Menginap di Hotel yang Belum Jadi

Handoko Widagdo – Solo

 

Dalam sebuah perjalanan, saya pernah menginap di hotel yang belum jadi. Kisahnya diawali saat kami serombongan akan menuju ke sebuah kota kabupaten. Tim provinsi yang menjadi tuan rumah kami dengan sangat baik membantu kami menyiapkan kebutuhan akomodasi. Mereka sampai harus berkeliling kota untuk mencari penginapan yang representatif. Memang tak ada hotel di kota kabupaten tersebut. Satu-satunya losmen yang layak telah dibooking oleh pegawai Pertamina yang sedang mengeksporasi minyak di wilayah tersebut. Akhirnya Tim Provinsi menemukan sebuah hotel kecil yang belum selesai benar dibangun. Hotel tersebut rencananya dilaunching pada Hari Sabtu, dan pada Hari Senin sorenya kami akan masuk ke sana.

hotelbelumjadi (1)

hotelbelumjadi (2)

Kami sampai di kota kabupaten tersebut sudah jam 4 sore lewat. Saat dua mobil kami masuk ke halaman hotel, kami diusir oleh seorang ibu yang sangat sibuk mengatur beberapa tukang yang memindahkan gundukan pasir. Kami diminta untuk menuju hotel lainnya. Setelah menunggu barang setengah jam, sopir kami bilang bahwa kami sudah bisa masuk ke hotel. Jadilah kami kembali ke hotel. Betul saja halaman hotel sudah bisa dipakai untuk parkir, meski masih ada beberapa gundukan pasir.

Saat kami masuk hotel, ruang aula (mungkin calon resepsionis) masih merupakan ruang terbuka dan penuh dengan barang-barang sisa bangunan. Kami lewat saja untuk segera menuju kamar. Aneh bin ajaib karena kamar yang akan kami tempati masih belum beres. Kamar masih bau cat. Sepertinya pengecatan baru selesai setengah jam yang lalu. Kunci pintu belum terpasang, TV belum tersambung, AC masih dibungkus plastik. Demikian pula dengan kasurnya. Meski sudah diberi sprei, namun kasurnya masih terbungkus plastik, sehingga kami minta supaya plastiknya dibuka. Gayung, ember, tempat air minum dan keset semuanya masih berlabel. Kami pun harus menyiapkan barang-barang tersebut di kamar kami masing-masing. Dan, tentu saja kami harus menyapu kamar tersebut karena debu masih berkeliaran di lantai kamar.

hotelbelumjadi (3)

hotelbelumjadi (4)

hotelbelumjadi (5)

Sambil menunggu tukang-tukang membenahi kamar, kami keluar makan malam. Sekembali dari makan malam, AC di salah satu kamar tidak berfungsi. Maka terpaksa teman yang menghuni kamar tersebut harus berpindah ke kamar lain.

hotelbelumjadi (7)

hotelbelumjadi (8)

hotelbelumjadi (9)

Untunglah Ibu yang punya hotel ini sangat ramah. Kami berbincang banyak dengan beliau. Keramahan beliau membuat kami senang-senang saja menghadapi ketidak-siapan kamar. Bahkan kami merasa gembira bisa ikut membantu Ibu menyiapkan kamar hotel.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

44 Comments to "Menginap di Hotel yang Belum Jadi"

  1. Handoko Widagdo  18 January, 2014 at 16:02

    Betul Ibu Matahari.

  2. Matahari  18 January, 2014 at 15:49

    Pak Handoko menjadi “peletakan badan pertama”di bed hotel….

  3. Handoko Widagdo  18 January, 2014 at 06:58

    Benar Mbak Dewi, suatu saat mungkin saya akan datang dengan cucu saya dan menjelaskan: Cuk…ini dulu yang pasang kunci adalah Engkong.”

  4. Dewi Aichi  17 January, 2014 at 22:41

    Pak Handoko, saya berharap suatu saat pak Handoko dapat menginap di hotel ini lagi, dan bisa melihat bagaimana perawatan dan pemeliharaan pengelola hotel ini, kan dari anyar grisss…masih terbungkus plastik, hehehe..mudah2an pemeliharaan hotel ini akan bisa dijaga…sehingga kebersihan tetap terjaga..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.