Merindukan Malam

Anik – Kediri

 

Fotonya masih terpajang di meja belajarku. Liontin bentuk hati pemberiannya juga masih tersimpan di laci. Kuambil liontin itu dan kupandangi sesaat. “Mungkinkah dia masih menyimpan liontin panahnya?” Tanyaku dalam hati. Sungguh, hati ini sangat merindunya. Kakiku melangkah mendekati jendela dekat tempat tidurku. Ada bayangan wajahnya melambaikan tangan saat berpamitan pulang di depan rumahku. Sudah genap satu tahun aku tak melihat batang hidungnya. Kerinduanku membuat kejadian setahun lalu terbayang kembali di ingatanku.

***

            Ingatan tentangnya masih segar dalam benakku. Saat aku selalu tertawa riang mendengar suaranya melalui ponsel. Aku juga sering mengirimkan pesan singkat untuknya, entah itu menyapanya dengan panggilan akrab “sayang” atau hanya untuk menanyakan keadaanya. Dia bekerja di sebuah perusahaan pelayaran, keterbatasan sinyal membuat kami berhubungan 2 hari sekali. Banyak orang bilang menjalin hubungan dengan pelaut itu banyak godaannya, kebanyakan dari mereka tidak setia.

Omongan orang itu kuabaikan, aku selama ini percaya penuh dengannya karena memang tidak ada hal yang mencurigakan darinya. Setiap dia berangkat berlayar dia berpamitan kepadaku, jika selesai bekerja dan kebetulan ada sinyal dia meneleponku untuk menanyakan keadaanku. Dia begitu perhatian. “Besok pelajarannya apa?” Tanyanya saat itu. Aku memang masih sekolah SMA kelas 1, namun karena dia orang yang bertanggung jawab aku mau menerima lamarannya setelah 6 bulan pendekatan. Aku dan orang tuaku sudah mengenal keluarganya sejak kami masih kecil. Dia saudaranya tanteku. Saat kecil dia pernah berlibur ke Kediri lalu kami tak pernah bertemu lagi. Baru SMA kelas 1 dia berani datang ke rumahku dan melakukan pendekatan denganku.

“Besok ada pelajaran matematika” Aku selalu bercerita banyak hal tentang sekolahku kepadanya. Dari masalahku yang paling kecil pun dia tahu. Begitu juga sebaliknya, dia terbuka denganku. Masalah dalam pekerjaannya tak pernah absen diceritakan kepadaku. Bahkan saat kapalnya bocor di tengah perjalanan berlayar pun aku juga tahu.

“Cuma kamu yang tahu masalah ini, jangan bilang siapa-siapa aku yakin Allah menjagaku” Ucapannya saat itu untuk meredakan kekhawatiranku.

“Sampai kapan kamu mau kerja di laut seperti ini? apa kamu nggak takut? Nggak ada salahnya kan coba kerja di darat” pertanyaanku memperlihatkan kecemasan tentang keselamatannya.

“Kamu tahu kan, umur kita yang mengatur Allah. Sampai pensiun pun kalau Allah menghendaki aku selamat aku pasti selamat, mereka yang pernah kecelakaan itu karena memang sudah kehendak Allah” Dia menjelaskan dengan pelan. Dia ingin aku mengerti keadaannya. Melihat ombak yang begitu tinggi merupakan sebuah hal yang biasa baginya.

“Ya udah, banyak berdoa ya. Hati-hati di sana” Pesanku untuknya mengakhiri telepon. Dia mengucapkan selamat malam. Dia tahu ini saatnya aku tidur malam.

“Alhamdulilah sayang, kapalku selamat. Sebentar lagi mau perawatan” pesan singkat itu baru ku buka jam 5 pagi. Aku tersenyum senang membaca pesannya.

Seminggu kemudian dia diijinkan mengambil cuti selama seminggu. Tiga hari di Malang pulang ke rumah orang tuanya dan tiga hari ke Kediri menginap di rumah tantenya.

Perhatiannya terhadap kedua orang tua dan keluargaku membuat mereka senang dengan kedatangannya. Hubunganku dengan kedua orang tunya selama ini juga baik-baik saja. Kebetulan saat ini adalah hari minggu, jadi aku punya sedikit waktu untuknya. Saat pagi buta dia sudah menjemputku dengan sepeda. Dia berpamitan dengan ibuku mengajakku sepedaan. Ibuku mempercayakan aku kepadanya, beliau mengijinkan. Dia memboncengku menuju pasar tradisional. Dia orang yang sederhana, cara berpenampilannya juga sangat simple. Dia juga bukan orang yang romatis tapi perhatiannya selalu membuatku berbunga-bunga.

“Mau beli apa ke pasar?” Tanyaku saat sampai di pasar.

“Mau beli jajanan pasar, beli sayuran juga ya.. nanti bantu ibu masak” Ajaknya sambil tersenyum.

“Oh.. jadi mau ngambil hati mertua?” Tanyaku meledek.

“Meskipun nggak diambil kan orangnya sudah suka sama aku yang ganteng” tawanya meledak sesudah memuji dirinya sendiri.

“Dasar jelek” Aku mencubit lengannya yang terbalut kaos Manchester United kesukaannya.

Sudah setahun lebih kami menjalin hubungan. Kami bukanlah orang yang jaim, semua hal memalukan satu sama lain kami tahu. Dia suka petai dan kentut sembarangan juga sudah bukan hal yang asing bagiku, dia juga tahu kalau aku jarang mandi saat liburan. Bahkan saat aku mempunyai masalah bau badan pun dia yang mencarikan obatnya.

“Kamu nggak malu ya jalan sama aku? Aku kan pendek. Sedangkan badan kamu tinggi besar, tinggiku aja nggak sampai lenganmu” Tanyaku saat kami berdua makan bubur kacang hijau kesukaannya di tengah keramaian pasar.

“Yang malu itu bukan aku, tapi kamu sendiri” Jawabnya membuat aku terdiam. Aku sadar selama ini aku yang tidak  percaya diri.

“Kenapa diam? Aku selama ini nggak pernah mempermasalahkan fisikmu”

“Udah.. nggak usah difikirin. Jangan tanya gitu lagi, sampai kapan pun nggak ada alasan untuk ninggalin kamu. Hati kamu itu baik, makanya aku milih kamu” Aku tersenyum memandangnya.

Hati ibu siapa yang tak akan luluh saat calon menantunya membantu memasak. Membantu bapak membetulkan genting dan duduk bersanding dengan beliau tertawa bersama menonton tim sepak bola kesukaan mereka. Dia sering bertukar fikiran dengan kedua orang tuaku tentang banyak hal. Saat aku tidak ada di rumah, dia tetap saja datang ke rumahku untuk mengobrol dengan kedua orang tuaku. Cowok yang sopan dan ramah itu bisa membahagiakan orang tuaku.

“Itu Dion ya Lu” Tanya Vika saat melihat aku diantar sekolah oleh dia.

“Iya Vi” Jawabku. Dion memang jarang ke rumahku saat hari sekolah. Dia lebih memilih cuti saat hari libur panjang setelah semesteran. Entah kenapa saat ini dia memutuskan untuk cuti saat hari sekolah. Dan ini kali pertamanya dia mengantar dan menjemputku sekolah.

“Wajahnya kok mirip ya sama kamu?” Tanya Vika penasaran.

“Nggak tahu juga, yang bilang gitu banyak juga sih” jawabku sekedarnya.

2 bulan kemudian

Puing-puing berserakan di hatiku setelah tadi siang kedua orangtuanya datang untuk membatalkan lamarannya.

“Saya takut nanti salah satu di antara mereka ada yang meninggal kalau tetap melanjutkan ke jenjang pernikahan” Ibunya menjelaskan alasannya. Ibunya begitu percaya dengan adat Jawa. Orangtuaku sudah menjelaskan bahwa umur ada di tangan Allah, tapi mereka tetap bersikukuh dengan keputusannya.

Itulah alasannya kenapa dia akhir-akhir ini lebih diam dari biasanya. Dia tak kunjung menceritakan masalah ini, karena takut melukaiku. Baru beberapa minggu lalu dia memberanikan diri untuk jujur kepadaku.

Ponsel di sampingku bergetar saat ku terdiam di lantai kamarku. Kulihat, ternyata dia menelepon.

“Hallo” suaraku terdengar serak.

“Ada apa? Kamu baik-baik saja kan?” dia sudah hafal suaraku setelah menangis.

“Iya.. nggak apa-apa kok” Aku berbohong untuk menenangkannya.

“Jaga diri baik-baik ya tanpa aku, sekolah yang rajin. Nanti kalau sudah kuliah, kuliah yang bener jaga pergaulan kamu. Jaga bapak sama ibu di sana” Ada tangis yang disembunyikannya. Aku di sini juga berusaha menahan tangis. Baru kali ini mendengar isak tangis cowok yang kukenal kuat. Dia berusaha kuat untuk melanjutkan ucapannya.

“Nggak usah banyak mikirin aku, kasian sekolahmu nanti terbengkalai. Masalah jodoh kan yang ngatur Allah, kita sabar aja ya” “Kamu dulu bilang kalau umur kita yang ngatur Allah tapi kenapa saat ini kamu ninggalin aku karena adat Jawa, kamu takut salah satu dari kita akan meninggal” Aku sudah tak sanggup menahan tangisku.

“Aku nggak pernah ninggalin kamu. Aku cuma mau menghormati orang tuaku. Aku cuma percaya sama Allah. Ya sudah kalau gitu, janji ya sama aku bakalan jaga diri baik-baik di sana”

“Kamu juga janji ya bakalan balik lagi ke sini”

“Assalamualaikum” tanpa menjawab dia mengucapkan salam ingin mengakhiri telepon.

“Kenapa nggak jawab? Kamu nggak sayang aku?”

“Sayangku ke kamu nggak pernah luntur. Kamu wanita terbaik selama ini yang aku kenal. Walaupun aku kecewa karena pisah sama kamu, tapi aku senang kita berpisah bukan karena sebuah penghianatan tapi karena kita berkorban untuk kedua orangtuaku. Aku minta maaf selama ini punya salah denganmu dan kedua orang tuamu. Terima kasih selama ini telah menjadi yang terbaik untukku” Aku tak menjawab sepatah katapun ucapannya.

“Masa depanmu masih panjang, jangan buang waktumu hanya untuk aku” Ucapnya saat aku masih terdiam.

***

Aku berjalan menuju meja belajarku dan meraih fotonya lalu kumasukkan ke dalam laci bersama liontin hatinya. Aku merebahkan diri di tempat tidur dan memejamkan mata. Saat ini aku belajar menjalani hari tanpa sapaan darinya. Belajar merelakan semua yang terjadi walaupun tidak mudah. Semenjak saat itu aku senang saat malam telah tiba, aku ingin segera tidur dan berharap dia hadir dalam buaian tidurku. Sangat rindu rasanya saat gelap malam masih tertutupi oleh surya yang begitu sombongnya memancarkan sinarnya, surya itu tahu tak ada yang mengalahkan sinarnya. Namun hatiku tetap bertambat pada sinar bulan dalam kegelapan malam. Bintang yang terlihat kecil tak pernah kulewatkan untuk kulihat saat berhasil mengintip di balik korden. Dingin yang begitu menusuk juga tak pernah mengerutkan niatku untuk menunggu malam. Dan menunggu jodohku.

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

8 Comments to "Merindukan Malam"

  1. Anik  16 January, 2014 at 15:02

    Matahari: iya.. Ini saya alami sendiri.amiin, terima kasih.

  2. Matahari  15 January, 2014 at 21:40

    Anik…ternyata ini kisah nyata …saya kira cerita fiktif……Okay saya doakan kamu mendapat yang lebih baik…pria yang lebih serius…ada banyak di Indonesia dan diluar Indonesia….

  3. Anik  15 January, 2014 at 17:34

    Matahari: adat jawa yang dimaksud yaitu saya dan tante saya masih saudara sama-sama perempuan dan dia masih saudara dengan suami tante saya yang sama-sama laki-lakinya . Yang saya tahu adat itu tidak ada. Kebanyakan adat jawa itu weton dan tempat tinggal. Hal itu baru saya ketahui. baru-baru ini saya menyadari dia tidak konsisten dengan ucapannya, kadang bilang “iya” kadang “tidak” maka dari itu saya berusaha untuk move on. Menunggu suatu yang tidak pasti hanya membuang-buang waktu saya. Saya selalu berdoa Allah mempertemukan saya dengan jodoh yang lebih baik dari dia.

  4. J C  14 January, 2014 at 14:40

  5. Matahari  12 January, 2014 at 19:11

    Adat jawa apa yang dimaksud dalam alinea : “Saya takut nanti salah satu di antara mereka ada yang meninggal kalau tetap melanjutkan ke jenjang pernikahan” Ibunya menjelaskan alasannya. Ibunya begitu percaya dengan adat Jawa. Orangtuaku sudah menjelaskan bahwa umur ada di tangan Allah, tapi mereka tetap bersikukuh dengan keputusannya.

    Apakah karena si “aku “dalam cerita ini beda usia jauh dengan si pria (walau dalam cerita tidak disebut si pria usia berapa….) atau…karena si pria masih saudara tante si “aku”dan mungkin masih ada hubungan darah…sehingga mungkin dalam adat Jawa kalau itu terjadi akan terjadi kutukan?Kalau mengenai “kematian”mungkin justru si pria yang lebih mungkin game deluan daripada si “aku”karena dia berlayar dilaut..dengan ombak besar……ada tsunamie…..pirates dari Somalia ….ikan hiu dll he he he walau orang sedang santai di mall juga bisa is dead..Yang pasti kalau saya jadi si “aku “sudah sejak si pria mengatakan : ““Aku nggak pernah ninggalin kamu. Aku cuma mau menghormati orang tuaku. Aku cuma percaya sama Allah. Ya sudah kalau gitu, janji ya sama aku bakalan jaga diri baik-baik di sana“Masa depanmu masih panjang, jangan buang waktumu hanya untuk aku” Ucapnya saat aku masih terdiam.” Saya langsung balik kanan jalan terus karena memang buang buang waktu menanti pria model cerita diatas…tidak serius…dan disaat saat berpisah masih sempat merayu dengan kata kata manis sehingga si “aku”masih tetap ingin memimpikan dia walau dalam mimpi…What for ?

  6. Esti  10 January, 2014 at 15:32

    Kangennn….

  7. [email protected]  10 January, 2014 at 13:37

    menarik2…. lanjutkan cerita2 yang lainnya….

    jangan pake lama yaaaak….

    LANJUTT!!!!!!!

  8. James  10 January, 2014 at 10:46

    SATOE, Malam penuh Rindu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.