Perempuan Dalam Diam

Ariffani

 

Di sinilah aku sekarang berdiri, berpijak pada kakiku sendiri, menatap senja yang mulai pudar perlahan-lahan, yang digantikan oleh malam yang pekat. Setidaknya untukku. Pekat. Terlalu pekat. Aku bertahan, menyimpan segala rasa yang aku lihat sedari aku beranjak menjadi gadis, atau bahkan sebelumnya . Entahlah. Tapi yang aku tahu pasti, saat aku bertumbuh, aku hanya mampu menyimpannya dalam diam, dan bergerak dalam diam. Bahkan saat aku menangis, aku tak mampu mengeluarkan suara tangisan, hanya helaan nafas panjang dan berat.

silence

Karena aku perempuan katanya. Nrimo, harus menjadi sifatku. kemudian aku hanya mampu menatap dua bola matanya nanar. Dan jika sudah begitu maka ia akan beranjak dari hadapanku untuk memasuki kamarnya, aku tahu  ia menangis, meski ia menangis tanpa suara. Dan aku, aku yang saat itu hanya gadis kecil, akan memeluk bantal kesayanganku, duduk di bawah meja belajarku, membenamkan wajahku pada bantal dan membiarkan air mataku mengalir.  Tanpa suara tentu saja.

Aku membencinya, lelaki itu. Aku membencinya karena dalam darahku mengalir pula darahnya. Aku membencinya karena ia merasa berkuasa atas diriku dan dirinya. Aku tahu ia tak akan pernah memukul kami, tetapi tetap saja aku menbenci sifat dan perlakuannya.  Mungkin lebih baik sakit karena pukulan daripada sakit menyimpan perlakuan.

Maka sejak saat itu. Aku Perempuan, mencoba untuk bertahan dan berjalan tanpa pernah bertanya dan meminta apapun dari lelaki itu. Aku tak pernah berjanji, tetapi sebuah tekat yang membuatku untuk tetap hidup tanpa lelaki itu. Walau aku harus selalu melihatnya.

Sebuah tekat yang tertanam dan mengakar menjadikan aku sebagai mandiri yang hanya aku sendiri penggeraknya tanpa orang lain. Tapi pada suatu masa, saat aku bertanya padanya, mengapa ia bertahan dengan lelaki itu. Ia hanya menjawab, karena kau perempuan. “Kau” yang dengan jelas ditujukannya untukku. Aku membantahnya, tapi aku mampu untuk  hidup tanpanya, bagiku lelaki itu sudah lama mati. Ia menatapku tak percaya. Karena selama lelaki itu hidup kau membutuhkannya untuk kehidupanmu yang baru, Sanggahnya. Ah, sebuah pernikahan. Tentu saja. Dan dengan jelas aku mengatakan padanya, sudah cukup selama ini, tak akan pernah ada pernikahan, karena aku mampu berdiri. Lelaki tetap saja lelaki, ia akan menjadi kucing jantan yang tak akan pernah puas dengan satu betina.

Maka aku tak lagi pernah percaya dengan cinta. Persetan dengannya, dan aku tak akan pernah sama lagi. tak akan ada lagi nrimo, tak akan ada lagi tangisan dalam diam. Tak akan ada lagi lelaki itu untuk selamanya.

Langit sudah pekat. Kemudian tetap dalam diam aku mulai bergerak. Sebuah benda dalam genggamanku cukup untuk menebas otakknya dalam sekali tarikan. Jangan kau kira, perempuan diam karena ia tak mampu, justru dalam diam ia akan menyakitimu. Maka selesailah sudah malam lelaki itu. Dan aku tetap dalam diam melangkah pergi.

 

Tgr, 16 Jan 2014

 

13 Comments to "Perempuan Dalam Diam"

  1. J C  26 January, 2014 at 15:07

    Wuiiihhh…cukup menyeramkan ini…

  2. ariffani  24 January, 2014 at 20:31

    @Pak DjasMP : antara cerita pribadi yang diatur sedimikian hingga akhirnya menjadi fiksi
    apa karena hawa diciptakan dr tulang rusuk Adam , sehingga dia bisa semena-mena??

    @mbak Henny : bikin ceritanya sambil nangis ini mbak

    @Pak DJ : terimakasih atas joke-nya pak
    tidak perlu minta maaf pak, tidak ada yang salah, tak semua harus selalu di mengerti sepenuhnya kn pak??
    ,

    aku disini hanya org ke3 , yang hadir karena adanya pernikahan.

  3. Lani  23 January, 2014 at 23:56

    8 DJASabangputih : nah tuh………….jgn sampai dibaca oleh kang Anuuuuuuuu……….yg sama2 ekornya kg dibelakang………….kkkkkk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.