Nyolong di Jerman

Hennie Triana Oberst

 

Aku putuskan untuk mengujungi kakakku yang baru menyelesaikan kuliahnya di Jerman ketika hak cuti tahunanku untuk pertama kalinya disetujui. Mumpung akan melakukan perjalanan ke sana, sekalian aku juga persiapkan pengajuan visa ke beberapa negara Eropa lainnya yang tidak jauh dari Jerman.

Setelah mendapat visa Schengen dari kedutaan Jerman, juga visa dari negara Austria*, Italia* dan Swiss**, maka aku berangkat sesuai rencana.

Bulan April 1995. Mendarat untuk pertama kalinya di Eropa, di Frankfurt am Main dengan selamat. Walaupun aku sempat tersesat ke stasiun kereta bawah tanah ketika mencari jalan keluar. Inilah akibatnya kalau jalan tanpa memperhatikan penunjuk arah. (Maklum juga, ini perjalananku pertama kalinya ke luar negeri, jadi belum pernah melihat bandara modern dan besar seperti ini sebelumnya). Aku lihat kakakku di antara para penjemput di bagian luar bandara.

Libur sekitar dua mingguan dengan jadwal padat ini tetap bisa kami manfaatkan untuk berbelanja. Pertengahan musim semi yang penuh dengan penawaran potongan harga di mana-mana.  Kami memasuki satu toko sepatu yang terlihat ramai oleh pengunjung. Sepatu-sepatu yang ditawarkan memang aduhai dengan harga yang sangat miring. Belum pernah aku jumpai toko sepatu yang menawarkan barang bagus dan harga miring (menurut pendapatku) seperti ini di Indonesia.

Akhirnya aku mendapatkan dua pasang sepatu. Setelah kakakku selesai membayar di kassa, kami melanjutkan berbelanja di toko Asia yang ada di pinggiran kota Rencananya setelah tiba di rumah kakak kami akan memasak makanan Indonesia untuk santapan malam nanti.

Ketika menaiki tangga menuju lanta di toko Asia tersebut berada, aku baru sadar bahwa di dalam dekapanku ada sepasang sepatu yang belum terbayar. Jantungku langsung berdetak lebih cepat, gemetar dan takut sekali dianggap sengaja membawa sepasang sepatu tersebut tanpa membayarnya.

sepatu

Ta…., ini sepatunya belum dibayar. Gimana nih?” teriakku.

Kakakku terkejut juga, “Lho, mau balik ke sana lagi jauh. Sudahlah, anggap saja rejeki”. Jawabnya sambil  ngakak.

Aku juga jadi ikut tertawa, kecut, masih gemetaran dan deg-degan.

Dalam hati aku berkata, “Masih untung sepatu tersebut tidak dipasangi alarm yang berbunyi ketika melewati pintu. Bisa-bisa urusannya panjang”

Anggap sajalah sebagai hadiah liburan pertamaku dari negara Jerman.

Jangan-jangan karena sepatu itu ada magnetnya ya, hingga akhirnya aku menetap di negara tersebut.

 

Catatan:

*) Negara Austria dan Italia bergabung dengan Schengen pada tahun 1997

**) Sedangkan Swiss baru bergabung pada akhir tahun 2008 (de.wikipedia.org)

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

50 Comments to "Nyolong di Jerman"

  1. HennieTriana Oberst  21 January, 2014 at 23:07

    Summer Girl, hehehe…. bener juga ya. Langsung pasang di fb ya.

  2. Summer Girl  21 January, 2014 at 23:00

    mbak hennie, seandainya lupa-nya di butik hermes lumayan juga, dapat tas bagus untuk bisa show off dengan ibu2 sosialita di jakarta hehehe…

  3. Hennie Triana Oberst  19 January, 2014 at 10:17

  4. Tammy  19 January, 2014 at 05:52

    Hen: hahaha iya!!!

  5. Hennie Triana Oberst  18 January, 2014 at 17:00

    Tammy, iya setuju…. Wani piro? Gitu ya syarat maharnya

  6. Tammy  18 January, 2014 at 14:49

    Hen: sudah dibooking jd besannya JC toh. Pasti nggak JC doang yg sudah antri. Ditanya aja mampu kasih mahar apa. Hihihi…

  7. Lani  18 January, 2014 at 08:59

    se77777777………..banget……….moving on!

  8. Hennie Triana Oberst  18 January, 2014 at 08:38

    Lani, aku sih nggak terlalu mikirin banget. Kejadian ini sudah lama dan tanpa kesengajaan.
    Lagian hal seperti ini bisa terjadi pada siapa saja. Manusiawi.
    Apalagi ketika kita masih muda, cara bersikap dan bertindak kita pasti juga berbeda.
    Beda lagi kalau aku memang mencoba melakukan dengan sengaja.
    Aku juga nggak mau membenarkan tindakan ini. Jadi pendapat bagaimana pun terhadap pengalaman ku ini ya bisa berbeda dan bisa aku terima.

  9. Hennie Triana Oberst  18 January, 2014 at 08:26

    JC, tengkyu.
    Wah…jangan jangan ya di tiap negara aku nyolong
    Pastinya W tau Tapi dia santai saja karena bukan kesengajaan.
    Ntar Chiara juga juga aku kasih tau. Harus nyolong sesuatu ya biar besanan
    3-5

  10. Lani  18 January, 2014 at 08:08

    HENNIE : menurutku yg penting, kamu sdh mengaku dosa, dan jadikanlah pengalamanmu “nyolong” tanpa sengaja ini agar kedepannya tdk terjadi lagi, seandainya kejadian lagi ya HARUS berani mengembalikan. Mengingat ini kejadian ini sdh lbh dr 20 tahun yl. Aku pikir klu kamu tdk menuliskan pengakuanmu ini, didlm hati kecilmu msh akan sll merasa bersalah, perasaan bersalah yg ada didlm hatimu ini sdh merupakan satu hukuman sendiri buatmu.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *