Salahkah saya jika lebih betah hidup di luar negeri daripada di negeri tempat saya dilahirkan?

Evita Marcondes

 

“Kok Jakarta panas banget ya? Kok tambah macet ya? Kok tambah banyak penduduknya ya?” Serentet pertanyaan ini muncul ketika saya pulang ke Indonesia pertengahan tahun 2013 lalu setelah beberapa tahun menetap di negri Paman Sam. Saya tidak lagi merasa nyaman dengan lingkungan sekitar, ditambah lagi putri saya yang berumur 9 tahun terkapar sakit dan nyaris dirawat di sebuah rumah sakit di Bali karena demam tinggi. Untungnya saya hanya menderita demam biasa, alergi kumat, diare, kulit pecah-pecah.

Suami saya (yang juga sempat sakit di Jakarta) segera mengambil kesimpulan bahwa saya dan anak saya sudah tidak bisa lagi tinggal di Indonesia khususnya Jakarta, karena dia melihat bahwa saya tidak bisa menikmati liburan kali ini. Tapi tentu saja saya menyangkal dengan dalih : “Ah ini hal biasa, tidak ada yang perlu dikawatirkan, hanya adaptasi sebentar pasti semuanya jadi baik-baik saja. Mungkin yang susah buat kamu, karena kamu bukan orang Indonesia, kalau saya orang Indonesia asli, pasti bisa kok hidup di sini. Yakin deh.” ….Meskipun dalam hati saya berkata, Oh Tuhan, saya mau cepat-cepat balik ke Vegas supaya bisa bebas dari alergi dan gangguan-gangguan lainnya.

Sudah empat bulan lebih saya menetap di Campinas, Brasil, dan harus kembali ke Vegas untuk mengurus dokumen-dokumen yang belum selesai, tanpa saya sadari saya selalu membahasakan perjalanan saya ke Vegas sebagai “mudik” . Seharusnya saya bisa bilang mudik kalau saya pulang ke Jakarta, bukan ke Vegas. Sejujurnya selama saya di Brasil saya rindu untuk pulang ke Vegas, bukan ke Jakarta. Apa ada yang salah dengan saya? Anehnya saya juga pernah tinggal di Jerman, tapi saya tidak pernah membahasakan “mudik” jika saya pergi ke Jerman.

Apakah nasionalisme saya patut dipertanyakan?

love indonesia

Sedikit fakta tentang saya :

1.  Saya tetap pemegang paspor hijau.

2. Makanan favorit saya tetap makanan Indonesia (semuanya tanpa kecuali).

3. Tontonan favorit saya tetap OVJ, Mata Najwa, Kick Andy.

4. Situs favorit saya kompas.com, detik.com, BALTYRA.COM

5. Saya sudah terdaftar di kedutaan Indonesia untuk Brasil sebagai pemilih pada PEMILU mendatang.

6. Saya selalu menggunakan Bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan putri saya (walaupun seringnya dibalas dengan Bahasa Inggris/ Portugis).

Berdasarkan beberapa fakta di atas saya berkesimpulan bahwa nasionalisme saya tidak perlu dipertanyakan karena saya merasa sangat Indonesia. Hanya kebetulan saya merasa lebih nyaman  ketika saya hidup di Vegas/Campinas. Bukan salah siapa-siapa.

Nasionalisme saya mengatakan bahwa apapun yang terjadi suatu saat saya akan pulang dan menghabiskan masa tua saya di Indonesia (tidak harus di Jakarta, kota kelahiran saya) .

 

32 Comments to "Salahkah saya jika lebih betah hidup di luar negeri daripada di negeri tempat saya dilahirkan?"

  1. Evita Marcondes  18 January, 2014 at 11:06

    Mauuuuuuu @Linda Cheang hahahahah….itu kelemahanku…sukanya makanan traditional Indonesia, di vegas lumayanlah masih terjangkau dan ada kalau mau masak makanan Indo, tapi di Campinas duuuhhh jangan harao deh…ini aku lagi di Vegas ngeborong isle Indonesia di International Market , mungkin dikira orang aku mau buka restaurant hahahah

  2. Linda Cheang  18 January, 2014 at 06:00

    Evita, tapi aku yakin, Evita ini pasti akan amat bersukacita jika saja bisa dilempari dari sini : Bala-Bala, Pisang Goreng, Gado-Gado, Ketoprak, Nasi Kucing, Pempek, Kupat Tahu, Soto apapun versinya sampai Nasi Goreng, hehehehe… mungkin juga penganan yang tertesan remeh seperti Getuk, Klepon, Pukis, Kue Pancong… sampai Cireng.,..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.