. Dia merasa ada sebuah kejanggalan dengan sikap Pak Agus. Tidak mungkin Pak Agus orang yang selama ini terkenal mahal nilai segitu gampangnya memberikan ijin untuk membuka buku. Namun apa daya, hampir semua anak menyetujuinya.

“Aku nggak tahu Din, nurut aja sama anak-anak. Voting memutuskan kita membuka buku” jawab Risma pasrah.

“Sekarang ulangan dimulai”  Ucap Pak Agus.

Terlihat semua anak serius membaca soal tayangan slide di layar depan. Semua anak sibuk mencari-cari jawaban di buku. Belum sempat mereka menemukan jawabannya slide sudah berpindah ke slide selanjutnya. “Loh pak” Ucap salah satu anak dengan kaget. Semua gelagapan. Yang ada bukan konsentrasi tapi malah kebingungan dengan situasi ini. Pak Agus hanya terdiam melihat siswanya yang salah tingkah. Ada yang hanya membolak-balikkan buku hingga pada soal terakhir jawabannya kosong semua. Semua kecewa dengan keadaan ini. ada sebagian dari mereka yang menjawab iya menyesali keputusannya.

“Selesai, silahkan dikumpulkan” Pinta Pak Agus setelah slide terakhir selesai. Anak-anak masih sibuk dengan jawabannya. Melirik ke kanan dan ke kiri menengok-nengok jawaban temannya. Dina terlihat pasrah dengan nilai yang didapatnya nanti. Dia sudah tahu kalau nilainya pasti dibawah KKM. Ingin menyalahkan teman-temannya rasanya juga tak mungkin, menyalahkan pak Agus juga tak pantas. Dia memutuskan mengumpulkan lembar jawabannya dengan jawaban yang penuh keraguan.

“Saya hitung sampai 10 kalau tidak dikumpulkan tidak saya terima” Bentak Pak Agus. Semua anak tersentak mendengar ucapan itu dan langsung berlari terbirit-birit mengumpulkan jawabannya. Entah kosong atau terisi yang terpenting adalah dikumpulkan.

“Jangan salahkan saya jika saya seperti ini, ini sudah keputusan kalian. Jika kalian memilih tidak membuka buku pasti saya akan memberi waktu soal dengan cukup” Beliau melangkah keluar kelas tanpa ucapan salam seperti biasanya.

Ada raut penyesalan di wajah mereka. Namun apa daya semua telah terjadi, menyalahkan teman juga tidak akan membuat nilai mereka menjadi bagus. Mereka terdiam. Merenungi sebuah pelajaran berharga dari guru yang selama ini diremehkannya.

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

9 Comments to "Menawar Ulangan"

  1. ariffani  6 January, 2014 at 11:41

    selama ini di negara ini, pendidikan masih berkutat soal ‘nilai’, juara 1 di kelas karena nilai bagus katanya pun sudah pandai, tetapi begitu di ajak diskusi dan membuat suatu proyek dn presentasi, cuma bisa diam,

    setiap manusia memiliki keunikan dn kepandaian masing2, ada yg memang pandai di pelajaran eksak, tetapi non eksak tidak, ataupun sebaliknya,

    ada yang bilang “tak peduli caranya, yg penting bisa lulus” akhirnya ya segala cara di pakai, termasuk nyontek, apalagi jika ada passing gradenya.

  2. phie  6 January, 2014 at 03:02

    sistem pendidikan seperti ini yg harusnya diperbaiki, ini bikin pendidikan di Indonesia menjadi kurang bermutu. selalu seakan2 guru adalah MAHA segalanya dan perlu ditakuti, nilai keberhasilan hanya ditentukan dari ulangan. tidak ada diskusi, sharing, atau komunikasi yg baik antara guru dan murid. tetap guru harus punya wibawa itu saya setuju, tp di lain sisi hrs menjadi teman belajar murid jg bisa diandalkan dan dipercaya.

    sekedar berbagi cerita ya mba Anik: sistem kuliah di US yg saya alami byk sekali kemudahan mendapat nilai melalui diskusi, project, paper atau hanya isi survey pun dpt extra credit sehingga ujian akhir bukan jd momok yg menakutkan menentukan lulus atau tidak. dgn nilai yg sudah terkumpul selama 1 semester jd bisa bikin prediksi sejauh ini sudah brp persen kemungkinan lulus dan hanya perlu nilai minimal brp di ujian akhir supaya tetap dpt C, B atau A. selama proses belajar-mengajar pun dosen dgn senang hati menjawab pertanyaan yg seputar mata kuliah ataupun ‘in real life experience’ yg bisa jd bahan renungan semuanya. di luar kelas pun bisa saja appoinment dgn dosen atau tanya jawab melalui email. jadi tidak ada rasanya berangkat kuliah dgn perasaan cemas dan takut smp keluar keringat dingin jd bikin pelajaran ga ada yg nyangkut di otak, percuma bayar sekolah/kuliah itu sih buang2 duit namanya! seperti yg Nonik bilang di artikelnya bahwa yg penting adalah PROSES-nya, bagaimana kita mengerti dan memahami materi krn kalau itu terjadi sudah pasti hasil akhirnya lbh memuaskan.

    kalau guru Bahasa Indonesia macam Pak Agus di atas ya ga heran kualitas berbahasa Indonesia yg baik dan benar pada generasi sekarang semakin memprihatinkan dan memalukan…hehehehe…

  3. J C  5 January, 2014 at 13:44

    Guru seperti pak Agus diperlukan lebih banyak lagi di negeri ini…

  4. anik  4 January, 2014 at 09:31

    triyudani dan chandra : namanya murid gurunya kayak gimana oun tetep diturutin, kalo nggak gitu niai yang jadi ancaman.
    djasmerah: bisa dibilang seperti itu

  5. James  4 January, 2014 at 05:01

    gambarnya lagi Nyontek

  6. [email protected]  3 January, 2014 at 20:21

    menurutku guru yang memberikan soal dan tidak ada satupun muridnya yang bisa menjawab berarti guru itu sudah gagal mengajar.

  7. Chandra Sasadara  3 January, 2014 at 15:34

    Guru yg aneh.. klo aku pasti memilih kaburrr.. biar aja ga dapat nilai. dah biasa ga naik kelas..hehehehe

  8. Lani  3 January, 2014 at 10:49

    Kang Djas ngintil utk yg kedua kalinya…….hehehe

  9. djasMerahputih  3 January, 2014 at 10:47

    Satoe: Nawar kayak belanja di pasar tradisional aja…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.