Iring-iringan Pemakaman pada Masa Kolonial

Joko Prayitno

 

Pernahkan kalian terlibat dalam upacara kematian atau ikut mengantarkan jenazah ke peraduan terakhir yaitu tanah makam? Bagi sebagian besar pasti sudah pernah terlibat bahkan ikut serta dalam iring-iringan tersebut. Iring-iringan pemakaman merupakan salah satu prosesi dalam upacara pemakaman seseorang yang telah meninggal dunia. Proses perjalanannya merupakan keunikan tersendiri bila kita perhatikan, apalagi bila kita membandingkannya antara peristiwa masa kini dengan peristiwa yang sama tetapi pada masa lampau.

chinese-begrafenisstoet-op-de-tepekongstraat-te-soerabaja-1900

Pemakaman Warga Tionghoa di Tepekong Surabaya 1900 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

 

begrafenisstoet-op-java-1910

Pemakaman masyarakat Jawa 1910 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Iring-iringan ini memenuhi sebagian besar jalan dan memanjang seperti karnaval ketika janazah akan diberangkatkan. Besarnya iring-iringan ini juga menunjukkan seberapa terpandang dan berpengaruhnya orang yang meninggal tersebut. Unik karena dari prosesi ini kita bisa melihat stratifikasi sosial masyarakat. Masyarakat umum biasanya hanya keluarga dan tetangga terdekatnya saja yang akan mengiringinya ke pemakaman, tidak terlihat mewah dan hanya menjadi pemandangan umum. Sedangkan masyarakat terpandang dan kaya akan memiliki iring-iringan jenazah yang besar, memanjang dan menjadi tontonan masyarakat luas. Biasanya yang ikut dalam rombongan pengantar jenazah merupakan kerabat, rekan bisnis, bahkan abdi-abdi dalem mereka.

begrafenisstoet-te-batavia-1936

Pemakaman masyarakat Islam di Batavia 1936 (koleksi: http://www.kitlv.nl)

Dalam iring-iringan jenazah ini bukan hanya kereta jenazah saja yang terlihat tetapi beberapa peristiwa menggambarkan bagaimana barang-barang milik pribadi juga ikut dibawa ke pemakaman dan dikuburkan bersama jenazah. Iring-iringan ini pun semakin menarik bila kita melihat bahwa terkadang busana yang dipakai para pengiring menunjukkan etnisitas dan agama tertentu, belum lagi simbol-simbol yang dibawa ke pemakaman.

iringan-pakaian-dan-medali-milik-paku-boewono-x-dalam-prosesi-pemakaman-paku-boewono-x-susuhunan-surakarta-1939

Iringan Pakaian dan Medali Milik Paku Boewono X dalam prosesi pemakaman Paku Boewono X Susuhunan Surakarta 1939 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Tak pelak lagi bahwa iring-iringan jenazah terutama pada masa lampau dan masa kini menunjukkan sesuatu yang sama walaupun ada perbedaan di beberapa bagian karena disesuaikan dengan adat, agama orang yang meninggal dunia.

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2013/12/19/iring-iringan-pemakaman-pada-masa-kolonial/

 

10 Comments to "Iring-iringan Pemakaman pada Masa Kolonial"

  1. Joko Prayitno  18 January, 2014 at 11:35

    Yang menyebalkan dari Iring-Iringan pemakaman masa sekarang adalah adanya “polisi” partai atau ormas tertentu yang biasanya menguasai hampir seluruh badan jalan. Para pengguna jalan yang dari arah sebaliknya harus berhenti, kalo tidak bisa dibentak-bentak….menyebalkan memang..

    Thanks All untuk atensinya…

  2. HennieTriana Oberst  18 January, 2014 at 10:00

    Payung-payung besar dan berwarna hitam yang dipakai di iring-iringan pemakaman sudah hampir tidak pernah lagi aku jumpai.

  3. J C  18 January, 2014 at 07:57

    Iring-iringan pemakaman Tionghoa yang terbesar yang pernah ada sepertinya hanya 2 di masa itu: Oei Tiong Ham dan Tjong A Fie. Kalau di jaman modern sepertinya waktu pendiri Gudang Garam meninggal…

  4. Linda Cheang  18 January, 2014 at 05:56

    Iring-iringaan yang banyak orang seperti di gambar, sudah sulit dilakukan sekarang ini di kota besar, seperti kota saya. Lalu lintas sudah macet dan kalo iringannya panjang, banyak pengguna jalan raya juga terganggu.

  5. Matahari  17 January, 2014 at 23:38

    Iring2an seperti di foto atas bisa dilakukan dizaman lampau karena belum lalu lintas juga belum sesibuk sekarang dan orang orang masih terbiasa berjalan kaki…Zaman sekarang..semua serba cepat…pakai mobil jenazah…dan semua keluarga/teman dll dengan mobil dan titk point pertemuan dikuburan…

  6. ariffani  17 January, 2014 at 15:52

    saya pribadi paling tidk suka ikut iringan pemakaman, dr jauh saja jika terdengar suara iringan pemakaman, saya pasti lari , hahahaha,,, dulu waaktu kecil langsung masuk ke bawah meja atau kursi…

  7. Lani  17 January, 2014 at 14:11

    JAMES : mmg kusengaja memberikan kesempatan buatmu………krn aku merasa kasihan sama kamu sll disalip oleh kami berdua……..benar kan Al????? Aku bisa jd baik (kadang-kadang hehe)

  8. Handoko Widagdo  17 January, 2014 at 12:39

    Kalau era ini mengiring jenazah malah bisa virtual. Ini benar-benar terjadi kepada temanku yang mertuanya meninggal di Holland. Dia ikut menyaksikan prosesi penguburan sejak dari tempat pesemayaman jenasah sampai dikubur melalui video yang ditayangkan langsung melalui internet.

  9. James  17 January, 2014 at 09:54

    2, mbak Lani kecolongan nih

  10. Alvina VB  17 January, 2014 at 09:02

    Tulisan yg menarik, ttp saya paling ogah kl disuruh iring2an ke pemakaman! Lebih baik belakangan saja, lebih ada privacy.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.