Penggila Fotografi

Kang Putu

 

Ibu Ani:

Negeri Ini Indah dan Saya Bahagia
Bisa Mengabadikan Keindahan Itu

IBU ANI memang luar biasa. Ibu yang anggun dari dua anak lelaki yang cerdas dan tampan ini patut menjadi teladan, pantas menjadi anutan. Dia, perempuan cantik penuh senyum ini, senantiasa menjepret setiap momen dalam kehidupannya yang supersibuk dan aha: jadilah potret memikat, inspiratif, dan memantik empati siapa pun yang masih mempunyai nurani. Dan, alhamdulillah, setelah berkali-kali tertunda, akhirnya Kluprut berkesempatan berbincang dengan sang pendamping SBY ini.

Selamat sore, Ibu Ani? Ibu sehat? Gembira?
Selamat sore. Ya, syukurlah, saya senantiasa diberkahi kesehatan dan kegembiraan oleh Tuhan Seru Sekalian Alam. Anak-anak saya sehat, cucu-cucu saya gembira. Suami saya, Pak SBY, sesibuk apa pun selalu mampu menjaga kesehatan dan menebar kegembiraan.

Syukurlah, Ibu Ani. Dan Ibu senantiasa mengabadikan berkah kesehatan dan kegembiraan itu bukan?
Tentu saja, tentu saja. Setiap momen dalam kehidupan kami selalu saya abadikan. Saya yakin, kelak, setiap pengabadian momen itu, apalagi saat kami sekeluarga senantiasa diberkahi kesehatan dan kegembiraan, bakal berguna. Saya berharap, paling tidak itu bisa menjadi upaya dokumentatif yang kelak memantik hasrat setiap pribadi, setiap warga negara ini, untuk senantiasa mampu menjaga kesehatan dan kegembiraan pula, apa pun yang terjadi, apa pun yang menimpa kita. Susah, senang, sedih, gembira, bahagia, adalah momen manusiawi. Dan itu patut diabadikan.

Maksud Ibu Ani, setiap kesedihan sepatutnya diabadikan, dilestarikan?
Lo, lo, ya jangan memelintir pernyataan secara semena-mena begitu. Maksud saya jelas, saya selalu mengabadikan setiap momen dalam kehidupan kami dengan kamera ini, sehingga bisa selalu menjadi bahan kenangan, sebagai bahan perenungan, betapa hidup ini memang menyenangkan.

Sejak kapan Ibu Ani bisa dan suka memotret, eh mengabadikan?
Sebenarnya sudah sejak muda, sejak masih gadis. Namun makin intensif sejak saya, sebagai pendamping Pak SBY, menyadari betapa penting pencitraan diri. Ya, potret – termasuk setiap potret karya saya – bukan cuma merupakan cermin kemampuan teknis fotografi sang pemotret. Lebih dari itu, di balik setiap potret ada pesan, ada empati, kepedulian terhadap sisi-sisi kemanusiaan kita. Saya tak henti-henti belajar, tak bosan memperdalam penguasaan teknis dan filosofis di balik setiap jepretan. Sesungguhnya menjadi fotografer yang baik adalah sekaligus menjadi manusia yang baik, menjadi pribadi yang makin baik, rendah hati, tulus, dan mempunyai empati terhadap penderitaan sesama.

Luar biasa! Jadi Ibu Ani menguasai berbagai jenis kamera? Maaf, boleh tahu berapa harga kamera yang termahal?
Ya, tentu saya berupaya menguasai segala macam kamera. Nah, setelah mencari dan menemukan kamera terakhir ini, saya merasa mantap. Kamera ini memang milik saya yang paling mahal. Namun sebenarnya tidak mahal juga kok. Cuma 250 juta rupiah. Dan, hasilnya luar biasa. Bagus. Indah.

Oh, ternyata tidak mahal ya, Ibu Ani? Cuma 250 juta untuk sebuah kamera. Dan, hasilnya luar biasa pula. Apa objek bidik yang paling Ibu Ani sukai?
Semua saya sukai, terutama momen human interest dan terlebih lagi yang menggambarkan hubungan harmonis kami sebagai keluarga. Saya paling suka memotret cucu-cucu saya yang manis, lucu, menggemaskan.

Indah sekali! Namun, tentu, Ibu Ani juga mengabadikan kejadian-kejadian tragis, bencana, bukan? Misalnya, ketika Gunung Sinabung meletus dan puluhan ribu warga negara ini mengungsi berbulan-bulan, hidup dalam segala keterbatasan. Juga ketika Ibu Kota dilanda banjir hampir di semua kawasan. Itu semua Ibu Ani abadikan bukan?
Tentu saja. Dan, saya memotret dengan empati, tidak sekadar berbekal penguasaan teknis. Saya belajar benar dari berbagai referensi. Saya baca dan pelajari ulasan Oscar Motuloh, Arbain Rambey, Darwis Triadi. Saya membaca penuh kegembiraan buku karya Tubagus P. Svarajati, PhoTAGoGos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia, terbitan Sukabuku, Semarang, tahun 2013, suntingan Wahyudin As. Saya belajar dari siapa saja, kapan saja, di mana saja, sepanjang itu membuat saya makin bagus mengabadikan semua peristiwa dalam hidup kami sekeluarga.

Spektakuler! Ibu Ani benar-benar patut jadi inspirasi dan anutan bagi siapa pun. Mencintai keluarga sepenuh hati dan terus belajar, tak henti-henti. Pada posisi sebagai pendamping seorang presiden, apa manfaat paling signifikan dari ketekunan dan kesungguhan Ibu Ani memotret?
Wah, ya banyak manfaatnya. Manfaat paling signifikan berkait dengan posisi suami saya, ya, pertama: mendukung pencitraan bahwa kami keluarga bahagia, keluarga harmonis. Kedua, karena saya acap kali mendampingi suami saya dalam perjalanan dinas ke berbagai pelosok negeri ini, potret saya mengabarkan pula betapa indah, betapa luas, negeri ini dan betapa ramah penduduk negeri kita. Ketiga, potret-potret saya mengisahkan pula betapa kebahagiaan menyelimuti hati dan perasaan segenap penduduk negeri. Lihatlah, foto-foto ini. Betapa dalam setiap momen yang saya abadikan mereka selalu tersenyum. Dan, anak-anak itu betapa manis, betapa lucu. Itu membantah pernyataan bahwa rakyat di negeri kita terbelenggu kemiskinan, nyaris tak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.

Luar biasa! Jadi senyuman dalam potret itu benar-benar cermin betapa bahagia rakyat kita ya, Ibu Ani?
Iya.
 
Namun, maaf, ada yang melontarkan kritik bahwa Ibu Ani acap tidak tahu empan papan, tidak paham saat yang tepat, ketika memotret. Acap kali Ibu Ani memotret pada saat acara resmi, sehingga justru mengganggu kekhusyukan acara. Sebab, antara lain, banyak orang justru jadi memperhatikan Ibu Ani memotret ketimbang memperhatikan sambutan atau mengikuti acara yang berlangsung.
Ah, itu ulah orang sirik saja. Saya justru membantu staf suami saya. Mereka jadi tak perlu susah-susah membayar juru potret. Juga membantu para juru warta, sehingga tak ada alasan bagi mereka tak ada foto bagus dari acara yang kami adakan atau kami hadiri. Mereka bisa menggunakan potret yang saya hasilkan. Dan, itu nyata.

Oh, ya, sedemikian nyatakah cermin kebahagiaan itu tampak dari potret Ibu Ani?
Nyata. Nyata sekali.

Wah, potret yang dahsyat!
Iya. Karena itulah, jangan gampang memercayai desas-desus, kabar miring, yang menyatakan pemerintah telah gagal meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bahwa terjadi eksploitasi secara masif segala sumber daya alam, tanpa memperhitungkan keseimbangan alam. Bahwa, maaf ini rada pribadi, kami dinilai tidak memiliki kepekaan terhadap kesengsaraan orang lain. Bahwa saya, terutama, memotret lebih sebagai gaya-gayaan belaka. Semua itu bohong, fitnah. Namun kami paham, belum semua orang mempunyai pemahaman dan wawasan mendalam tentang makna fotografi. Jadi, ya, saya menerima semua keberatan, semua kritik, dengan lapang dada. Saya percaya, kelak, ketika makin banyak orang memiliki pengetahuan tentang fungsi dan peran signifikan fotografi, yang ditekuni secara autodidak oleh orang per orang sekalipun, pandangan dan persepsi tersebut bakal berubah.

Amazing! Ibu Ani mempunyai kebesaran hati, jiwa, dan sikap. Namun kalau soal kritik bahwa kamera Ibu Ani terlalu mahal di tengah kepempatan hidup sebagian besar warga negeri ini? Dua ratus lima puluh juta rupiah untuk sebuah kamera tentu jumlah yang tak terbayangkan bagi sebagian besar penduduk negeri ini bukan?
Lo, saya membeli kamera ini sepenuhnya dengan uang pribadi. Tak ada sepeser pun uang negara, tak ada serupiah pun uang perusahaan apa pun milik suami dan anak-anak kami. Saya menabung sedikit demi sedikit, sisa uang belanja harian keluarga kami. Dan, setelah dua bulan terkumpul dan, ya, bisalah saya miliki kamera ini.

Perkara mahal atau tidak, itu relatif. Kenapa dikait-kaitkan dengan keadaan sebagian besar penduduk negeri ini yang, kalaupun benar, dinyatakan sedang menderita di tengah impitan kenaikan harga segala kebutuhan hidup? Saya toh tidak merugikan mereka? Nasib dan peruntungan mereka sepenuhnya tak berhubungan dengan kami sekeluarga. Jadi kenapa disebut pula sebagai ketidakpantasan membeli dan menggunakan kamera mahal di tengah keprihatinan. Ya, silakan tetap prihatin, tetapi jangan campuradukkan dengan kegemaran saya memotret.

Jangan bilang saya tidak peka, jangan bilang saya tidak peduli penderitaan sesama. Buktinya? Setiap kali terjadi bencana, setiap kali terjadi peristiwa istimewa, saya selalu memotret. Anda bahkan tahu dan menghadiri peluncuran buku hasil bidikan saya bukan? Nah, bukankah potret dalam buku itu mencerminkan keberpihakan saya pada apa saja yang menjadi impian rakyat, harapan rakyat, untuk sejahtera, untuk bahagia?

Termasuk potret para cucu lucu dan manis Ibu Ani ya?
Iya. Justru potret seperti itulah, diakui atau tidak, yang paling disukai bukan? Potret itu menunjukkan betapa kebahagiaan adalah impian setiap orang dan cucu yang lucu, cucu yang manis, adalah cermin kebahagiaan orang tua.

keluarga-bahagia

keluarga bahagia, ha ha ha….

Luar biasa! Tahun ini masa pengabdian suami Ibu Ani berakhir. Ibu Ani tidak bermaksud menggantikan Pak SBY?
Hi-hi-hi…. No comment.

Pertanyaan terakhir. Ibu Ani bahagia hidup di negeri ini?
Saya mencintai negeri ini. Negeri indah. Dan, saya bahagia bisa mengabadikan keindahan itu lewat jepretan saya.

Terima kasih, Ibu Ani.
Sama-sama.

big-family
——————————

——————————————————————————
Ibu Ani Yokasyo
Penggila fotografi

Nama lengkap: Smartiani Sekaringati
Lahir: Purworejo, 11 Maret 1951
Suami: Sumonop Bodong Yokasyo (SBY)
Anak: Bambam Harimurdi Yokasyo & Sudewo Gibas Yokasyo
Jabatan suami: Presiden Komisaris P.T. Selalu Ada Harapan Tbk., P.T. Selalu Ada Pilihan Tbk., P.T. Selalu Bahagia Bersama Tbk., P.T. Hambamalang Dicintai Tuhan Tbk.
Cucu: Manismanis & Luculucu.

 

10 Comments to "Penggila Fotografi"

  1. ariffani  26 January, 2014 at 22:58

    trnyata Bu Ani istrinya pak Bodong

  2. J C  26 January, 2014 at 15:10

    Kang Putu…huahahahahaha…ampun, ampun…

  3. Dj. 813  23 January, 2014 at 19:02

    Hahahahahahahaha…..
    Hebat sekali, bisa sampai berpikir kesana.
    Tterimakasih Kang Putu.
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  4. Sumonggo  23 January, 2014 at 17:55

    Mengapa Bu Ani terus? Bu Broto kemana? Losmennya kebanjiran ya?

  5. Linda Cheang  23 January, 2014 at 15:25

    hahahahaha.. gendheng

  6. HennieTriana Oberst  23 January, 2014 at 12:28

    Kang Putu, bu Ani Yokasyo ini lucu juga ya.

  7. dev  23 January, 2014 at 12:21

    hahaha baca bagian bawahnya itu bikin ketawa hahaha

  8. JL  23 January, 2014 at 11:18

    Hahhaha

  9. Tammy  23 January, 2014 at 10:13

    Loh ada lagi artikel ttg bu ani. Emang hebat ibu ini, fansnya banyak ya.

  10. Lani  23 January, 2014 at 09:10

    1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.