Mudik

Tri Yudani

 

Tanggal 23 Desember aku mendapat sms dari saudaraku di desa, isinya singkat saja, “Tri, tolong pulang, kakakmu sakit. ” Hatiku langsung tidak karu-karuan. Campur aduk, sedih, nelongso, bingung. Aku teringat kakakku di rumah sendiri. Kakakku yang beranjak tua, sudah mulai sakit-sakitan dan tidak ada yang merawat.

Air mataku mulai bercucuran habis membaca sms itu. Aku membayangkan keadaan rumahku yang sepi dan kakakku yang terbaring menggigil sendiri. Aku mendesah, seandainya ibu bapak masih ada, ah…

Seketika aku sms suamiku,”Honey, besok aku harus pulang, mas sakit. Acara makan-makan nggak jadi.”

Harusnya besok aku ada acara makan-makan ultahku. Sebenarnya aku orang yang gak perduli dengan acara ultah itu. Aku orang ndeso, dari kecil tidak kenal ulang tahun, aku menganggap hari kelahiran tidak berbeda dengan hari-hari lainnya. Aku malas setiap diminta merayakannya. Kadang aku juga heran kenapa kalo pas hari kelahiran diberi ucapan selamat ulang tahun, bukankah usia kita berkurang??

Tapi tentu saja aku mengucapkan banyak terimakasih pada teman-teman yang memberi ucapan selamat ulang tahun. Tanggal 24 Desember aku jadi pulang. Berdua saja dengan suamiku. Anakku sudah merasa besar, sudah tidak pernah mau diajak keluar bapak ibunya. Dua setengah jam perjalanan sampailah aku di desa kelahiranku.

Keluar dari mobil aku tersenyum lega. “Alhamdulillah desisku.” Lega sampai di rumah. Lega bisa melihat kampung halamanku.

Langsung aku masuk rumahku. Sepi…., tak ada satu orangpun, dingin……

Aku merasa sesak dadaku. Ya Allah betapa bedanya keadaan di rumahku kini.

Sejenak aku terdiam,  kemudian aku berteriak memanggil kakakku. “Mas…Mas Gaguk..aku datang….”

Tidak ada suara menjawab. Aku terus mencari dari satu kamar ke kamar lainnya. Dan, oh……kakakku terbaring sendiri……

Aku tidak bisa berbicara lagi. Air mataku terus bercucuran.

“Maafkan aku Mas…..maafkan aku……aku gak bisa menemanimu……..” kataku dalam hati.

Di luar hujan gerimis gak henti-henti, semakin lama semakin deras saja. Aku teringat sekarang malam Natal. Seingatku setiap Natal selalu hujan. Pikiranku melayang, kembali ke masa silam, 30 tahun yang lalu…

Alangkah ramainya rumahku. Rumah sekaligus warung makan. Setiap hari orang berjubel membeli makan. saat itu sangat sedikit warung makan. Maka tidak heran warungku menjadi tempat jujugan orang mencari makan. Sinder-sinder pabrik gula, pegawai kecamatan, aparat desa adalah sebagian dari langganan warungku.

Pembantu-pembantu di warungku banyak sekali. Mereka adalah tetangga-tetanggaku sendiri. Mereka dianggap saudara. Kami berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Makan selalu bersama. Menunyapun juga sama. Kami hidup sangat rukun. Living in harmony, itulah yang ada.

Dulu, setiap malam tidak pernah sepi, karena di waktu malam pembeli bertambah banyak. bahkan di tengah malam terkadang ibuku nanggap ledhek. Suara ledhek yang merdu itu memecahkan keheningan malam, Oh indah sekali……

“Yen ing tawang ono lintang, cah ayu…..
Aku ngenteni sliramu……….
Marang mega ing angkasa nimas.. sun takokne pawartamu…

Aku tersenyum sendiri mengingat hal itu. Pikiranku terus mengembara. Saat Natal. Saat Natal adalah saat yeng menggembirakan. Kami Muslim, tapi kami juga gembira karena tetanggaku ada yang Kristiani. Aku teringat indahnya lagu Natal yang selalu dikumandangkan tetanggaku yang Kristen. Aku ikut merasakan damainya dunia setiap mendengar lagu rohani itu.

” Silent night, holy night
All is calm, all is bright
Round you virgin mother and child
Holy infant so tender and mild…..

Aku tidak tahu berapa lama pikiranku melayang ke masa silam.Masa yang indah, masa penuh kenangan. Kini yang aku lihat adalah rumah-rumah yang tak berpenghuni. Rumah-rumah yang sepi. Penduduk di desaku banyak urbanisasi. Kini desaku menjadi desa yang mati. Ini juga akibat program KB yang berhasil. Hampir semua orang hanya punya anak 2, lebih dari itu sudah dianggap kebablasan.

Aku jadi berpikir, bagus atau tidak ya program KB itu. Kalau jadinya membuat suasana yang sepi begitu. Aku suka yang seperti dulu ramai dan hangat.

sepi

Aku pencet tombol tv. Ini tanggal 24 Desember. Hampir semua stasiun tv memperingati Natal. Lagu-lagu Natal diperdengarkan di hampir semua saluran tv.

“Jingle bell..jingle bell
 jingle all the way
oh what fun it is to ride
in a one horse open sleigh
jingle bell jingle bell..jingle all the way
oh what fun it is to ride
in a one horse open sleigh…

Lagu Natal ini lagu yang riang, enak didengar, lagu yang membuat gembira. Setiap mendengar lagu ini aku yang orang Muslim juga kepengen bersorak, kepengen ikut menari. Tapi hari ini aku tetap menangis. Lagu-lagu gembira ini tambah membuatku nelongso. Kenapa desaku sekarang sepi, kemana tetanggaku semua. Mengapa semua pergi..?

 

15 Comments to "Mudik"

  1. [email protected]  8 January, 2014 at 12:48

    Mas JC, kapan-kapan tak bikin yang lucu aja ya biar sampeyan gak sedih hehe, thx komennya

  2. [email protected]  8 January, 2014 at 12:47

    Mbak Alvina, kakakku alhamdulillah sudah agak sehat. matursuwun komennya ya.

  3. Alvina VB  8 January, 2014 at 04:11

    Wah…sedih baca artikel ini.. Jadi gimana khabar kakaknya mbak saat ini?

  4. J C  7 January, 2014 at 21:20

    Mbak Tri Yudani, bacanya bener-bener bikin ngilu dan hati terpelintir…

  5. [email protected]  7 January, 2014 at 09:37

    Mbak Dewi, makasih komennya ya, memang begiyulah kebanyakan desa sekarang banyak yang ditinggalkan penduduknya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.