Learning to Love Ibu Pertiwi

Sasayu – Helsinki

 

Halo kawan-kawan Baltyra, berjumpa lagi di lapaknya Sasayu. Agak berbeda dari artikel-artikel ringan yang biasanya, kali ini Sasayu menulis topik yang agak berat. Artikel kali ini masih berkutat dengan tema NASIONALISME dan ada hubungannya dengan artikelnya saudara kenthir saya yang berjudul “Ke Luar Negeri ≠ Nasionalis”. Tentu saja Sasayu tidak perlu memberi argumen untuk setiap poin yang dijabarkan di artikel “Terbiasa dengan Luar Negeri”, karena Nonik sudah memberikan opini-opininya secara jelas, padat dan akurat mengapa nasionalisme tidak ditentukan dengan pilihan seseorang ke luar negeri. Kalau dua artikel di atas menjabarkan permasalahan dalam lingkup yang menyeluruh, artikel ini lebih menceritakan pengalaman dan pergumulan pribadi Sasayu untuk menumbuhkan rasa nasionalisme. Jadi harap maklum kalau agak biased dan subjektif, namanya juga cerita pengalaman pribadi.

Reasons I hated Indonesia

Sasayu tumbuh besar di keluarga Tionghoa, walaupun agak Sasayu ragukan sih, karena si Mbah dan si Mbok tidak ada yang bisa bahasa Mandarin ataupun dialek dari tanah Tiongkok (kecuali kalau nawar di Glodok atau Mangga Dua…hohoho). Bukti lainnya, Sasayu lebih bisa bahasa Jawa dan kami tidak terlalu mengikuti tradisi-tradisi Peranakan Cina, hanya sekedar pai-pai dan mengucapkan selamat pada waktu Tahun Baru Imlek. Sedari kecil, Sasayu sudah sadar bahwa kaum Tionghoa itu adalah kaum minoritas dan menjadi target diskriminasi. Dalam hal ini, Sasayu agak menyalahkan sistem pengajaran yang sudah turun menurun di keluarga yang memang membuat batas perbedaan antara kaum Tionghoa (Tenglang) dengan kaum pribumi (Hwana). Jadi selama tinggal di Indonesia, bisa dibilang Sasayu bersikap rasis terhadap kaum pribumi. Terlebih, karena dari TK sampai lulus SMA, Sasayu menempuh pendidikan di sekolah swasta dan pergi ke gereja yang jelas-jelas mayoritasnya adalah Tionghoa.

Sikap antipati terhadap kaum pribumi diperparah dengan kejadian Mei 1998 (Sasayu tidak bermaksud membuka luka lama) yang terjadi di dekat rumah. Masih terekam dengan jelas bagaimana si Mbah menginstruksikan Sasayu yang berumur delapan tahun untuk bersembunyi di jok belakang mobil ketika kami bertiga melewati kawasan Roxy Mas yang sudah rusuh. Mengintip dari balik jendela, Sasayu melihat orang-orang berteriak panik dan asap sudah membumbung tebal. Di saat banyak orang Tionghoa mengungsi ke luar negeri, kondisi keuangan kami jelas-jelas tidak memungkinkan. Jadi Sasayu dan adik (si Precil) hanya diungsikan sementara ke rumah saudara dan kami berdoa memohon keselamatan. Cerita detilnya tidak akan Sasayu ceritakan karena akan jadi panjang sekali, intinya kami sekeluarga selamat dengan tetap bertahan di tanah air tercinta.

Kerusuhan Mei 1998 menorehkan kesedihan dan kemarahan buat Sasayu. Sasayu sempat bertanya ke Mbah, ’Pa, kenapa sih kita harus ditempatkan di Indonesia, kenapa ga di negara lain, tersiksa amat jadi Tionghoa di Indonesia?’. Tumben-tumbennya nih si Mbah menjawab dengan bijaksana, ’Sa, rencana Tuhan itu selalu yang terbaik, dan Tuhan pasti punya rencana yang besar untuk kamu dan Indonesia’. Jawaban si Mbah yang alkitabiah Sasayu anggap angin lalu, di pikiran Sasayu yang saat itu masih piyik, ’Gila apa, Tuhan punya masterplan yang ga karuan gini, ga liat itu Grogol udah kayak medan perang’.

Mendekati akhir masa SMA, Sasayu berkeinginan untuk menempuh sekolah ke luar negeri. Kalau dibilang alasan-alasan Sasayu memilih untuk go abroad karena masalah mutu dan untuk memperoleh pendidikan lebih baik, itu benar. Orangtua pun mendukung sepenuhnya dengan melihat kondisi bahwa seleksi universitas di Indonesia masih melihat warna kulit dan ras, dan seringkali ujung-ujungnya harus keluar duit lebih. Toh setelah melakukan budget planning, uang kuliah di Belanda saat itu tidak terlalu berbeda jauh dengan uang kuliah di universitas-universitas swasta. Tetapi, melihat ke belakang, mungkin salah satu alasan Sasayu untuk meninggalkan tanah air karena Sasayu muak tinggal di Indonesia, muak dengan Jakarta, muak dengan macet, muak dengan tingkah laku manusia-manusianya, muak dengan birokrasinya, muak dengan korupsinya, muak dengan pemerintahnya, intinya So Long Indonesia!! Rencana Sasayu adalah meninggalkan Indonesia, berkarir di luar negeri, kalau bisa membawa orangtua keluar dari Indonesia dan hanya kembali ke Indonesia untuk berlibur atau menengok keluarga.

Rasa meremehkan negeri sendiri sebenarnya masih tertanam di diri Sasayu setelah menyelesaikan S1 di Belanda, walaupun Sasayu sudah tidak rasis lagi terhadap kaum pribumi berkat jalinan pertemanan yang erat dan tentunya wawasan yang jauh lebih luas bahwa dunia itu ga selebar daun kelor. Sikap sinis terhadap Indonesia bisa dikarenakan kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan dengan orang Indonesia selama di sana, termasuk gesekan dengan seorang staf KBRI pada perayaan Natal (Bu! kerja jadi staf di bagian ekonomi ga perlu diumbar-umbar sampai sepuluh kali, belum jadi diplomat aja sombongnya selangit, toh akhirnya Ibu sendiri yang malu disemprot sama Bapak Duta Besar, padahal Sasayu sudah ngasih tau lho instruksi dari Bapak Dubes).

Reconciliation with Indonesia

Eniwei, justru selama melanjutkan studi magister ke Finlandia, Sasayu belajar untuk mencintai lagi tanah air tercinta. Sasayu jadi rajin membaca dan menonton berita tentang Indonesia, sangat update dengan berita terkini dari masalah Gayus, Nazzarudin, penangkapan ketua MK sampai berita ga terlalu penting seperti kicauan-kicauan ngawur Farhat Abbas atau menu makan siang dan perawatan kulit Ratu Atut (haduh jeung, itu kulit muka udah merah-merah gitu apa lagi yang mau diamplas?!). Sasayu juga jadi rajin mengikuti kegiatan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia), mempromosikan makanan Indonesia dan ikutan latihan Gamelan Bali untuk menampilkan kebudayaan dan keindahan Indonesia lewat cultural events untuk publik Finlandia, salah satunya bisa dibaca di sini dan bisa ditonton di sini. KBRI Helsinki sendiri sangat aktif dalam membuat program-program budaya untuk meningkatkan hubungan dagang dan pariwisata antara Indonesia dan Finlandia.

Jadi selama di Helsinki, rasa nasionalisme Sasayu justru bertumbuh dan berkembang.  Walupun terkadang atau bisa dibilang seringkali Sasayu masih merasa kecewa dengan negeri sendiri. Salah satunya contohnya adalah ketika si Precil ingin meneruskan bangku kuliah. Boleh GR dikit, si Precil ini dikarunai otak berlebih (makanya kepalanya peyang dan ada bakat botak sebagai kompensasi…hehehe).

Melalui pelatihan dan kerja keras, dia bersama kawan-kawannya berhasil menyumbangkan beberapa keping medali untuk Indonesia selama mengikuti Olimpiade Biologi. Dari pengamatan Sasayu melihat anak-anak ini bertanding, lebih dari sekali ada oknum tertentu yang berusaha mengambil untung dalam pembagian hadiah. Yang Sasayu ingat dengan jelas adalah pembagian hadiah yang dibagi sebagian kecil dalam bentuk tunai dan sebagian besar dimasukkan sebagai asuransi. Yang kami sesalkan adalah tidak relevansinya bentuk asuransi yang diberikan. Bukannya asuransi pendidikan atau asuransi kesehatan, malah asuransi dalam bentuk LINK/investasi (ya halooo, anak SD dan SMP mana ngerti sih main saham).

Dan yang namanya main saham, di tahun kedua malah kami harus membayar premi sebesar Rp. 2.5 juta bila ingin meneruskan investasinya (ini dapat hadiah kok malah disuruh bayar @[email protected]). Alhasil di tahun kedua si Mbok mencak-mencak tidak mau membayar premi dan memutuskan untuk mencairkan, walaupun karena harga saham yang menurun drastis, jumlah yang didapat hanya 50% dari jumlah awal. Dan kalau ingin meneruskan investasinya pun, hasil investasi baru bisa diambil setelah si Precil berumur 60 tahun (ini mah udah jadi Engkong). Bagaimana sistem pembagian hadiah menjadi seperti ini, ya allahu alam deh. Indonesiaku, sakit ribet itu ya disembuhin kenapa sih?!

Terancam Brain Drain

Banyak yang menyayangkan bahwa putra-putri Indonesia yang menempuh ilmu di luar negeri akhirnya memilih untuk bekerja di luar dan tidak kembali ke Indonesia. Sehingga negeri ini terancam kehilangan aset-aset bangsa yang cerdas (brain drain). Nonik sudah menyarankan dwi kewarganegaraan sebagai salah satu solusi untuk menyikapi resiko ini. Buat Sasayu, pemerintah harusnya mulai mengantisipasi sejak dini, dimulai dari perbaikan sistem pendidikan.

Cerita lama yang terus bergulir sampai saat ini kan putra-putri terbaik Indonesia diambil oleh universitas-universitas luar negeri. Harusnya universitas-universitas negeri Indonesia jangan kalah cepat dalam merekrut siswa-siswa berbakat Indonesia. Kenyataanya, tidak lama setelah memenangkan medali, datang surat undangan dari universitas ternama di Singapore untuk si Precil dan kawan-kawan setimnya yang menyatakan apabila mereka ingin melanjutkan kuliah di universitas tersebut, tidak diperlukan tes masuk dan akan disediakan beasiswa. Bahkan dengan niatnya, representatif universitas tersebut mendatangi tempat karantina untuk menawarkan beasiswa. Sekarang yang jadi pertanyaan, usaha perguruan tinggi negeri (PTN) untuk mengatasi hal ini apa? Sampai detik ini si Precil udah nun jauh di sana, tidak ada satupun tawaran dari PTN.

Pembaca Baltyra mungkin pernah membaca/mendengar bahwa beberapa siswa/i pemenang Olimpiade sains tidak diterima di universitas negeri dengan alasan-alasan yang agak tidak masuk akal. Padahal sesuai dengan yang dijanjikan, peraih medali Olimpiade sains mendapat jaminan akan dimudahkan untuk melanjutkan kuliah di universitas negeri yang dituju. Sebagai bukti, Sasayu melampirkan sebagian persyaratan bagi siswa/i yang mengikuti Olimpiade, persyaratan diambil dari Panduan Program Beasiswa Unggulan 2012:

Bagi juara olimpiade internasional (emas, perak, perunggu) bidang sains dan seni berhak menerima beasiswa ini setelah menyerahkan persyaratan yang dibutuhkan dan melalui seleksi Tim Beasiswa Unggulan. Adapun praseleksi yang dilakukan Tim Beasiswa Unggulan melalui seleksi administrasi minimal mempunyai Letter of Acceptance dari Perguruan tinggi di dalam dan luar negeri (diharapkan dengan sangat memilih perguruan tinggi negeri).

Hal ini berarti bahwa Sekretariat  Beasiswa Unggulan tidak melakukan pemilihan perguruan tinggi bagi pelamar program beasiswa ini. Di samping itu untuk kelengkapan proses seleksi pelamar wajib mengirimkan persyaratan pendaftar online atau manual tersebut di atas dan dikirim ke Sekretariat Beasiswa Unggulan. Bagi pelamar terseleksi dalam program ini, maka akan menerima beasiswa biaya pendidikan dan biaya hidup selama studi. Tetapi bila pelamar melanjutkan studi di luar negeri, maka pelamar akan menerima beasiswa di luar negeri adalah biaya hidup dan bantuan tiket. Pemberian penghargaan ini sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 34 Tahun 2006. (Panduan lengkapnya bisa diunduh di link ini)

Bisa dilihat kalimat yang ditebalkan, murid-murid berprestasi ini sangat diharapkan untuk memilih perguruan tinggi negeri. Kenyataan yang ada, justru sistem yang ada mematikan keinginan siswa-siswi berprestasi ini untuk melanjutkan pendidikan di PTN tujuan. Kisah dari salah satu dari sekian banyak korbannya bisa dibaca di sini. Berita ini mengisahkan tentang Marsha (dia teman SMA dan satu fakultas dengan si Precil) yang ingin menjadi dokter tetapi tidak lolos SMPTN dan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke Amerika. Kehilangan aset bangsa? Salah siapa hayo?

Cerita lain lagi, sesuai dengan iming-iming yang dijanjikan oleh Diknas, setiap siswa yang berhasil meraih medali di tingkat Olimpiade sains internasional akan dibiayai kuliah secara gratis (dari S1-S3) di universitas manapun yang dituju baik di dalam dan di luar negeri. Mendengar hal ini, kami sebenarnya agak meragukan, ya karena dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, omongan Diknas itu susah untuk dipegang. Tapi toh ga ada salahnya dicoba.

Jadilah si Mbok menuju gedung Diknas untuk mencoba menagih janji. Terlebih karena saat itu si Precil sedang dalam proses pendaftaran universitas. Waktu itu si Mbok ditemani seorang Ibu yang anaknya juga peraih medali. Kira-kira seperti inilah pembicaraan antara si Bapak yang bertugas dengan si Mbok. Kalimat di dalam kurung hanya bayangan Sasayu terhadap reaksi si Mbok di dalam hati.

Mbok (M)        : Selamat siang Pak, kami mau menanyakan kemungkinan meminta beasiswa bagi anak-anak yang meraih medali olimpiade sains.

Bapak Diknas (BD)     : Selamat siang Ibu, Ooo, bisa saja Ibu, nanti tinggal kami catat namanya saja.

M         : Lalu bagaimana nanti prosedurnya?

BD       : Ya nanti mudah saja, kami catat namanya, universitas yang dituju dan jumlah biaya di universitas yang bersangkutan. Tapi nanti bagi hasil.

M         : Oooh gitu ya Pak (si Mbok tepok jidat). Nah, saya mau bertanya lagi, putra saya kan sedang mendaftar beberapa universitas, kalau misalnya dia mendapat bantuan dari universitas yang bersangkutan, kan Diknas bisa membantu dari biaya hidup saja

BD       : Kalau seperti itu, Ibu tidak perlu mencantumkan bahwa putra Ibu mendapat bantuan dari universitas yang bersangkutan, ya tapi nanti bagi hasilnya lebih besar.

M         : (Kali ini tepok jidat ke meja) Bapak, saya mau tanya lagi (maklum ya si Mbok itu super kepo dan selalu banyak tanya), kalau dana di tahun pertama sudah cair, bagaimana di tahun-tahun berikutnya?

BD       : Ya Insya Allah dapat Bu.

M         :  (Jiann semprul, sudah terancam jadi korban korupsi, aku di Insya Allahin).

FYI, kalau mendapat bantuan dari negara dan tidak melaporkan bantuan tersebut ke pihak universitas yang dituju sebenarnya tindakan ilegal (ya logikanya, nilep uang universitas yang bisa digunakan untuk membantu siswa-siswi lain). Alhasil, si Mbok dan kawannya pulang dengan pikiran absurd. Mendengar curhatan si Mbok, reaksi Sasayu WT#*&$??! Ya ampunnn, buset dehhh,

Uang pendidikan untuk anak-anak yang notabene aset bangsa aja ditilep untuk kantong sendiri. Seandainya bisa memutar waktu dan Sasayu ada di tempat kejadian, Sasayu akan pasang penyadap, pembicaraan akan direkam dan akan dikirimkan ke Abraham Samad. Kami akhirnya memutuskan untuk tidak mengikuti cara kurang Halal di atas untuk mendapat beasiswa. Puji Tuhan, si Precil toh akhirnya mendapat bantuan finansial dari universitas yang dituju sehingga kami masih mampu untuk membayar. Sayangnya praktik di atas sampai saat ini masih terjadi, dan dengar-dengar dari yang pihak yang menerima bantuan, mereka hanya menandatangani cek kosong. Tanya kenapaa??!

Indonesia Masih Punya Harapan

Perspektif jelek tentang Indonesia itu kalau menurut Sasayu sebagian besar disebabkan oleh media. Bagi diaspora Indonesia, kalau membaca media Indonesia kebanyakan yang ditampilkan yang buruk-buruk saja. Ya jelas, karena berita-berita seperti itu yang menaikkan rating dan banyak diburu. Cuma sebenarnya masih banyak pihak-pihak yang punya hati berpartisipasi untuk membenahi Indonesia dalam berbagai bidang. Jokowi, Ahok, Prof. Yohanes Surya, Ibu Tri Rismaharini, Anies Baswedan, Ridwan Kamil dan Pandji Pragiwaksono adalah sekelumit tokoh inspiratif yang secara nyata sudah mengkontribusikan diri mereka untuk Indonesia. Melihat sepak terjang mereka, Sasayu melihat masih ada secercah harapan bagi Indonesia untuk semakin maju. Dan dari mereka-mereka inilah Sasayu mengubah perspektif. Percuma Sasayu komplain dan mencerca Indonesia kalau diri sendiri tidak melakukan usaha untuk memperbaiki, kebanyakan orang akhirnya hanya No Action Talk Only, monyet buta juga bisa kaleee teriak-teriak gini.

Bisa dibilang hubungan cinta Sasayu dengan Indonesia itu aneh dan njelimet, bahasa kerennya love-hate relationship. Sasayu justru belajar mencintai Indonesia pada saat Sasayu tidak berada di tanah air. Sasayu juga malah dengan tulus menangis dan mendoakan kebangunan Indonesia pada saat Sasayu melakukan perjalanan misi di Mediterania.

Nasionalisme

Menelaah situasti Sasayu saat ini, Sasayu baru bisa menghubungkan benang merah dengan jawaban si Mbah yang mengatakan bahwa Tuhan punya rencana besar untuk Sasayu dan Indonesia. Suddenly all the dots are connected and I can understand His master plans putting me and my family in Indonesia. Oleh karena itu, Sasayu memutuskan untuk kembali ke tanah air setelah menyelesaikan studi (weizzzz…public announcement). Keputusan ini dengan berat hati (huaaa…I love you Finland) setelah dipertimbangkan matang-matang dan setelah mendapat beberapa pertanda bahwa untuk sekarang kembali ke tanah air adalah pilihan yang paling OK (demi keluarga, karir dan cinta…cieilehhh). Bagaimana sepak terjang kekenthiran Sasayu nanti untuk ikutan memajukan Indonesia, ya belum tahu deh, only time will tell, doakan SUKSES!! AMINNNN!!

Salam NASIONAL.IS.ME

Helsinki

4 Januari 2014

 

About Sasayu

Dari kecil passion'nya adalah makanan, bahkan sampai cicak pun dilahapnya tanpa basa-basi. Petualangannya melanglang buana, menjelajah benua Eropa mengantarnya meraih gelar dan ilmu dalam Food Technology dan Food Science. Setelah lulus dari Helsinki, kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan kerajaan kecil keluarga: PONDOL - Pondok Es Cendol, spesialis masakan Jawa Tengah yang cukup melegenda di Jakarta.

Arsip Artikel

39 Comments to "Learning to Love Ibu Pertiwi"

  1. djasMerahputih  11 January, 2014 at 09:07

    Sory baru bisa ikutan komen, lagi di luar kota.
    Artikel sejenis adalah favorit djas. Sangat perih menyaksikan ibu pertiwi.
    Salut buat keputusan besar Sasayu.

    Pohon durian akan berbuah pada musimnya.
    Purnama akan muncul pada waktunya. Tetap berbuat sesuatu,
    agar saat purnama datang awan gelap itu telah hilang dari angkasa

    Salam optimis,
    //djasMerahputih

  2. Sasayu  10 January, 2014 at 03:06

    JC: Thank you so much for the encouragement . Wahhh tidak sabar ngumpul2 sama anggota Baltyra yang ada di tanah air. Emberrr, babah dan si mbok sudah sangat excited, aku bakal dijadikan kelinci percobaan lah…nasib2…

    Pak Han, kalau perlu aku nangkep kepitingnya sendiri wesss…

  3. Handoko Widagdo  9 January, 2014 at 22:48

    Akhirnya mimpiku makan kepiting masak Pondol akan segera kesampaian.

  4. Lani  9 January, 2014 at 22:36

    32 : you’re always welcome in Hawaii……….nah, itu urusan perut kudu dibenahi nomer siji………….krn lurah kita bakalan seneng melihat kita megal-megol pakai bikini kiwir-kiwir bukan kowor-kowor…….kkkkkkkkkkk

  5. J C  9 January, 2014 at 21:20

    Btw, si Mbok dan Babah Pondol sudah menyiapkan sedereeeeeettttt skenario untukmu menyambut kepulanganmu…

  6. J C  9 January, 2014 at 21:19

    Sasayu, well said! Uraianmu sudah mewakili apa yang aku rasakan ketika 2 tahun di luar negeri. Persis plek wis…dan sampai detik ini, setelah 12 tahun kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi (halaaaahhh bahasaku) aku tidak pernah menyesalinya. Pernah sekali di tahun 2004 aku dan istri coba apply to migrate to Canada, ladalaaahhh proses’e suweeeee tenan. Tahun 2008 baru dapat panggilan interview, padahal badai Lehman Brothers – subprime mortgage menghantam dunia dimulai dari Amerika Utara, Canada kesenggol, ya jelas emoh kami pindah…edian po…keleleran malah tidak lucu blas. Akhirnya diputuskan stop process, duit balik sebagian dan kami melanjutkan hidup sampai hari ini…

    Kalau waktu itu di sekitar tahun 2005 atau 2006 ada interview, mungkin ceritanya jadi lain…

  7. Sasayu  9 January, 2014 at 19:53

    Ci Tammy, hohohoho, doakan biar daku bisa tahan banting dengan stressnya hidup di ibu kota dan tetap sehat biar ga habis lah! :p

  8. Sasayu  9 January, 2014 at 19:51

    Salam kenal Ivana . Ya, mungkin artikel di atas agak terkesan idealis. Cm terutama di Indo, ga bakal hidup deh bersikap idealis. Kondisi dan situasi juga harus disikapi dengan logika. Ya kalo Sasayu sudah berkeluarga dan pasangan mmg ad di luar negeri ya jelas2 aku juga ikutan pindah. Apalagi kalau sudah ad kerjaan, i don’t see any logical reason to start everything from ground zero.

    Subo Lani: asekkkk udh ad undangan resmii. Kalau gt aku meratakan perut dulu biar pake bikininya ga malu2in.

  9. tammy  9 January, 2014 at 08:54

    Sasayu: salut sana keputusanmu, pastinya nggak gampang meninggalkan segala keenakan dan kemudahan di LN. Aku sendiri masih pegang paspor ijo, tp sudah nggak mungkin akan kembali menetap di indo krn suami nggak akan bisa hidup di sana. Dan seperti Pak SLB bilang, tinggal di indo itu enak buat orang yg punya duit dan sehat. begitu jatuh sakit yg serius…. habis lah!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.