Villa Sampoerna

Tjok Mas & Anoew

 

Semua berawal mula dari seorang anak yatim piatu yang berjuang melawan kemiskinan dengan semangat dan keuletan, hingga akhirnya ia bisa menghidupi diri sendiri bahkan kelak, mampu menghidupi lebih dari 100.000 orang lain dengan perusahaan rokok berkelas dunia. Dia adalah Liem Seeng Tee, generasi pertama Sampoerna.

***

 

Melintasi jalan raya Pandaan – Tretes yang berkelok dan menanjak saat menuju ke Air Terjun Puthuk Truno, tak sengaja mata ini menangkap sebuah villa yang tersembunyikan oleh lebatnya dedaunan dan papan reklame di pertigaan jalan yang menurun tajam. ‘Penemuan’ tak sengaja ini menarik minatku untuk mengenalnya lebih dekat dan membuat aku harus dua kali balik arah agar bisa sampai ke sini. Dan mengunjungi tempat ini membawa memoriku mundur ke belakang untuk melirik sejarah Raja Kretek yang hadir di Prigen, puncak Tretes, Jawa Timur.

Saat villa ini kulihat dari dekat, membuat aku berpikir betapa keras dan gigihnya usaha Liem Seeng Tee saat ia berjuang dari titik terendah hingga mencapai sukses. Itu tercetak jelas dari jejak monumental gedung. Monumen yang perkasa sekaligus welas asih, gagah juga lembut hati. Itulah mereka, ketiga patung binatang yang berada di bangunan tua tapi masih terawat dengan baik ini. Dan berdiri tak jauh dari ketiga binatang perkasa itu membuatku serasa di dunia lain yang, melingkupi seluruh bangunan berikut pelatarannya. Senyap namun ramah, juga sedikit dingin sekaligus hangat saat berada di dalamnya.

Singa di kanan dan kiri pintu utama villa ini selaksa matahari pagi yang turun ke tanah. Bersinar. Dialah penguasa daratan, raja dari segala yang di atas tanah. Segala yang di atas tanah tunduk kepadanya. Di depan pintu utama villa, berada di antara kedua singa tersebut berdiri seekor gajah dengan belalainya yang mendongak, menyiratkan kekuatan dan keperkasaan suatu pribadi. Gajah adalah lambang kekuatan sekaligus kesabaran, juga belas kasih. Dialah penopang semesta alam.

Lalu di atap gedung bertengger elok seekor elang (1) yang sedang mengembangkan sayapnya sebagai penanda awal dari hari. Ia adalah burung yang sepanjang hidupnya diliputi matahari, sehingga memiliki cahaya abadi dalam tubuhnya yang terdiri dari elemen udara dan api. Burung pemberani dan berkecepatan tinggi dalam bergerak yang melambangkan maskulinitas, tak takut akan petir pun badai, apalagi hujan dan gelap. Laksana singa di udara, dialah penguasa langit, bahkan langit di atas langit. (*Pict 1)

1

Mungkin pribadi yang terkandung dari ketiga sosok perkasa itulah yang membuat pemilik bangunan ini mengada untuk kemudian menjadi pengusaha yang ulet dan tangguh. Penuh kekuatan saat berjuang, hingga menjelma menjadi salah satu raksasa industri rokok di negeri ini.

***

 

Liem Seeng Tee mendirikan usahanya tahun 1913 bukan tanpa batu sandungan sama sekali, apalagi berjalan mulus hingga ia berhasil menjadi pengusaha besar. Dari upaya awal dengan berjualan arang berkeliling kota Surabaya memakai sepeda, lalu berdagang asongan di atas kereta api (2) hingga akhirnya bekerja di pabrik rokok sambil belajar meracik tembakau yang kelak merajai pasar rokok kretek di negeri ini.

Tak hanya di situ awal perjuangan hidupnya. Liem Seeng Tee akhirnya memutuskan untuk berwiraswasta bersama sang istri dengan menyewa sebuah warung kecil beratapkan ilalang dan bertiang bambu tanpa dinding, di pinggir jalan raya kota Surabaya. Warung itu terletak di Jalan Tjantian Podjok,  sekarang dikenal dengan Jalan Pabean Cantian. Sementara sambil membuka warungnya Liem Seeng Tee tetap meneruskan keahlian meracik tembakau guna menghasilkan Dji Sam Soe yang kemudian terbukti benar-benar menjadi “Rajanya Rokok Kretek” karena kualitasnya yang unggul. Itulah produk generasi pertama Sampoerna (3) yang sukses besar sejak awal hingga saat ini.

Kisah keberhasilan sosok Liem Seeng Tee ini bisa dinikmati di museum House of Sampoerna yang terletak di kawasan kota tua di Surabaya, tepatnya di jalan Taman Sampoerna no 6. (*Pict 2, 2a  – dari www.eastjava.com)

2

2a

***

 

Ketika kembali ke Prigen, aku sungguh menikmati suasana dan pemandangan di sekitar gedung yang megah ini. Villa yang terletak di tempat sejuk dengan pemandangan pucuk-pucuk pohon di kejauhan, menjadikanku betah dan ingin berlama-lama di tempat ini.

Tretes, ternyata sejak dulu telah menjadi tempat favorit bagi keluarga Belanda untuk berwisata dan tempat beristirahat. Ini terlihat dengan banyaknya villa bercorak Belanda di daerah ini, yang biasanya berbentuk rumah kayu bergaya Eropa. Dan Liem Seeng Tee -menurut keterangan penduduk sekitar- membeli salah satu bangunan peninggalan Belanda tersebut untuk dijadikan villanya yang terletak di pertigaan Prigen / pertigaan Seno ini (dulu dikenal sebagai Tembungan) antara tahun 1883 – 1923.

Lalu aku mengayunkan langkah, memasuki pelatarannya dan mulai menikmati tiap sudut bangunan dengan segala keindahannya. Kurasakan suasana hening yang hangat, sekaligus juga ada rasa ‘kokoh’ yang begitu kuat tersirat dari dalam. (*pict 3)

3

Hmmm…, sungguh tempat hunian yang nyaman, sejuk dan asri. Taman hijau terhampar di halaman depan dan samping, sedap dipandang mata sekaligus unik karena adanya perpaduan sentuhan Eropa dan Asia dengan keberadaan patung-patung menawan. (*pict 4, 5, 6)

4

5

6

 

Tertarik lebih dekat, aku beranjak ke beranda depan yang lebih luas dengan suasananya yang asri, tepat menghadap ke perkampungan di bawah. Aku menikmati pemandangan sekitar, sedangkan temanku asyik mengambil gambar. (*pict 7, 8, 9)

7

8

9

 

Teras yang luas dan nyaman.. (*pict 10, 11)

10

11

 

Dan saat kuambil gambar ini, salah satu dari kursi goyang itu bergoyang pelan. Tertiup angin pegunungan? Entahlah… (*pict 12)

12

…dan anak kecil itu, berlari-larian karena tak hendak wajahnya diabadikan oleh kamera. Juga sesuatu lain di dekatnya. (*pict 13)

13

Villa ini sebelum  dibeli Liem Seeng Tee, dulunya merupakan markas Belanda yang juga digunakan sebagai pos pengawasan di wilayah Prigen dan sekitarnya. Dan salah satu benda yang menarik perhatianku adalah, adanya bel kuno yang konon bunyinya sangat nyaring… (*pict 14)

14

…sepertinya, jerit bel saat menandakan pergantian shift jaga di kala itu terdengar mulai dari lorong belakang gedung sampai ke kejauhan. (*pict 15, 16, 17)

15

16

17

Puas hati berkeliling meskipun hanya di luar gedung ini saja da saat terdengar azan magrib dari radio transistor di atas meja milik penjaga villa, aku memutuskan untuk pamit. Pulang dengan membawa kenangan sekaligus pertanyaan-pertanyaan yang kubiarkan mengambang… (*pict 18)

18

…lalu kusempatkan menoleh kembali ke teras bagian belakang dari kejauhan, kami berdua tersenyum takjim sambil mengucapkan terima kasih atas ijin yang telah diberikan. (*pict 19)

19

Tak seberapa jauh dari villa ini saat perjalanan pulang kudapati bangunan tua -juga megah- namun sayang, waktu dan suasana sepertinya tak mengijinkanku untuk bertandang masuk. Mungkin lain kali aku akan ke sana, menikmati suasana gedung itu dan mencari tahu kisah perjalanan Jamu Iboe. (*pict 20)

20

Puncak Tretes, kediaman pribadi Raja Industri Kretek yang penuh kearifan dan simbol-simbol kekuatan itu, membuatku ingin kembali ke sana. Kapan-kapan.

***

 

PS:

(1) Menurut seorang kawan yang bisa membaca huruf tersebut, ia mengatakan “yang di bawah patung elang ada tertulis aksara Cina yang diapit tahun 1893 dan 1933: Wang, artinya raja” dan itu membuatku sepakat dengannya.

(2) Di saat ini Liem Seeng Tee bertemu dengan Siem Tjiang Nio -cikal bakal pendiri Jamu Iboe- yang kemudian menjadi pendamping hidupnya.

(3) Pada 1913 Liem Seeng Tee mendirikan perusahaan tembakau dan rokok yang bernama Handel Maastchapij Liem Seeng Tee, lalu berganti menjadi NV Handel Maastchapij Liem Seeng Tee dan setelah PD II usai nama perusahaan itu berganti menjadi PT Hanjaya Mandala Sampoerna, disingkat HM Sampoerna. “Sampoerna” terdiri dari sembilan huruf, mempunya arti “kesempurnaan.”

 

58 Comments to "Villa Sampoerna"

  1. elisabeth james  11 April, 2018 at 23:38

    maaf saya bisa kenal dgn ibu Johana lbh dekat? kalau berkenan facebook saya elisabeth james….saya rindu dgm cerita2 ttg villa iboe karena saya umur 4 tahun sudah pindah dari villa iboe…yg duduk di foto jamu iboe itu adalah buyut saya

  2. Johanna  14 March, 2018 at 17:06

    Nenek dari Mama saya (meninggal kira2 tahun 1939) kenal baik dengan pemilik villa Iboe, yaitu pendiri perusahaan jamu Iboe cap dua Nyonya. Tokonya dekat dengan pabrik lama rokok kretek Djie Sam Soe, di jl. Sampurna yang sekarang jadi museum. Saya dari Surabaya dan dulu tinggal juga dekat museum tersebut (jl. Kebalen Barat).

  3. Catherine  12 May, 2017 at 08:56

    Apakah ada kalian yang kenal dengan pemilik Villa Iboe ?? Saya keturunan dari pemilik villa iboe. Nama opa saya Liem Sie Bie Gwan. Menikah dengan oma saya Dina Kalengkongan. Saya cucu kandung dari mereka.

  4. R Wydha  5 June, 2014 at 11:39

    Iyaaaaa hehehehehe suasananyaaa bikin penasaran isi disana dan penghuninyaaa hehehehehe

  5. Anoew  4 June, 2014 at 12:35

    Wydha, wow jugaaaak….. coba deh kapan-kapan mampir ke situ dan, blusukan ke dalemnya. serem tapi seru sekaligus hening tapi berwibawa auranya.

  6. R Wydha  4 June, 2014 at 11:54

    Wow…. maluuu… pdahal kota ini deket dg tmpt krja sy… tp sy bru tau ada villa ini…. baguuussss…. dan sy penasaraaan hehehehehehehe…..

  7. anoew  27 January, 2014 at 07:47

    Di, ya jelas riuh lha wong bel gitu. Bunyinya reme.

  8. diannugraheni  27 January, 2014 at 02:53

    Pict. no.14 paling riuh…he2..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.