Liburan Natal di Seputar Kota Tua

Yang Mulia Enief Adhara

 

Seorang teman datang dari Malang secara mendadak sudah gitu waktu dia hanya singkat aja. Hmm pas hari Natal gini yang ada Mall pasti penuh dan jelas nggak menarik. Akhirnya kita sepakat blusukan. Well sejujurnya sih gue sampai detik ini belum merasakan bosan dan segera saja gue menawarkan pada temanku si Oik untuk jalan jalan ke Petak 9, Gloria dan Kota Tua.

Dalam perjalanan kali ini El juga ikut dan jadilah kita bertiga pergi dengan Commuter menuju Stasiun Kota. Ohh senangnya, hari ini Jakarta lengang mirip sewaktu Lebaran, asli sepi banged. Kita berjalan menuju Jalan Kemurnian.

natal-kota-tua01

Kita menelusuri jalan dari Stasiun Kota ke arah Jalan Kemurnian yang tepat di ujungnya terdapat Pasar Petak 9. Nah kali ini gue mengajak Oik dan El belok kiri, dan di situ ada Klenteng yang bagai mutiara dalam lumpur. Posisinya yang berada di tengah pasar tidak mengurangi keindahannya. Walau ada beberapa canopy untuk mencegah hujan yang mengganggu bangunan indah itu.

natal-kota-tua02

Di sini pengurus Klentengnya baik hati, kita diizinkan masuk dan mengambil gambar, (beda dengan Klenteng antik yang berada di Jombang Jawa Timur pengurusnya kaya tai ayam, reseh).

natal-kota-tua03

Pagi itu terlihat beberapa umat Khonghucu yang bersembahyang dan kita sangat menjaga agar jangan sampai mengusik saat-saat khusyuk mereka. So bagi gue walau diberi kesempatan untuk mengabadikan keindahan Klenteng bukan berarti kita seenak udel bodong aja ya.

natal-kota-tua04

Seperti umumnya Klenteng di halaman terlihat banyak warga kelas 3 Jakarta yang mengharapkan sedekah dari umat yang sembahyang di sana.

*****

Di Klenteng itu gue melihat banyak sekali ornamen yang ada di Hotel Tugu Malang, artinya banyak sekali ornamen cantik yang rupanya didapat dari bongkaran Klenteng yang kini menjadi bagian koleksi antik sang pemilik.

natal-kota-tua05

Nih salah satu detail jendela yang cantik sekali walau kurang terawat karena banyaknya debu yang nempel, rasanya pengen gue bawa pulang aja deh hahahahaha…

natal-kota-tua06

Kami melihat-lihat setiap sudut dan akhirnya memutuskan mulai jalan-jalan di Pasar Petak 9. Bicara pasar jangan kepikiran nuansa kumuh yang menjijikkan. Di pasar ini kebersihan sangat dijaga. Pedagang mengisi kiri kanan jalan dan menjajakan aneka dagangan yang sebagian nampak unik.

Misalkan Teripang, di sini banyak dijual dan nampak segar menggoda. Lalu ada Kodok yang mudah didapat. Buah-buahan pun nampak beragam.

natal-kota-tua07

Jambu Bol atau Jambu Darsono yang kian langka, di sini lumayan mudah ditemui karena saat ini sedang musimnya. Lalu Jamblang yang juga terlihat menggoda. Jeruk Lemon yang besar-besar dan berwarna kuning cerah terlihat di berbagai sudut.

natal-kota-tua08

Buah, sayuran dan hewan laut nampak segar dan berkualitas baik dengan harga yang ‘normal’. Nah di pasar ini juga banyak penjual kue basah, Bakcang banyak sekali terlihat namun hati-hati bagi yang tidak menyantap daging babi, di sini banyak sekali bakcang berisi daging babi.

Hal yang mungkin banyak luput dari pengelihatan kita adalah sikap dari warga Petak 9. Mereka selalu berhenti saat kita akan memotret! Artinya ya mereka menghormati kita, rela untuk menunggu sampai kita selesai. Jadi bagi yang suka memburuk-burukkan warga keturunan silahkan belajar ya! Karena sikap toleransi warga sini sangat sangat besar! Mereka tidak merasa terusik ketika kita masuk ke dalam Rumah Ibadah mereka, mau berhenti saat kita asik memotret di jalan milik mereka dan dengan suka cita membiarkan kita memotret aneka dagangan mereka.

******

Saat akhirnya tiba di ujung jalan kita bisa menelusuri toko-toko yang umumnya menjual makanan, manisan dan obat-obatan. Oik dan El masih nampak semangat dan kami kok merasakan lapar ya? Padahal baru jam 8.00 AM lho?

Tak banyak membuang waktu kita menyeberang dan masuk ke Gang Gloria di mana Kopi Tak Kie berada. Pagi yang cerah ini pas sekali kalau dinikmati sambil minum Es Kopi. Nah sekedar saran, andai kamu memesan Kopi Susu jangan sekali-kali mencicip Es Kopi, tanpa ampun rasa Kopi Susu itu akan ‘hilang’ karena lidah kita sudah terkena kopi yang begitu kuat.

natal-kota-tua09

El rada mabok aroma masakan babi lantaran aroma nasi campur yang rupanya laku keras sebagai sarapan pengunjung yang datang.

natal-kota-tua10

Dan akhirnya kita melanjutkan jalan-jalan menuju Mie Kangkung Jangkung dan Bihun Kare Liam. Sepanjang jalan menuju ke sana gue tetap terus asik memotret, bahkan beberapa pedagang nampak ingin dagangannya dipotret. Sayangnya gue tidak memakan babi.

Mie Kangkung Jangkung memiliki kuah yang sedikit kental dan agak manis, sangat pas bila diberi sambal. Harga perporsi IDR 25.000. Kare Sapi dengan nasi menjadi pilihan gue, rasa yang light dan tidak terlalu tajam sangat pas dengan selera gue. Harga per porsi kini IDR 30.000.

natal-kota-tua11

Kita menyantap hidangan sambil asik mengobrol. Kita juga nggak nyangka kalau ternyata masih pagi. Di Hari Natal ini semua pedagang tetap buka, di sini rata-rata beragama Tao atau Khonghucu.

Hari ini aku sempet liat ada anggur Amerika dan Australia yang gede-gede banged dan manis. Tapi mau beli kok males bawanya, secara kita masih niat jalan ke Kota Tua.

natal-kota-tua12

Berkali kali aku mengejek El yang sepertinya agak pegel dan tentu saja yang bersangkutan langsung nantang untuk lanjut. Kita memutuskan menuju Kota Tua dan gue totally kebelet pipis. Sasaran utama toilet yang ada di terowongan menuju Stasiun dan Halte Busway. Uh baru kali ini gue masuk toiletnya dan tidak terawat kebersihannya, padahal bayar gitu loch!!

Nah sialnya nih setiap tanggal merah Museum malah tutup, goblok kan?? Bukan gue sok bener, tapi di tanggal merah itulah biasanya pengunjung bakalan banyak. Museum BI yang baru aja dibuka juga tutup, kampret! Kalau museum yang menjadi landmark Kota Tua yaitu Fatahillah sedang dalam perbaikan.

Kita akhirnya lanjut berjalan santai menelusuri Jalan Kali Besar Jakarta Barat.. Sepanjang daerah itu ada banyak bangunan antik di situlah kita berjalan sambil foto-foto.

natal-kota-tua13

Di dekat Sungai Mati yang baunya aduhai kita melihat Toko Merah yang nampak megah. Akhirnya kita jalan menelusuri ke arah sana. Ohh rasanya mau nangis campur ngamuk lanjut khayang deh! Bangunan antik yang dibangun kisaran abad 17 tidak ada yang dirawat.

natal-kota-tua14

Sewaktu gue di Surabaya, gue melihat banyak bangunan masa lalu yang boro-boro dirawat, malah dijadikan gudang dan dibiarkan rusak. Sedih, marah, kesal tapi harus ke siapa? Beda saat kita ada di Eropa yang bangunan antik dijadikan tempat yang komersial tanpa harus merubah atau merusaknya.

Di sepanjang jalan ini ada beberapa bangunan tua yang disewa kantor dan dengan lancang dindingnya dilapisi keramik, lantainya diganti keramik baru dan tetap berkesan kumuh!!! Belum lagi gelandangan yang asik aja molor dan jemur rombengannya di koridor yang harusnya akan indah buat kita berjalan jalan, damn you!

natal-kota-tua15

Toko Merah dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff (kemudian menjadi gubernur jenderal) sebagai rumah tinggal. Pada saat ia membangun Toko Merah jabatannya masih sebagai Opperkopman sehingga kadangkala orang meragukan bahwa Toko Merah dibangun van Imhoff. Rumah tersebut dibangun sedemikian rupa, sehingga besar, megah dan nyaman. Nama “Toko Merah” berdasarkan salah satu fungsinya yakni sebagai sebuah toko milik warga Cina, Oey Liauw Kong sejak pertengahan abad ke-19 untuk jangka waktu yang cukup lama

Nama tersebut juga didasarkan pada warna tembok depan bangunan yang bercat merah hati langsung pada permukaan batu bata yang tidak diplester. Warna merah hati juga nampak pada interior dari bangunan tersebut yang sebagian besar berwarna merah dengan ukiran-ukirannya yang juga berwama merah.

natal-kota-tua16

Toko Merah Lebih pantas disebut Mansion House. Untuk masuk ke dalam kita kudu bayar IDR 10.000 per orang.  Ruang lobby atau hall yang luas nampak indah, di masa ini lokasi itu kerap dipakai untuk acara wedding atau shooting iklan. Biaya sewa per 24 jam sekitar IDR 8.000.000. Di lantai 3 justru tidak tersentuh deh! Asli acak-acakan!

natal-kota-tua17

Toko Merah merupakan rumah mewah terbesar dari abad ke-18 di dalam Kota yang masih dalam keadaan terpelihara baik. Salah satu pemilik setelah terus berpindah tangan adalah Oey Liauw Kong yang berfungsi sebagai Taka, sehingga populer dengan sebutan “Taka Merah”.

Kita lanjut menelusuri deretan gedung tua yang beberapa di antaranya siap ambruk. Tapi ada satu yang sedang dibangun, beberapa ornamen antik sedang dipasang bersama dengan konstruksi bangunan.

natal-kota-tua18

Dan tebakan gue sih ini gawean Group Tugu, gue hapal sama ornamen antik yang kerap mereka koleksi, gaya Oriental. Ahh kalau benar, nantinya gue harus datang dan rasanya gue gak berlebihan kalau dari dulu bilang gue patut berterima kasih pada Pak Anhar yang sangat concern sama peninggalan masa lalu.

natal-kota-tua19

Kita melanjutkan perjalanan dan tiba di dekat gedung Kantor Pos Kota yang berseberangan dengan Gedung Fatahillah.

natal-kota-tua20

Rupanya sedang ada acara bazar, tenda kubah warna putih mengisi tepian fountain gedung Fatahillah. Perhatian gue tertuju dengan sekelompok seniman, I think Debus ya coz mereka asyik makan api kaya makan permen kapas. Lalu ada ‘pawang’ yang tampangnya serem sibuk sekali mencambuk dan gue lihat itu beneran bukan trik. Sepertinya mereka memakai ilmu tertentu.

natal-kota-tua21

Lalu ada bocah kisaran 4 tahun yang termasuk rombongan mereka, pingin ikutan makan api, gue nahan kentut lantaran tegang, eh cuma dipegang doang, bocah itu pun ditarik ke tepi sambil dicambuk pantatnya, mampus looo! Dan itu sekali lagi beneran.

natal-kota-tua22

Sepertinya mereka asal Banten ya? I dunno sih tapi kulit mereka keling semua.

natal-kota-tua23

Well udara yang cerah ternyata masih di kisaran jam 11.00 AM. Rasanya kok udah cukup ya? Cukup lecek maksud gue. So kita memutuskan pulang dan gue pasti balik lagi, selalu ada yang beda di tiap kali acara blusukan. Dan semoga yang kebetulan berkenan baca tulisan ini kagak muntah karena bosen yeee…

natal-kota-tua24

 

25 Comments to "Liburan Natal di Seputar Kota Tua"

  1. YM Enief Adhara  16 January, 2014 at 15:12

    Maaf baru respon, baru OL liwat komputer

    15. Mbak Mei
    iyaaa di Indonesia bangunan masa lalu sangat tidak dihargai …. sedih wes pokoke

    16. Ibu Matahari
    Ini aku mau blusukan ke Surabaya, nanti pasti ada reportase pandangan mata terkini ….

    17. Kornelya
    udah kosong blong gak ada furniture-nya, pas aku tanya petugas cuma jawab nggak tau. paling juga dijual ke kolektor antik ya

    18. Pak DJ
    molai tanggal 15 Feb aku di Surabaya semoga bisa meliput banyak hal disana ya, Thanks God Pak DJ sudah kembali sehat. Maaf baru balas soalnya baru buka Baltyra lewat PC hahahaha

    20. Mbak Lani
    dilantai 3 aku rasa nggak nyaman, pas mau naik area tower ( seperti gudang dibawah atap ) rasanya ada yang ngawasi, aku medun maneh lha wong aku ini penakut walau bisa merasakan ada makhluk lain saat disekitarku hahahahaha

    Petugas itu seperti penjaga, counter mirip seperti vallet parking. jadi sepertinya dia digaji untuk sekedar menerima pertanyaan dan saat ada keseriusan sewa pastinya akan dihub pada yang berwenang

    Molai 15 Feb aku akan nulis reportase diseputar Surabaya

    21`. Alvina
    betul sekali, andai ditata dengan baik dan benar yakin itu adalah object wisata yang bagus sekali yaaaa

    22, Ariffani
    bener banged blusukan itu wisata wawasan yang murah meriah dan mengasyikan ….

  2. Lani  8 January, 2014 at 05:20

    23 Lani, kalau kowe yang ke bangunan-bangunan tua, para “penghuninya” dijamin kocar-kacir, kabur pontang-panting, sipat kuping, tunggang langgang kedatangan Ratu Gemblung van Kona. Kalah awu, kalah sangar, kalah wingit dan yang pasti kalah karena bikini kiwir-kiwir mbok obat-abitke…
    ++++++++++++++++++++++

    Wakakak……..membaca sambil koprol……….kayang………..nibo tangi! Kumaaaaaaaaat! Lurahe super sudrun! Sampai ndredeg jariku le ngetik……..wes jiaaaaan edyaaaaaaan!

  3. J C  7 January, 2014 at 21:26

    Lani, kalau kowe yang ke bangunan-bangunan tua, para “penghuninya” dijamin kocar-kacir, kabur pontang-panting, sipat kuping, tunggang langgang kedatangan Ratu Gemblung van Kona. Kalah awu, kalah sangar, kalah wingit dan yang pasti kalah karena bikini kiwir-kiwir mbok obat-abitke…

  4. ariffani  7 January, 2014 at 07:51

    blusukan itu seru,, pasti menemukan sesuatu yang kadang banyak org tidak perhatikan .

    mie kangkungnya menggoda selera………

  5. Alvina VB  7 January, 2014 at 05:54

    Enief…aye cuman lagi bayangin aje…kl kota tua di Jakarta di rawat dgn bae2, jadi banyak turis yg akan mengunjungi bagian kota ini, spt di Old San Diego, Old Montreal, Old Shanghai, Old Dublin/ kota2 di dunia lainnya, pasti punya kota tua yg dulunya adl pusat perniagaan, ttp kemudian bergeser ke tempat baru yg jadi kota baru. Semoga pak Jokowi-Ahok membenahi bagian kota tua ini… semoga….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.