Kuli, Buruh dan Penulisan Sejarah Mereka

Joko Prayitno

 

Ada yang menarik ketika membaca buku John Ingleson “Perkotaan, Masalah Sosial dan Perburuhan di Jawa Masa Kolonial” sebuah kumpulan essay yang diterbitkan oleh Penerbit Komunitas Bambu. John Ingleson dalam Essay pertamanya yang berjudul “Kehidupan dan Kondisi Kerja: Buruh Pelabuhan antara 1910-1920-an”, alih-alih mencoba untuk bersikap netral dalam memandang kehidupan mereka dan bagaimana mereka mempertahankan diri dari guncangan ekonomi yang melanda Hindia Belanda, Ia seakan-akan bahkan mendorong untuk menuliskan kehidupan dan peran mereka lebih banyak lagi.

collectie_tropenmuseum_chinese_koelies_uit_shantou_verlaten_het_schip_s_jacob_in_de_haven_van_belawan_sumatra_om_in_de_tabakcultuur_te_gaan_werken_tmnr_10001445

Kuli di Pelabuhan Belawan Medan Turun Dari Kapal Jacob sebagian Besar adalah Kuli dari China (Koleksi: TropenMuseum TMnr_10001445)

Bila masa Kolonial bahkan hingga kini dapatlah disebutkan bahwa Indonesia memang sebuah negara yang bermasyarakat agricultural (pedesaan), namun sejak 1870-an orang Indonesia telah semakin banyak yang tinggal di kota-kota baik besar maupun kecil, yang mencari penghidupan mereka dari perekonomian perkotaan. Pada masa kolonial banyak orang Indonesia yang bekerja dalam birokrasi pemerintahan Hindia-Belanda, sedang yang lainnya membentuk suatu golongan profesional yang walaupun skalanya kecil namun tetap berkembang.

Mereka terdiri atas dokter, pengacara, insinyur maupun guru. Golongan inilah yang menjadi asal dari sebagian besar kepemimpinan intelektual dan organisasi-organisasi gerakan nasionalis. Melalui tulisan-tulisan dan pidato-pidato mereka, kita dapat menemukan gambaran yang lebih jelas mengenai persepsi mereka yang terus menerus berubah tentang dunia dan perjuangan mereka mencapai keberhasilan sebagai seorang Indonesia di tiga dekade akhir pemerintahan Kolonial. Bagaimanapun, sebagian besar penduduk pendatang perkotaan memiliki cara pandang yang secara mental sangat berbeda, memiliki sedikit ketrampilan yang bisa dipasarkan dan lebih mementingkan persoalan sehari-hari dalam cara bertahan hidup dalam lingkungan yang penuh masalah sosial dan ekonomi pelik.

Mereka tidak meninggalkan catatan pribadi, pidato-pidato atau tulisan-tulisan apapun di media cetak. Catatan mereka hanya dapat ditemukan sesekali saja dalam pandangan umum ketika terjadi berbagai kerusuhan dan pemogokan atau ketika menjadi subjek Pemerintah dan kepentingan swasta. Inilah masyarakat perkotaan yang disebut sebagai buruh dan kuli. Kita perlu memulihkan orang-orang biasa ini dari keadaan buruk dalam upaya melihat mereka lebih dari sekedar korban pasif karena struktur pemerintah Kolonial yang menyebabkan penderitaan mereka.

Dengan menganalis keadaan sosial dan ekonomi mereka, aspirasi mereka, serta persepsi mereka yang terus-menerus berubah mengenai dunia yang mereka lihat sebagai aktor penting di dalam hak mereka dalam lanskap perkotaan. Buruh, dan kuli terkadang menghadapi kesulitan hidup mereka yang disebabkan oleh struktur yang menindas. Mereka melakukan perlawanan dengan cara yang spontan melalui pemogokan yang berasal dari inisiatif buruh itu sendiri terkadang diorganisir oleh para mandor yang bertindak sebagai patron-klien, sedangkan terkadang pengaruh aktivis politik sangat sedikit mewarnai pemogokan-pemogokan mereka pada masa Kolonial.

Oleh karena itu apa yang diutarakan oleh John Ingleson untuk memberikan penempatan bagi para pelaku sejarah yang bukan golongan elit terutama buruh, kuli dan juga petani serta orang-orang tertindas lainnya yang tidak memiliki catatan-catatan merupakan bentuk keberpihakan dalam penulisan sejarah. Kita juga sadar bahwa penulisan sejarah yang berpihak kepada korban penindasan sangat jarang bahkan juga ditutupi ataupun dipermaklumkan bahwa apa yang terjadi adalah bentuk dari sebuah kenormalan dalam perjalanan hidup. Maka tentunya membawa keyakinan untuk menuliskan mereka lebih banyak lagi dan dari sudut pandang mereka yang tertindas.

 

Surakarta, 4 Januari 2014

 

 

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2014/01/04/kuli-buruh-dan-penulisan-sejarah-mereka/

 

9 Comments to "Kuli, Buruh dan Penulisan Sejarah Mereka"

  1. Joko Prayitno  27 January, 2014 at 08:37

    Iya mas Joseph, saya meminta bantuan sampeyan dan Pak Handoko, mana saja yang layak untuk diperbaiki tulisannya mas….sekali lagi Maturnuwun mas….

  2. J C  26 January, 2014 at 15:10

    Mas Joko, komentarku dan pengantarku dalam Group Baltyra serius tenan lho…coba dirunding yuk bareng pak Hand…

  3. Joko Prayitno  23 January, 2014 at 14:36

    Mbak Hennie..thanks, banyak kuli dan buruh Jawa dan China yang dipekerjakan di Deli Sumatra pada kolonial mbak

  4. Joko Prayitno  23 January, 2014 at 14:33

    Iya mbak Lani, thanks ya sudah sering berkomentar di tulisan sederhana saya…salam dan semoga sehat selalu mbak..

  5. HennieTriana Oberst  23 January, 2014 at 12:35

    JP, wah ada foto pelabuhan Belawan. Belum pernah naik kapan dari pelabuhan ini.

  6. Lani  23 January, 2014 at 10:46

    JP : Setiap kali membaca artikelmu, saya berpikir nampaknya kamu suka sekali dgn sejarah/yg berhubungan dgn sejarah……….artikelmu menambah pengalamanku……..maturnuwun ya

  7. Lani  23 January, 2014 at 10:42

    JP : Belum tahu ta? Dirumah ini ada bbrp yg suka balapan je……….hehehe

  8. Joko Prayitno  23 January, 2014 at 09:49

    Mbak Lani pasti No Satu Terus….Thanks banget lho mbak…

  9. Lani  23 January, 2014 at 09:12

    1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.