Memetik Bintang

Ida Cholisa

 

Hujan turun, tiba-tiba. Tanpa memberi tanda.  Deras, sangat deras. Membasuh apa saja yang ada di bawahnya. Semua terlihat pekat. Samar-samar. Jarak pandang hanya sejengkal.

Oh hujan, mengapa harus turun dengan tiba-tiba? Mengapa tak menunda sejenak agar aku tak tertimpa guyuran air derasnya? Hujan sedang tak bersahabat denganku, tampaknya. Hujan mungkin menertawakanku, kasihan engkau hai sang pemimpi…

Ya, aku pemimpi yang sedang pilu oleh kegagalan diri. Mimpi itu melayang tanpa mampu aku pegang. Musnah bersama keterbatasan…

Hujan terus saja menerjang. Menantang langkahku untuk kembali pulang. Tapi aku tak peduli.  Aku terus berlari menembus pekatnya hujan yang mengguyur bumi Jakarta. Di bawah tusukan ribuan jarum yang menghujani seluruh tubuhku, aku terus berlari dan berlari, sedapat mungkin, menghindari tamparan titik air hujan mirip jarum akupunktur yang semakin tak mampu kuhindari.

Aku  terengah-engah menaiki tangga jembatan penyeberangan di depan kampus IKIP Jakarta. Kampus impian yang kuincar sejak aku meninggalkan kota Solo. Kampus yang kuimpikan menjadi tempat keduaku untuk  kembali menuntut ilmu. Hatiku dipenuhi kegembiraan yang sangat luar biasa saat kesempatan itu tiba. Dadaku dilumuri berjuta harapan bahwa akan tiba suatu masa di mana bangku kuliah kembali aku sapa. Aku ingin menjadi mahasiswi kembali, aku ingin belajar kembali.

kenangan-hujan

Tetapi semua harapan itu musnah. Luruh bersama derasnya air hujan yang mengenangi setiap sudut kota Jakarta. Disebabkan suatu hal, terpaksa cita-cita terpenggal. Aku mundur teratur  karena keadaan. Pundak bapak penuh oleh beban, hingga aku memutuskan berpaling dari impian yang mengguncang perasaan.

Aku gagal melanjutkan studi lanjut. S2, pasca sarjana, program magister, atau apalah  istilahnya. Keinginanku untuk terus melanjutkan studi kukubur dalam-dalam. Aku mengerti kondisi bapak, lelaki yang tidak berapa lama lagi harus menjemput masa pensiun. Aku tahu benar keterbatasan bapak. Maka bersama daun-daun kering yang berguguran tertiup angin, aku melangkah menuju ibukota. Di sana, sebuah jalan tengah kurintis. Mungkin bukan saat ini aku meraih mimpi. Mungkin esok, lusa, atau esok lusa.

Mimpi itu memang terpenggal. Selembar surat pengumuman bahwa aku  diterima di Program Pendidikan Bahasa Pascasarjana IKIP Jakarta terbang melayang, tertiup angin kemelaratan. Hanya satu juta lima puluh ribu  rupiah yang harus aku bayar, tetapi aku sama sekali tak memiliki selembar uang. Semua beban kugantungkan di pundak bapak, lelaki tua yang harus menghidupi delapan anaknya.Tetapi aku akan tetap berusaha dan berjuang. Kesulitan bukan untuk dihindari, tetapi untuk diatasi. Kesadaran penuh tentang kemampuan diri, mimpi, serta keterbatasan diri membuatku mengerti, bahwa tidak ada keberhasilan tanpa diiringi semangat tinggi. Tidak ada hasil yang membanggakan tanpa mengiringinya dengan perjuangan. Aku tahu aku memiliki keterbatasan finansial, tetapi aku sangat tahu bahwa aku memiliki semangat yang tak terbatas. Itu sebabnya aku terus berlari mengejar mimpi. Tak peduli sepedih apa pun sembilu mengiris hati.

Sejak dulu selalu kutanamkan dalam hati, bahwa aku harus mampu berdiri di atas kaki sendiri. Prinsip itu aku pegang teguh hingga belajar menjadi ritual yang menemani keseharian diri.  Aku benci orang-orang yang mencontek, orang yang tidak mau belajar keras tetapi hanya mengintip pekerjaan kawan saat ulangan datang. Aku benci kawan yang santai saja, kerjanya hanya cuap-cuap tak tahu arah. Aku benci orang yang mengajariku kemalasan. Itu sebabnya aku selalu berhati-hati dalam memilih kawan.

Aku mungkin terlalu idealis, saat itu.Tetapi itulah aku. Kawanku adalah mereka-mereka yang memiliki keunggulan diri. Kawan yang membawaku pada kemajuan diri. Bukan kawan yang mengajakku pada kemalasan diri. Dari mereka aku belajar banyak hal, dari mereka aku mengerti, bahwa hasil akan berbanding lurus dengan upaya dan kesungguhan hati.

Langit terus saja memuntahkan ribuan titik air. Aku berjalan dengan cepat melintasi jembatan penyeberangan. Di bawah sana terlihat mobil dan beragam kendaraan yang mengular tak karuan. Macet total. Hanya karena hujan, keteraturan berhamburan tak karuan.

Dari jauh terlihat dua  orang polisi lalu-lintas tengah berupaya mengurai kemacetan. Suara klakson terdengar seperti terompet malam tahun baru. Panjang,bersahut-sahutan, memekakkan telinga. Seorang pengendara motor terlihat menyundul pantat sebuah sedan. Di bawah hujan pengendara sedan keluar dan memaki-maki sang pengendara motor. Telunjuknya berulangkali mengarah ke bagian belakang mobil. Tampaknya insiden kecil telah terjadi. Ciuman sepeda motor mungkin meninggalkan jejak goresan di badan mobil dan membuat pemilik mobil marah.  Mungkin, aku menduga-duga saja, ditengah basah kuyup guyuran air hujan yang masih membekas di sekujur badan. Payung yang kupegang tak cukup melindungiku dari serbuan air hujan.

***

Kenangan itu melambai-lambai di benak kepalaku. Enam belas tahun lalu. Kenangan yang tak mungkin terlupakan sepanjang hidupku.

Kini, hadir kembali rekaman peristiwa yang tak sengaja melintas begitu saja. Dan aku tahu sebabnya. Sangat tahu.

Sebab aku tengah melangkah menggapai mimpi, maka kenangan lama yang terkubur bangkit kembali. Berkejar-kejaran membelit diri. Menepi sejenak dari hiruk-pikuk realita dunia, menikmati sejenak peristiwa demi peristiwa yang terjadi padaku dahulu kala. Cerita tentang perburuanku mengejar mimpi.

Aku masih setia mendiamkan diri, menutup mata, menjelajah angkasa cerita lama. Di sini, di rumah mungil yang dipersembahkan suami saat menikahiku. Rumah tipe dua puluh satu yang telah kusulap menjadi rumah layak huni dengan tiga kamar di lantai bawah dan satu kamar di lantai atas. Dan aku kini tengah meresapi sepi di sudut ruamgan lantai bawah, di kamar sunyi. Tanpa siapa-siapa di sekelilingku. Suamiku sedang mengajar di sekolah. Anak-anakkiu sedang menuntut ilmu.  Nanti sore mereka bakal kembali.

Aku merindukan saat-saat seperti yang sedang dijalani suami dan anak-anakku. Beraktivitas layaknya manusia sehat lainnya. Aku sedang tak menyesali diri. Tetapi aku sadar sekali, kondisiku yang tidak memungkinkan untuk bepergian ke luar rumah Karena penyakitku. Kanker payudara.

Tuhan memberiku sakit, mungkin ada alasan tersembunyi yang tidak aku mengerti. Mungkin Dia tengah mengujiku, seberapa besar kekuatan dan kesabaranku. Mungkin Dia memberiku kesempatan untuk merenungi diri, dan memperbaiki segala kekurangan yang aku miliki. Semua serba dipenuhi kemungkinan.

life-rainbow

Hari ini, enam belas tahun berlalu dari saat itu. Meski kenangan itu tinggal serpihan ingatan yang timbul-tenggelam, aku tetap tak ingin menghentikan lamunan demi lamunan masa laluku. Ada keasykan tersendiri yang membuatku sangat menikmati. Peristiwa demi peristiwa yang tentu saja dipenuhi beragam nuansa. Senang susah, suka duka.

Ingatanku sesekali melompat tak beraturan. Bermacam  kenangan melintas, silih berganti. Kali ini aku kembali larut dalam cerita masa lalu.

 

6 Comments to "Memetik Bintang"

  1. J C  9 January, 2014 at 21:12

    Ida Cholisa, cerita apik tapi sedih…

  2. Handoko Widagdo  8 January, 2014 at 18:14

    Senang sekali bisa kembali membaca cerita dari Ibu Ida Cholisa. Terima kasih.

  3. Lani  8 January, 2014 at 11:11

    AL, JAMES : podo balapan…………..aku jd runner up no 2

  4. Alvina VB  8 January, 2014 at 10:57

    Cerpen yg apik mbak Ida…

  5. Alvina VB  8 January, 2014 at 10:52

    Numero dos (dibelakangnya James…)

  6. James  8 January, 2014 at 09:57

    SATOE, yang gimana itu pohon Bintangnya sih ???

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.