[Di Ujung Langit – Zaijian Wo de Ai] Dua Keluarga

Liana Safitri

 

PAK YUDHA dan Bu Yudha kembali hari ini setelah satu bulan tinggal di rumah orangtua mereka yang sedang sakit. Sebelumnya mereka sudah menelepon ke rumah memberitahukan soal kepulangannya pada Franklin. Namun yang membuat Franklin kesal adalah Lydia sekarang pergi dengan Tian Ya tak tahu ke mana, sedangkan ponselnya tidak aktif. Jadi ketika Bu Yudha menanyakan Lydia ia menjawab apa adanya, tidak tahu.

“Bagaimana sih, anak itu? Orangtua datang dia masih pergi bermain-main! Apakah setiap hari adikmu tak pernah ada di rumah?” Pak Yudha menggerutu.

Franklin masih berusaha membela Lydia, “Bukan begitu! Lydia tidak tahu kalau hari ini Ayah dan Ibu akan pulang.”

“Apa kau sudah membicarakan masalah itu dengan Lydia?” Pak Yudha bertanya dengan nada serius.

Franklin tahu yang dimaksud Pak Yudha, maka ia menjawab sangat hati-hati, “Aku masih menunggu waktu yang tepat, Ayah.”

Bu Yudha yang sejak tadi diam kali ini menimpali, “Jangan menunda terlalu lama. Kami dibuat pusing dengan kelakuan Lydia yang tidak pernah serius dan hanya memikirkan kesenangannya sendiri. Lagi pula sudah saatnya bagi ayahmu untuk beristirahat.”

Franklin sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia masih terusik dengan puisi Lydia Kepada sang Bintang yang Bertahta di Langit Hati. Jika benar Lydia membuat puisi itu untuk Tian Ya, maka Franklin telah menceburkan diri ke kubangan lumpur yang sangat dalam. Dia tidak tahu harus menguraikan benang kusut ini mulai dari mana, dengan cara bagaimana.

 

Setelah selesai mengajar Tian Ya mengajak Lydia ke rumahnya. Sejak Tian Ya kembali ke Indonesia, ini untuk pertama kalinya Lydia melihat rumah Tian Ya yang baru. Begitu mereka sampai di depan rumah, ada sebuah taksi di sana. Sepertinya memang sengaja menunggu Tian Ya. Lydia dan Tian Ya keluar dari mobil dan mendekati taksi tersebut. Tian Ya mengetuk kaca jendela, dan saat kaca diturunkan tampaklah siapa yang ada di dalam. Tuan dan Nyonya Li.

“Tian Ya! Kenapa kau mematikan ponsel? Kami kesulitan mencari alamat rumah ini.”

Tian Ya membantu ibunya membawakan barang-barang. “Nimen de lucheng zenmeyang?” (你们的路程怎么样 – Bagaimana perjalanan kalian?)

“Hen lei ya!” (很累呀 – Sangat melelahkan!)

Lydia berdiri dengan jarak beberapa meter dari mereka, melihat semua adegan tersebut sambil membisu. Karena sibuk membantu, Tian Ya jadi lupa pada Lydia. Namun Nyonya Li menyadari ada orang lain di tempat itu. Nyonya Li berjalan perlahan mendekati Lydia lalu memandanginya lama sekali.

“Apakah kau… Lydia?” Suara Nyonya Li terdengar bergetar. Lydia menganggukkan kepala. Nyonya Li langsung mengulurkan tangan memeluk Lydia sambil berkata penuh haru, “Lydia… Oh, Lydia…! Akhirnya aku bisa bertemu denganmu…”

“Tante…”

Nyonya Li mengerutkan dahi. “Mengapa panggilanmu jadi berubah? Bukan kata itu yang ingin aku dengar!”

Lydia merasa mulutnya terkunci, dengan susah payah ia berucap, “Mama…”

Nyonya Li kembali memeluk Lydia. “Bagus, bagus! Anakku telah tumbuh menjadi gadis yang cantik…”

Tuan Li juga mendekati Lydia. Ia masih seperti dulu, dengan senyum yang hangat menyapa Lydia. “Apa kau baik-baik saja, Lydia? Tidak lupa padaku, kan?”

Wajah Lydia memerah. “Ya…”

Di dalam rumah perbincangan diselingi suara tawa mengalir tanpa henti.

“Selama di Taiwan kami sering membicarakanmu, Lydia. Kami selalu menanyakan keadaanmu pada Tian Ya.”

Lydia merasa malu sekaligus berterima kasih mengetahui kenyataan bahwa keluarga Li sangat memperhatikan dirinya. Lydia masih agak canggung, apalagi ia yang sekarang bukan anak-anak lagi. Tapi orangtua Tian Ya sedikit pun tidak berubah. Kalimat seperti, “Aku juga sangat merindukan kalian!” tak mampu diungkapkan Lydia. Ia masih sangat takjub dengan pertemuan ini. Waktu Lydia berpamitan pulang, Nyonya Li memberinya banyak makanan yang dibeli di Taiwan. Lydia jadi teringat, dulu ketika dirinya sakit Nyonya Li pernah memasak dan mengantarkan kotak makan pada Lydia melalui Tian Ya. Lydia belum sempat berterima kasih.

“Aku tidak mengira kita bisa bertemu lagi…” kata Lydia akhirnya.

two-families

Lydia tidak tahu kalau orangtuanya pulang hari ini juga. Saat turun dari mobil Tian Ya dan berjalan menuju rumahnya, Lydia terkejut melihat Franklin sudah menunggu di depan pintu gerbang. “Kakak! Mengapa kau tak menungguku di dalam saja?”

Franklin menunjuk jam tangan katanya, “Lihat sudah jam berapa?”

Franklin sedang marah rupanya. Tapi Lydia juga memiliki alasan sendiri. “Hari ini orangtua Tian Ya kembali dari Taiwan, jadi aku mengobrol dengan mereka sampai lupa waktu.”

Franklin mendekatkan wajahnya ke wajah Lydia, berkata sambil merendahkan suara, “Apa? Orangtua Tian Ya datang dari Taiwan lalu kau sibuk melepas kerinduan dengan mereka, sementara orangtua sendiri pulang dari luar kota kau malah tidak menyambutnya?”

Lydia langsung terlonjak kaget, “Haaa? Jadi ayah dan ibu sudah pulang?” Tapi kemudian ia berusaha membela diri. “Bagaimana aku tahu mereka pulang kalau Kakak tidak memberitahuku?”

“Bagaimana aku bisa memberitahumu kalau ponselnya tidak diaktifkan?” balas Franklin.

Saat Lydia dan Franklin masuk, Pak Yudha sedang membaca koran di ruang tamu. Lydia menyapa, “Aku pulang, Ayah!”

Pak Yudha mengangkat kepala sejenak, melihat Lydia acuh tak acuh, “Ya.” Dan kembali sibuk dengan apa yang sedang dibaca.

Bu Yudha muncul dari ruang makan dan bertanya sekedarnya, “Dari mana?”

“Dari rumah teman…”

Lydia berdiri di tengah ruang tamu seperti orang bodoh, hanya itu saja? Karena tak ada pembicaraan lain Lydia pun masuk ke kamarnya. Lydia segera menumpahkan kemarahan pada Franklin. “Mereka tidak peduli aku akan pulang atau tidur di jalanan, jadi Kakak tidak perlu repot-repot memintaku memberi penyambutan!”

“Baiklah! Mungkin ayah dan ibu memang terlalu sibuk dan tak punya waktu memberikan perhatian lebih padamu. Tapi aku sangat cemas karena kau pulang larut malam. Lain kali jangan matikan ponselmu!”

Lydia jengkel sekali karena Franklin masih memperlakukannya seperti anak kecil. “Aku sudah dewasa, Kakak!”

 

Hari ini Lydia tidak pergi mengajar kursus. Ia, Franklin, bersama kedua orangtua mereka sedang bersantap siang di sebuah restoran mewah. Meski ini acara keluarga, bagi Lydia seperti sebuah acara formal yang kaku dan membosankan, bahkan cenderung menegangkan!

“Sekali lagi aku bertanya, apa kau mau melanjutkan sekolah ke luar negeri? Jika ya, kau bisa memulainya tahun depan, Franklin.” ujar Pak Yudha.

Franklin menggeleng. “Tidak, Ayah! Lagi pula ada banyak urusan yang masih belum diselesaikan.” Suasana hening, selama beberapa saat hanya denting sendok dan garpu yang terdengar. Franklin coba mengalihkan perhatian. “Ayah, Ibu… novel Lydia sudah diterbitkan.” Setelah Franklin berkata begitu, Lydia yang duduk di sebelahnya diam-diam mencubit Franklin.

“Aku sudah dengar.” Tanggapan Bu Yudha yang singkat terdengar datar, sama sekali tidak menunjukkan rasa senang atau bangga. Bukannya memberi selamat, Bu Yudha malah menasihati Lydia panjang lebar. “Lydia, sebaiknya kau mulai memikirkan masa depanmu dengan serius. Jangan cuma mengurusi tulisan-tulisan yang tidak jelas. Pengarang itu gelar semu yang tidak bernilai, tidak bisa diandalkan!”

Kalimat yang diucapkan ibunya sungguh di luar dugaan dan tak sanggup diterima Lydia. Ia sangat sakit hati, tapi hanya bisa memendam kemarahan tanpa berbuat apa-apa. Lydia berkata lebih dingin lagi, “Sudah ada Kakak! Karena Kakak yang akan mengurus perusahaan, jadi aku bisa mengandalkan dia, kan?” Lydia berusaha menulikan telinga dan mengunci mulut rapat-rapat, tapi juga harus berusaha mati-matian agar matanya yang terasa pedih jangan sampai mengucurkan air dan bisa berubah menjadi sungai atau lautan!

Lydia menolak berbicara pada Franklin sampai beberapa hari kemudian. Saat Franklin meminta penjelasan, Lydia langsung menyerangnya tanpa ampun. “Aku sudah mengatakan padamu berulang kali, jangan menyinggung-nyinggung masalah mengarang di hadapan ayah dan ibu! Untuk apa kau menceritakan soal novelku yang sudah diterbitkan? Mereka tetap beranggapan kalau mengarang hanya pekerjaaan membuang-buang waktu yang tak bisa menghasilkan uang dengan cepat! Kalau kau memang memikirkan perasaanku, tolong jangan katakan apa-apa pada mereka!”

Ini adalah untuk kedua kalinya Lydia marah besar pada Franklin. Sebelumnya mereka juga pernah bertengkar karena masalah buku dongeng.

 

Ketika itu Lydia yang masih kelas satu SMA sedang tak ada di rumah. Saudara Pak Yudha datang berkunjung bersama anak laki-lakinya, Peter. Franklin menemani Peter bermain sampai kelelahan. Anak kecil itu banyak sekali maunya. Sebentar-sebentar bermain mobil, robot, game, bola, bahkan menaiki punggung Franklin menjadikannya kuda-kudaan. Peter berlarian dari ruangan satu ke ruangan lain, memegang semua benda yang menarik perhatiannya. Setiap kali ada yang berantakan atau jatuh, Franklin lah yang merapikan kembali.

“Kakak Franklin, Kakak Franklin, aku haus! Aku ingin minum!”

“Ya, ya! Kakak ambilkan!”

Franklin pergi dan kembali lagi sambil membawa segelas sirup, tapi Peter tak ada di ruang tengah. “Peter! Kau di mana?” Franklin berteriak memanggil sambil mencari ke seluruh ruangan. Ternyata Peter ada di kamar Lydia. Dia sedang membuka-buka sebuah buku bergambar. Franklin tahu kalau Lydia tidak suka kamarnya dimasuki orang sembarangan. Segera ditariknya Peter keluar, sambil meminta buku Lydia. “Aduh. Jangan! Ini punya Kak Lydia, nanti bisa dimarahi! Ayo kembalikan!”

Peter mengelak, “Aku cuma mau lihat…” Terjadilah tarik-menarik antara Franklin dan Peter. Kraakkk! Sebuah halaman robek. Tahu dirinya telah melakukan kesalahan, Peter berlari keluar dari kamar Lydia meninggalkan Franklin yang berdiri terpana melihat buku Lydia.

Setelah pulang ke rumah, Lydia melihat Franklin ada di kamarnya sambil memegang sebuah buku. “Ada apa, Kak?”

Franklin melihat Lydia, wajahnya berubah tegang. “Lydia…”

Tangan Lydia mengambil buku dongeng Pemuda Gembala dan Gadis Penenun yang tergeletak di atas meja. Ada bekas robekan direkatkan dengan plester pada halaman yang terbuka. “Ini…” Lydia menatap Franklin penuh tanda tanya, seolah minta penjelasan.

Franklin lalu menceritakan kejadian bagaimana buku itu bisa robek.

“Maaf, Lydia…”

“Keluar!” Lydia mengusir Franklin dari kamarnya.

Franklin masih berusaha membujuk Lydia, “Jangan marah… Nanti Kakak belikan yang baru, ya? Kau bisa pilih buku dongeng apa saja yang kau suka.”

Siapa sangka Lydia semakin tak terkendali? Ia mendorong Franklin sambil berteriak dengan mata merah. “Kubilang keluar! Keluar! Kau tidak tahu buku ini sangat berarti buatku! Buku ini satu-satunya di dunia! Kau tak akan bisa mengganti dengan apa pun!”

Malam harinya saat Lydia sudah tidur, diam-diam Franklin masuk ke kamar Lydia. Dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara, Franklin mengambil buku dongeng yang robek itu lalu membawanya keluar. Ia naik sepeda berkeliling mendatangi semua toko buku yang ada di seluruh Yogyakarta. Franklin memasuki toko buku terakhir sambil membawa buku dongeng Lydia dan bertanya pada penjaga toko. “Maaf, apa di sini menjual buku seperti yang saya cari?”

Penjaga toko melihat buku yang dibawa Franklin sekilas, lalu menggelengkan kepala. “Tidak! Buku itu tidak dijual di toko kami. Buku yang Anda maksud adalah terbitan  luar.”

“Ya?”

Penjaga toko menunjuk tulisan di buku. “Coba Anda perhatikan, semua tulisan dalam buku adalah huruf Cina. Dan ini…” Dia membalik cover pada bagian belakang. Di antara huruf-huruf Cina tersebut ada tulisan lain yang menggunakan huruf roman. Taipei, Taiwan, 1992… “Buku dari Taiwan. Seandainya Anda mencari sampai ke sana pun belum tentu dapat. Terbitan bertahun-tahun yang lalu

 

8 Comments to "[Di Ujung Langit – Zaijian Wo de Ai] Dua Keluarga"

  1. Lani  16 January, 2014 at 06:22

    LIANA : klu gitu hrs sabar nunggu tayang………krn semua sdh kau kirimkan sampai tamat……….

  2. Liana  15 January, 2014 at 15:15

    Mbak Lani : Cerita sudah saya tulis sampai tamat. Malah sebenarnya admin juga sudah tahu ceritanya sampai akhir. Karena teman yang menyarankan saya kirim ke BALTYRA secara bersambung, jadilah harus nunggu giliran tayang. Entah kalau rating naik??? (kayak film aja xixixixi….

  3. Lani  15 January, 2014 at 14:14

    LIANA : justru kamu aku ajak, agar kita lbh kuat mendorong admin utk segera tayang kkkkkkk

  4. Liana  15 January, 2014 at 13:02

    Mbak Lani : bilangnya sama admin aja. Hehehe…

  5. Esti  15 January, 2014 at 09:02

    Jadi curiga sm Frangky,hmmmm……

  6. Lani  14 January, 2014 at 23:50

    LIANA : jgn lama2 lanjoooooooot………semakin mendayu-dayu………..

  7. elnino  14 January, 2014 at 21:04

    wah,makin menarik…

  8. Alvina VB  14 January, 2014 at 14:24

    Satu! Bacanya nanti…mau tidur dulu ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.