Bertemu Sang Pencerah

Tjiptadinata Effendi

 

Ada kata kata bijak mengatakan: “Bila anda masih  terbelenggu dengan masa lalu, maka anda tidak pernah akan bisa melangkah untuk meraih masa depan yang lebih baik.”

Menyikapi dan memaknai kata-kata bijak atau petuah, tentunya harus secara arif, agar kita tidak menghilangkan suatu pelajaran penting yang diperoleh dalam proses pembelajaran diri. Karena setiap peristiwa hidup, betapapun kecilnya, bila disimak dan diaplikasikan dalam hidup, dapat membawa suatu perubahan yang besar. Oleh karena itu, walaupun peristiwa yang saya postingkan di sini, sudah lama berlalu, tetapi tetap saya simpan dalam memori saya.

Pedagang Keliling

Hasrat hati yang menggebu-gebu, untuk dapat mengubah nasib, menyebabkan saya memberanikan diri untuk mengawali hidup berkeluarga kami, dengan menjadi pedagang keliling: Padang – Medan. Semua barang-barang yang bisa dijadikan uang, kami jual untuk dijadikan modal usaha. Kami beruntung, diijinkan oleh tante kami, yang tinggal di Jalan Gandhi, Simpang Asia, Medan, untuk menumpang di rumahnya. Kebetulan suaminya jarang di rumah, karena lebih banyak bertugas di Kuala Lumpur.

Tante kami, adik ibu dari istri saya, selama ini tinggal bersama sepasang putra dan putrinya. Sehingga keinginan kami untuk tinggal di kota Medan, diterima dengan senang hati. Hal ini, membuat hati kami lega.

Berangkat ke Padang

Subuh itu saya naik becak, sambil membawa barang dagangan, menuju ke Stasiun Bus A. L. S. Medan, untuk berangkat ke kota Padang. Sebenarnya istri sangat keberatan saya berangkat, karena malamnya saya demam tinggi dan menggigil. Tapi saya bersikeras tetap berangkat, karena tidak ingin tiket yang sudah dibeli hangus begitu saja.

Sekitar 20 menit, tiba di stasiun. Setelah kardus yang berisi barang dagangan saya disusun di atas atap bus, saya naik dan duduk di bangku bagian belakang, sesuai nomer yang tertera pada karcis. Di samping saya, duduk seorang ibu yang kelihatan rambut nya sudah memutih. Saya mengucapkan selamat pagi dan kemudian diam. Pagi itu perasaan saya benar-benar sangat galau. Makanya saya lebih suka diam. Mungkin melihat wajah saya  yang tidak nyaman, si ibu bertanya : “Kurang sehat ya nak?”

“Ya bu”, jawab saya singkat.

“Aduh, kalau kurang sehat kenapa tidak ditunda perjalanannya? Medan ke Padang, bisa sekitar 20 jam nak. ”

“Iya bu, istri saya juga sudah mencegah, tapi tiket sudah saya beli. Dan saya tidak mau rencana saya tertunda, hanya karena demam.”

“Ya, sudah kalau begitu nak. ” kata ibu ini “Oya, saya ibu Halimah nak, saya ke Padang mau lihat cucu yang baru lahir”

“Oya bu,” jawabku sekenanya.

Lalu kami sama-sama diam.

Selang beberapa menit, Bang Sopir berteriak: “Horaas…” dan bus mulai bergerak. . Di dalam bus hening, walaupun tempat duduk semuanya terisi. Mungkin penumpang masih ngantuk, karena masih jam 5.00 subuh. Rasa ngantuk dan demam, membuat saya tertidur. Saya tidak tahu entah sudah berapa lamanya tertidur. . tiba-tiba bahu saya ditepuk dan ada yang memanggil saya: “Nak, bangun, kita harus turun.”

Antara sadar dan tidak, saya bertanya: ”Sudah sampai bu?”

“Aduh belum nak, ini baru seperempat perjalanan…masih jauh lagi, tapi karena jembatan rusak, maka semua penumpang harus turun.”

Dengan terhuyung-huyung saya turun dari bus, mengikuti penumpang lainnya. Ternyata antrian bus sangat panjang. Saya mencoba untuk duduk di rerumputan, seperti yang  lainnya, tapi rasa kantuk dan lelah yang luar biasa, menyebabkan saya tidak kuat untuk duduk. Saya melihat ada sebatang pohon tua yang tumbang di pinggir jalan. Lalu saya rebahkan tubuh saya dengan beralaskan jaket lusuh yang saya pakai. Saya tertidur…

Lagi lagi saya tidak tahu entah berapa lama saya tertidur …. .

“Nak, bangun, bus sudah mau jalan. . ayoh,“ tiba-tiba ada yang memegang tangan saya dan memanggil saya bangun. Ternyata ibu Halimah. Tangan saya dituntun untuk naik ke bus. Seharusnya saya malu, karena bukan saya yang menuntun bu Halimah yang sudah sepuh, malahan saya yang dituntun. Tapi apa boleh buat, saya tidak punya kekuatan untuk jalan sendiri lagi.

Bus Mulai Bergerak Kembali

Begitu saya duduk, bus mulai bergerak melanjutkan perjalanan, dengan sangat perlahan. Walaupun bus non ac ini penuh dengan penumpang dan udara di dalam bus cukup panas dan sumpek, namun saya masih merasa kedinginan dan mengigil. Mungkin kelamaan tertidur di alam terbuka, dalam kondisi demam.

“Nak, tadi waktu berhenti, ibu sempat beli 2 potong ubi rebus di rumah penduduk, , karena disekitar sini tidak ada warung. Masih hangat, nih dimakan ya.”

Saya mengucapkan terima kasih dan menerima dengan perasaan galau, karena memang saya sangat lapar. Makan ubi rebus hangat-hangat dalam kondisi perut lapar, ternyata nikmatnya luar biasa. Tiba tiba, saya teringat, ibu Halimah ini, kalau melihat penampilannya, adalah orang yang sangat sederhana, mungkin ia butuh uang yang tadi dibelanjakan untuk beli ubi rebus. Maka saya mengeluarkan satu lembar uang kertas dari dompet dan saya sodorkan dengan sopan, sambil berkata: “Maaf bu, ini sekedar uang untuk pengganti beli ubi tadi.”

Tapi ternyata bu Halimah menolak. “Nak, ibu memang cuma bawa uang jajan terbatas dan hanya bisa beli 2 potong ubi, ibu berbagi pada anak dengan Ihklas, tidak semuanya harus dihitung dengan uang nak.”

Mata saya berkaca-kaca…saya amat terharu. Ibu Halimah ini hanya seorang tua yang amat sederhana. Keadaannya sepertinya tidak lebih baik dari diri saya. Tapi begitu peduli pada saya, padahal baru saja kenal dalam bus. Dada saya sesak oleh berbagai perasaan: terharu, kagum dan merasa diri saya amat kerdil. Karena saya telah menilai sebuah pemberian yang tulus dengan selembar uang. Tapi saya tidak bisa berpikir lebih jauh, rasa dingin yang merasuk hingga ketulang sumsum, mual, pusing dan demam, seperti serentak hinggap pada saat yang sama. Saya mencoba tidur lagi. Tapi saya sama sekali tidak bisa tertidur. Rasanya saya ingin terbang untuk kembali ke Medan, agar bisa dekat dengan istri saya.

Pikiran saya melantur ke mana-mana. Tiba-tiba terpikirkan oleh saya, bagaimana kalau saya meninggal dalam bus ini? Saya bertambah gelisah dan panik…tubuh saya mengigil dan kerongkongan rasa tercekik.

“Nak, cobalah tidur, jangan kuatir, ada ibu di sini.” Saya serasa ingin memeluk ibu Halimah ini, sepertinya kasih sayang ibu saya hadir di dalam dirinya….

Saya tidak tahu berapa lama kondisi seperti ini, namun ahkirnya saya tidak lagi mendengar suara apapun. Saya tertidur atau pingsan, saya tidak tahu.

Berhenti Untuk Makan Malam

Saya bersyukur, pada waktu bus berhenti untuk makan malam, saya sudah bisa turun perlahan-lahan dari bus dan minum teh hangat. Kemudian saya kembali ke bus untuk tidur lagi…

Saya bersyukur, ahkirnya saya sampai ke Padang dengan selamat, walaupun kondisi yang tidak sehat. Berulang kali saya ucapkan terima kasih tak terhingga pada ibu Halimah yang berbaik hati pada saya. Namun ada suatu hal yang jadi penyesalan yaitu: saya lupa menanyakan alamat bu Halimah.

Ini adalah pengalaman saya yang pertama, mencoba berdagang antar kota dari Medan ke Padang dan sebaliknya. Tapi karena saya tidak memiliki pengalaman apapun, di samping kondisi kesehatan saya yang sering terganggu dengan penyakit malaria yang saya idap, maka dalam waktu setahun, semua modal ludas. Bahkan hutang pada tante yang telah memberikan kami tumpangan gratis, baru dua tahun kemudian dapat saya lunasi.

Good-Samaritan

Ini adalah pencerahan pertama dalam hidup saya, yang saya peroleh di perjalanan dari seorang ibu rumah tangga, bahwa: Perbedaan warna kulit, suku, agama dan latar belakang kehidupan, tidak menjadi penghalang untuk bisa saling berbagi.

Semua orang butuh uang, tetapi tidak semua hal dinilai dengan uang.

Kalau memberi, jangan pernah mengharapkan balasannya.

Kita bisa berbagi dengan apa yang ada pada kita.

Kasih itu jangan pura-pura.

Saya sudah sering mendengarkan kotbah, mungkin ratusan kali, tetapi dalam waktu singkat sudah saya lupakan. Tetapi perhatian dan keihklasan ibu Halimah untuk berbagi pada saya, sudah berlalu lebih dari 40 tahun, namun ”sepotong ubi rebus“, tetap awet dalam hati saya dan tidak pernah akan saya lupakan sampai kapanpun.

Sebuah contoh perbuatan yang baik, lebih efektif dari pada seratus kotbah.

Bagi saya pribadi, ibu Halimah ini adalah sang pencerah, di mana saya belajar sepotong kearifan, bahwa hidup adalah untuk berbagi. Bagi saya pribadi, Ibu Halimah adalah Sang Pencerah yang mengajarkan saya makna dari hidup berbagi yang sesungguhnya. Sepotong Ubi Rebus yang tak ternilai harganya.

Semangat berbagi dari ibu Halimah ini, saya hayati dan saya terapkan di manapun saya berada. Kita tidak mungkin melakukan hal hal besar setiap hari dalam hidup, tetapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan penuh keihklasan.

MEDITASI

 

Wollongong, 19 Januari 2014

Tjiptadinata Effendi

 

About Tjiptadinata Effendi

Seorang ayah dan suami yang baik. Menimba pengalaman hidup semenjak kecil. Pengalaman hidupnya yang bagai ombak lautan menempanya menjadi pribadi yang tangguh dan pengusaha sukses. Sekarang pensiun, bersama istri melanglang buana, melongok luasnya samudra dan benua sembari bersyukur atas pencapaiannya selama ini sekaligus menularkan keteladanan hidup kepada siapa saja yang mau menyimaknya melalui BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

109 Comments to "Bertemu Sang Pencerah"

  1. Dj. 813  4 February, 2014 at 00:25

    tjiptadinata effendi Says:
    January 30th, 2014 at 04:22

    Selamat pagi adikku Djoko,,hehe…kan saya usianya 10 tahun lebih tua,,masa panggil Pak Djoko? hehe maaf ya , cuma bercanda,tapi sungguhan nih… . Saya lahir di Jaman Jepang… Waktu itu pakaian dibuat dari bekas karung tepung terigu,karena tidak ada kain.. Lantai rumah tanah liat dan saya tidak pernah melihat listrik,higga saya duduk di smp… Nah, oleh karena itu rasa syukur saya,1000 kali lebih besar dari orang lain,(sok suci nih). karena bisa tinggal di Australia, Yang dulu ,mau makan roti saja ,hanya bisa dalam mimpi..
    Dik Djoko, cepat pulih yaa,..
    ——————————————————–

    Kamsia Bang Effendi….
    Dj. juga ingat, saat kecil, tetangga Dj. orang China yang hidup biasa, dia sering pakai celana dari kein karung terigu.
    Ini yang Dj. salut, kalau mereka prihatin, mereka mau sengsara.
    Lain dengan orang Indonesia, mana mau pakai kain terigu.
    Biar utang, asal gengsi…!!!
    Dirumah tidak makan, tapi keluar makan di restaurant…. Hahahahahahahaha….!!!

    Salam Sejahtera Bang, dari kami di Mainz.

  2. djasMerahputih  30 January, 2014 at 07:32

    106. Djas cucu saya yang baik, Nanti kalau ke Makasar ,kita ketemu yaa… Saya baru tahu bahwa Djas,usianya baru 27 tahun…hmmm Jadi cucu saya yaa… ..Nih ,kan mau Imlek, angpau nya mau saya kirim kemana Djas? hehe
    ——————————
    Ngga mau ah…, djas pengen jadi ponakan aja. Ngga enak manggil Opa ke om Tjipta..
    Kapan rencana ke Makassarnya om Tjip? Ntar dijemput di bandara dengan upacara adat…
    Untuk Angpaunya ntar dikirim ke nomer rekening djas aja yaah…
    Salam buat Om Tjipta dan keluarga besarnya ya.
    Selamat merayakan IMLEK tahun ini (lupa tahun cina yg ke berapa yah?)

    Salam Erat dari tanah air tercinta
    //djasMerahputih

  3. Lani  30 January, 2014 at 05:29

    Lani…. hahaha saya kan lahir di jaman feodal…jadi bau feodal itu masih lengket sedikiiit saja… Yaa benar ,dipanggil “Mas,” jalan saya sudah semakin tegak dan hidung menghadap kelangit biru..rasaya segar dan serasa masih usia 50 tahun….hahah
    ++++++++++++++++++++++++++++

    MAS EFFENDY : klu cm bau sedikit saja ora opo2 mas……asal jgn kebablasen. Sdh seharusnya to mas, jalan tegak, klu membungkuk nanti bungkuk beneran lo………
    Bagus klu menjadikan segar dan serasa msh usia 50-an! Usia boleh tambah, tp hati hrs tetep muda to mas?
    ++++++++++++++++++++++++++++++

    tapi benar Lani, kalau saya di panggil ” Om” ntar ,gigi saya bisa rontok dan rambut tiba tiba memutih hehee..Jadi Lani adalah orang pertama dan satu satunya di dunia yang memaggil saya :Mas: sehingga saya jadi muda lagi ..haha makasih…saya senang…
    Lani sudah 50 an? Ah,nggak percaya saya.. Kalau nggak percaya nggak dosa kan? Heheh
    +++++++++++++++

    O, bener nih? Saya satu2nya dan yg pertama memanggil mas didunia ini????? Wah, klu begitu aku juara dunk……….hahaha
    Yg penting mas senang itu, itu sdh lebih dr cukup.
    Hadoh, jd mas gak percaya saya sdh 50++??????? Apalagi pakai ++ krn 50 sj ora percaya………
    Ya udah saya seneng banget dianggap msh dibawah 50……..dan bersyukur pd Tuhan ……………

  4. tjiptadinata effendi  30 January, 2014 at 04:27

    Djas cucu saya yang baik, Nanti kalau ke Makasar ,kita ketemu yaa… Saya baru tahu bahwa Djas,usianya baru 27 tahun…hmmm Jadi cucu saya yaa… ..Nih ,kan mau Imlek, angpau nya mau saya kirim kemana Djas? hehe

  5. tjiptadinata effendi  30 January, 2014 at 04:24

    Matahari yang masih muda belia…apa kabar anandaku? semoga semuanya baik yaa.. Karena sudah buka bukaan mengenai umur,ketahuan Matahari baru 37 tahun…hm seusia dengan putri bungsu kami, yang tinggal di wollongong…. Salam dan doa untuk ananda sekeluarga dimanapun berada yaa

  6. tjiptadinata effendi  30 January, 2014 at 04:22

    Selamat pagi adikku Djoko,,hehe…kan saya usianya 10 tahun lebih tua,,masa panggil Pak Djoko? hehe maaf ya , cuma bercanda,tapi sungguhan nih… . Saya lahir di Jaman Jepang… Waktu itu pakaian dibuat dari bekas karung tepung terigu,karena tidak ada kain.. Lantai rumah tanah liat dan saya tidak pernah melihat listrik,higga saya duduk di smp… Nah, oleh karena itu rasa syukur saya,1000 kali lebih besar dari orang lain,(sok suci nih). karena bisa tinggal di Australia, Yang dulu ,mau makan roti saja ,hanya bisa dalam mimpi..
    Dik Djoko, cepat pulih yaa,..

  7. tjiptadinata effendi  30 January, 2014 at 04:17

    Lani…. hahaha saya kan lahir di jaman feodal…jadi bau feodal itu masih lengket sedikiiit saja… Yaa benar ,dipanggil “Mas,” jalan saya sudah semakin tegak dan hidung menghadap kelangit biru..rasaya segar dan serasa masih usia 50 tahun….hahah tapi benar Lani, kalau saya di panggil ” Om” ntar ,gigi saya bisa rontok dan rambut tiba tiba memutih hehee..Jadi Lani adalah orang pertama dan satu satunya di dunia yang memaggil saya :Mas: sehingga saya jadi muda lagi ..haha makasih…saya senang…
    Lani sudah 50 an? Ah,nggak percaya saya.. Kalau nggak percaya nggak dosa kan? heheh,,

  8. Dj. 813  27 January, 2014 at 23:36

    Hahahahahahahahaha…..
    Ibu Matahari ….. ( mau nulis “oma” kok nggak tega… )

    Jadi ingin tahu juga ya mengapa Dj. bisa sering ganti CD sehari beberapa kali…???
    Jangan takut, Dj. punya lebih dari cukup, karena sekali beli 5 pak yang isi 3 / pak, jadi suduah 21.
    Karena CD merk T.H. lebiih murah dari yang merk Polo

    Nah kalau beli sekali gus 3 Merk sudah berapa lembar tuh….
    Yang jelas, kalau Dj. habis mandi harus ganti dan kalau selesai bab juga ganti….

    Karena kalau nggak ganti, kok popo terasa aneh…
    Mungkin paranoid juga ya…. Hahahahahahaha….!!!

    Dulu kalau mudik, malah beli merk “Hing” atau apa, sudah agak lupa ( yang murah )
    Karena di Hotel, maka hanya dipakai sekali dan buang. ( praktis )

    Udah ah, nanti ada yang bingun, atau marah kita bicara CD. mulu… Hahahahahahaha…!!!
    Yang jelas ibu Matahari tahu, mengapa Dj. sering ganti, okay…???

    djas boleh contoh, nanti tau deh manfaatnya. Hahahahahahahaha…!!!

  9. Matahari  27 January, 2014 at 22:11

    Djas kamu benar juga…pak Djoko bilang beliau ganti CD 3-4 x sehari..apakah maksudnya dibolak balik setiap beberapa jam tapi CD yang sama …atau gantian dengan seseorang atau sesuatu…makin aneh ya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.