Perjalanan Terakhir (9)

Wesiati Setyaningsih

 

Seorang gadis tengkurap di tempat tidurnya. Tubuhnya yang mungil terbalut atasan dan bawahan berbahan kaos dengan motif Hello Kitty. Kepalanya telungkup di bantal. Bahunya berguncang-guncang.             Di sebelahnya tergeletak sebuah telepon genggam yang bergetar-getar, terpampang di layarnya si penelpon :  Chuyunk.

Gadis itu tak juga bergerak meski getaran telepon genggam di kasur busanya menimbulkan suara berisik hingga akhirnya getaran telepon genggam berhenti. Tapi tak lama kemudian telepon genggam itu berbunyi lagi. Dengan enggan gadis itu bangkit, diangkatnya telepon genggam sambil menyeka matanya yang basah. Ternyata sedari tadi dia menangis. Bantalnya basah luar biasa.

“Ya?” suaranya serak.

“Sayang, kamu di mana? Ini teman-teman mau ke rumah Robi,” terdengar suara di seberang.

“Aku nggak enak badan.”

Tangannya sibuk membersihkan wajah sebersih-bersihnya dari air mata dengan sapu tangan handuk yang tampak begitu lembut berwarna merah muda.

“Oh, kamu sakit ya, yang? Sakit apa? Flu?”

“Iya, flu. Kepalaku pusing banget. Nggak bisa ke situ.”

“Sayang sekali, ya. Teman-teman pada kumpul di sana semua. Ini momen terakhir sama Robi. Kamu memang nggak bisa pergi ya, yang?”

“Kayanya enggak,” suaranya makin parau.

“Meski aku nanti bawa mobil Papa sekalipun? Kalo naik motor kasian kamu kalo tambah parah flu-nya. Papa lagi di rumah kok sekarang. Kebetulan Sabtu kemarin Papa pulang. Gimana, yang?”

Suara di seberang terdengar begitu memaksa. Gadis itu terdiam lama.

“Sayang..?” suara di seberang terdengar tak sabar menunggu jawaban. “Monik?”

“Kamu yang nyetir nanti?” Monik bertanya.

“Iya. Kenapa?”

“Kan kamu belum punya SIM.”

“Aduh sayaaang, kan cuma deket aja. Yang penting kita bisa layat Robi. Dia teman kita kan, yang?”

“Aku enggak suka kamu naik mobil tanpa SIM. Mending pake mobil Papaku aja. Supirnya bisa aku panggil buat datang.”

“Baiklah. Kamu jemput aku ya, yang?”

“Iya. Di rumah kamu?”

“Aku sudah di rumah Niko, ini ada Indra sama Bayu juga. Mereka tadi ke sini naik motor. Tau rumah Niko kan? Sekitaran sini aja, kok.”

“Iya.”

“Nanti kita semua ikut kamu aja ya, yang?”

“Iya.”

“Ya sudah, aku tunggu ya?”

“Iya.”

“Muah..”

Monik menutup telepon tanpa menjawab lagi. Sembab, matanya merah. Bukannya berdiri untuk bersiap pergi, dia malah membanting tubuhnya ke tempat tidur lagi. Matanya menerawang menatap langit-langit.

“Harusnya waktu itu aku bilang sama kamu Rob, apapun respon kamu. Jadi aku nggak nyesel kaya sekarang.”

Monik menggumam sendirian. Setelah itu dia kembali menelungkup dan membenamkan wajahnya ke bantal. Lalu lagi-lagi bahunya berguncang. Telepon di dekat kakinya bergetar. Setelah membiarkan beberapa saat, akhirnya Monik bangkit juga dan melihat lebih dulu nama yang tertera sebelum menerima.

“Iya, La. Gimana?”

“Kamu nggak layat Robi?” tanya suara di telepon.

“Iya. Ini mau pergi. Kamu sudah di sana?”

“Sudah dari tadi. Aku malah sempat bicara sama Ibunya juga.”

“Hah? Ngapain?” suara Monik masih parau tapi terdengar dia lebih bersemangat.

“Nggak ngapa-ngapain,” si penelpon terkekeh kecil, “aku kan sempet naksir Robi. Ya.. Gimana ya? Aku cuma ingin menyampaikan simpati aja. Sebagai pengganti aku dulu nggak sempet bilang suka sama Robi. Kamu sendiri, dulu juga pernah suka sama Robi kan?”

“Tau dari mana?”

“Tau lah. Kan pas MOS kalian duduk bareng terus. Kayanya kamu sempat digosipin gitu, deh. Aku pikir kalian bakal jadian. Eh, nggak taunya kamu malah sama Sandy.”

Monik diam.

“Mon, kamu cepetan ke sini, deh. Ini sudah mau pemberangkatan lho… Bentar lagi sampai makam.”

“Iya.”

“Kamu lagi nangis-nangis ya?”

“Ngg..”

“Nangis-nangisnya jangan di situ. Di sini aja sekalian memberikan penghormatan terakhir sama Robi. Kapan lagi?”

“Iya.”

“Sandy nggak layat juga? Dia di mana?”

“Di rumah Niko, nungguin aku. Aku janji mau jemput dia sama Niko, sama siapa lagi gitu..”

“Oh, sama supir kamu ya? Ya sudah, cepetan!”

“Iya.”

“Ya udah. Basuh muka, ganti baju, terus berangkat. Ke makam langsung aja. Palingan kalo ke rumah Robi kalian sudah ketinggalan.”

“Iya, makasih ya La..”

“Sama-sama.”

Telepon ditutup.

“Dia masih di rumah, ternyata,” gumamku.

“Nah. Dia ternyata naksir kamu kan? Itu tadi yang nelpon siapa? Lala ya?”

Aku mengiyakan pertanyaan Yang Kung.

“Mereka berteman?”

“Sepertinya teman SMP gitu.”

“Oh..”

***

Monik, Sandy, Lala, dan teman-temannya yang lain berdiri dalam satu kerumunan. Begitu banyak orang di makam menyaksikan prosesi pemakaman.

“Kamu nggak pa-pa, yang?” bisik Sandy di telinga Monik.

Monik menggeleng.

“Aku cuma pusing karena kebanyakan nangis sejak tadi pagi begitu dengar kabar Robi meninggal.”

“Oh, bukan flu?” Sandi mengangguk. “Kamu sempat naksir dia ya, yang?”

Monik menoleh ke arah Sandy untuk mengamati wajahnya.

“Kamu cemburu?”

Sandy diam. Monik kembali menatap ke depan, ke arah penggali kubur yang sedang bersusah payah menimbun lubang.

“Aku enggak perlu cemburu deh, kayanya.”

“Kenapa? Karena dia sudah enggak ada?”

“Bukan.”

“Apa?”

“Karena, kalo memang kamu suka sama dia, kamu pasti enggak mau nerima aku.”

“Gitu?”

“Menurutku sih gitu. Apalagi sekarang. Mau nggak mau yang ada cuma aku. Aku nggak mau bersaing sama Robi yang kini tinggal kenangan dalam kepalamu.”

Seulas senyum tipis tergaris di bibir Monik.

“Dan kamu, tinggal pilih mana. Aku yang nyata, atau Robi yang sebenarnya cuma sebentuk kenangan-kenangan yang kamu ijinkan untuk tinggal dalam kepalamu,” tambah Sandy.

Monik membuang muka ke arah lain.

“Apa aku harus milih lagi? Aku sudah sama kamu. Robi juga sudah meninggal.”

“Nah. Sudah kan sekarang? Relakan dia pergi. Nggak usah nangis-nangis lagi sampai pusing gitu.”

“Aku cuma nyesel aja…”

“Nyesel apa?”

“Nyesel enggak pernah bilang ke Robi kalo aku suka sama dia,” kata Monik sambil melirik ke arah Sandy yang berdiri di belakangnya.

“Kalo kamu sempat bilang ke Robi memang kenapa? Kalian bakal pacaran gitu?”

“Mungkin,” Monik melirik menggoda.

“Alah, tau nggak, yang?”

“Apa?”

“Sempet bilang ke Robi pun, dia nggak bakalan gitu aja terima cinta kamu, lantas kalian nggak bakalan pacaran. Enggak bakal sesimpel itu.”

“Kok bisa?”

“Ya bisa, lah. Robi itu orang yang mudah ragu. Pemalu, penakut. Nggak mungkin dia berani macarin kamu.”

“Masak sih?”

“Iya. Dan begitu dia bingung mau terima kamu atau enggak, aku sudah ngejar-ngejar kamu sampai dapat. Kamunya capek nungguin dia jawab, akhirnya nyerah nerima aku aja. Nah, tetep aja kamu jadi pacarku, yang..”

Monik tertawa lirih.

“Bisa jadi. Tapi seenggaknya aku sudah tau kalo dia nolak aku,” Monik bertahan, “enggak kaya gini, aku masih ingin tau dia sebenarnya suka enggak sama aku.”

“Ya sudah. Kan sudah lewat. Robi enggak sempat lagi bilang ke kamu kalo dia suka sama kamu. Aku tau dia sebenarnya suka kok sama kamu. Tapi enggak berani. Itu kan masalah dia? Orang mudah ragu dan takut kan selalu itu masalahnya.”

Monik diam saja.

“Anggap aja ini pelajaran. Berarti mumpung kita masih ada kesempatan, kita mesti lakukan tanpa ragu, gitu kan? Makanya kamu enggak usah ragu pacaran sama aku, yang!”

Monik mengangguk mantap sambil tersenyum geli.

“Kamu benar,” katanya.

“Nah, ada yang mesti aku lakukan secepatnya nih.”

“Apa?”

“Beli SIM. Biar bisa jalan-jalan sama kamu pake mobil Papa.”

“Hah?” Monik terbeliak. “Umur kamu kan belum ada tujuh belas.”

“Kan nembak SIM bisa, yang. Bisa kok.”

“Lah, mumpung masih ada umur tuh bukannya langsung ngelakuin yang nggak bener kaya gitu. Kamu, ini!”

“Ah, semua orang juga gitu, kok.”

“Semua orang!” tukas Monik kesal. “Sekali-sekali enggak selalu ngikutin apa yang semua orang lakukan, kenapa? Sekali-sekali beda, enggak selalu ngikutin main stream ajah.”

“Lantas kalo kita mau jalan-jalan, gimana dong?”

“Pake taksi.”

“Oh iya. Pake taksi bisa, ya..”

“Nah kan uang saku kamu toh cukup buat bayar taksi. Kalo enggak ada, aku yang bayar taksinya. Kan aku juga punya uang.”

“Hasil kamu jualan pernak-pernik itu?”

“Iya, lah.”

“Iya deh. Tapi untuk uang taksi kayanya aku juga ada kok. Tenang aja. Kalo memang aku lagi nggak ada uang, aku bayar makannya, kamu taksinya ya, yang.”

Monik mengangguk.

“Pada ngomong apa sih, ini? Malah kencan di kuburan,” Niko yang berdiri di sebelah Sandy protes.

“Biarin napa, Ko? Sama pacar sendiri, ini,” Sandy membela diri.

“Bikin iri, tau!”

“Nggak usah iri. Sudah, tu si Lala kamu tembak aja. Mumpung masih ada umur.”

“Sialan.”

Lala yang berdiri tak jauh menoleh.

“Ada yang manggil aku ya?”

Sandy menggeleng panik. Niko juga. Monik tersenyum.

“Lala,” kata Monik lembut, “lupakan Robi, dia sudah tenang di alam sana. Ada Niko yang nungguin kamu.”

Lala membelalak.

“Apaan, sih?”

“Iya, nih. Momon sama Sandy kurang kerjaan.”

“Ko, nembak cewek di kuburan itu jarang terjadi, lho. Kalo kamu nembak Lala di kuburan, itu bisa tercatat dalam sejarah,” kata Sandy.

Niko menyenggol lengan Sandy dengan kesal. Lala malah mendekat dan kini berdiri di samping Niko.

“Memangnya ada apa, Ko?”

“Engg..”

“Katakan aja!” Sandy balas menyenggol Niko.

Niko tidak menjawab, malah pura-pura melihat ke arah prosesi penguburan.

“Ya sudah kalo nggak ada apa-apa,” kata Lala. “Moga-moga nggak nyesel aja kalo udah telat. Kalo sudah kaya Robi gini, kita nggak bisa ngapa-ngapain. Mau balik lagi dan meralat semuanya juga nggak bisa. Kita cuma bisa bilang, andai..”

“Iya, andai. Andai aku sempet bilang sama Robi kalo aku suka sama dia,” kata Monik.

“Lo, kamu beneran sempet suka sama Robi, Mon?” Niko terkejut.

Monik mengangguk.

“Tapi Robi dingin gitu. Pemalu, menutup diri. Aku jadi enggan juga. Nggak kaya Sandy nih. Malu-maluin.”

“Biarin. Berani malu untuk meraih keinginanku, itulah aku!” kata Sandy bergaya gagah.

Teman-temannya berusaha menahan untuk tidak tertawa di sebuah prosesi penguburan.

“Iya, sih. Kalo dia nggak ngeyel untuk deketin aku, aku juga belum tentu pacaran sama dia. Habis gimana? Dari pada diteror gitu, mending jadi pacarnya sekalian.”

Lala tersenyum.

“Pengen juga nih, diteror,” katanya sambil melirik Niko.

“Terorisnya tinggal satu nih. Yang satu ini kan sudah ada yang punya, yayang Momon,” Sandy ikut melirik Niko.

Niko pura-pura tidak mendengar. Para penggali kubur hampir selesai bekerja.

“Beneran nggak mau nembak di sini, Ko?” bisik Sandy sambil menoleh ke arah Niko.

“Berisik ah.”

“Sudaaah… Kalian ini kenapa, sih? Kita sedang menghormati teman kita, Robi. Seorang remaja yang belum sempat meraih keinginan-keinginan dan cita-citanya,” Lala berbisik setengah kesal pada Sandy dan Niko.

“Jadi..?” kalimat Sandy sengaja tidak diselesaikan.

“Lakukan semua keinginanmu, enggak pake takut atau ragu. Hasil apapun ikhlaskan aja. Pokoknya dari pada nyesel enggak pernah ngelakuinnya,” Lala menambahkan.

“Kamu bijak banget, ya?” Niko menyahut.

Wajahnya menatap Lala lekat. Lala menoleh dan menemukan Niko sedang melihatnya dari jarak yang sangat dekat. Dengan jengah dia mengalihkan pandangan. Tanpa Lala sadari, jemari Niko yang ada di sebelah tangannya mulai meraih jemarinya. Lala terkejut dan hampir menarik tangannya. Tapi Niko jemari Niko dengan cepat menahan agar genggaman Lala tidak lepas.

Kedua tangan itu kini saling menggenggam.

***

Aku tersenyum.

“Biarpun Monik menyampaikan isi hatinya padaku, paling juga nggak bakalan pacaran? Sialan si Sandy!”

Ada rasa kesal sekaligus geli mendengar obrolan teman-temanku tadi.

“Tapi dia benar kan?”

Yang Kung terkekeh.

truth

“Itu dia. aku mengumpat karena dia benar. Belum tentu aku berani pacaran sama Monik meski kami saling suka sekalipun. Ketakutanku banyak. Takut Ibu marah karena sudah susah payah bekerja untuk kami berdua, takut diomongin orang. Takut ini, takut itu.. Banyak.”

“Dan Sandy benar. Kebenaran itu kadang mengesalkan, ya?”

“Sangat mengesalkan.”

“Tapi setidaknya mereka mendapat hikmah dari semua ini Rob. Mereka sadar bahwa kesempatan hidup ini tidak banyak. Hidup juga tidak lama. Takut melakukan sesuatu hanya karena kuatir akan hasilnya itu konyol. Seperti tentara yang takut perang.”

“Iya, belum tentu kalah tapi takut maju.”

“Belum tentu juga apa yang kamu takutkan itu terjadi, bukan? Belum tentu Ibu kamu marah. Belum tentu orang ngomongin yang jelek tentang kamu dan Monik andai memang jadi pacaran. Semua belum tentu karena ketakutanmu terjadi. Itu cuma imajinasimu sendiri.”

“Iya, sih.”

“Nah, kebanyakan memang begitu. Enggak cuma kamu saja, kok. Banyak yang kaya gitu.”

“Masak?”

“Bahkan orang yang lebih tua pun banyak yang ngalamin kaya kamu.”

“Wah. Sayang sekali ya kalo sampai tua masih suka takut kaya gitu. Sayang sama umurnya yang terbuang sia-sia.”

Yang Kung tertawa.

“Iya, memang.”

“Yang, untuk yang ini urusanku sudah selesai kan?”

“Sudah. Kamu sudah tahu perasaan Monik yang sebenarnya. Berarti sudah selesai. Ini bukan agar kamu menyesali yang sudah-sudah. Tapi agar kamu tahu bahwa dalam hidup yang namanya ketakutan itu sebenarnya tak berarti.”

“Setelah ini apa lagi?”

“Menurutmu?”

“Aku belum melihat Very.”

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Perjalanan Terakhir (9)"

  1. wesiati  14 January, 2014 at 15:46

    jaran kepang hahahah….

  2. Lani  14 January, 2014 at 11:50

    13 WESI : welah………ngalami opo? kesurupan?

  3. wesiati  11 January, 2014 at 20:39

    mbak lani : hahaha… jaran kepang mangane beling. well, setahu saya semua pernah ngalamin, cuma nggak ingat ajah. saya sih dapat dari baca2. kayanya saya bisa merasakan perjalanan itu dari apa yang saya baca. kikiki….

  4. Lani  11 January, 2014 at 12:39

    WESIATI : klebon opo????? kok njur koyok jaran kepang wae………

  5. wesiati  11 January, 2014 at 11:01

    JC & Hennie, mungkin aku kerasukan pas nulis cerita ini. hahaha…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *