[Di Ujung Langit – Zaijian Wo de Ai] Hadiah Terlarang

Liana Safitri

 

LYDIA semakin mencurahkan perhatiannya pada kegiatan mengajar di tempat kursus, saat-saat di dalam hidup Lydia di mana ia tidak lagi menjadi bayangan Franklin. Atau mungkin juga karena pertengkaran mereka yang belum membaik. Sampai sekarang Lydia masih enggan berbicara dengan Franklin.

Hujan yang tak kunjung berhenti dari pagi membuat orang malas melakukan aktivitas. Setelah selesai mengajar, jam tujuh malam Lydia. Tian Ya, Brenda, Johnny, Alice, dan seorang penjaga perpustakaan, Victor berkumpul di ruang guru. “Sampai kapan hujan terus seperti ini? Huuhh…” Brenda mengeluh sambil memandang keluar jendela.

“Ah, mulutmu bilang begitu padahal hatimu senang karena bisa terus bersama Johnny!” goda Lydia. Semua orang tertawa.

Tian Ya menatap teman-temannya satu per satu. “Aku rasa perlu didakan perayaan atas berdirinya tempat kursus bahasa asing kita ini. Bagaimana kalau besok kita pergi berlibur?”

Usul Tian Ya disambut semua orang dengan senang hati. “Setuju! Sekarang tepat satu munggu kita mengajar, waktu yang sangat tepat, kan?” Victor tampak paling bersemangat.

“Tapi apakah kau sudah memikirkan ke mana kita akan pergi?” tanya Lydia.

“Belum. Kita tentukan saja sekarang. Aku sih, terserah kalian saja. Nanti kita pergi dengan mobilku atau mobil Johnny?”

Johnny mengangguk setuju. “Kita pergi dengan dua mobil. Dan akan lebih menyenangkan kalau kita bisa berlibur dua atau tiga hari. Kalau hanya sehari akan menghabiskan waktu di jalan.”

Belum selesai Johnny bicara Lydia sudah memotong, “Dua tiga hari? Memangnya kau mau bayar hotelnya?”

“Tidak! Begini saja… Bagaimana kalau kita pergi ke Kaliurang? Ada villa pribadi milik keluarga yang sekarang ditempati kakek dan nenekku. Kita bisa menginap gratis, makan juga tidak perlu bayar. Setuju?” Apa segala hal yang gratis dan bagus bisa ditolak? Jadi tanpa ada perdebatan berarti mereka memutuskan pergi ke Kaliurang dua hari lagi.

Ketika Lydia pulang, seperti biasa Franklin menunggunya di ruang tamu sambil menonton televisi. Lydia sama sekali tidak menyapa Franklin, sedangkan Franklin juga diam saja. Setelah Lydia masuk ke kamar Franklin pun pergi ke kamarnya sendiri.

 

Lydia bangun pagi-pagi sekali. Ia sibuk menyiapkan tas, pakaian, perlengkapan mandi, dan sedikit makanan kecil. Hatinya gelisah, entah kenapa. Cukup lama Lydia duduk termangu-mangu, kemudian keluar kamar. Franklin memakai dasi sambil menghadap ke cermin hingga tak mengetahui Lydia sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Ketika Franklin membalikkan tubuh dan bertatapan dengan Lydia, mereka berdua sama-sama terkejut.

“Lydia, ada apa?”

Lydia jadi salah tingkah. Dengan gugup ia berkata, “Hari ini… aku… akan pergi ke Kaliurang. Aku menginap tiga hari di sana.” Lydia tak tahu harus bagaimana selain menunggu.

“Bersama Tian Ya?”

“Tidak! Aku pergi dengan teman-teman SMA, sekalian reuni.” jawab Lydia spontan. Lydia tidak tahu kenapa ia harus berbohong.

Dari kalimat singkat itu, Franklin mengerti yang dimaksud Lydia. Dalam keadaan biasa Lydia akan bertanya, “Kakak, bolehkah aku pergi bersama temanku?” Hubungan Lydia dengan orangtuanya sejak dulu tidak begitu baik. Selain itu orangtua Lydia juga tidak peka, jadi keadaan ini semakin parah. Lydia hanya mau mengutarakan apa yang ia inginkan dan apa yang akan ia lakukan pada Franklin.

Setelah lama menunggu Franklin menganggukkan kepala, “Pergilah.” Itu tandanya ia memberikan izin. Meski begitu, tanggapan Franklin yang biasa-biasa saja membuat Lydia agak kecewa. Lydia meninggalkan kamar Franklin, tapi baru beberapa langkah Franklin sudah memanggilnya.

“Tunggu! Apa kau membawa cukup uang?”

“Ya.”

“Hati-hati…”

Lydia berjalan lagi. Namun kali ini hatinya bersorak. Franklin sudah kembali memperhatikannya! Ada kelegaan yang muncul setelah berhari-hari Lydia merasa seperti terhimpit sebuah batu besar. Lydia menyadari kalau ternyata bertengkar dengan Franklin bukanlah hal baik dan akan mempersulit posisinya. Karena di keluarga ini hanya Franklin yang peduli padanya.

 

Sesuai kesepakatan, semua orang berkumpul di SKY School lebih dulu, baru kemudian berangkat bersama ke Kaliurang. Tempat wisata alam di daerah yang sejuk dengan ketinggian 878 meter di atas permukaan laut dan terkenal dengan gunung Merapi nya. Tian Ya, Lydia, Johnny, Brenda, dan Victor berada dalam satu mobil, sedangkan mobil lainnya untuk mengangkut barang-barang bawaan yang dikemudikan sopir. Jalanan menuju Kaliurang menanjak dan berkelok-kelok, menyajikan pemandangan mengagumkan. Matahari sore tampak kemerahan dengan latar langit berwarna oranye. Sedangkan di depan, salah satu gunung berapi teraktif di dunia itu menjulang tinggi, seolah mengucapkan selamat datang. Rumah-rumah penduduk berjajar dan berselang-seling dengan lahan persawahan, membuat mata tak ingin lepas memandang keluar.

“Lydia, bukankah ini untuk pertama kalinya kau bepergian jauh?” tanya Brenda.

“Tidak! Masa kau lupa sewaktu SMP kita pernah study tour ke Bali. Kita bahkan berada dalam satu kelompok yang sama.”

Brenda menepuk dahinya. “Oh iya, benar! Waktu itu…” Brenda melihat kepada Tian Ya yang sedang mengemudi, “Bukankah waktu itu kau juga ikut bersama kami, Tian Ya?”

“Apa? Bali, ya? Mmmm… benar! Tapi rasanya sudah lama sekali. Aku ingin ke sana lagi kalau ada kesempatan. Mungkin bersama seseorang…”

Lydia tersentak. Seseorang?

“Hei lihat, matahari tenggelam!” Victor mengalihkan pembicaraan mereka.

“Indah sekali, ya!”

“Gunung Merapi sudah tampak jelas dari sini…”

“Kenapa semakin lama semakin dingin saja? Bbrrrr!”

Semua orang sibuk berbicara sendiri-sendiri.

Sampai di tempat yang dituju, rasa lelah yang bersembunyi sejak tadi mulai muncul. Kakek dan nenek Brenda, pasangan suami istri Smith, menyambut mereka dengan ramah. Mereka memang tinggal di sana untuk menjaga villa itu. Brenda mengajak semua orang mereguk teh di ruang tengah yang menghadap ke kebun bunga.

“Wah, bunganya sungguh indah… “ Lydia terkagum-kagum.

Brenda tahu sekali selera Lydia. “Kau mau lihat bunga lili?”

Lydia terkejut sekaligus senang, “Apakah ada?”

Brenda mengantar Lydia mengelilingi kebun bunga yang luasnya tak seberapa, lalu menunjuk ke salah satu sudut, “Itu kan, yang kau cari?” Beberapa tanaman bunga lili muncul di antara tanaman lain.

Lydia berjalan menghampiri, membelai kelopak bunga yang putih dan lembut dengan tangannya. “Benar-benar bunga lili…”

Brenda menggeleng-gelengkan kepala. “Kau sangat menyukai bunga lili, ya? Nanti kalau kau menikah, aku akan mendatangkan satu truk penuh bunga lili sebagai hadiahnya.”

Lydia tertawa, “Jangan bercanda! Memangnya aku pernah bilang akan segera menukah? Aku sama sekali belum berpikir ke sana. Aku juga tidak tahu nanti akan menikah dengan siapa!”

“Li Tian Ya!”

Apa yang dikatakan Brenda seperti tepat mengenai sasaran. Lydia menghembuskan napas kesal.

“Kenapa? Kukira kau sangat menyukai Tian Ya?” tanya Brenda.

“Ya. Tapi aku tidak tahu apakah dia menyukaiku?”

Brenda menepuk punggung Lydia keras-keras. “Kalau kau tidak bertanya, bagaimana ia bisa tahu?”

Lydia melotot, “Apa? Aku duluan yang bertanya? Kau sudah gila?”

Tapi Brenda sangat serius. “Lydia! Tidak masalah siapa yang menyatakan cinta lebih dulu. Aku yakin  Tian Ya juga punya perasaan padamu. Jika tidak, untuk apa Tian Ya masih mau menghubungimu selama ia di Taiwan? Dia bisa saja tidak kembali ke Indonesia.”

Dalam hati Lydia membenarkan kata-kata Brenda. Selama ini yang ia lakukan hanyalah menulis puisi, mengirimkan ke majalah, berharap Tian Ya membacanya dan mengerti. Tapi…

“Kau harus mencoba, Lydia! Seandainya Tian Ya menolak, itu jauh lebih baik daripada kau terus tersiksa memendam perasaan. Asal Tian Ya tahu itu sudah cukup!”

 

Malam itu bulan bersinar penuh dan langit bersih tak berawan, hingga bintang-bintang dapat terlihat. Hawa dingin sungguh menusuk tulang, tapi itu tak dirasakan karena semua orang berkumpul di halaman villa membuat api unggun. Tian Ya, Brenda, dan Alice, mengambil makanan dan minuman di dapur. Lydia menjaga api unggun agar tetap menyala, sambil sesekali menambahkan batang kayu. Johnny dan Victor duduk di sebelahnya membakar jagung dan ubi.

“Jam berapa sekarang?” tanya Johnny.

Victor melihat jam tangannya, “Jam delapan. Bukankah kau baru saja dibelikan jam tangan oleh Brenda sepulang dia jalan-jalan dari New Zeland?”

“Ya. Tapi aku tolak.”

“Kenapa? Kenapa kau tolak? Jam tangan itu pasti sangat mahal, kan? Bodoh sekali kau! Kalau kau tidak suka seharusnya disimpan saja. Benar-benar tidak bisa menghargai pemberian orang!” Victor berdecak.

Wajah Johnny sangat serius. “Tahukah kau, ada tiga macam benda yang tidak boleh diberikan pada orang yang kita cintai, atau tidak boleh kita terima dari orang yang kita cintai?”

“Apa itu?” Victor ingin tahu.

“Sapu tangan, jam tangan, dan sepatu.”

Lydia yang dari tadi mendengarkan pembicaraan antara Victor dan Johnny ikut penasaran. “Kenapa  ketiga benda itu yang dilarang?”

“Jam tangan, sapu tangan, dan sepatu memberi arti perpisahan. Sapu tangan akan membuat hari-hari yang kau lalui bersama kekasihmu dipenuhi kesedihan, air mata pun mengalir tanpa henti.”

“Lalu jam tangan?” Vicor mulai tertarik.

“Jam tangan adalah penunjuk waktu. Melihat jam tangan membuatmu selalu dibayangi kekhawatiran kalau kebersamaan kalian dibatasi waktu. Sudah larut, waktunya pulang, ada urusan, dan lain-lain. Setiap detik yang berlalu takkan terulang lagi, seperti pepatah yang mengatakan, ‘tak ada pesta yang tak usai’. Jam tangan itu sangat mengganggu.”

“Kalau sepatu? Kalau tidak boleh membari sepatu, masa kita harus bertelanjang kaki saat bertemu kekasih kita?” tanya Victor dengan konyolnya.

“Sepatu melambangkan kaki yang melangkah pergi. Memberikan sepatu pada kekasihmu berarti membiarkan ia meninggalkanmu.”

“Penjelasanmu sungguh bagus, tapi sayangnya aku tidak percaya!” Victor tertawa mengejek. “Itu terlalu dibuat-buat. Kalau kau punya tiga benda terlarang, aku juga bisa membuat benda terlarang menurut versiku sendiri.” Setelah berpikir agak lama Victor mulai mengoceh, “Bunga mawar! Bunga mawar tidak boleh diberikan pada kekasih karena sering dipakai untuk ungkapan duka cita. Memberikan bunga mawar bisa membuat pasangan meninggal seperti dalam film. Mmmm… apa lagi, ya? Oh, makanan! Bagaimana jadinya kalau orang yang sedang pacaran tak boleh mentraktir pasangannya? Mungkin saja akan membuat mereka saling memakan ketika bertengkar?” Belum selesai Victor bicara, meledaklah tawa Johnny dan Lydia.

“Sembarangan!” Johnny membentak Victor. “Benda yang terlarang diberikan pada pasangan hanya berlaku untuk  sapu tangan, jam tangan, dan sepatu! Lain tidak!”

Victor berusaha mendebat, “Pernahkah kau berpikir kalau yang menyebarkan mitos tersebut adalah orang yang sangat pelit pada pacarnya? Atau karena tidak punya uang untuk membeli sapu tangan, jam tangan, dan sepatu yang diminta sang kekasih, jadi dia mengarang-ngarang alasan? Jadi mengapa tidak memberi larangan yang lebih umum? Misalnya setiap orang dilarang membelikan segala sesuatu pada kekasihnya. Dengan begitu kan, setiap orang yang berpacaran tidak perlu menghambur-hamburkan uang! Benar tidak?”

Johnny mengibaskan tangan, “Terserah apa katamu! Pokoknya aku percaya saja dengan tiga benda terlarang itu, demi keamanan!”

Tian Ya, Brenda, dan Alice berdatangan membawa beberapa toples makanan dan susu hangat. “Kalian sedang membicarakan apa? Tuh lihat, jagungnya sudah hampir hangus!” Tian Ya menegur Johnny dan Victor. Ia duduk di sebelah Lydia.

Lydia diam-diam memandang Tian Ya. Pembicaraan Johnny dan Victor mau tak mau sangat mengganggunya. Lydia pernah memberikan sapu tangan pada Tian Ya, memberikan jam tangan pada Franklin, juga menerima hadiah sepatu dari Franklin. Apakah berarti Lydia akan berpisah dari dua orang pria yang sangat dikasihinya? Bulu kuduk Lydia berdiri. Sekuat tenaga ia berusaha menepis pikiran buruk itu. Jam dua belas malam api unggun dipadamkan dan mereka semua pergi tidur. Tadi saat Lydia masih di halaman duduk di depan api unggun, Franklin mengirim SMS, mengingatkan Lydia agar menutup jendela kamar. Di rumah Lydia selalu lupa menutup jendela sebelum tidur, jadi Franklin yang masuk ke kamar Lydia menutup jendela.

saputangan

Pagi-pagi sekali saat sebagian orang masih malas-malasan di tempat tidur, Tian Ya mengajak Lydia jalan-jalan di sekitar villa. Udara pegunungan yang sejuk dan bersih membuat keduanya bersemangat. Lydia dan Tian Ya menikmati pemandangan gunung Merapi. Kemudian mereka ke kebun bunga membantu kakek dan nenek Smith menyiram tanaman. Tapi Lydia masih belum berani mengungkapkan perasaannya. Lydia heran mengapa Tian Ya hanya mengajaknya saja, tidak bersama teman yang lain. Tapi diam-diam dia juga senang.

“Mengapa kau memintaku menemaniku?”

“Aku hanya ingin suasana yang tenang. Kau tidak cerewet, sedangkan mereka semua berisik.”

Lydia kecewa mendengarnya.

 

Franklin bersiap-siap pulang. Saat keluar ruangan, setiap orang yang berpapasan dengannya membungkukkan badan. Entah mengapa ia tak terlalu suka dengan basa-basi ini. Bagi Franklin, orang-orang menaruh hormat padanya bukan karena ia Franklin, tapi karena ia adalah seorang manajer. Perusahaan ini milik ayah Lydia, seharusnya Lydia lah yang berada di posisinya sekarang.

Eugene sudah menunggu Franklin sejak tadi. Ia mendekati Franklin dan mengamit lengannya. “Ayo kita pergi! Kau kan janji mau menemaniku melihat rumah baru. Kau harus memberikan pendapatmu.”

Franklin menurunkan tangan Eugene dari lengannya. “Karena seleramu sudah pasti bagus, pendapatku tidak ada gunanya! Tapi aku tertarik mengunjungi rumahmu.” Alasan sebenarnya Franklin mau pergi bersama Eugene adalah karena Lydia sedang tidak ada di rumah. “Tapi sebelum itu kita pergi ke tempat reparasi jam.”

“Ada apa?”

Franklin menunjuk jam tangan yang ia pakai. “Jamku rusak lagi, harus diperbaiki.”

“Masih yang itu juga?” Eugene berdecak heran. “Sudah kubilang jam tanganmu harus diganti! Beli yang baru!”

“Aku tak mungkin membuangnya! Ini hadiah ulang tahunku yang ketujuh belas dari Lydia.”

“Dan itu sudah sepuluh tahun yang lalu.” Eugene berkata setengah mengejek.

 

6 Comments to "[Di Ujung Langit – Zaijian Wo de Ai] Hadiah Terlarang"

  1. Lani  27 January, 2014 at 11:31

    whoaaaaaaaaaa…………..jian ki lurah itu gimana seh? Sakjane aku iso no 1…….wkt itu dinyatakan komentar ditutup…………

  2. Alvina VB  27 January, 2014 at 11:27

    Sangkain gara2 hadiah terlarang, kolom komentar ditutup, he..he…. Lanjut ceritanya Liana…

  3. elnino  26 January, 2014 at 19:34

    Ayolah Lydia…ungkapkan saja perasaanmu sebelum dirimu semakin tersiksa dalam ketidak pastian…

  4. Matahari  26 January, 2014 at 15:25

    Lebih setuju dengan alasan Victor dalam tulisan atas…mengenai mitos tkahul ini itu mengenai pemberian hadiah…Memamg sampai sekarang banyak orang masih percaya kalau saputangan tidak baik diberikan sebagai hadiah…Dulu saya percaya tapi sekarang tidak lagi…saya selalu belikan suami sapu tangan karena dia tidak punya waktu ke toko beli

  5. J C  26 January, 2014 at 15:09

    Apakah memang benar hadiah-hadiah yang disebutkan tsb akan menyebabkan perpisahan? Entahlah…

  6. J C  26 January, 2014 at 15:08

    Kesalahan teknis sebelumnya komentar tertutup, jadi tidak bisa komentar…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.