Kehidupan Seorang Atheis

Itsmi – Belanda

 

Seorang atheis selalu mendapatkan pertanyaan, apa sebenarnya tujuan hidupmu? Untuk orang yang beragama, sulit untuk memahaminya karena hidup tanpa Tuhan untuk mereka yang beragama berarti hidup tanpa tujuan, selain pertanyaan di atas : hidup tanpa Tuhan, berarti hidup tanpa pegangan, pertanyaan berikutnya bagaimana kalau meninggal dunia, bagaimana dengan menjalankan hidup yang tidak mempunyai kepastian atau bagaimana dengan kebahagiaan bagi yang atheis?

Untuk orang yang beragama semua pertanyaan jelas sudah terjawab sedangkan untuk atheis pertanyaan-pertanyaan seperti di atas itu dipikirkan oleh diri sendiri juga mempercayai pada penilaian moral sendiri. Atheis selalu ingin berpikir dengan cara mandiri, meneliti, menilai dan membandingkan dari pada menerima apa yang dikatakan oleh Imam, Pastor atau orangtua bagaimana kita harus memikirkannya. Seorang atheis ingin/mau diyakinkan secara rasional, dengan berpikir sacara logis seperti membandingkan mythologi dari “kitab suci” dengan hasil penelitian dari sains, mengenai keindahan dunia ini…

Keberadaan kita, tidak memiliki arti atau tujuan. Tentu untuk orang yang beragama lebih senang pada wishful thinking dimana Pengcipta yang penuh kasih dan memberikan tujuan hidup pada mereka dari pada alam buta.

Keberadaan manusia itu sia-sia belaka seperti dari segala sesuatu yang di alam semesta. Tetapi apakah membuat hidup seorang atheis seperti saya tidak berarti? tentu tidak karena setiap orang mempunyai sifat dimana dia bisa menetapkan arti hidup pada dia sendiri dan orang lain.

Jika kita menetapkan tujuan, baru membuat hidup berarti, dari situlah setiap individu mengisi sendiri arti hidupnya. Untuk saya sendiri itu kebahagian dan cinta berarti kebahagian dalam hidup adalah apa yang dicari oleh diri sendiri, kebahagiaan dalam hidup bagaimana kita memahami arti kebahagian dalam kehidupan. Kebahagiaan dalam hidup adalah suatu kenyamanan yang murni yang bisa dinikmati oleh setiap individu dalam hidup tanpa alasan lain tapi benar-benar mendapatkan kenyamanan dalam hidup dan kebahagiaan.

Hal ini bukan seperti orang yang beragama mendapatkan kebahagiaan dengan alasan yang lain. Seperti menyembah Tuhan, menyibukkan diri dengan aktivitas yang jika dikaji dengan baik benar-benar sama sekali tidak ada relevansinya dengan kualitas hidup kita yang malah sebaliknya membuat kita kehilangan waktu dalam kehidupan hanya untuk suatu abstraksi yang tidak jelas tapi diperulangkalikan  seperti melihat seorang penari di atas pangung berulang-ulang melakukan gerakan yang sama, bayangkan bila anda harus menonton satu tarian di pangung selama 1 jam setiap hari hanya disajikan satu jenis tarian yg diulang-ulang kali, berapa lama anda akan bisa menontonnya?

Kalau dipertanyakan kepada pendeta, kenapa kita harus menyembahNya, jawaban yang diberikan karena ini membuat anda bahagia. Yang jelas orang yang beragama tujuan akhir kebahagiaan di akhirat sedangkan untuk saya sebagai atheis kebahagiaan itu nilai akhir.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kebahagiaan tidak terletak pada ritual dan kepercayaan apalagi dari Tuhan, kalau sebenarnya  kita jujur mengakuinya bahwa kebodohan besarlah jika seseorang mengakui adanya Tuhan, seandainya anda mencari sampai ke ujung langit dan ke dasar lautan yang yang dalam saya yakin anda tidak akan pernah menemuinya, seorang teman pernah bertestimoni sepanjang hidupnya dia berusaha mencari existensi Tuhan bahkan dia rela kehidupannya direnggut dan langsung dilempar ke neraka jika Tuhan ada sampai saat ini dia katakan sampai ia meninggalpun dia yakin bahwa Tuhan itu tidak ada , seperti ajaran semua agama yang mengatakan Tuhan maha esa, maha kuasa , maha penyayang, maha pemaaf dll maka tidak mungkinlah hidup manusia menderita, terkotak-kotak, saling menindas.

Maka tersesatlah kalau kita mencari kebahagiaan melalui agama yang pasti agama itu sama seperti aspirin atau zat addictive yang bisa bermanfaat untuk manusia mendapatkan kenyamanan sementara, sangat jelas bahwa agama itu sangat cocok untuk individu yang tidak stabil, individu yang mature adalah individu yang tidak memerlukan aspirin dan sejenisnya untuk mendapatkan kenyamanan dalam hidup, kebahagiaan itu berdasarkan dari kepahamanan dan kompetensi dan tentunya orang itu sendiri dan bagaimana cara dia merasakan hidup.

Kebahagiaan itu berasal dari pada bagaimana menyadari apa yang tersedia dari nilai kebaikan dan kemudahan yang didapatkannya seperti pengalaman dari cinta, keindahan, persahabatan, merasakan gembira dengan kesenangan yang sederhana atau yang sekecil-kecilnya dan bagaimana mencari serta  berjuang dengan berbagai macam cara untuk mendapatkannya.

Kebahagiaan itu juga dari kesadaran bagaimana setiap individu berinteraksi dengan individu lainya maka dari itu jangan pernah berpendapat bahwa atheis itu introvert karna kualitas kebahagian dalam hidup akan semakin tinggi jika dinikmati untuk seluruh populasi dan tentu pengetahuan-pengetahuan yang kita dapatkan sebagai pedoman hidup. Dengan cara pemahaman timbal balik dan kemampuan untuk kebahagiaan inilah, alasan mengapa begitu banyak atheis menghargai pendekatan ini untuk hidup.

 

Itsmi, Nederland

 

136 Comments to "Kehidupan Seorang Atheis"

  1. YReika  15 November, 2017 at 12:23

    berarti atheis tidak mengerti setelah kematian dia akan pergi ke mana…arwahnya akan bergentayangan tanpa tujuan yang jelas.
    Pada waktu masih hidup, kaya dan jaya, setelah mati, sudah slesai begitu saja…kasihan :’

  2. Abdullah Hasan  6 August, 2017 at 01:12

    Makanya saya selalu konsisten penilaian saya terhadap orang atheis : yaitu manusia sombong yg paling bodoh.

  3. ahmad  23 June, 2017 at 11:34

    Secara tidak langsung atheis juga punya “TUHAN”, tuhan anda adalah akal anda. Begitu kagum dan terpesonanya anda pada akal sampai mengesampingkan banyak hal. Sederhana saja sebenarnya, atheisme itu salah satu bentuk kekecewaan pada agama dan tuhan. Saya jamin 100% anda akan kecewa setelah anda mati. Kristen tidak memberi anda solusi, tidak berarti semuanya sama seperti apa yg anda anggap. Hidup jangan berdasar anggapan. Anda menganggap diri anda lebih berpengetahuan, lebih ilmiah, tp yg anda “yakini” justeru memerlihatkan sebaliknya. Darimana anda tau tuhan itu tidak ada, bumi itu tercipta bukan oleh tuhan? Apakah anda pernah melihat langsung proses terbentuknya alam semesta? Atau anda hanya mengira-ngira dan ikut apa kata orang? Orang yg beriman mengatakan Tuhan itu ada, dan semuanya diciptakan bukan tanpa dasar, selain kitab suci yg mngatakan demikian, akal pun tdk menolaknya. Biar saya perjelas, anda prcaya klo semesta terjadi dengan semacam kekuatan, anda bsa mnyebutkan ciri2nya, kami pun demikian, bedanya anda tidak mengatakan untuk “Kekuatan ini” dengan sebutan TUHAN. Anda prcya pada sesuatu yg bahkan bisu, tak mndengar, tak dpt brbicara, tak punya kemauan dan khendak (proses kebetulan) bhw karena hal2 smacam inilah semesta terwujud, apa yg kami percaya lebih dari sebuah proses kebetulan, kami prcaya yg mncipta alam semesta ini MAHA HIDUP, MAHA MENDENGAR, MAHA BERKEHENDAK dst. Jadi pada point ini saja, jelas terlihat siapa yg “lebih ilmiah”. Saya paham, agama anda dulu tidak memungkinkan akal untuk bergabung dengan agama, mau akal tinggalkan agama, mau agama tinggalkan akal, dan celakanya, anda pukul rata hal ini pada semua keyakinan. Apakah selalu demikian? Apakah agama dan akal harus selalu ditabrak-tabrakan? BACALAH ALAM SEMESTA INI DENGAN TELITI, JANGAN NYEBUR KOLAM SEBELUM TAU LETAK IKANNYA DIMANA, NYEBUR KOLAM SECARA SERAMPANGAN MALAH NAMBAH KOLAM SEMAKIN KERUH, DAN IKANNYA MAKIN TAK TERLIHAT.

  4. [email protected]  14 June, 2017 at 07:31

    Terus yang bikin lo ada di dunia ini siapa?? Elo sendiri.. bisa emang??

  5. [email protected]  14 June, 2017 at 07:31

    Terus yang menciptakan diri lo ada di muka bumi ini siapa?? Eloo sendiri ??

  6. [email protected]  14 June, 2017 at 07:29

    Trus yang bikin lo ada di muka bumi ini siapa?? Elo sendiri???

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *