Ujian Kepasrahan

Wesiati Setyaningsih

 

Tuhan sering kali menguji kita dengan kejadian-kejadian kecil dalam hidup kita. Seperti kejadian yang terjadi siang itu saat saya datang di Jogja.

Hari itu saya ada acara retreat tentang penyembuhan holistik yang diadakan oleh teman-teman grup Seroja yang tinggal di Jogja. Acaranya memang sudah direncanakan lama, berlangsung dari hari Sabtu tanggal 4 Januari, jam satu siang hingga jam sembilan malam. Jadi saya berangkat Sabtu pagi, pulang Minggu pagi. Tiket ke Jogja pulang pergi sudah dibelikan suami, saya tinggal mencari cara untuk sampai ke tempat acara dari pool Joglosemar. Karena tempatnya agak masuk dari jalan besar, saya mesti mencari info ke teman-teman bagaimana saya bisa mencapai Wisma Pojok Indah di mana acara diadakan. Ada beberapa teman di Jogja, maka saya minta tolong salah satu dari mereka yang sekiranya tidak akan merepotkan. Saya kirimkan pesan padanya lewat inbox dan saya mendapat jawaban bahwa dia bersedia.

Fear-Factor

Sebenarnya dalam hati saya agak ragu. Teman saya ini tubuhnya jauh lebih kecil dari saya. Saya bertanya-tanya, apakah dia mampu memboncengkan saya. Tapi saya tak punya jalan lain selain pasrah saja dengan pertolongan dia. Jadi saya ikuti saja apa yang akan terjadi.

Jam delapan pagi saya berangkat dari pool Joglosemar terdekat dari rumah, di Srondol Banyumanik. Saya harap jam dua belas siang saya sudah sampai di Jogja, jalan ke Wisma, dan sempat registrasi lalu mengikuti acara tepat waktu. Jalan di Jogja macet di sana sini karena ada pembangunan jalan layang. Sesuatu yang saya tak tahu sebelumnya. Saya menginformasikan pada teman saya ketika saya sudah hampir sampai pool. Saya sampai di pool pukul setengah satu siang, dan teman saya belum ada di sana. Sms saya tidak dibalas, saya telpon tidak diangkat. Saya pikir dia sedang dalam perjalanan. Saya menunggu 15 menit hingga akhirnya teman saya menelpon.

“Ini di mana?” dia bertanya.

Astaga, ternyata dia belum jalan. Saya katakan saya sudah menunggu di pool Joglosemar Jogja di jalan Magelang.

“Oh, ya sudah. Tunggu sebentar.”

Telepon ditutup sebelum saya sempat bertanya apa saya mending naik taksi saja karena teman-teman di Wisma sudah menelpon menunggu kedatangan saya. Akhirnya saya menunggu lagi. Saya ikhlaskan saja bahwa saya pasti terlambat sampai di Wisma. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang.

Telepon berbunyi lagi, teman saya mengabarkan bahwa dia sudah sampai di jalan Magelang, tapi tidak menemukan pool Joglosemar. Dalam hati saya bertanya-tanya ternyata orang Jogja tidak selalu tahu pool Joglosemar di jalan Magelang seraya memberikan tempat-tempat yang saya pikir bisa dijadikan patokan. Ternyata dia kebablasan karena info dari saya pool Joglosemar itu di sekitar TVRI. Dia sudah sampai TVRI dan tidak menemukan pool Joglosemar. Dia harus berbalik lagi, katanya.

Saya menunggu lagi dengan pasrah karena tahu sudah pasti saya akan terlambat sekitar hampir setengah jam. Akhirnya teman saya muncul dengan motor Vario hijau, tampak terlalu besar bagi tubuhnya yang kecil. Tiba-tiba saya merasa keputusan saya meminta tolong dia untuk mengantar saya adalah keputusan yang sangat tidak bijaksana.

pasrah-tapi-tak-relaDengan hati-hati saya mengangkat kaki kanan agar bisa membonceng dengan menghadap ke depan, berharap tidak terlalu memberatkan dia. Bayangkan saja, berat badannya paling sekitar 45 kg. Berat badan saya sekitar 78 kg, masih dengan ransel yang menggembung berisi baju. Begitu saya duduk di boncengan, motor oleng. Saya tahu kaki teman saya tidak cukup kuat menyangga berat di belakangnya.

“Gimana, kuat nggak?” tanya saya was-was.

“Enggak papa. Bisa, bisa,” dia meyakinkan.

Motor berjalan dengan agak oleng ke kanan dan kiri. Saya berdoa sepanjang jalan sambil terus menerus menyesali telah menulis serial di blog Baltyra, tentang perjalanan setelah kematian di mana tokohnya meninggal setelah kecelakaan di jalan. Saya pikir, itulah saatnya apa yang saya tulis menjadi nyata dalam hidup saya. Saya sudah pasrah itu hari terakhir saya.

Bagaimana tidak takut, mobil-mobil melaju kencang di kanan kiri, sementara teman saya dengan yakin mengemudikan motor tanpa takut, padahal saya tahu dia benar-benar keberatan membonceng saya. Sedikit senggolan dari mobil, pasti kami tumpah berantakan. Benak saya penuh dengan wajah suami, anak-anak dan ibu saya. Semoga mereka mengikhlaskan saya kalau itu hari terakhir saya, pikir saya.

Sampai di apotik Depok motor berbelok ke arah kiri, tempat yang lebih sepi dari ring road, jalan yang baru saja kami lalui. Ternyata Wisma ini letaknya terpencil ke sebuah sudut yang bahkan teman sayapun tak tahu. Kami harus bertanya ke orang-orang yang kami temui di jalan setelah kami memutari jalan-jalan namun tak menemukan juga.

Motor harus memutar karena kami salah jalan. Saya turun dari motor karena membayangkan bahwa dia tidak mungkin bisa menyangga beban di boncengan dengan kakinya yang ringkih. Ketika naik lagi ke boncengan, saya duduk menghadap ke samping.

“Aku nggak bisa kalo boncengnya gitu, ngadep depan aja..” kata teman saya takut.

“Bisa, bisa. Udah jalan aja. Nanti juga bisa,” agak kejam memang jawaban saya.

Tapi saya malas melangkahkan kaki untuk menghadap depan dengan ransel yang berat dan satu tas lagi berisi brownies untuk oleh-oleh. Motor berjalan lagi. Sambil mengendara, teman saya ngajak ngobrol.

“Tadi naik Joglosemar enak, mbak?”

“Enak,” kata saya.

Bis Joglosemar memang nyaman. Memang lebih mahal, tapi selalu tersedia tiap jam dan tempat duduknya yang dua-satu, membuat kakipun lapang dan tubuh tidak berhimpitan. Kebetulan saya duduk di jok satu sehingga dengan nyaman saya tidur sepanjang jalan.

“Aku dulu pernah mau ke Surabaya naik travel, belum sampai mana-mana, masih di Jogja sudah mabuk duluan.”

Saya ngakak mendengarnya. Teman saya ini memang terkenal mudah mabuk darat, laut, dan mungkin udara. Naik mobil cukup jauh bisa membuat dia mabuk. Tapi kalo mau ke Surabaya dan sudah mabuk duluan ketika masih di Jogja, itu kebangetan, pikir saya geli. Tidak terbayang bagaimana keadaannya sepanjang perjalanan ke Surabaya.

Setelah berputar-putar lagi karena sempat tersesat untuk ke sekian kalinya, akhirnya saya sampai di wisma. Saya ajak teman saya untuk ikut serta, tapi dia tidak mau.

“Besok pagi saya jemput lagi ke sini ya?” dia menawarkan diri.

Dengan panik saya menolak.

“Enggak usah, mas. Besok pagi-pagi teman saya yang di sini mau mengantar ke pool Joglosemar kok. Dia sudah janji.”

Sungguh saya tidak ingin mengambil keputusan yang mengerikan buat dia dan saya untuk kedua kalinya. Saya sungguh berterima kasih atas bantuannya. Tapi saya tak ingin membahayakan keselamatan dia dan saya sekali lagi.

Setelah bersalaman dan mengucapkan terima kasih seraya mengulurkan brownis untuk buah tangan, saya berlari ke dalam wisma meninggalkan teman saya yang berlalu dengan motor Vario hijaunya.

Hari itu saya benar-benar bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati hidup lebih lama lagi.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "Ujian Kepasrahan"

  1. wesiati  15 January, 2014 at 20:00

    aku macane mengharap mas anoew cerita waktu dia dibonceng juwandi. tapi malah tekan bmx. ampun. wkwkwkwk….

  2. anoew  14 January, 2014 at 21:16

    Dulu waktu ketemu kawannya Wesiaty ini aku berpikiran sama yaitu, motor Vario hijau itu tampak terlalu besar buatnya. Mungkin sudah saatnya sang teman itu, mengganti tunggannya dengan sepeda BMX.

  3. wesiati  9 January, 2014 at 13:22

    penggambaran pak handoko benar sekali. gajahe isih bawa ransel besar dan satu tas lagi.

    iya ya, Dewi murni, harusnya ‘uji nyali’.

  4. Alvina VB  8 January, 2014 at 00:57

    Wah..Wes, denger cerita kamu aja aku kok ngeri banget…untung kamu selamet yo….jadi inget dulu waktu remaja pernah 1x diboncengin adiknya temen krn telat gitu ke suatu acara….dan sebetulnya dah melanggar peraturan org tua yg bilang gak boleh dibonceng naik sepeda/ sepeda motor, krn mengingat sepupu dulu ada yg tertabrak naik motor dan masuk kolong truk, kakinya tergilas, ttp dr. masih bisa selamatkan kakinya, gak hrs diamputasi, ttp ya itu dia jlnnya rada2 pincang. Sejak saat itu keluar ultimatum di rumah gak boleh ada yg naik sepeda/ sepeda motor, begitu…Makanya sampe saat ini gak bisa naik sepeda, apalagi sepeda motor.

  5. Lani  7 January, 2014 at 23:14

    14 AKI BUTO : mencari adegan brompit njengat????? mudah sekali, nek aku mboncengke kowe…….brompitnya langsung njengat emboh njengat berapa derajad njur krungkep bareng mencium aspal………kkkkkkkkk……….

  6. probo  7 January, 2014 at 23:11

    “Motor harus memutar karena kami salah jalan. Saya turun dari motor karena membayangkan bahwa dia tidak mungkin bisa menyangga beban di boncengan dengan kakinya yang ringkih. Ketika naik lagi ke boncengan, saya duduk menghadap ke samping.”

    itu kadang saya lakukan, ketika harus putar balik sementara tubuhnya jauh lebih berat ketimbang saya yang kerempeng (dulu hehehe).
    soalnya pernah, tubuh kurusku nggak kuat saat ‘diblegi’ anak ibu kos yag gemuk, akhirnya motor nyendal…mlayu mebawa saya, gara2 kaget…..
    dan pernah pula nyaris njengat, mboncengin teman yang jauh lebih besar….dan tidak bisa naik motor pula, senam janung saya……

    Ary Hana, terima kasih 2000 persennya ya, tapi saya tak tahu, dewi murni dan tia takboncengin pada takut apa enggak…

  7. J C  7 January, 2014 at 21:41

    Aku lagi mencari-cari adegan brompit njengat…

  8. Kornelya  7 January, 2014 at 20:43

    Hahaha lulus ujian bab I. Apa benar yg bonceng itu siakang Superman Guswan?

  9. Nonik  7 January, 2014 at 20:14

    baca artikel ini ikut deg2an juga.

  10. Dewi Aichi  7 January, 2014 at 19:47

    huwahahahahahahhahaa…tambah ngakak baca komentar Ary Hana hahahahhahaa…

    Ini judulnya ngga pas ahh..harusnya “uji nyali”…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *