Kematian

Atra Lophe

 

Perempuan itu masih diam menatap pantulan tatapan matanya dari cermin yang kokoh menempel pada dinding kayu, yang semakin rapuh termakan usia. Makhluk-makhluk kecil beramai-ramai mengulum sari-sarinya yang kering. Tanpa ampun. Tanpa mengenal sedikit rasa kasihan. Makhluk sekecil itu pun bisa melakukan hal keji. Mereka terus beranak pinak karena memiliki asupan makanan berlebih. Semakin hari semakin tinggi populasinya, semakin banyak pula yang mengulum serat kayu. Sementara kayu itu terus menyerahkan diri pada kepasrahan dan ketakberdayaan. Berharap mati saja, roboh dan rebah ditanah. Melepaskan dirinya dari paku-paku besi. Kelak, ketika roboh dan mati, ia akan bermetamorfosis menjadi tanah. Konon, manusia tercipta dari debu, debu itu adalah tanah.

rayap

Sementara, cermin itu tak menampakan ketuaan. Hanya ada sedikit debu yang menempel. Tetapi, tetap saja ia setia memberi pantulan. Diam dan tenang, tanpa memanipulasi apa yang ada di hadapannya. Mungkin saja ia tahu, tatapan perempuan itu penuh dengan caci maki dan sumpah serapah. Berharap, ia retak berkeping-keping, jatuh ke lantai, dan bermetamorfosis menjadi apapun yang dikehendaki.  Atau  reinkarnasi menjadi batu cermin. Apapun.

Dan perempuan itu, ia mendapati pantulan tatapannya. Tatapan yang penuh ketakutan, kegelisahan dan kekwatiran yang dalam. Tatapan yang berteriak, mengucapkan sumpah serapah dan cacian. Untuk siapa cacian itu, ia tak ingin memberitahukannya pada cermin dan pada siapapun. Hanya guratan keriput pada wajah yang menjelaskan sedikit rahasia. Ia lelah pada waktu yang memberi isyarat, ia telah menjadi tua tetapi tak juga beranak pinak.

Untuk beranak pinak, ia harus memiliki rasa yang dinamakan cinta pada manusia lain, yang tentunya berbeda. Seperti ayah dan ibunya, yang telah meng-anak-an dirinya. Mereka manusia. Ia juga manusia. Manusia yang tua dan tak beranak pinak. Manusia yang tak memiliki cinta pada manusia lain. Ia cemburu pada makhluk kecil yang mengulum serat kayu. Meski tak peduli dengan sekitarnya, mereka masih beranak pinak. Sementara dirinya?

“Aku ingin mati muda. Meskipun aku sudah menjadi tua”

Rintihan itu samar-samar terdengar bersama reruntuhan kayu yang tak kuat lagi bertahan.  Seratnya telah habis termakan makhluk kecil. Suara retakan cermin tenggelam bersama jeritan panik makhluk kecil. Bersama-sama, perempuan itu, cermin, kayu dan makhluk kecil kembali pada asalnya. Kemanakah mereka? Tak ada lagi saksi, yang bisa menceritakan kemana mereka pergi. Mungkin saja, 10,20,30 atau 40 dan 50 tahun lagi ada yang menulis tentang mereka dan memanipulasi cerita “Mereka kembali menjadi tanah”.

 

About Atra Lophe

Berasal dari Indonesia Timur dan penulis lepas dengan fokus masalah sosial seputar kehidupan.

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Kematian"

  1. Kornelya  17 January, 2014 at 07:27

    Subo. Lani , warga negara Baltyra semuanya mau masuk surga, tetapi ngga mau pake mati. Hahaha, pada kabur.

  2. Lani  17 January, 2014 at 06:56

    JAMES : pd lari tunggang langgang soale spt katamu bahasannya soal MATI

  3. Kornelya  17 January, 2014 at 06:46

    Sebelum napas memutuskan meninggalkan body, gunakanlah untuk hal-hal yg positif dan produktif . Jangan meratapi hidup. Sepahit-pahitnya hidup, bukankah kita lebih memilih hidup ketimbang mati?. Hehehe

  4. J C  17 January, 2014 at 06:36

    Kodrat semua mahluk hidup yang tidak bisa dihindari…

  5. Handoko Widagdo  16 January, 2014 at 16:50

    Kematian adalah proses yang tidak bisa diprediksi kapan berakhirnya.

  6. James  16 January, 2014 at 16:46

    2 dibelakang mbak Lani…..he he he kosong nih yang komen karena judulnya Kematian ?

  7. Lani  16 January, 2014 at 11:28

    1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.