[AMNESIA] Back to Future (4)

djas Merahputih

 

Sebuah serial, dongeng pengantar bobo siang

(Dibacakan Lebih Nikmat)

Cerita sebelumnya:

Tempat yang Tepat (1), Kunjungan Pertama (2), Pandangan Pertama (3).

 

SANG GURU FAVORIT

Bu guru Citra yang tepat berada di depan Sang Pangeran tertegun dan heran melihat sosok pemuda di hadapannya. Bu guru Citra mengamati dandanan Purba yang nampak unik namun cukup simpel – berbeda dengan umumnya para pemuda di Gentong Gadang yang sering berpakaian norak dan seronok sebab di sana-sini penuh dengan aksesoris yang kadang tidak sesuai tema busananya – Sementara Purba tertegun, tentu saja karena pesona wajah bening bu guru Citra.

amnesia4 (1)

img01. Bening dan Beku

Mata bu guru Citra begitu bening, sejuk namun terlihat dingin dan menyimpan sedikit kebekuan di dalamnya. Belum ada senyum yang tersungging. Sesuatu yang tentu akan ditunggu-tunggu oleh Purba. Sebelah tangan Citra menempel di dada pertanda rasa terkejut yang masih mendera. Jari-jemari lentiknya terlihat jelas dengan kuku sedikit panjang dan berwarna putih kehijauan. Pakaiannya rapi namun tidak begitu formil.

Purba:  “Em emm.., maaf. Apakah saya mengagetkan Ibu…??” Purba berusaha memecah suasana.

Citra : “Oh, em……., Enggak kok. Nggak apa-apa. Permisi, saya ingin bertemu dengan Bapak Kepala Sekolah”. Akhirnya terdengar juga suara renyah namun sedikit berat dari bu guru cantik ini. Sang Pangeran berusaha menahan gejolak perasaannya. Sementara Ono dan Offo masih saja cekikikan di sudut ruangan.

Kepala Sekolah:  “Oooo…, ternyata Bu Guru Citra. Silakan masuk bu Citra. Maaf mas Purba, kenalkan ini bu guru Citra. Guru favorit di sekolah kami. Bu Citra, Ini mas Purba. Dia ke sini ingin……”

Purba:  “Saya Purba, maaf kalau saya telah mengagetkan Ibu…”. Sang Pangeran tiba-tiba saja menyela penjelasan Pak Tirta.

Suasana akhirnya mencair. Setelah berbincang sejenak dengan bu guru Citra, Bapak Kepala Sekolah mengantarkan Purba Kencana keluar beberapa langkah dari pintu kantornya, kemudian melepas Beliau dengan lambaian tangan sebagai tanda perpisahan. Citra Nur Aurora tetap di dalam ruangan, sementara Purba yang perlahan menjauh sesekali menoleh ke belakang berharap Sang Guru ikut berdiri di samping Pak Tirta. Namun kali ini hanya kekecewaan yang Beliau rasakan.

 amnesia4 (2)

img02. Purnama dan Aurora

Pangeran Soka Purnama saat ini telah berada di pekarangan sekolah diikuti Ono dan Offo yang masih berwujud transparan itu. Ono dan Offo merasa aneh, mengapa Sang Pangeran sepertinya dengan sengaja memotong penjelasan Pak Tirta tadi. Walaupun masih terhitung muda, Sang Pangeran sebenarnya telah lulus dengan baik dalam pelajaran Tata Krama yang diajarkan langsung oleh ibunda Beliau.

Purba masih berusaha mengendalikan gejolak perasaannya. Tak lama kemudian Sang Pangeran dalam penyamarannya ini memberi isyarat kepada Ono dan Offo. Keduanya mengangguk dan dalam sekejap mereka bertiga telah kembali berada di dalam Istana. Lima orang pengawal yang ditugaskan ke tempat lain ternyata telah tiba lebih dulu dan dengan sabar menunggu kedatangan Sang Pangeran.

Sambil berjalan mendekati tempat duduk para pengawal yang sedang menunggu, Beliau membisikkan kepada Ono si Malaikat Merah agar laporan para pengawal ditunda dulu sampai besok. Sang Pangeran ingin beristirahat di kamar Beliau yang tenang. Ono dan Offo segera menyampaikan pesan tersebut dan menugaskan para pengawal untuk kembali ke posisi mereka masing-masing.

*****************

“ku kuruyuu….kk  ku ku ku ku ku kukkkk…..” Ketiweuy kembali memamerkan lengkingan suaranya seperti biasa setiap menyongsong datangnya matahari pagi. Bulu hitamnya yang pekat makin membuatnya nampak seperti silhuet bayangan dengan latar belakang bulatan mentari di ufuk Timur. Sementara Sang Pangeran masih enggan bangkit dari tempat tidurnya yang empuk. Pikirannya masih terbebani wajah bening Sang Guru Favorit.

Ono dan Offo serta rombongan Kerajaan lainnya sedang berkumpul di ruang tengah Istana. Mereka agak khawatir melihat Sang Pangeran belum juga nampak di tengah-tengah mereka sementara mentari terlihat semakin meninggi. Sebuah kebahagiaan tersendiri dirasakan oleh para kerabat Kerajaan jika melihat Pangeran Cilik mereka muncul di setiap pagi dengan wajahnya yang cerah, ceria dan memancarkan pesona. Saat-saat yang selalu dinanti oleh mereka kala pagi menyambut. Namun, pagi ini suasana sedikit berbeda.

amnesia4 (3)

img03. Mendung di Pagi Hari           

Terlihat pula di sana Cakra dan empat orang pengawal lainnya yang telah menyelesaikan tugas mereka untuk mengintai sebuah tempat latihan softball remaja di tengah kota. Mereka sudah tak sabar ingin menceritakan pengalaman menarik mereka di tempat tersebut. Saat masih riuh dan saling mengungkapkan rasa penasaran masing-masing, tiba-tiba saja Pangeran Soka Purnama muncul dengan wajah yang sedikit redup. Sang Pangeran menyapa seluruh kerabat Kerajaan dengan lambaian dan senyum yang sedikit dipaksakan, lalu bergegas menuju sebuah Kursi Kerajaan.

Suasana seketika menjadi hening. Di tengah keheningan tersebut, Cakra memaksakan diri untuk segera menghampiri Sang Pangeran. Dengan langkah perlahan dan sikap hormat Cakra melangkah diiringi oleh keempat pengawal lainnya. Mereka telah bersiap dan menunggu aba-aba dari Sang Pangeran untuk menceritakan segala sesuatu yang mereka alami di dalam sebuah lapangan softball sehari sebelumnya. Di saat bersamaan, Pangeran Soka Purnama masih mengetuk-ngetukkan jari-jemarinya pada lengan Kursi Kerajaan sambil duduk dengan posisi agak serong. Para pengawal sedikit tegang.

Sang Pangeran:  “Cakra, Bagaimana dengan tugas kalian? Apakah berhasil menemukan sosok yang :O: perintahkan kemarin…??”, Sang Pangeran bertanya dengan suara yang tegas walaupun dengan posisi duduk yang masih sedikit serong.

Cakra : “Kami berhasil menemukannya, Pangeran..”, kali ini Sang Pangeran memperbaiki posisi duduknya lebih tegap dan sempurna sambil menunggu kelanjutan cerita Cakra. ”Anaknya berasal dari desa terpencil di Timur Negeri, orangtuanya adalah seorang guru dan petani sagu. Dia adalah kapten dan pemain andalan timnya. Perawakannya atletis, namun tidak terlalu tinggi. Pukulan tongkat softball-nya paling banyak mencetak poin bagi tim.”.

Sang Pangeran:  “Mmmm…., coba kalian cari tahu jadwal pertandingan penting yang paling dekat. :O: akan menonton langsung pertandingannya.” Sang Pangeran kembali memberi perintah kepada para pengawal kemudian meminta Cakra untuk melanjutkan kisah dan pengalamannya.

Cakra lalu menceritakan lebih detail tentang pengalaman mereka. Sang Pangeran menyimak dengan seksama, namun Ono dan Offo tahu kalau perhatian Pangeran sebenarnya tidak utuh tertuju pada cerita menarik Cakra dan para pengawal itu. Pikiran Sang Pangeran kini bercabang kepada sosok seorang Guru Muda yang mempesona. Ono dan Offo sadar, kini Sang Pangeran bukan lagi sosok anak kecil yang badung dan suka merajuk.

amnesia4 (4)

img04. Bermain Api

Tapi, mungkin juga kedua kakak kembarnya ini keliru tentang sifat merajuk Beliau. Diam-diam dengan kemampuan anti sadap yang diwariskan oleh leluhurnya, Sang Pangeran sedang merencanakan sesuatu untuk kembali bisa bertemu dan berlama-lama dengan Bu Guru Citra. Sang Guru Favorit telah membuka cakrawala keindahan bagi sesosok jiwa belia yang haus akan pengalaman hidup. Citra telah memantik nyala api dalam sanubari Purba, Sang Pangeran yang menyamar. Api yang bisa saja berbahaya saat seorang anak kecil bermain tanpa pengawasan orang-orang dewasa di sekitarnya.

 

(Bersambung)

 

Catatan Penulis:

Semoga bobo siangnya ditemani mimpi yang indah yaa….”

Salam Nusantara, //djasMerahputih

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "[AMNESIA] Back to Future (4)"

  1. djasMerahputih  9 January, 2014 at 10:50

    7: ha ha ha… mba Dewi gimana, udah dibacain minta disuapin lagi..
    Ntar malah ada yg cemburu dan cemberut..

    Suara djas masih kurang sreg, gimana kalo pake suara pak lurah aja,
    Atau om DJ mungkin berkenan membacakan untuk mba Dewi..

    Udah mulai penasaran dgn bu Citra yaah…

    Salam kompak dari tanah air,
    -djas-

  2. Dewi Aichi  8 January, 2014 at 05:49

    Berangan-angan agar khusus tulisan djas yang bagian ini dikasih skype, biar djas membacakan untukku, syukur-syukur sambil disupain…ehem…duh bu guru Citra…

  3. djasMerahputih  7 January, 2014 at 21:50

    5: “……kalau lukisan ini dari jaman renaisans atau barok.”
    —————————————————–

    Thanks apresiasinya Kang JC. Nah itu dia pas udah jadi tulisan
    djas bingung sendiri melihat bentuknya. Makanya djas sebut saja dongeng tanpa bentuk.
    Nah kalo disebut genre renaissance atau barok itu djas kenal juga dalam sejarah arsitektur dunia.
    Namun dalam istilah sastra mungkin baru dengar kali ini.

    Mudah-mudahan dalam cerita berikutnya pesan-pesan yang ingin disampaikan
    sudah bisa terlihat dan dirasakan.

    Salam Nusantara,
    //djasMerahputih

  4. J C  7 January, 2014 at 21:29

    Setuju komentar Matahari, genre cerita ini sangat unik dan ibaratnya kalau lukisan ini dari jaman renaisans atau barok…

  5. djasMerahputih  7 January, 2014 at 21:08

    2: Thanks mba Esti udah ikutan ngantri.. he he he….

    3: Thanks Bunda Matahari sudah sediakan waktu membaca dongeng aneh ini.

    Wah jadi pengen baca buku “Waiting for Godot”nya Samuel Beckett…
    Ha ha ha… kalo dibaca memang kelihatan berat. Konsepnya memang untuk dibacakan alias
    didengarkan. Supaya lebih cepat terlelap bobo siangnya

    Ide awalnya adalah mimpi untuk perbaikan negeri. Akan banyak konflik dari simbol-simbol
    masyarakat dalam sebuah negara di dalam ceritanya. Mungkin kalau disederhanakan seperti
    tokoh-tokoh wayang dalam mitologi Jawa.

    Waah sudah sering ngobrol bareng belum yakin juga kalo djas adalah seorang
    Pejantan Tangguh! , sory… djas seorang Male.

    Salam Nusantara,
    //djasMerahputih

  6. Matahari  7 January, 2014 at 20:17

    Djas…sampai beberapa alinea dari atas…saya seperti membaca buku “Waiting for Godot”nya Samuel Beckett…hanya Godot dalam tulisan kamu ini berwujud beda……Kali ini tulisan kamu berat sekali dicerna…idenya dari mana ? Mau tanya juga…Djas …ini F atau M ya?

  7. Esti  7 January, 2014 at 16:22

    Dua deh

  8. djasMerahputih  7 January, 2014 at 09:01

    SATOE : the Writer

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.