[Oase Hidup Malaikat Kecil] Ada Apa dengan Cinta?

Angela Januarti Kwee

 

Jatuh cinta, berjuta indahnya. Sepenggal lirik lagu yang menggambarkan tentang indahnya makna jatuh cinta. Secara pribadi, aku sangat setuju bahwa jatuh cinta itu membahagiakan. Sesuai pengalaman pribadi, ketika jatuh cinta aku merasakan sukacita dan damai sejahtera di dalam hatiku. Menurut beberapa teman, kalau aku sedang berbunga-bunga – sebuah tulisan LOVE besar seakan berada di atas kepalaku dan mereka bisa melihatnya dari kejauhan saat aku datang. Mendengar penuturan mereka, memberitahuku bahwa cinta itu bukan saja menghadirkan kebahagiaan bagi pribadi yang sedang jatuh cinta, namun juga orang lain di sekitarnya.

Di balik semua kisah yang menggembirakan saat jatuh cinta. Tentu ada tantangan tersendiri dalam pribadi setiap pasangan dalam menjalani hubungan mereka. Mungkin sebuah kisah yang diceritakan sehabatku ini bisa menjadi bahan refleksi tersendiri untuk para orang muda yang sedang ‘mabuk cinta’.

Belum lama ini, seorang teman datang dan bercerita bahwa dia prihatin melihat hubungan percintaan sahabatnya. Mereka sangat dekat, tinggal di rumah kontrakan yang sama. Saat masih sama-sama jomblo, ada banyak waktu yang bisa mereka lewati bersama – mulai dari jalan-jalan, nongkrong bareng, curhat-curhatan dan mendoakan satu sama lain. Ada banyak tawa dan kebahagiaan di raut wajah sahabatnya. Beberapa bulan terakhir, sahabatnya mulai mengenal seorang pria. Sebagai seorang sahabat, temanku ini mendukung dan mendoakan kebahagiaan sahabatnya.

Sejalan-nya waktu, ada banyak perubahan yang terjadi pada sahabatnya. Mereka sering bertengkar karena sifat over protected sang kekasih. Dengan embel-embel ‘takut kehilangan kamu’ sahabat dari temanku terlihat sangat terkekang. Kemana saja, harus lapor. Telepon tidak diangkat, mikirnya macam-macam. Saat teleponan, sering bertengkar dan menangis. Dan yang paling memprihatinkan adalah tidak banyak lagi waktu untuk diri sendiri, keluarga dan teman-teman.

Awalnya, sahabatku ini mencoba memaklumi semua. Mungkin mereka perlu waktu untuk lebih memahami satu sama lain. Lama kelamaan, temanku ‘kesal’ sendiri melihat perubahan sahabatnya. Tidak tampak lagi damai sejahtera dalam dirinya. Sekali pun dia tersenyum, terlihat beban dan kegelisahan pada raut wajahnya. “Sebagai seorang sahabat, aku ingin sekali memintanya menghentikan semua ini. Aku rindu melihat sukacita pada dirinya lagi. Namun aku juga tidak mau terlalu dalam mencampuri urusan pribadinya,” tutur temanku.

Ada apa dengan cinta? Rasanya seperti dalam sinetron saja. Aku teringat kalimat dalam buku yang pernah kubaca: “Kalau Anda menjumpai atau berkenalan dan membangun hubungan serius dengan seseorang, baiklah Anda bertanya, apakah Anda memang merindukan kesatuan dengan orang itu? Apakah Anda merasa yakin bahwa Anda akan makin bertumbuh dalam persatuan hati, jiwa, tubuh, dan iman dengan dia. … makin Anda berbeda dan sulit untuk mengalami persatuan, maka hubungan Anda mungkin harus diakhiri dan Anda bisa mencari dan menemukan pribadi lain yang bisa jadi benar-benar pasangan sejati Anda.”

Lanjutnya “… kemauan dan hasrat untuk mencintai tidak bisa hanya terbatas untuk sebuah lingkup yang tertutup. Mencintai juga berarti harus berani keluar dari tapal batas ketertutupan diri dan membiarkan yang dicintai makin penuh dalam mengembangkan dirinya. ‘… kalau saya mendukung perkembangan istri saya dengan alasan cinta’.”

Terlepas dari semua itu, memaknai arti cinta kembali ke pribadi masing-masing lagi. Semua pilihan ada pada diri kita sendiri. Karena kitalah yang menjalani baik buruknya sebuah pilihan mencintai.

*

OHMK-Ada Apa Dengan Cinta

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "[Oase Hidup Malaikat Kecil] Ada Apa dengan Cinta?"

  1. anoew  26 January, 2014 at 23:11

    Berpacaran, jika salah satu pihak terlalu mengekang, terlalu perhatian, terlalu sayang, terlalu takut kehilangan, terlalu takut dilupakan meski hanya sejenak dan bla bla bla.., justru membuat hubungan itu sendiri tak sehat.

    Hari gini punya pacar posesif? Halaah..

  2. Linda Cheang  23 January, 2014 at 15:22

    apa juga ada aja dengan cinta.

  3. Handoko Widagdo  22 January, 2014 at 06:37

    Apa-apa ada dengan cinta.

  4. Dj. 813  21 January, 2014 at 22:55

    Hallo Angel….
    Ada apa dengan cinta…???
    Sakitkah cintanya…???
    Semoga cepat sembuh ya….
    Salam manis dari Mainz.

  5. J C  21 January, 2014 at 16:04

    Been there, done that…

  6. Angela Januarti  21 January, 2014 at 10:35

    Kak HennieTriana Oberst : Salam kangen juga dari Ella. Kebetulan aku sedang berpetualangan
    Senang membaca komentar kakak yang cukup panjang.

  7. HennieTriana Oberst  21 January, 2014 at 09:53

    Angela, Cinta itu memang kadang-kadang aneh ya

    Aku pernah memberi saran pada salah satu sahabatku ketika dia minta saran atas cintanya yang semodel dengan ceritamu di atas. Aku nggak mau ikut terlibat dalam hubungan mereka, jadi aku sarankan untuk membandingkan lebih banyak mana; suka atau dukanya.
    Kalau masih tetap nggak bisa objektiv juga, aku bilang “ingat-ingat saja yang sedih dan menyakitkan” nanti juga fikiran terbuka. Ini cuma resepku (pengalaman pribadi), jadi nggak bisa cocok ke setiap orang.
    Eh..komennya kok jadi panjang, maaf ya.
    Salam kangen dari Shanghai.

  8. djasMerahputih  21 January, 2014 at 09:10

    Satoe: AADC

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.