Hanya Saya dan Tuhan yang Tahu

Wesiati Setyaningsih

 

Mana yang lebih penting, apa yang diucapkan atau apa yang ada di dalam hati? Memang kita hanya bisa mengetahui kata-kata karena itu terdengar dan terbaca. Tapi sebenarnya yang paling penting adalah apa yang di dalam hati. Sayangnya, semua itu tak mungkin diketahui orang lain dengan pasti. Maka kalau kita mengabaikan apa yang di dalam hati dan memegang teguh apa yang dikatakan, bisa-bisa kita tertipu habis-habisan.

Seseorang bisa saja mengatakan kalau dia sedang tidak punya uang. Padahal sebenarnya dia punya depositu ratusan juta dan itu benar-benar milik dia sendiri, bukan hasil korupsi atau milik perusahaan. Orang sering tertipu dengan penampilan orang desa yang berpakaian seadanya, padahal tanahnya berhektar-hektar. Tiap hari dia makan seadanya, tidak pernah mengenal resto-resto fast food yang dikenal banyak orang, tapi kalo ditotal jumlah kekayaannya bisa ratusan juta bahkan sampai milyar.

Kita sering tertipu dengan apa yang tampak, apa yang terdengar, apa yang terbaca. Sampai kapan kita mau melihat lebih ke dalam dan menganggapnya sebagai sesuatu yang benar-benar nyata?

Bagaimanapun, saya memaklumi kalau kita sebagai manusia hanya memegang apa yang terlihat, terdengar dan terbaca. Sebagai manusia, mana bisa mengetahui hati orang lain dengan jelas? Pasti tak bisa. Orang Jawa bilang, “Cuma kata-katanya yang bisa dipegang”. Itu karena memang kita tidak bisa melihat ke dalam hati orang lain.

Cuma kalau kita lantas menyamakan kelemahan kita dengan Tuhan, rasanya kok jadi aneh. Tuhan pasti tahu banyak tentang apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan. Masak sih Tuhan cuma percaya pada apa yang kita ucapkan? Saya kok tidak setuju.

Itulah kenapa saya tetap saja mengatakan selamat natal, karena saya tidak percaya Tuhan akan marah begitu saja dan menganggap saya tiba-tiba berubah jadi orang nasrani gara-gara mengucapkan itu. Saya juga agak geli ketika seorang teman tampak ketakutan ketika saya bilang, “saya kafir”. Dia bilang, “duh, jangan sampai deh ngomong kaya gitu”. Seolah neraka jahanam sudah tersedia di depan saya tinggal menunggu waktu untuk membakar saya.

god_knows_your_heart

Manusia boleh menilai apapun tentang apa yang saya katakan. Toh yang ada di dalam hati saya, cuma saya yang tahu. Sejauh apapun saya menjelaskan, tidak akan mungkin muncul pemahaman yang persis sama dengan apa yang saya sampaikan. Jadi buat apa juga menjelaskan berpanjang-panjang? Yang paham tentang diri saya ya cuma saya dan Tuhan.

Itulah kenapa saya terkesima pada apa yang disampaikan teman saya. Dalam sebuah percakapan dengan teman saya yang Kristen, beliau bilang, “Kalo di agama saya, apa yang diucapkan itu tidak penting. Yang penting itu hatinya. Misal saya nih, saya bilang saya tidak percaya sama agama saya, tapi sebenarnya saya beriman, maka Tuhan tahu bahwa saya memang beriman. “

Saya benar-benar ‘gubrak’ mendengarnya. Ini dia yang saya maksudkan, pikir saya. Tuhan beliau sama Tuhan saya mestinya satu itu. Sama-sama canggihnya. Rasanya tidak mungkin kalau Tuhan saya cuma bisa mengetahui dari apa yang terlihat, terdengar dan terbaca, itupun cuma dari bahasa tertentu. Beda sama Tuhan teman saya yang bisa membaca hati manusia.  Saya rasa tidak. Tuhan kami sama, meski kami menjalankan ibadah yang berbeda. Sejak pembicaraan yang cukup intim tentang Tuhan itu, saya makin hormat pada beliau, meski agama kami berbeda. Sebelumnya kami tidak pernah membicarakan masalah seperti ini karena sepertinya beliau juga menahan diri, merasa sebagai minoritas yang belum tentu didengar ceritanya tentang keyakinan beliau.

Dalam suasana Natal ini, apa yang beliau sampaikan tiba-tiba menghentak hati saya. Ketika beberapa orang masih menafsirkan mengucapkan selamat natal itu sebagai bentuk pengingkaran terhadap agama sendiri, saya teringat kata-kata teman saya bahwa Tuhan itu tahu benar apa yang ada dalam hati kita. Ketika masih ada orang yang percaya pada kata-kata yang terdengar dan terbaca, saya yakin Tuhan mengetahui lebih dari itu. Tuhan membaca hati saya, bahwa apapun yang saya ucapkan, saya tetap percaya pada DIA sepenuhnya. Dengan demikian ketika orang lain menilai saya begini dan begitu, saya percayakan saja sepenuhnya penilaian tentang saya pada Tuhan. Selesai.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

18 Comments to "Hanya Saya dan Tuhan yang Tahu"

  1. anoew  22 January, 2014 at 04:56

    Tes satu..

    Tes dua…

    Tes tiga, empat, lima, enam dan tujuh…

    N
    A
    H

    Akhirnya hanya saya dan tuhan saja yang tahu betapa susyah, masuk kolom komentar ini sebelumnya. Dari pertama mampet, lalu agak masuk sedikti, kemudian kepleset dan akhirnya masuk juga!

    L
    E
    G
    A

    Hanya saya dan tuhan yang tahu

  2. Dewi Aichi  21 January, 2014 at 23:26

    Tes..tes komen…selain tuhan, aku sekarang juga tau..lha kau tuliskan begitu, ya aku jadi tau to?

  3. Dj. 813  21 January, 2014 at 22:48

    Mbak Wes….
    Ini komentar Dj. yang ke 5.
    Dari tadi sudah coba 4X, tapi tidak mau masuk…
    Hahahahahahaha….!!!
    Puji TUHAN….!!!
    Setelah kontak dengan dimas Josh Chen, sekarang lancar lagi.

    Okay, mbak Wes…
    Ada kalimat yang Dj. sangat setuju.

    *** Jadi buat apa juga menjelaskan berpanjang-panjang? Yang paham tentang diri saya ya cuma saya dan Tuhan.**

    Tapüi soal kata-kata yang keluar dari mulut, itu Dj. punya pendapat sedikit lain.
    Karena kata-kata, adalah buah dari isi hati seseorang.
    Jadi kalau seseorang hatinya baik, maka dia akan mengeluarkan kata-kata yang baik pula.
    tapi bila hati seseorang itu tidak baik, maka dari perbedaharaan kata-katanya bisa didengar dan pasti keluar yang tidak baik juga.

    Itu pendapat Dj.
    Walau orang Jerman juga memiliki kata-kata bijak.
    Jangan dengan apa kata-katannya, tapi dengar siapa yang berkata.
    Kalau yang berkata IQ nya jongkok, ya dimaklumi saja…..

    Okay, salam manis dari Mainz, untuk keluarga di Srondol ( Banyu Manik )

  4. JC  21 January, 2014 at 21:18

    Coba komentar di sini…

  5. J C  21 January, 2014 at 16:07

    Itsmi akan berkata: “itu ilusimu” atau “itu imajinasimu” atau “itu gejala schizophrenia” huahahaha…

  6. Esti  21 January, 2014 at 13:35

    Nice article mbak Wesi dan memang benar adanya*thumb

  7. Linda Cheang  21 January, 2014 at 10:56

    yup.

  8. Lani  21 January, 2014 at 10:30

    WESIATI : bener adanya………apa yg nampak oleh mata kita kdg bs semu/ngapusi……..apa yg terdengar oleh kuping kita, kdg bohong…………jd intinya balik ke artikelmu……..bhw yg penting adl apa yg ada didlm hatimu plg dalam………dan itu hanya Tuhan yg maha tahu, bhw sebenere kamu jujur apa tdk……….krn org lain tdk bs membaca pikiranmu 100% benar!

  9. HennieTriana Oberst  21 January, 2014 at 09:43

    Wesiati, setuju dengan tulisanmu. Seperti mewakili kata hatiku sendiri.

  10. djasMerahputih  21 January, 2014 at 09:09

    Satoe: Tuhan Maha Tahu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.