Perjalanan Terakhir (10)

Wesiati Setyaningsih

 

“Heran ya, dari tadi aku enggak lihat Very,” Monik menggumam.

Sandy dan Niko berpandangan.

“Iya ya. Kan dia yang sama Robi pas kejadian itu. Lagian ngapain juga dia ngebut gitu, coba? Jadinya ada yang meninggal begini.”

“Dan biasanya yang meninggal memang yang dibonceng, soalnya dia nggak siap. Yang di depan kan sudah liat apa yang dia hadapi.”

Lala dan  Monik tidak berkomentar. Mereka membiarkan Niko dan Sandy berbincang sementara mereka larut dalam pikiran masing-masing.

“Nggak tau deh kalo Mamanya Very sampai tau, bisa hancur dia.”

“Memang Mamanya Very kenapa?” Sandy menoleh pada Niko.

“Huh..” Niko menjulingkan matanya ke atas, “Ngeri deh pokoknya!”

“Ngeri gimana? Suka marah?”

“Ih.. Banget. Cuantik, langsing dan gagah karena perwira polisi. Tapi ya gitu, bawaannya maraaah mulu. Di mata dia, Very enggak ada benernya.”

“Kok tau?”

“Dia pernah kok tau-tau datang ke sekolah, siang pas kita bubaran sekolah, khusus nyariin Very. Katanya Very ditungguin supirnya enggak ada. Verynya juga gitu, katanya sudah bakal dijemput supir pulang sekolah, eh malah pulang duluan.”

“Supirnya laporan ke Mamanya?”

“Iya lah. Pasti supirnya ditanya-tanya juga. Ngecek tiap waktu kok. Begitu ditanya, Verynya udah pulang? Supirnya jawab, malah nggak ketemu, Bu. Detik itu juga Mamanya datang ke sekolah. Nyari-nyari Very. Sama anak-anak di luar dikasi tau untuk tanya ke kita yang masih ngobrol halaman sekolah.”

“Terus?”

“Waktu Mamanya datang, Very memang sudah nggak ada. Ya kita bilang, enggak tau. Habis lah diomelin, katanya nyembunyiin Very. Padahal sejak bel Very memang sudah langsung pergi. Mamanya Very dikasi tau enggak percaya. Dikira kita nggak mau kasi tau Very di mana. Padahal kitanya bener-bener nggak tau. Karena dia udah marah-marah nggak karuan kita malah pasang tampang o’on semua, dia kesal terus pulang gitu aja.”

“Besoknya kalian kasi tau Very?”

“Besoknya aku tanya Very, ke mana dia pas pulang sekolah itu. Katanya dia pergi sama Robi makan mie ayam depan rumah sakit itu. Mereka memang suka makan di situ.”

“Oalah.”

“Aneh juga, ke sekolah masih diantar jemput supir. Padahal di rumah ada motor baru. Very sendiri cerita, dia dibeliin motor baru sama Papanya. Tapi sama Mamanya enggak boleh dipake dulu.”

“Kalo nggak boleh dinaikin napa dibeliin?”

Niko mengangkat bahu.

“Nggak tau. Orang kaya kan gitu. Uangnya banyak nggak tau buat apa. Jadi tau-tau pas pengen beli ya beli aja. Habis itu baru ingat kalo anaknya belum tujuh belas tahun. Sebagai polisi, malu kalo anaknya naik motor belum punya SIM. Akhirnya aturan dibuat, enggak boleh naik motor dulu. Padahal motor dah ada… Aneh pokoknya.”

Sandy mengerutkan kening, heran.

“Lha motor sudah ada, motor keren kaya gitu, lagi. Ngapain kalo nggak dipake? Bikin ngiler aja,” gumam Sandy.

“Itulah. Kalo aku Very pasti pusing ngerasain punya orang tua kaya gitu…”

“Terus, waktu itu, akhirnya Mamanya Very tau nggak anaknya cuma makan mie ayam sama Robi?”

Niko mengangkat bahu.

“Sebenarnya sih, Very biasa aja. Enggak nakal amat. Bukan perokok juga meski pernah nyoba sekali dua.”

“Lantas, Mamanya kenapa sampai kaya gitu?”

“Kayanya takutnya Very minggat lagi ke game on line.”

“Oh, sering ke game on line, dia?”

“Banget. Sampai nginep-nginep kalo dia lagi gila game on line. Apa enaknya coba? Tidur di lantainya gitu. Bentar kemudian bangun lagi, main game lagi…”

“Sudah ketagihan, sih.”

“Iya. Yang jelas dia malas pulang. Aku juga bakal gitu kalo Mamaku segalak Mama Very,” kata Niko sambil bergidik ngeri.

“Jadi pengen tau, segalak apa Mamanya.”

“Gini nih katanya waktu itu,” Niko melotot sambil menirukan gaya Mama Very waktu itu, “awas kalian, kalo enggak mau bilang Very di mana, saya bunuh kalian semua!”.

Wajah Niko kembali datar, “gitu.”

Sandy menahan tawa.

“Kita semua sudah ketakutan. Tapi karena memang nggak bisa jawab Very di mana, ya diam aja.”

“Masak sampai kaya gitu..”

“Dibilangin..! Nggak percaya ya sudah.”

Niko merengut kesal.

“Jangan-jangan ini Very enggak layat karena lagi dicincang sama Mamanya,” canda Sandy.

“Kali..”

“Kalian ini! Ngomong yang baik-baik aja, kenapaa?” Monik protes.

“Tadi Mama Very yang bawa jenazah Robi ke rumah Robi, kok,” Lala nimbrung. “Di rumah sakit juga Mama Very yang urus semua.”

“Kok kamu tau?” Monik menoleh pada Lala.

“Lah kan aku sudah bilang, aku sempat ngobrol banyak sama Ibunya Robi,” kata Lala. “Nah, kata orang-orang yang lihat, Very turun dari ambulans, jenazah Robi diturunkan, Very-nya diajak pulang sama Mamanya. Mungkin ngurus motornya dulu.”

“Kalo motornya kenapa-kenapa, dia dimarahi Papanya nggak ya?” Sandy yang komentar.

“Hancur digamparin, deh, pasti..” kata Niko yakin.

“Duh. Kasian..” Monik prihatin.

“Ssst… Berdoa!”

Doa terakhir dipimpin oleh seorang yang biasa memimpin dia di pemakaman seperti ini. Dan pemakaman usai. Sandy, Monik,  Niko dan Lala bersama Bayu dan Indra, berjalan bersama para pelayat meninggalkan kuburan. Kerumunan orang yang semula menyemut, kini perlahan berkurang hingga akhirnya tinggallah Ibu dan Bapak merenungi gundukan bertabur kelopak-kelopak mawar berwarna putih dan merah bercampur baur.

Mereka tidak melihat kalau di kejauhan ada tiga orang berjalan terburu-buru memasuki gerbang makam, menyibak rombongan orang yang berjalan keluar, mengabaikan tatapan mata orang yang mengikuti arah mereka melangkah.

Melihat ketiga orang itu sontak Niko menggamit lengan Sandy. Sandy menoleh lalu mengikuti arah tatapan mata Niko dan mengerti kenapa Niko begitu terkejut. Tapi Sandy memberi kode agar Niko tidak mempedulikannya. Kembali mereka melangkah pulang, membiarkan apa yang akan terjadi tanpa ikut campur.

Ketiga orang itu akhirnya sampai di hadapan Ibu dan Bapak. Melihat ada tiga orang yang berjalan ke arah mereka, Bapak dan Ibu segera berdiri. Demi melihat anak remaja itu wajah Ibu memucat.

“Very,” desisnya.

Begitu Ibu mengucapkan namanya, Very segera luruh ke tanah seperti tak punya tenaga lagi. Tangisnya meledak dan spontan dia memeluk lutut Ibu. Di situlah dia menangis meraung-raung seolah lutut Ibu bisa menghapus bebannya. Beberapa pelayat yang masih tertinggal menghentikan langkah mereka dan menonton sebentar, lalu pergi.

“Maafkan saya, Bu..” tangis Very.

Ibu berdiri mematung tak bisa berkata apa-apa. Bapak pun sama saja. Dia hanya bisa menatap Ibu dengan penuh kuatir, takut Ibu pingsan atau apa.

“Ini anak saya,” ujar Mama Very.

Wajahnya memerah seperti menahan tangis. Entah kenapa dia harus menahan tangisnya. Sudah wajar dalam situasi seperti ini orang menangis, jadi tak ada salahnya kalau dia ingin menangis.

“Ibu boleh apakan saja anak saya. Saya rela.”

Ibu menatap Mama Very. Wajahnya ikut memerah sekarang. Perlahan dia membungkukkan badan dan mengangkat Very yang tersedu-sedu. Diangkat oleh Ibu seperti itu, Very seperti tak ingin berdiri.

“Maafkan saya, Bu..”

Dia masih saja meraung.

“Berdiri,” bisik Ibu.

Very mengikuti perintah Ibu. Ketika dia berdiri, Ibu menatap matanya dalam-dalam. Very sama sekali tak berani mendongak, apalagi Ibu seolah mencari matanya.

“Very, “ panggil Ibu sambil mencengkeram kedua lengan Very.

Very melirik ke arah Ibu.

“Ibu maafkan kamu.”

Very menatap Ibu seolah tak percaya. Detik berikutnya Very sudah memeluk Ibu erat dengan tangis yang kencang. Di pundak Ibu, Very tersedu-sedu seolah ingin menumpahkan kesedihanya. Ibu mengelus punggungnya dan larut dalam tangis pula. Bapak mengelus punggung Ibu sambil menahan airmatanya dengan susah payah hingga wajahnya tampak aneh.

“Very, kamu teman Robi. Maafkan kalo ada salah-salah dia, ya?”

Very tak menjawab. Hanya tangisannya yang terus menderu.

“Doakan Robi saja ya, Ver. Biar dia bahagia di alam sana.”

Ibu terus mengelus punggung Very. Perlahan tangis Very mereda. Dia lepaskan pelukannya dan dengan wajah masih penuh airmata, dia tatap mata Ibu.

“Terima kasih sudah memaafkan saya, Bu. Saya akan selalu doakan Very. Pasti. Dia satu-satunya teman saya yang paling baik. Selama ini cuma dia teman curhat saya. Teman saya yang lain masih banyak, tapi tanpa Very, rasanya saya nggak punya teman lagi.”

Very bicara tersendat karema isak tangisnya masih ada.

Ibu mengangguk. Dihapusnya sisa airmata di wajah Very.

“Nanti juga ada teman yang lain,” hibur Ibu.

“Mungkin, tapi tidak sebaik Very.”

Ibu mengusap kepala Very. Bapak tersenyum lega melihatnya.

“Kenapa Ibu tidak tampar saja anak saya? Dia sudah bunuh anak Ibu,” tiba-tiba Mama Very bersuara lantang dari belakang Very.

“Ma, “ Papa Very yang sejak tadi berdiri mematung berusaha menahan istrinya.

Mama Very menggerakkan tangannya tanda dia tak mau dilerai.

“Dia sudah menyebabkan anak Ibu meninggal. Harusnya tidak begitu mudah Ibu memaafkan dia. Hajar dia biar dia kapok!”

Very yang berdiri di hadapan Ibu tertunduk tanpa kata-kata. Dia seolah pesakitan yang akan diadili.

Ibu menatap Mama Very tajam.

“Ini anak kandung Ibu?” tanyanya.

Mama Very, masih dengan wajahnya yang keras, mengangguk tegas.

“Ini anak kandung saya. Tapi saya tidak keberatan Ibu apakan saja anak ini karena dia sudah membunuh anak Ibu.”

Ibu menatap Mama Very dengan prihatin.

“Tidak ada yang membunuh anak saya, “ kata Ibu dengan suara bergetar.

“Anak saya meninggal karena berboncengan dengan Very, itu benar. Tapi Very tidak dengan sengaja membunuh Robi. Ibu jangan menjatuhkan mental anak Ibu sendiri.”

Tak ada perubahan sedikitpun di wajah Mama Very. Ketegarannya benar-benar mengagumkan.

“Saya juga punya anak laki-laki. Anak kandung saya yang saya lahirkan dengan darah dan airmata. Sejak kelas 3 SD dia saya besarkan sendiri karena saya bercerai dengan Bapaknya.”

Ibu terengah. Bapak menunduk resah.

“Sesalah-salahnya anak saya, saya akan meminta anak saya diperlakukan adil. Bukan asal main bunuh saja.”

Mama Very menatap Ibu tajam. Tak tampak sedikitpun air mukanya berganti. Aku tahu mukanya kini memerah karena marah dan malu.

“Saya mencintai anak saya. Saya akan melindungi anak saya seperti saya ingin dilindungi. Saya lahirkan dia dengan cinta. Saya besarkan dia juga dengan cinta. Melukai hatinya sama juga melukai hati saya sendiri. Siapapun yang membunuh dia sama saja membunuh saya sendiri. Saya tak mungkin meminta orang membunuh anak saya sebesar apapun kesalahannya.”

Mama Very memicingkan matanya seolah tak setuju dengan kalimat Ibu.

“Dan Very,” Ibu menarik nafas dalam seolah kalimat yang dia ucapkan berikutnya membutuhkan banyak tenaga, “dia teman anak saya. TEMAN BAIK anak saya.”

Ibu mengucapkan lambat-lambat kata “TEMAN BAIK” seolah ingin menandaskan dengan sangat hubunganku dengan Very semasa aku masih hidup.

“Teman baik anak saya adalah anak saya juga. Saya anggap Very anak saya. Saya tak akan mungkin tega membunuhnya andaipun dia telah membunuh Robi dengan sengaja.”

Mama Very menggigit bibir. Aku agak heran dia bisa juga berubah raut muka. Kupikir dia akan terus bertahan dengan kekerasan hatinya.

“Saya menyayangi apapun dan siapapun yang disayangi anak saya. Robi menyayangi Very, sayapun menyayangi Very. Kematian anak saya, adalah kecelakaan. Bukan kesengajaan. Adalah jahat menuduh orang lain sembarangan. Apalagi ini anak Ibu sendiri. Very juga pasti sudah menanggung beban rasa bersalah yang luar biasa. Jangan semakin disalahkan.”

Bapak mengelus lengan Ibu untuk mengingatkan agar tidak berpanjang kata.

“Sayangi anak Ibu yang telah Ibu lahirkan dengan susah payah. Kalau Ibu tidak bisa menyayangi Very, saya mau mengasuh dia sebagai pengganti anak saya.”

Very menatap Ibu dengan mata berbinar. Tapi Mama Very menatap Ibu seperti harimau terluka.

“Saya bisa mengasuh anak saya sendiri,” katanya parau.

“Kalau memang Ibu masih ingin mengasuh anak Ibu sendiri, perlakukan dia dengan sebaik-baiknya.”

Ibu menatap tajam mata Mama Very sambil menambahkan kalimat berikutnya,

“Sebelum Ibu kehilangan kesempatan itu,” mata Ibu berair, “seperti saya!”

Dua kata terakhir itu Ibu ucapkan penuh kepedihan. Seolah semua beban tertumpah di situ. Mama Very diam saja. Ibu mulai menangis lagi. Lalu Ibu mengenggam tangan Bapak dan mengajak Bapak pergi.

Baru beberapa langkah, Ibu berhenti dan menoleh pada Very.

“Very, kamu harus tau bahwa Ibu tidak marah sama kamu. Kamu juga harus ingat bahwa kamu tidak membunuh Robi. Tuhan menginginkan begitu. Itu semua bukan salahmu. Tak perlu menanggung rasa bersalah itu seumur hidupmu karena itu tak perlu. Ingat itu Very.”

Very menatap Ibu tajam seolah mencatat kalimat-kalimat itu dalam benaknya lalu mengangguk.

“Dan Very..”

“Ya?”

“Ibu sayang sama kamu, sebagaimana Ibu sayang sama Robi.”

Very tampak tercekat. Dia tak mampu berkata-kata lagi hingga Ibu dan Bapak meninggalkan kuburan.

***

Aku menyaksikan itu semua dengan rasa campur aduk. Benar-benar drama terhebat yang pernah aku saksikan.

“Hebat, ya?” gumamku.

“Ibu kamu memang hebat. Sehancur-hancurnya hatinya, dia masih bisa menguasai emosinya.

“Aku baru tahu kalau Mama Very seperti itu. Waktu dia melabrak teman-teman di sekolah siang itu aku nggak ada. Aku cuma dengar kalau Mama Very marah-marah. Gitu aja. Enggak tau kalo memang sampai segitunya.”

“Beruntung Ibumu tidak seperti itu.”

“Benar. Aku beruntung punya ibu seperti Ibu. Dan aku bersyukur selama ini aku melakukan banyak hal untuk membahagiakannya.”

“Begitu?”

“Memang aku jadi takut pacaran. Takut ini itu. Semua demi Ibu. Tapi kukira sampai di sini aku tidak menyesal, Yang Kung. Aku sudah jadi anak Ibu yang baik. Apapun kata teman-temanku, aku memang memutuskan begitu. Tak ada yang kusesali.”

“Meski kamu tidak pacaran sama Monik?”

“Meski aku tidak pacaran sama Monik.”

“Meski akhirnya kamu mati karena kamu membohongi Ibumu.”

Aku terdiam.

“Itu jalan yang harus kulalui. Aku pergi dengan Very atau tidak pagi itu, tetap saja aku akan mati. Waktunya memang saat itu. Begitu bukan?”

forgiveness

Yang Kung tertawa.

“Memang apapun kejadiannya, kalau memang jatah hidup kita sudah berakhir, ya tetap saja kita pergi, Rob. Kalaupun waktu itu kamu tidak pergi sama Robi, pasti ada lagi kejadian lain yang membuatmu sampai sini. Sudah bagus akhirnya kamu menyadari ini semua.”

Aku tersenyum.

“Kurasa sekarang aku sudah lega. Semua sudah selesai kan?”

“Masih ada satu orang lagi. Mungkin kita akah butuh bantuannya. Dia akan datang ke rumahmu sore ini.”

“Siapa?”

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

19 Comments to "Perjalanan Terakhir (10)"

  1. elnino  21 January, 2014 at 12:19

    Mauuuuuuu…..

  2. wesiati  18 January, 2014 at 05:21

    ngomong2 tentang proofladder (mlesetke pisan), aku kemarin minta dua orang mantan muridku yang masih suka chat di fesbuk buat baca draft novel ini (karena sudah selesai jadi novel) dan salah satunya dengan telitinya kasi aku catatan, hal sekian, kesalahan tulis, dst. wah, senang sekali. juga aku minta masukan untuk endingnya. secara keseluruhan dia suka. hehehe. ada yang mau mproofladder-i?

  3. Dewi Aichi  18 January, 2014 at 00:43

    Wuih…..ibunya Roby tabah sekali, masih di tempat makam anaknya, kedatangan keluarga very bisa menimbulkan amukan, tetapi ini tidak, ibu dan bapaknya Roby sangat tenang, walau menurutku ada beberapa kalimat ibunya Roby yang kesannya menggurui, memang sih, agar ibunya very sadar akan sikapnya selama ini.

  4. Nur Mberok  17 January, 2014 at 09:21

    Hueyyyyyyyyyy Roro Bedhes, keahlian saya ini cuma untuk Buto JC. Jadi tidak untuk umum….. HAhahahhaha….

    Kakean tokoh mumet kae penulis e….xixixixi

  5. J C  17 January, 2014 at 06:51

    Wesi, tenan-ok, aku tambah yakin kayaknya kowe pernah ngalami near death experience…serialmu ini benar-benar mengaduk-aduk emosi…

  6. elnino  17 January, 2014 at 06:44

    Pams, itu tanda2 Wesi memerlukan seorang proofleader…*panggil Nur Mberok

  7. Lani  17 January, 2014 at 06:16

    7 JAMES, AL : whoaaaaaaaa…….ini mah akal2-an roda kereta api kok gembos?????? mmgnya terbikin dr karet………woalah James………udah deh ngaku aja, ketinggalan pesawat atau spt Al bilang, pesawatnya kehabisan fuel kkkk

  8. Alvina VB  17 January, 2014 at 04:33

    Wah… ibunya Robi sangat tabah dan bisa memberikan maaf, ya memang kejadian ini sebuah kecelakaan bukannya disengaja. Ibunya si Very kok kejem banget ya…gak ada empatinya sama anak sendiri.
    Lanjut Wes ceritanya…pengen tahu apa bpknya si Robi akhirnya balik lagi dgn ibunya?
    Bung James akhirnya muncul juga….sorry kali ini jetnya kurang fuel ya?

  9. [email protected]  16 January, 2014 at 22:26

    “Nanti juga ada teman yang lain,” hibur Ibu.

    “Mungkin, tapi tidak sebaik Very.”

    Ibu mengusap kepala Very. Bapak tersenyum lega melihatnya.

    maksudnya… Mungkin tidak sebaik Robi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.