Berapa Harga Diri Saya?

Tjiptadinata Effendi

 

Segala sesuatu di dalam hidup kita ada harganya.

”Harga” di sini tentunya tidak semata-mata dimaksudkan dengan nilai sejumlah uang. Seperti kalau kita mau membeli sesuatu di toko atau membeli mobil di show room. Berapa harga dari sebuah barang atau properti, tergantung pada pemiliknya. Ada yang mau membeli atau tidak, adalah urusan lain.

Semakin berharga sesuatu di mata orang, semakin tinggi nilai jualnya. Ada sejuta contoh yang dengan mudah dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya harga emas, pasti jauh lebih mahal dari pada perak. Sebuah jam Rolex, bisa nilai jualnya mencapai 500 kali dari hari jam biasa. Emas 24 karat, jelas jauh lebih tinggi nilainya atau harga jualnya dibanding emas 18 karat.

Manusia juga punya “harga jual “ masing masing. Namun alangkah tidak etisnya bila manusia di beri label harga seperti halnya sebuah barang. Maka kata “harga jual” diperhalus dengan kata “harga diri”

Nah berapa harga diri anda? Berapa harga diri saya? Berapa pula harga diri orang lain? Please don’t ask me, ask your heart, because the answer is in your heart…” Mari kita bertanya, bukan pada rumput yang bergoyang, tapi bertanya pada diri kita sendiri. Kita lah yang menentukan harga diri. Tentang penilaian orang lain terhadap kita, itu bersifat relatif dan berada di luar kontrol kita.

harga-diri

Ada orang yang nilainya:

Cuma 100 ribu rupiah. Ada yang satu juta, sepuluh juta, seratus juta dan seterusnya.

MENGAPA?

Orang yang tega makan di kedai atau di kantin, tanpa bayar, maka nilai jualnya cuma senilai semangkok bakso atau sepiring nasi goreng, yang harganya tidak lebih dari 5 ribu rupiah. Adakah orang tipe seperti ini? Jawabannya sangat menyedihkan:” Banyaak sekali…. ”

Lebih lanjut, meminjam pulpen teman, merasa pulpennya bagus, terus pura-pura lupa mengembalikan, maka nilainya adalah senilai pulpen ini.

Ada barang ketinggalan dan kita tahu siapa pemiliknya, tapi berpikir “ini rejeki nomplok” dan berniat memilikinya. maka harga diri kita adalah senilai barang tersebut.

Makan di restaurant mewah, selesai makan, pura-pura bertengkar dengan sesama teman dan ngeloyor pergi tanpa bayar. Pemilik restaurant, karena tidak mau ribut, diam saja. Maka nilai kelompok ini adalah senilai makanan yang dipesannya.

Meningkat lagi, kongsi dagang dengan sahabat baik. Karena kelamaan pegang uang teman, merasa sayang untuk mengembalikan, maka dengan mencari-cari alasan, uang sahabat tidak dikembalikan. Maka nilai orang ini adalah senilai hak sahabatnya yang dipercayakan padanya.

Sekalipun tingkatan nya beda, tapi kategori mereka adalah sama, yaitu: orang yang tidak punya harga diri. Orang yang tidak punya harga diri adalah orang yang tidak layak dipercayai. Orang yang tidak layak dipercayai, tidak layak dijadikan sahabat.

Harga Diri

HARGA DIRI SEMU

Suatu waktu, ketika kami berada di tanah air. Saya dan istri ke salah satu bank swasta terkenal di ibukota, layanan yang kami terima sungguh luar biasa. Baru mendekati pintu masuk. bergegas seorang sekuriti membukakan pintu, sambil berkata: ”Selamat pagi bapak dan ibu, silakan masuk,” sambil tersenyum ramah.

Begitu kami melangkah masuk, langsung disambut senyum manis si mbak, petugas bank: ”Selamat pagi, bapak dan ibu, silakan duduk, Maaf, apa yang bisa kami bantu?”

“Kami mau setor uang mbak”, jawab istri saya.

“Oya, baik bu, kami siapkan segera”, jawab si mbak.

Begitu si mbak melangkah, satu lagi mbak yang lain datang: ”Selamat pagi bapak dan ibu, maaf sementara menunggu, boleh saya sediakan minuman kopi atau teh hangat?“

“Iya boleh Mbak, terima kasih,” Jawab saya..

“Sekali camilannya ya Pak?” si Mbak sambil tetap tersenyum manis.

Tidak sampai 3 menit, secangkir capuccino hangat, sudah dihidangkan di hadapan kami. Dan belum sempat kami minum. manager keuangan sudah datang menghampiri meja, di mana kami duduk. “Selamat pagi bapak dan ibu. Aduh, sudah lama tidak kelihatan yaa….. ”, sambil mengulurkan tangan, menyalami kami berdua.

Begitu sopan, manis dan ramah tamahnya pelayanan yang kami terima ….

Tetapi saya memahami. mereka begitu ramahnya pada kami,, karena kami orang penting. Tapi karena memiliki kartu “sakti” yang namanya “PRIORITAS”. Mereka tahu apa arti kartu ini. Jadi segala pelayanan yang saya terima adalah bagian dari “harga diri semu”, bukan karena saya bernama Tjiptadinata Effendi, tetapi karena saya memegang Kartu Prioritas!

REFLEKSI

Saya masih ingat ketika saya diusir dengan cara halus, tapi amat menyakitkan dari bank, ketika pertama kali saya ingin mengajukan permohonan Kredit Usaha Kecil.. Kata Pimpinan Bagian Kredit: ”Anda tidak punya sertifikat, tapi mau pinjam uang? Yang benar ajaa… di sini kepala tidak laku dijadikan agunan….. ”

Nah, pada waktu itu, Kepala Bagian Kredit, menilai diri saya: ”NOLBESAR”. karena saya tidak memiliki sertifikat.

Tetapi, 8 tahun kemudian, ketika saya sudah jadi pengusaha. Berlomba-lomba bank menawarkan pinjaman tanpa agunan! Bahkan tanpa diminta, saya dikirimi kartu Kredit Unlimited. Ttidak terbatas, yang serta merta saya kembalikan lagi.

Sesuatu yang sangat ironis memang, di kala kita sangat membutuhkan, tidak seorangpun yang mau meminjamkan uang. Bahkan ketika anak kami sakit, saya harus menjual cincin kawin, untuk beli obat. Tetapi ketika kita tidak butuh, berlomba-lomba orang ingin”berbuat baik” pada kita…Huuuuuh…suatu harga diri yang semu…Begitulah hukum yang tidak tertulis, tapi nyata. Menyakitkan, tapi hal itu terjadi dari dulu, hingga sekarang.

RENUNGAN DIRI:

Bila kita tidak bisa memberi, jangan mengambil /menahan hak orang lain

Bila kita tidak bisa meringankan beban orang lain, jangan membebani

Bila kita tidak bisa menyayangi, minimal jangan membenci

Bila kita tidak bisa berbuat kebaikan, minimal jangan berbuat kejahatan

Bila terlalu sulit menjadi orang saleh, minimal jangan jadi orang munafik

Bila terlalu sulit berbelas kasih terhadap sesama, minimal jangan melukai

Bila tidak bisa menghibur, janganlah menyedihkan

Janganlah mengajarkan tentang kasih, bila dalam diri kita tidak ada kasih

Janganlah mengajarkan tentang memaafkan, bila kita masih menyimpan dendam di hati

Kita tidak mungkin memberi, sesuatu yang tidak kita miliki

 

Catatan kecil:

Artikel ini saya tuliskan, bukan karena kehidupan saya sempurna, tetapi justru karena pernah jatuh bangun dalam perjalanan saya selama hampir tiga perempat abad di dunia ini.

Saya tidak mungkin selalu melakukan hal-hal besar dalam segala keterbatasan saya, tetapi saya berusaha untuk melakukan hal-hal kecil, sehingga menjadi sesuatu yang bermanfaaat bagi orang lain, yaitu menulis.

Orang pintar mengatakan:” Experience is the best teacher” Pengalaman adalah guru yang terbaik. Tetapi kata orang bijak, adalah baik belajar dari pengalaman diri sendiri, tetapi belajarlah juga dari pengalaman hidup orang lain, karena akan menghadirkan kearifan hidup dalam diri anda.

Mohon maaf, saya sama sekali tidak bermaksud menggurui, hanya berbagi pengalaman hidup. Yang diharapkan bermanfaat bagi setiap orang

 

 

Perth, 04 Januari, 2014

Tjiptadinata Effendi

 

About Tjiptadinata Effendi

Seorang ayah dan suami yang baik. Menimba pengalaman hidup semenjak kecil. Pengalaman hidupnya yang bagai ombak lautan menempanya menjadi pribadi yang tangguh dan pengusaha sukses. Sekarang pensiun, bersama istri melanglang buana, melongok luasnya samudra dan benua sembari bersyukur atas pencapaiannya selama ini sekaligus menularkan keteladanan hidup kepada siapa saja yang mau menyimaknya melalui BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

48 Comments to "Berapa Harga Diri Saya?"

  1. Lani  12 January, 2014 at 04:06

    33 Lanii,,aduh ,pagi pagi sudah nyebut nyebut nama Lani..aduh maak,,jangan jangan saya ngigau…hehe,
    Yaa .. saya lupa bahwa jam kita beda yaa… maaf, silakan menikmati istirahatnya…Ntar supaya segar waras…
    +++++++++++++++++

    Hahaha…….saya kdg jg bingung dgn time zone mas. Hrs liat/ngitung jam dulu………..
    Saat ini mentari mencorong, sgt cerah, indah dan tdk panas soale ada angin bertiup sepoi2 dr lautan Pacific!
    What a really paradise mas………..jd aku sll bersyukur!

  2. Dj. 813  12 January, 2014 at 02:43

    Hallo bung Effendi….
    Beberapa kali Dj. tulis komentar, selalu menghilang, entah apa sebabnya…
    Ini Dj. tulis pendek saja, agar tidak kecewa lagi…. hahahahahahaha…!!!!

    Terimakasih untuk pencerahannya, memang tidak mudah untuk menilai harga diri seseorang.
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  3. tjiptadinata effendi  8 January, 2014 at 19:46

    Mbak Arifani ,terima kasih sudah berkunjung. Memang tidak mungkin secara serta merta kita menghapusakan rasa sakit dalam hati,Butuh waktu. karena waktu adalah obat terbaik untuk menyembuhkan luka batin… Yang penting,jangan ada kebencian dan dendam//Salam hangat dari jauh ya mbak

  4. tjiptadinata effendi  8 January, 2014 at 19:44

    Elnino,terima ksih sudah dengan pas memahami makna yang tersirat dalam tulisan ini, Benar.. always be your self..hargailah diri sendiri. Salam hangat dan doa saya untuk Elnino,dimanapun berada

  5. ariffani  8 January, 2014 at 16:48

    terimakasih pak atas artikelnya, membuka mata dan merenungi hidup ini
    saya suka quotenya “Bila kita tidak bisa menyayangi, minimal jangan membenci” ,,,,,

    selama ini saya berusaha utk tidak membenci, namun apa lacur hidup terkadang tak sesuai harapan, jd tidak membenci hanya tidak suka… hehehehe,,,,

  6. elnino  8 January, 2014 at 16:01

    Bersyukurlah orang yang sanggup mempertahankan harga dirinya, mereka hidup dalam kehormatan, berkebalikan dengan mereka yang menggadaikan harga diri demi harta, pangkat dan kedudukan…
    Terimakasih renungannya pak Effendi.

    Salam manis dari Cibubur.

  7. tjiptadinata effendi  8 January, 2014 at 09:28

    Dear Alvina VB..wah, saya sangat setuju dengan pendirian ayahanda tercinta,,,always be your self.. saya juga nggak mau ambil bagian dari pusaka peninggalan orang tua,sungguh . Saya memilih hidup melarat dan menghidupkan keluarga dengan hasil keringat sendiri, dan puji syukur pada Tuhan, kami bisa mengubah nasib…’Sesungguhnya tak seorangpun di dunia ini yang bisa mengubah nasib kita kecuali diri sendiri yaa.. Terima kasih dengan setulus hati…Salam dan doa saya untuk Alvina dan keluarga.

  8. tjiptadinata effendi  8 January, 2014 at 09:23

    Lanii,,aduh ,pagi pagi sudah nyebut nyebut nama Lani..aduh maak,,jangan jangan saya ngigau…hehe,
    Yaa .. saya lupa bahwa jam kita beda yaa… maaf, silakan menikmati istirahatnya…Ntar supaya segar waras…

  9. tjiptadinata effendi  8 January, 2014 at 09:19

    Dear Matahari,,benar ..saya diperlakukan seperti itu,tapi saya bersyukur,hinaan itu menjadi cambuk diri ,sehingga memacu saya untuk mengubah nasib saya, 8 tahun kemudian ,saya datang lagi kebank yang sama,tapi sudah berpakian lengkap dan sedan baru,ternyata beliau menyambut saya secara luar biasa….hmmm

  10. tjiptadinata effendi  8 January, 2014 at 09:16

    Pak JC ,selamat pagi,terma kasih, Suatu apresiasi bagi saya mendapatkan pujian dari pak JC. Saya akan jadikan motivasi diri,untuk selalu hadir dan menuis disini. Apalagi kebahagiaan seorang penulis,selain tulisannya dibaca dan dihargai orang lain? menurut saya inilah “honor” tak ternilai,yaitu sebuah apresiasi…
    Terima kasih sekali lagi pak JC untuk motivasinya,,’
    Salam hangat dari benuar kanguru

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.