Surat untuk Vita Sinaga Hutagalung, yang telah mengirim surat kepada Ibu Ani

Toha Adog

 

*Surat untuk Vita Sinaga Hutagalung, yang telah mengirim surat kepada Ibu Ani Yudhoyono, yang kemudian suratnya dihapus dari layanan Kompasiana.

Vita Sinaga Hutagalung yang baik, yang tinggal nun jauh di lereng Sinabung yang penuh nestapa, pertama-tama harus saya katakan bahwa saya merasa bersyukur sempat membaca surat yang Anda tulis dan tujukan untuk Ibu Ani, sebelum akhirnya surat itu dihapus dari layanan Kompasiana, portal media warga/citizen media terbesar di Indonesia (konon akibat dinilai melakukan serangan fisik dan melakukan kritik yang tidak konstruksif).

Perlu diketahui bahwa saya, seperti juga Anda Vita Sinaga Hutagalung, adalah penggemar berat Ibu Ani beserta foto-foto hasil jepretan tustelnya. Karena seluruh jepretan tustelnya tersebut, seperti juga yang telah Anda bilang, memang begitu menggembirakan, sekaligus menyentuh, dan oleh karena itu dapat mengobati duka nestapa umat manusia di seluruh sudut Indonesia ini. Jujur saja, setiap kali saya melihat foto-foto Ibu Ani yang terdapat di akun Instagram miliknya, saya selalu merasakan semacam getaran yang aneh di sekitar dengkul saya. Getaran aneh di dengkul saya itu adalah pertanda bahwa hati saya benar-benar tersentuh. Sekadar catatan, dengkul saya sangatlah sensitif dan tidak mudah dibohongi.

Bahkan lebih dari Anda Vita Sinaga Hutagalung, saya merasa bahwa sayalah penggemar terberat dan tersejati dari Ibu Ani. Dan seandainya diadakan lomba tentang siapa pendukung terberat Beliau, saya yakin saya bahkan dapat masuk ke dalam sepuluh besar (peringkat satu sampai sembilan dipenuhi oleh keluarganya). Kemudian, seandainya lagi, saya mendapat hadiah karena lomba itu, tentu hadiah itu, karena rasa cinta saya, akan saya persembahkan kembali, beserta sebuah sujud, kepada Beliau.

Namun Vita Sinaga Hutagalung yang baik dan gatal-gatal karena debu gunung Sinabung, melalui surat ini saya hendak menyampaikan sedikit keberatan tentang penggambaran Ibu Ani yang terdapat di dalam surat Anda, yang menyebutkan bahwa beliau mempunyai “wajah jelita dan bulat mukanya”. Oh tidak, penggambaran itu terasa kurang tepat bagi saya dan oleh karena itu, demi kebenaran, saya berniat untuk meralatnya. Bagi saya, dengarkan ini, selain berwajah jelita dan bulat mukanya, ibu Ani juga berdagu runcing menawan hati. Saya heran kenapa Anda melewatkan bagian penting itu.

Vita Sinaga Hutagalung yang baik dan tinggal jauh di pelosok Sinabung yang penuh derita, di dalam surat Anda saya juga dapat merasakan sedikit nada tidak puas di dalam tulisan Anda. Anda memuji tapi juga menyindir. Terdapat sarkasme di sudut-sudut kalimat Anda. Mungkin karena itulah Kompasiana kemudian menghapus surat Anda karena memang hal semacam itu tidaklah elok untuk budaya Indonesia yang luhur.

Maksud saya, apa sih yang sebenarnya Anda harapkan dari sosok Ibu Ani? Kenapa Anda mencoba menambahi beban hidupnya dengan persoalan gunung meletus yang nun jauh entah di mana itu? Apakah Anda tidak tahu bahwa memotret, entah pemandangan alam atau binatang-binatang dan apalagi keluarga (aih, terutama Ibas yang lucu, menggemaskan dan selalu memakai lengan panjang), dan kemudian mengunggahnya di Instagram, atau Twitter, atau Facebook, adalah hal yang tidak mudah? Kalau di awal dan di tengah surat Anda seolah begitu memahami dan menyukai seluruh kegiatan Beliau dengan tustelnya, lalu kenapa di akhir surat Anda berbalik menghujatnya?

Vita Sinaga Hutagalung yang baik dan sedang kelaparan di pengungsian, janganlah menjadi rakyat yang cengeng. Jangan merajuk dan memperolok Beliau dan juga sederet menteri yang sedang sibuk nyaleg lagi. Lagipula, siapa yang menyuruh gunung Sinabung meletus di tahun menjelang Pemilu? Saran saya, sebagai rakyat tetaplah teguh untuk selalumenonton foto-foto Instagram Ibu Ani sekeluarga yang berbahagia. Sudah benar sikap Anda yang tidak mengeluh akan derita di pengungisan. Sudah tepat sikap Anda yang tidak mengeluh meskipun sakit, kurang makan, kurang pakain, tak ada obat-obatan, tak ada selimut, tak ada pembalut wanita, tak memiliki tempat bekerja karena tanah pertanian hancur, dan seterusnya dan seterusnya itu. Pertahankanlah itu. Kalau perlu tingkatkanlah. Dan sekadar informasi, Ibu Ani telah mempunyai tustel sejak tahun 1976. Beliau telah mengenal fotografi jauh sebelum instagram ada. Beliau telah melakukan hobinya jauh sebelum gunung Sinabung mempunyai rencana untuk meletus. Jadi, mikir dong, jangan ganggu Beliau.

Vita Sinaga Hutagalung yang baik dan sedang meringkuk kedinginan di pengungsian, Maafkanlah saya apabila terdengar emosional. Sebagai penggemar berat yang masuk sepuluh besar, tentulah saya merasa perlu untuk membela Ibu Ani. Apalagi hari ini saya juga membaca berita kalau beliau sedang susah tidur beberapa hari terakhir ini. Apakah ada masalah dengan akun Instagramnya? demikian tebak saya khawatir. Ah, semoga beliau baik-baik saja.

Vita Sinaga Hutagalung yang baik dan mungkin sedang terserang demam, apapun itu terimakasih untuk surat terbuka yang telah Anda tuliskan. Janganlah berhenti menulis. Ke depan tulislah sesuatu yang konstruktif (semisal tentang bagaimana membuat foto semut yang sedang koprol, berbagi resep pepes kepala ikan dan gulai kepala sekolah, tip dan trik beternak lele raksasa, prospek budidaya jamur kuping bertindik, dan seterusnya dan seterusnya) agar suratmu tidak lekas dihapus dari portal media warga terbesar di Indonesia.

Demikianlah, salam saya untuk seluruh pengungsi gunung Sinabung yang ada di Ambon.

TD

 

Surat Vita Sinaga Hutagalung yang dihapus dari Kompasiana:

Yth. Ibu Ani Yudhoyono, nama sahaya Vita Sinaga-Hutagalung, satu dari puluhan ribu korban letusan Gunung Sinabung yang letaknya di Sumatera, bukan di Jogjakarta atau Magelang. Sahaya ingin sekali menuliskan dan melukiskan Sinabung lewat jepreten tustel seperti Ibu Ani lewat telegram, eh, Instagram. Atau melukiskan keindahan derita Sinabung dengan mengabadikan jepretan kamera dan menampilkan di Instagram. Namun, apa daya. Kami para pengungsi tak memiliki apa-apa lagi.

Ibu Ani yang cantik jelita bulat mukanya, surat ini sahaya tuliskan menjelang kedatangan Bapak Susilo Bambang Yudhonono – suami dan presiden Ibu Ani ke Tanah Karo. Sahaya dengar dan yakin Ibu Ani sangat berperan menentukan kebijakan negara Indonesia, sama halnya para koruptor yang selalu disetujui dan didukung oleh para isteri mereka. Sahaya dengar dari wartawan yang selalu datang ke mari selama enam bulan ini, bahwa Ibu Ani aktif sekali di dunia maya ya Ibu Ani. Kata para wartawan Ibu Ani hobby sekali main Instagram, Twitter dan Facebook.

Ibu Ani yang cantik bulat menarik hati, katanya Ibu bahkan senang sekali mengabadikan apapun. Bahkan bisa juga Ibu Ani ribet mengurus Instagram dan main tustel. Itu adalah aktivitas sangat positif sebagai Ibu Negara. Aktivitas Ibu Ani bermanfaat untuk bangsa dan negara Indonesia. Di situlah kedekatan rakyat sampah jelata dengan para pejabat dan istri pejabat tinggi yang menjulang ke langit ketujuh dapat terjembatani.

Ibu Ani, dengan aktivitas Ibu Ani di Istagram, maka kami sebagai korban Gunung Berapi Sinabung telah tertolong. Dengan melihat kebahagiaan Ibu Ani, Anissa Pohan – yang menjuluki Ibu Ani sebagai mertua terbaik di dunia dan akhirat, cucu-cucu yang cantik dan gagah menarik, Ibas yang berenang dengan baju mau menyelam padahal di kolam renang dangkal, lalu ke pantai dengan memakai batik resmi, itu pertunjukan yang mampu memberikan kebahagiaan buat kami.

Ibu Ani, kami para pengungsi tak membutuhkan apapun selain gambar-gambar di Instagram. Kami tak butuh tanah pertanian yang telah rusak untuk direhabilitasi. Kami tak butuh makanan. Kami tak butuh obat-obatan. Kami tak butuh selimut. Kami tak butuh pembalut wanita. Kami tak butuh pakaian. Kami tak butuh tempat tinggal karena tempat tinggal kami ya di 59 tempat pengungsian selama enam bulan ini. Kami pun tak butuh apa-apa selain melihat dan menonton foto-foto kebahagiaan Ibu Ani sekeluarga melalui Instagram. Instagram Ibu Ani adalah kebahagiaan kami.

Ibu Ani yang cantik jelita dengan muka bulat sempurna. Dari muka Ibu kami tahu Ibu adalah orang paling baik di Bumi, Langit dan Surga nanti. Untuk itu, kami sebagai warga negara merasa puas dan senang berbagi melihat kebahagiaan keluarga Ibu Ani. Sementara di pengungsian ini, kami selama enam bulan, merasakan kurang makan, kurang tidur, kurang nyaman dan kurang kebahagiaan – namun sekali lagi, melihat kebahagiaan keluarga Presiden RI, kami sudah kenyang dan berbahagia. Sudah selayaknya sahaya dan rakyat melayani pejabat dan orang besar serta penguasa. Maka, biarkanlah kami di Tanah Karo dan Sinabung menikmati pengorbanan sebagai hamba kepada penguasa.

Ibu Ani yang terhormat, bolehlah sahaya pesankan kepada Ibu agar memberi tahu Bapak Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhyono, suami Ibu yang besar badannya itu, untuk (1) jangan menetapkan bencana Sinabung sebagai bencana nasional, agar kami tak mendapatkan bantuan berskala nasional, (2) jangan kami diberi bantuan apapun karena kami bangsa Indonesia dan Batak akan pergi ke saudara-saudara kami untuk mencari kehidupan – itu yang banyak diperhatikan bahwa bangsa Batak memiliki kekuatan sendiri, (3) biarkan kami tetap di pengungsiaan selama-lamanya, (4) jangan Ibu Ani hentikan kegiatan main tustel, kamera standard professional seharga Rp 250 juta, untuk menampilkan foto-foto Ibu Ani, Annisa Pohan – anak koruptor bernama Aulia Pohan – dan juga cucu-cucu dan anak-anak tercinta, karena foto-foto Instagram Ibu Ani adalah kebahagiaan bagi kami semua: warga pengungsi yang tak memiliki apa-apa selain air mata.

Ibu Ani yang terhormat, demikian surat Instagram kami. Karena kami tak tahu Istagram itu apa maka mohon maaf yang sahaya tahu adalah telegram di kampung kami dulu. Sahaya pikir dengan menulis Instagram ini, yakni istagram tanpa foto karena tak memiliki tustel, maka pesan yang sahaya sampaikan rasanya sampai. Kami warga korban gunung berapi hanya membutuhkan gambar-gambar yang indah hasil jepretan Ibu Ani di Instagram. Kami di pengungisan sudah puas dan bahagia meskipun kami sakit, kurang makan, kurang pakain, tak memiliki tempat bekerja karena pertanian kami hancur, anak-anak mahasiswa kami sebanyak 25,000 terancam tak bisa bayar uang kuliah dan makan, namun itu semua tak penting. Yang penting kami menonton foto-foto Instagram Ibu Ani sekeluarga yang berbahagia. Itulah rentetan nestapa duka derita sengsara kami selama enam bulan letusan Gunung Sinabung paling dalam yang Ibu tak pernah pikirkan – sama dengan suamimu dan para menteri yang sibuk nyaleg lagi.

Salam bahagia ala saya Ibu Ani Yudhoyono yang cantik jelita bulat sempurna.

 

Penulis : Ninoy N Karundeng

 

15 Comments to "Surat untuk Vita Sinaga Hutagalung, yang telah mengirim surat kepada Ibu Ani"

  1. Remon Suf  14 February, 2014 at 02:47

    Oii..coy..itu ustad Hariri ngijak kepala jemaah…ustad macam apaaan tuh…macam preman

  2. Remon Suf  14 February, 2014 at 02:42

    wah..wah..kok begini jadinya,,nurut saya itu resiko seorang ibu negara suatu bangsa yang harus menjaga action saat berhadapan dengan rakyat nya…sabarr..begitu juga kepada yang membalas surat Vita Sinaga Hutagalung (Dog Toha) sama – sama dak jelas…

  3. J C  26 January, 2014 at 15:26

    Seperti komentar Enief dan Hilda, sebenarnya tidak ada yang salah seorang Ibu Negara ber-instagram atau ber’soc-med yang lain. Hanya saja si Ibu satu ini memang sering jawabannya emosional dan lebay plus melenceng dari komentar yang masuk, jadilah bahan olok-olok yang mantap…

  4. Handoko Widagdo  24 January, 2014 at 07:57

    Terima kasih kepada Pak SBY dan Ibu Ani yang sudah berkenan meninjau korban banjir dan korban Sinabung. Kunjungan Anda sangat berarti bagi para korban.

  5. djasMerahputih  23 January, 2014 at 19:35

    Hanya bisa bersedih dan berharap semoga derita Sinabung segera berlalu.
    Saling maki akan membuyarkan fokus terhadap korban bencana.
    Yang ngetop malah para boneka pencitraan. Korban bencana hanya butuh bantuan dan empati,
    bukan boneka.

    Semoga saudara2 sebangsa di lokasi bencana bisa bersabar dan segera mendapat bantuan yang layak.

    Turut berempati (walau hanya dengan doa dan kata-kata)
    //djasMerahputih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.