Bertualang ke Tanah Timur nan Eksotis – Manggarai (1)

Hilda Rumambi

 

Saya betul-betul ingin menerapkan pepatah yang mengatakan hard work, hard fun. Sehingga setiap saya pergi dalam rangka tugas tentunya ada satu kesempatan yang bisa digunakan untuk mengeksplorasi keindahan tempat yang kita kunjungi tersebut.

Dan, itulah yang saya lakukan pada saat pertama kali menginjakkan kaki di kabupaten Manggarai bulan Desember lalu. Di manakah tepatnya Manggarai berada? Pada saat ada teman saya menelpon di sana dan menanyakan posisi saya sekarang ada di mana, dan saya menjawabnya, di Manggarai…dia terkejut. Lho, kamu ada di Jakarta ya? Saya pun tertawa, saya menjawabnya, kamu sih..taunya Manggarai itu stasiun angkutan kota di Jakarta, padahal ngga tau kalau ternyata aslinya Manggarai itu adanya di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur.

Saya kadang-kadang kuatir juga dengan bangsa kita ini, banyak yang lebih bangga jika mampu berpergian ke luar negeri, mengenal seluk beluk Singapore atau Thailand, bahkan Eropa tapi tidak tahu Manggarai atau Palu itu ada di mana. Tidak tahu bahwa tanah air mereka memiliki tempat-tempat eksotis yang tidak kalah indahnya dengan luar negeri, bahkan orang luar Indonesia sendiri lebih banyak yang sudah mengunjungi tempat-tempat eksotis ini daripada kita sendiri.

Sungguh, pada suatu waktu saya juga pernah ditanya pada saat saya mengatakan pada teman saya kalau saya tinggal di Palu. Dia bertanya, Palu? Wah, itu di Kalimantan ya? Oh….gubrakkkk! Semakin ke timur kita berdomisili di Indonesia, semakin wilayah anda tidak masuk dalam radius radar geografi 80% rakyat Indonesia. Apalagi untuk remaja dan pemuda dewasa ini. Saya sudah membuktikannya berkali-kali…dijamin deh!

Oke, back to Manggarai. Pada saat pertama kali merasakan udara Manggarai, kita pasti akan terkejut (kejut senang tentunya). Kalau rata-rata wilayah NTT (Nusa Tenggara Timur, saudara-saudaraku….Nusa Tenggara Timur itu ibukotanya Kupang, kalau Nusa Tenggara Barat (NTB) ibukotanya adalah Mataram. Tolong jangan terbalik yah… hehe…(berdasarkan pengalaman juga ada yang terbolak balik, juga Sumbawa dan Sumba Barat dan Sumba Timur) cuacanya panas terik, maka di Manggarai berbeda 180 derajat, alias dingin beneerrr…untuk musim terdinginnya, suhu udara bisa mencapai 12 derajat Celcius…beeeuuuhh! Asli, saya merasakan dingin sekali disini, seperti waktu tinggal di Bandung (jaman dulu tapinya, sekarang mah Bandung udah panas, euy) atau di Tondano (wilayah belahan utara pulau Sulawesi).

Karena kegiatan saya di sana sampai 10 hari, maka di hari ke 7 saya menyempatkan berjalan-jalan dengan motor ojek rekomendasi penginapan tempat saya menginap (wah senangnya tempat menginapnya sangat traditional-style tapi modern juga karena ada hot water-nya dan juga siap memberikan informasi tentang tempat-tempat eksotis yang sering dikunjungi wisatawan. Banyak wisatawan mancanegara yang sering berkunjung kemari, karena biasanya Manggarai ini menjadi the next destination setelah Pulau Komodo.

Sebenarnya ada beberapa tempat menarik yang harusnya saya kunjungi selama di Manggarai. Namun yang bisa dikunjungi hanya 4 (empat) tempat saja. Mudah-mudahan tempat-tempat lainnya dapat saya kunjungi di kali kedua, ketiga dan seterusnya.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Rumah Wunut-Ruteng. Menurut pemandu saya yang nyambi jadi tukang ojek juga. Rumah Wunut ini adalah rumah kerajaan Ruteng, kerajaan pertama di Manggarai. Sekarang ini, Rumah Wunut menjadi museum (sepertinya) sebagai salah satu monumen peninggalan sejarah di tengah-tengah kota Ruteng, ibukota dari kabupaten Manggarai-NTT. Dan lagi oleh pemerintah lokal, rumah wunut ini menjadi kantor sekretariat Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) tingkat kabupaten. Berhubung saya berkunjung ke rumah wunut-nya pada hari libur, maka saya tidak dapat masuk ke ruang-ruang di dalam rumah wunut ini. Jadi hanya foto-foto dari luar rumahnya saja. Indah ya jika perawatannya seperti ini?

manggarai (1)

Kalau melihat betapa rapihnya perawatan masyarakat local terhadap warisan budayanya, saya kagum dengan mereka karena mampu menjaga Rumah Wunut ini.

manggarai (2)

Tujuan kedua saya adalah Perkampungan tradisional Ruteng Pu’u, tidak jauh jaraknya dari Ruteng, sekitar 10 menit sudah sampai. Perkampungan tradisional ini juga membuat saya terkagum-kagum karena komunitas adatnya masih eksis dan meskipun mereka tinggal di perkampungan adat, tapi di dalam rumah mereka sudah terlihat ada TV dan kulkas yang melengkapi perkakas keluarga-keluarga mereka. Di sini, anda bisa bercakap-cakap dan berfoto dengan para tetua adat dan mengambil foto-foto perkampungan mereka, tapi jangan lupa, siapkan uang untuk diberikan pada saat mengisi buku tamu dan juga ada beberapa hal yang perlu ditanyakan pada pemandu anda untuk dos and don’ts pada saat berkunjung.

Perkampungan Ruteng Pu’u ini dipercaya adalah perkampungan adat tertua di Ruteng, menjadi cikal bakal suku Manggarai. Yang menarik, jika dilihat dari atap rumah tradisional suku ini, kepala kerbau menjadi simbol yang ditempatkan di bubungan atap setiap rumah. Ini mirip dengan yang ada di Padang dan Toraja. Menurut pemandu saya, katanya 3 suku ini memang dari nenek moyang yang sama….ooh begitukah? Bisa jadi juga ya?

manggarai (3)

manggarai (4)

manggarai (5)

Tempat ketiga yang saya kunjungi adalah Persawahan dengan sistem pengairan model jaring laba-laba atau disebut juga Spiderweb Rice Field. Tempatnya di Lingko Cara. Meskipun harus berjuang keras mendaki ke lembah yang lebih tinggi untuk mencapai tempat yang paling baik untuk melihat hamparan sawah spiderweb ini, namun perjuangan tersebut terbayarkan dengan pandangan indah di depan mata yang mungkin sekali-kalinya akan saya lihat seumur hidup saya (kecuali ke sana lagi tentunya). Kalau di Bali ada sistem pengairan Subak yang sangat terkenal, maka di Manggarai, kita akan mendapati tempat-tempat yang mempertahankan sistem pengairan sawah tradisional yang didapat dari hukum adat dalam pembagian sawah untuk anak-cucu mereka dengan cara mengukurnya memakai ukuran hokum adat dan viola…! Jadilah jaring laba-laba itu sebagai hasilnya. Saya dengan nafas terengah-tengahpun menjadi terkagum-kagum melihat lansekap indah ini.

manggarai (7)

manggarai (9)

manggarai (10)

manggarai (8)

(well, as you can see, the table also made by the model of spider web rice field)

Untungnya, untuk mendaki ke tempat spider-web rice field ini, penduduk lokal sudah menyiapkan tempat yang nyaman bagi wisatawan yang datang mendaki undakan-undakan berbentuk tangga yang sudah dibuat semudah mungkin untuk didaki. Juga disiapkan tongkat-tongkat bagi yang merasa dirinya sudah tidak kuat lagi di perjalanan untuk berpegangan.  Jangan lupa ya, kita juga harus menyiapkan sedikit uang untuk diberikan bagi penduduk yang telah menjaga lokasi pendakiannya hehehhe….fantastis deh! Terlebih petualangan saya sore itu diakhiri dengan hujan-hujanan yang cukup membasah-kuyupkan badan karena hujan yang deras mendera saya di atas motor.

manggarai (11)

Malam harinya, saya dijemput teman yang juga seorang blogger dari Ruteng untuk mengikuti launching Taman Baca mereka di sebelah Gereja Katedral mereka di Ruteng. Untuk Taman Baca Ruteng itu nanti saya akan tulis di artikel berikutnya, namun yang membuat saya kagum adalah gereja Katedral yang ada di salah satu kabupaten di Provinsi NTT ini, begitu besar dan megah yang saya tidak bayangkan akan dibangun di daerah ini. Menurut salah satu jemaatnya, gereja besar ini bisa menampung 12,000 umat yang ada di seluruh Ruteng. Seakan ingin mengalahkan Gereja Katedral yang ada di Jakarta, gereja ini berdiri begitu megah dan indah sekali. Sebenarnya ada gereja Katedral lama peninggalan Portugis yang tadinya menjadi gereja induk mereka, namun karena sudah tua dan perlu renovasi akhirnya mereka membangun gereja nan megah ini. Saya sih berharap gereja yang besar, indah dan megah ini benar-benar menjadi rumah tempat ibadah dan mengucap syukur kepada Tuhan bukan malah memberatkan umat-nya dalam membangunnya. Semoga tidak.

manggarai (12)

manggarai (13)

manggarai (14)

manggarai (15)

Secara pribadi, saya merekomendasikan Manggarai untuk tujuan wisata anda. Namun, perlu diingat juga jika kita pergi ke wilayah yang sangat terpencil, jangan terlalu berharap fasilitas akomodasi atau transportasi yang ada seperti fasilitas di wilayah kota lainnya. Mohon dimaklum, tapi tempat-tempat wisatanya, untuk saya indah, eksotis dan masih orisinil.

Masih ada skull hobit cave (mereka menyebutnya demikian, ini adalah gua yang konon dihuni oleh manusia kerdil jaman batu, membuat saya teringat dengan film Lord of the Rings) dan beberapa tempat wisata lain yang belum sempat saya datangi. Suatu saat, semoga bisa terwujud untuk mengunjunginya. Mungkin diperlukan waktu lebih dari satu hari untuk mengelilingi Manggarai melihat tempat-tempat eksotis lainnya, termasuk pantai-pantainya yang cukup indah juga katanya.

Untuk saya, Manggarai, membuat saya jatuh cinta pada NTT.

Written by Hilda Rumambi, 2:18 AM, 1/8/2014

from Kupang with love…

manggarai (16)

(Bandar Udara Frans Lalega-Manggarai, Nusa Tenggara Timur)

 

36 Comments to "Bertualang ke Tanah Timur nan Eksotis – Manggarai (1)"

  1. Hilda  18 January, 2014 at 00:29

    wah Itsmi…tumben serius hahahaha…padahal isu nya bukan isu agama nih

    tentu saya menikmati perjalanan ini, amat sangat..seperti dirimu menikmati perjalananmu sbg atheis xixiiii
    thanks ya utk komennya yg menginspirasi dng catatan..’bertualang berarti juga berpetualang psikis’ (ngomong2 apa artinya sih??) agak lowbat mikir malam ini soalnya

  2. Hilda  18 January, 2014 at 00:25

    hehehe..iya anoew, kadang aku merasa mungkin memang lebih baik tidak banyak yg perlu datang ke tempat ini supaya tempat ini selalu asri, orisinil dan cantik… semoga saja memang tulisanku membuat yg membaca merasa juga pergi ke tempat ini tanpa raganya perlu hadir hahaha…

    ok deh, makasih banget ya utk supportnya bagi style tulisanku, sukses juga utkmu ya

  3. Itsmi  17 January, 2014 at 19:12

    Bertualang berarti juga berpetuang psikis hahaha

    kalau masalah orang lebih senang ke luar negeri dari pada negeri sendiri itu saya kira dimana mana sama…. orang yang di belanda pun banyak yang tidak pernah ke tempat seperti di provinsi Groningen… tapi sudah sampai ke desa Manggarai….

    yang penting apa yang di lakukan, menikmatinya….

  4. anoew  17 January, 2014 at 17:35

    Kabar baik di sini, Hilda. Tengkiu Semoga dirimu juga yo, selalu sehat biar bisa nulis yang asyik-asyik kayak gini hahaha.

    Itu, yang paling manteb itu, sawah laba-laba. Hebat ya negeri kita dengan pengetahuannya bisa bikin kayak gitu. Salut. Semoga saja, daerah-daerah kaya kayak begitu nggak akan dirusak sama sesuatu atau pun oknum. Sayang.

    Tentang tulisan, biarkan saja mengalir. Terlalu detail atau tidak justru itu tergantung apa yang mau disampaikan. Kalau reportase seperti ini, kurasa -menurutku ya- sudah terwakilkan bahkan komplit. Pembaca jadi seperti mengalami 3D, ikut jalan-jalan bersama Penulis. Dan, itu emosinya juga terbangun kok.

    Hiks jugak.

  5. Hilda  16 January, 2014 at 22:41

    hi anoew…apa kabar?
    betul, tempat2 diatas memang keren2, aku aja sampai terheran2 disana dan takjub untuk hal2 yang aku lihat disana… tulisanku terlalu detail ya? kurang misterius ya…? hiksss….padahal aku pengen lho bisa nulis yg membuat pembacanya bangkit emosinya…bisa sampai nangis terharu atau marah gitu hehhee…

  6. anoew  16 January, 2014 at 21:04

    Waduh indahnyaaaa… Itu, jaring laba-labanya keren abis. Juga yang di katedral, mantab.

    Baca artikel ini membuatku tak perlu rogoh dompet, untuk bisa pergi ke sana. Trims Hilda buat artikelnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.