Perjalanan Terakhir (8)

Wesiati Setyaningsih

 

“Andai kamu masih hidup, mungkin tidak kamu pacaran sama Lala?” pertanyaan Yang Kung mengagetkanku.

Dalam hidup ini banyak sekali yang tidak berani kita ungkapkan hingga tiba-tiba tersadar semuanya sudah terlambat. Lala tidak berani mengungkapkan isi hatinya padaku, tiba-tiba aku sudah pergi selamanya. Aku sendiri, tidak berani mengungkapkan isi hatiku pada seorang gadis hingga tiba-tiba aku tahu dia sudah jadi pacar lelaki lain.

“Belum tentu juga, Yang,” kataku.

“Dia baik. Dan yang jelas dia suka sama aku. Tapi aku sudah terlanjur suka sama cewek lain. Sepertinya aku juga belum sepenuhnya melupakan dia.”

“Oh ya?”

Aku mengangguk.

“Namanya Monika. Teman-teman memanggilnya Momon, tapi aku lebih suka memanggilnya Monik. Kedengarannya lebih imut daripada Momon.”

“Jadi kamu jatuh cinta sama Momon?”

“Monik, “ aku meralat.

“Iya, Monik. Kamu cinta sama dia?”

Aku mengangkat bahu.

“Aku kan masing ingusan Yang Kung. Aku nggak tau ini cinta apa cuma sekedar rasa simpati.”

Yang Kung mengangguk maklum.

“Aku melihat dia pertama kali waktu masa orientasi. Rambutnya dikuncir empat dan masing-masing dipita. Untuk anak semungil dia, kuncir-kuncir itu tampak sesuai. Dia jadi kaya anak SD, “ aku terkekeh.

“Kamu suka dia karena dia lucu?”

Aku menggeleng.

“Enggak lah. Bukan karena itu saja.”

Aku menerawang. Terbayang saat kami semua di halaman sekolah, masing-masing menyandang ransel yang harus kami buat sendiri dari karung goni. Awalnya aku tertarik melihat wajahnya yang lucu. Mukanya kecil, tapi kaca matanya berbingkai lebar berwarna hitam. Matanya jadi seperti mata Mini tikus di kartun-kartun. Ditambah kuncirnya yang berpita banyak itu, dia benar-benar lucu.

review

Setelah geli melihat wajahnya, mataku mulai mengamati bagian dari dirinya yang lain. Aku lihat tasnya. Sebagai sesama korban masa orientasi dan mendapat tugas yang sama, membuat tas dari karung goni, aku ingin tahu bagaimana kepunyaan dia. Aku melirik ke tas ransel karung goni yang disandangnya.

Aku terkejut karena tas milik dia bagus sekali. Karena memang tidak boleh menggunakan tali tapi harus menggunakan rafia, kami semua menggunakan rafia. Tapi tidak banyak yang cerdik seperti dia, memilin rafia hingga seperti tali baru digunakan sebagai tali tas. Belum lagi karung goninya, dijahit rapi sehingga benar-benar seperti tas ransel betulan.

Sedang asyik mengamati dia, tiba-tiba matanya mengarah padaku. Aku terkejut dan malu karena ketahuan sedang mengamati dia. Untung segera ada pengumuman bahwa kami semua diminta berbaris sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan. Sedikit lega karena terlepas dari tatapan mata gadis kecil yang lucu itu, ternyata aku satu kelompok dengan dia. Jadi setelah upacara pembukaan di lapangan, kami masuk kelas yang sama.

“Hidup memang sepertinya penuh dengan kebetulan-kebetulan ya?” komentar Yang Kung memotong ceritaku.

Aku tertawa.

“Padahal sebenarnya tidak ada yang kebetulan,” tambahnya.

Tawaku mereda.

“Tidak ada?”

Yang Kung menggeleng.

“Kok bisa?”

“Dari mula kamu sudah mengamati dia. Kamu sudah tertarik pada dia. Rasa tertarik itulah yang membuat dia menoleh padamu. Ada sebuah energi yang keluar dari dirimu, menyorot padanya, dan dia merasakannya. Begitu prosesnya.”

“Itu juga yang membuat aku satu kelompok sama dia?”

“Bisa jadi. Mungkin juga kelompok itu memang sudah dari beberapa hari sebelumnya ditentukan, jadi memang sudah ada desain besar yang diatur oleh SEBUAH KEKUATAN.”

“Nah, di kelas itu ada kejadian lagi.”

“Apa? Kamu duduk bersebelahan sama dia?”

“Ah, Yang Kung sudah tau,” aku pura-pura kesal.

“Iya,” lanjutku, “jadi ceritanya, waktu aku masuk ke ruang kelas, anak-anak berebutan masuk. Aku paling malas berebutan begitu. Jadi aku tunggu sampai longgar. Ketika sebagian besar anak sudah masuk, ternyata Monik juga belum masuk. Aku dan Monik masuk kelas hampir berbarengan. Ketika kami masuk, yang ada tinggal bangku di depan, tepat dua bangku bersebelahan.”

“Lucu ya? Gimana perasaanmu waktu itu?”

“Kaget, senang, campur malu. Teman-teman tersenyum-senyum melihat aku bakal duduk berdua sama Monik.”

“Tapi kalian duduk di situ juga?”

“Iya, lah. Gimana lagi? Enggak ada tempat lain, kok. Ya sudah. Meski agak malu, aku duduk saja di situ. Ternyata si Monik ini santai saja. Bukan anak pemalu dia. Dengan santai dia duduk seolah tidak ada yang aneh duduk berdampingan laki-laki dan perempuan.”

“Memangnya kenapa kalau duduk laki-laki dan perempuan?”

“Enggak tau, sejak SD kalo deketan begitu dibilang pacaran. Dan itu memalukan.”

“Lucu ya?”

“Iya, sih. Sebenarnya kenapa juga kalo duduk sebelahan laki-perempuan gitu? Enggak ada masalah. Cuma kan memang ada pandangan bahwa kaya gitu itu tidak baik. Ada lho sekolah-sekolah yang memisahkan kelas untuk anak lelaki dan perempuan.”

“Ya, itu kan paham mereka. Padahal laki dan perempuan diciptakan memang untuk saling mengenal dan bekerja sama. Kedekatan kedua jenis ini belum tentu negatif kok. Kalaupun terjadi percintaan atau persebutuhan, itu kan tidak negatif.”

“Astaga, Yang Kung ini bicara persetubuhan. Itu nggak baik.”

“Lah, tanpa itu kamu nggak bakal ada, gimana sih?”

“Ya, tapi aku kan masih kecil.”

“Kecil apanya?”

“Umurnya.”

“Umur apa? Umur badan fisik kamu kan? Sekarang badan kamu sudah nggak ada.”

Aku terbeliak, lantas tertawa menyadari  sepenuhnya apa yang terjadi.

“Kamu sendiri yang merasa belum dewasa, Rob. Padahal sejak bayi pun jiwamu bisa jadi sudah matang. Dewasa dan tidak itu bukan masalah umur kok. Umur itu kan ukuran berapa lama tinggal di dunia. Tapi jiwa, sudah melalui banyak perjalanan dan tidak ada hubungannya dengan berapa lama dia tinggal dalam satu kehidupan. Bisa saja jiwa orang yang baru saja tinggal di kehidupan yang sekarang sudah melalui lebih banyak kehidupan daripada jiwa orang yang lebih lama tinggal di situ.”

“Maksudnya? Aku enggak paham.”

“Ada kan, orang tua tapi pola pikirnya masih belum dewasa. Masih kaya anak kecil. Emosional, mikirin diri sendiri melulu. Itu kelakuan bayi, karena bayi memang belum bisa apa-apa, jadi dia masih mikir diri sendiri sampai dia bisa berdiri sendiri.”

“Iya, ada juga yang masih muda tapi lebih dewasa dari yang sudah tua ya? Tidak emosional dan selalu memikirkan kepentingan orang banyak.”

“Itulah. Lantas kenapa coba?”

“Nah. Pertanyaannya kan itu. Kalau umur jiwa itu sama dengan umur tubuh fisik, mestinya semua orang tua itu berpikir jauh lebih dewasa dari yang muda. Toh nyatanya enggak seperti itu. “

“Jadi, kenapa begitu?”

“Karena jiwa itu sudah menjalani banyak kehidupan sebelumnya. Bukan saat ini saja. Makin banyak kehidupan yang sudah dia lalui, harusnya makin mudah dia memahami kehidupan. Dan makin mudah dia memahami kehidupan, mestinya dia makin dewasa cara berpikirnya.”

“Yang Kung percaya reinkarnasi?”

“Tubuh memang ibarat mesin yang rusak total dan tidak bisa digunakan lagi ketika kita mati. Tapi jiwa, tidak pernah mati. Ini buktinya kita ada di sini.”

Aku termenung.

“Kok jadi ngomongin ini ya? Kan tadi baru ngomongin si Monik,” gumamku.

Yang Kung tertawa.

“Biasa lah. Kita kan juga sering bicara ngalor ngidul waktu hidup. Ya beginilah. Banyak hal yang belum sempat kita obrolkan waktu kita sama-sama di dunia, kan Rob?”

Aku tersenyum lebar, “iya. Dan aku senang juga berbincang tentang itu semua dengan Yang Kung. Tapi aku ingin melanjutkan cerita tentang Monik lagi.”

“Baik. Ceritakan. Sepertinya ini juga harus selesai sebelum waktunya kamu pergi nanti. Biar tidak ada ganjalan lagi.”

“Maksudnya? Apa yang harus aku selesaikan? Enggak ada apa-apa antara aku dan dia kok.”

“Ceritakan saja. Nanti baru kita akan tahu.”

“Nah, akhirnya aku duduk bersebelahan sama Monik. Begitu duduk, dia langsung ngajak salaman. Namaku  Monik, katanya. Aku heran ada anak perempuan seberani ini.”

“Aku salut sama anak seperti itu. Anak yang tidak punya rasa takut dan rasa malu tanpa alasan. Kebanyakan kalian itu suka takut dan malu tanpa alasan.”

“Benar. Aku sering seperti itu,” aku mengaku.

“Terus gimana ceritanya?”

“Akhirnya waktu masa orientasi itu aku selalu duduk bersebelahan dengan dia. Begitu masuk di kelas setelah apel pagi, kami masuk kelas. Entah kenapa masing-masing kembali ke tempat duduk yang pertama kali kami duduki. Tidak ada yang ingin pindah dan bertukar. Pertemuan yang pertama itu seperti pertemuan magnet-magnet dengan pasangannya. Begitu ketemu nggak pengen pisah lagi.”

“Begitulah. Dalam banyak hal, pilihan kita yang pertama kali itulah keputusan kita yang sebenarnya. Ketika dihadapkan dengan pilihan-pilihan lain, meski sudah menimbang-nimbang, baliknya ke pilihan pertama lagi.”

“Iya! Aku suka begitu juga. Kok bisa ya?”

“Ya memang begitu. Biasanya pilihan pertama yang kita lakukan dengan spontan itulah pilihan hati. Terus gimana ceritanya si Monik ini?”

“Selama masa orientasi yang tiga hari itu aku dan dia duduk bersebelahan terus. Paling tidak aku tahu kebiasaan dia. Dia selalu membawa sapu tangan karena katanya, tissue itu dibuat dengan menebang pohon. Bikin global warming. Agak berlebihan begitulah.”

Yang Kung tertawa, “Bagus sekali pemikirannya.”

“Dia juga selalu membawa bekal. Istirahat pertama dia makan buah. Biasanya irisan apel atau pisang. Jam kedua dia makan nasi. Malas ke kantin, katanya. Harus antri, sudah gitu belum tentu juga alat makannya bersih. Tapi yang dia paling malas itu ngantrinya itu. Memang sih, mau makan saja ngantri. Lebih enak membawa bekal. Aku jadi ikutan membawa bekal pas hari kedua.”

Aku terkekeh, teringat Ibu yang terheran-heran melihat aku menata nasi dan lauk di wadah. Aku pura-pura tak tahu.

“Bagus kan? Kamu lanjutkan sampai setelah masa orientasi?”

“Kadang-kadang. Kalo bangun kesiangan terutama, aku tidak makan pagi. Hanya minum teh hangat, lalu berangkat. Sarapannya aku aku jadika bekal buat dimakan di sekolah pas istirahat pertama.”

“Setelah masa orientasi kalian masih dekat?”

“Habis masa orientasi selama tiga hari, kami dimasukkan ke kelas masing-masing. Sayangnya aku tidak sekelas sama Monik.”

“Lantas tidak ada kontak lagi?”

“Ada, tapi jarang.”

“Kenapa?”

“Nggak tau,” aku mengangkat bahu, “malu diledekin teman-teman kalo aku ke kelas dia.”

Yang Kung mendesah.

“Begitulah. Kalian itu suka malu tanpa alasan. Kamu malu kenapa?”

“Teman-teman bakal ngeledekin aku suka sama Monik.’

“Bukankah memang begitu?”

“Tapi mereka mentertawakanku. Aku nggak suka.”

“Orang mentertawakan orang lain itu bukan karena ada yang salah dengan orang lain itu,  tapi bisa jadi yang bermasalah adalah diri mereka sendiri.”

“Ada masalah apa dengan mereka ketika mereka mentertawaiku?”

“Ya nggak tau. Dalam hal kamu sama Monik, mungkin mereka iri sama kamu.”

“Iri? Kan Monik belum tentu suka juga sama aku.”

“Iri itu belum tentu iri karena itu, Robi. Misalnya saja teman-teman kamu mentertawai kamu ketika kamu duduk sama Monik. Mungkin saja mereka sebenarnya ingin juga duduk sama teman lawan jenis, tapi malu memulai. Eh, ternyata kamu mendapat situasi seperti itu. Nah, ketika kamu mendekati Monik, mungkin juga mereka iri karena kamu punya keberanian untuk itu, sementara mereka tidak. Bisa jadi kan?”

“Iya, sih. Aku juga sering iri kalo melihat temen cowok berani mendekati teman cewek lantas mereka pacaran. Mereka berani malu. Aku enggak mungkin berani begitu. Aku bakal mikir, nanti kalo orang bilang, ‘masih sekolah aja sudah pacaran, uang aja minta sama orang tua. Enggak malu!’ Gitu, gimana? Pikiranku sudah macem-macem duluan.”

“Jangan-jangan dalam banyak hal kamu juga begitu. Termasuk masalah tulisan kamu.”

Aku terhenyak. Yang Kung benar. Dalam banyak hal aku sering menghambat diriku sendiri. Tidak mau memperjuangkan keinginan dan cita-citaku. Belum bertindak apa-apa, aku sudah dipenuhi ketakutan yang tak beralasan. Kalau sudah terlambat begini aku baru menyesal. Semestinya aku bisa melakukan banyak hal dalam kehidupanku. Sayangnya tak banyak yang kulakukan karena takut dikomentari orang.

“Padahal namanya orang berkomentar itu, kamu enggak ngapa-ngapain saja bisa jadi omongan. Iya kan?”

Aku tersenyum mendengar perkataan Yang Kung. Memang benar. Aku pernah duduk manis menikmati bekalku ketika tiba-tiba Niko berteriak-teriak, “woi, Robi bawa bekal, kaya anak cewek aja!” lantas anak-anak yang ada di dalam kelas tertawa semua. Aku menatap mereka dengan jengah, lalu melanjutkan makan dengan perasaan tak enak. Aku tidak merugikan siapa-siapa tapi mereka meledekku.

Yang Kung benar. Bahkan ketika aku tidak melakukan apa-apa yang mempengaruhi orang lain pun komentar orang selalu ada. Rugi apa mereka? Aku tidak meminta makanan dari mereka. Ibu yang memasak untukku. Hanya karena melihatku asyik makan, mereka berkomentar.

“Nggak akan ada keadaan di mana kamu lepas dari komentar orang. Dan yang jelas membuat orang berhenti mengomentarimu itu nggak mungkin. Tinggal kamu saja inginnya apa, jalankan. Mestinya begitu,” Yang Kung menambahkan.

Bertemu dengan Yang Kung kembali ini memang membuatku banyak merenungkan kembali apa saja yang sudah aku lakukan dalam kehidupanku.

“Mestinya aku memang tetap menjaga kedekatanku dengan Monik. Dia baik. Aku sering bertemu dia sepulang sekolah. Kami ngobrol sebentar, tapi tak lama karena aku langsung pulang. Takut diledekin teman-teman kalo terlalu lama ngobrol sama Monik.”

“Menurutmu, ketemu sepulang sekolah itu kebetulan ya?”

“Iya,” aku langsung ragu setelah menjawab begitu, “apakah itu bukan kebetulan?”

Yang Kung tertawa.

“Robi, Robi. Mungkin kamu harus lihat kemungkinan ini. Kelas Monik keluar lebih dulu. Dia melirik ke kelas kamu, masih di dalam semua. Jadi dia melambatkan langkahnya. Ada saja yang menjadi alasan buat dia untuk tidak sampai ke pintu gerbang dan menunggu jemputan.”

“Tau dari mana kalo dia selalu dijemput supir?”

“Aku selalu tau.”

“Baiklah. Lantas?”

“Nah, dia tau kamu belum pulang jadi dia mengajak teman-temannya ngobrol, tentang apa saja. Atau dia membantu temannya yang piket menyapu sedikit. Lantas ketika dia melihat anak-anak di kelasmu mulai keluar, dia bergegas beranjak juga. Dia tau kamu pasti keluar paling akhir karena kamu malas berdesakan. Seperti dia juga selalu malas ngantri dan berdesakan. Nah, di halaman dekat gerbang kalian bertemu.”

Aku ternganga. Kemungkinan seperti itu tak pernah terlintas dalam benakku. Yang ada hanya malu dan takut saja kalau bertemu dia. Malu kalau teman-teman tahu aku suka pada Monik, takut mereka lantas meledek tak henti-henti.

“Sangat mungkin seperti itu, Yang Kung,” kataku lemah.

“Nah,” seru Yang Kung, “kenapa tidak pernah terpikirkan?”

“Aku..” tergeragap aku mencoba menjawab.

Kini bukan saatnya takut dan malu lagi. Aku sudah tak punya apa-apa. Bahkan jasadku pun kini tak bisa apa-apa. Jadi kujelaskan apa adanya.

“Ya, takut dan malu itu tadi. Begitu dekat dia saja aku sudah takut teman-teman tahu. Malu. Nanti mereka meledekku. Aku tak suka.”

“Padahal dia ingin dekat denganmu lagi, seperti ketika masa orientasi itu. Buat dia tak ada salahnya kalo kalian akhirnya pacaran. Entah kenapa kamunya menjauh.”

“Apakah dia sedih?” tiba-tiba aku kuatir membuat Monik kecewa karena sikapku waktu itu.

“Jelas. Pasti dia sedih. Tapi anak seperti Monik tidak akan lama tenggelam dalam kesedihan. Sebenarnya dia masih akan terus mendekatimu dengan berbagai cara, sayangnya sudah ada orang lain yang kemudian menarik perhatiannya.”

“Sandy?”

“Kamu tau Sandy suka sama Monik?”

“Cuma dengar-dengar. Waktu itu aku mendengar anak-anak bergosip di kantin sekolah. Biasa lah, anak-anak, nggak cewek nggak cowok, suka memulai dengan begini, ‘eh tau nggak, si A lagi naksir si B, lho..’ gitu. Lantas pembicaraan jadi panjang.”

“Dan ada yang bilang, ‘eh, Sandy lagi naksir Monik, lho’, gitu?”

Aku tersenyum, “iya.”

“Lantas, gimana perasaanmu?”

Aku mengangkat bahu.

“Entahlah.”

“Ah, tidak mungkin kamu nggak tahu. Kamu hanya nggak ingin mengatakannya. Kenapa, Rob? Masih malu? Di sini, kamu mau malu sama siapa? Bahkan teman-teman kamu sudah tidak bisa melihat kamu lagi. Apa yang membuatmu malu?”

“Bukan. Maksudku, aku tak tahu karena perasaanku campur aduk. Cemburu, jelas. Karena aku suka pada Monik. Dan malah Sandy yang mendekati dia. Aku ingin seberani Sandy tapi tak mampu. Maka aku iri. Begitulah, iri tanda tak mampu, orang bilang. Itu memang benar.”

“Terus?”

“Masalahnya di sisi lain aku agak lega. Karena bukan aku yang dibicarakan. Aku benci diomongin orang. Aku sangat benci. Itulah kenapa aku takut melakukan apapun. Aku tidak ingin diomongin orang. Jadi aku relakan saja Sandy sama Monik. Setidaknya aku selamat, tidak diomongin orang di belakang seperti itu, jadi bahan gosipan.”

“Jadi kamu senang akhirnya?”

“Antara sedih dan senang. Campur aduk tak karuan. di satu sisi aku ingin aku yang jadi pacar Monik, di sisi lain aku benar-benar nggak berani menghadapi resikonya. Enggak, aku nggak bisa.”

“Akhirnya mereka pacaran?”

“Sepertinya begitu.”

Yang Kung berhenti bertanya. Kami tenggelam dalam diam. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Yang Kung. Tapi aku sendiri jadi tersedot ke masa kehidupanku yang dulu. Kembali berandai-andai. Lantas terbentuk pada kenyataan bahwa semua sudah terlambat.

“Monik ada di sini?”

“Tidak tahu ya? Aku belum sempat mencari dia di sini.”

Kuedarkan pandangan ke seluruh tempat para pelayat berkumpul. Tidak juga aku menemukan sosok mungil berkulit bersih dengan kaca mata berbingkai hitam.

“Kok nggak ada, ya?”

“Masak?”

“Iya, tuh. Nggak ada.”

“Kamu sudah memakai kemampuan lebih kamu, harusnya kamu bisa melihat dia.”

“Tapi di sini tidak ada. Apa dia memang sengaja tidak layat, ya?”

“Jangan berpikiran begitu dulu. Setiap tindakan pasti ada alasannya. Memakai pradugamu sendiri tidak akan ada untungnya. “

“Jadi, dia di mana?”

“Ya kamu cari, lah. Mungkin dia di rumah atau di mana, gitu.”

Aku memandang Yang Kung sambil berpikir.

“Jadi kita ke rumahnya, gitu?”

“Enggak usah. Dari sini juga kelihatan.”

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Perjalanan Terakhir (8)"

  1. wesiati  7 January, 2014 at 07:07

    nonik : ini serial. niatnya nanti jadi novel..

    djasmerahputih : tadinya enggak berani sampai nulis ke reinkarnasinya. tapi mungkin bisa saya jadikan ide untuk ending nanti.

    JC dan dewi murni : kalian memang pandai memuji. terima kasih banyak ya…

    alvina : itu dari baca2 kok.

  2. Alvina VB  7 January, 2014 at 06:16

    Ditunggu lanjutan pembicaraan kedua roh tsb, he..he…Katanya org yg sudah pernah mati sementara dan balik lagi/ hidup, mereka ngomong2 dgn bhs lain ttp mereka bisa saling ngeti begitu. Kl saya sich blm pernah mati, pingsan sering… pengalaman dulu selama pingsan, kayanya bisa berbicara macam2 bhs, lancar tanpa malu salah, he..he…

  3. Dewi Aichi  6 January, 2014 at 20:18

    Kira-kira kalau sudah mati, trus bisa berkumpul dengan keluarga, kerabat yang sudah mati juga di alam kubur, mengobrol dengan asik seperti itu sambil minum teh hangat…makan pisang goreng….wah…..khayalan tingkat tinggi, sayangnya blom ada satu jenazahpun yang menceritakan pengalamannya di alam kubur.

    Wesiati, seperti pendapat JC, dialog dan isi dialog tersebut benar-benar ciamik…

  4. J C  5 January, 2014 at 13:58

    Dialog-dialog dalam artikel berseri ini luar biasa! Levelmu memang ora baen-baen, Wesi…

  5. djasMerahputih  3 January, 2014 at 16:42

    Nice story…!!

    Ini ada cerita balik ke alam nyatanya lagi nggak..??

    Masyarakat Indonesia memang hebat,
    Selain multi kultur juga multidimensi… Lanjuuut…!

    Salam Kompak,
    //djasMerahputih

  6. Nonik  3 January, 2014 at 16:35

    cerpen ini punya makna yang dalam & mengajak kita untuk merenung bersama. Hmmm…..

  7. wesiati  3 January, 2014 at 13:55

    huwa… mbak lani pertamax. esti : tunggu tiap minggu ya…

  8. Lani  3 January, 2014 at 11:33

    WESIATI : semakin menarik perbincangan para lelembut ini………….lanjoooooooot

  9. Esti  3 January, 2014 at 11:12

    Jd inget jaman es em pe…..ditunggu lanjutannya mbak Wesiati

  10. Lani  3 January, 2014 at 10:47

    1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.