Money

Summer Girl

 

Uang memegang peranan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, semua harus dibayar dengan uang, tagihan-tagihan, belanja ini itu, semua menggunakan uang, tetapi walaupun uang itu penting bukan berarti uang itu adalah segalanya, kalau kita mendewakan uang maka bisa jadi kita akan terbentuk menjadi orang yang serakah.

money-is-not-everything

Uang bisa membuat kita bisa kehilangan teman atau saudara dan karena uang pula maka teman atau saudara akan dengan mudahnya datang kepada kita, uang juga bisa membuat hidup kita menjadi sengsara, oleh karena itu uang yang kita miliki harus kita gunakan secara bijaksana agar hidup kitapun menjadi nyaman.

Setiap Sabtu jam 9 malam kalau pas ada di rumah saya selalu menonton acara Suzie Orman show, dia seorang author, financial advisor dan juga motivational speaker. Acaranya cukup menarik berkisar tentang orang-orang yang meminta advice kepadanya bagaimana caranya mengatur personal financial agar terbebas dari segala utang piutang. Pembawaannya yang tegas dan straight to the point membuat saya sangat menyukai acaranya.

Menurut saya sebenarnya sarannya cukup simple dan saya sendiri sudah tahu jawabannya tapi saya tidak mengerti mengapa masih banyak orang yang terlibat hutang yang cukup besar. Banyak di antara mereka yang berpenghasilan besar, di atas 100ribu dollar per tahun tetapi walaupun gajinya besar ternyata utangnya juga besar sehingga penghasilannya selama sebulan tidak cukup untuk menutupi life style mereka.

Ada juga yang seorang dokter muda yang baru lulus dari sebuah unversitas yang cukup mahal, selama kuliah dia mengambil student loan yang cukup besar yaitu 300rb dollar, jumlah yg sangat besar, seharga sebuah rumah. Setelah lulus sebagai dokter muda tentu saja gajinya belumlah besar sehingga dia sangat struggle bagaimana bisa membagi antara membayar student loan, bayar sewa apartment dan juga untuk kebutuhan sehari-hari. Bayangan untuk bisa menikmati hidup yang nyaman dari penghasilannya sebagai dokter masih sangat panjang.

Ada juga seorang wanita yang tinggal di New York City, penghasilannya 120rb dollar per tahun, jumlah yang cukup besar tapi dia bilang dia tidak bahagia dengan pekerjaannya sehingga memutuskan keluar, kemudian dia mendapatkan pekerjaan yang dia suka dengan gaji 80rb dollar per tahun, dengan gaji yang lebih kecil ternyata sangat tidak cukup untuk membayar cicilan apartment-nya di New York City dan juga dia masih memiliki student loan yang tidak sedikit. Jadi walaupun dia sekarang mendapatkan pekerjaan yang dia impikan tetapi ternyata tetap saja tidak bisa membuatnya bahagia karena kenyamanan hidup yang dia dapatkan sebelumnya harus dia lepaskan.

Di episode Sabtu kemarin salah satunya membicarakan tentang seorang wanita muda masih single yang berpenghasilan 2.200 dollar per bulan tetapi ternyata pengeluarannya 4.500 dollar per bulan, utang credit card-nya pada saat ini mencapai 85ribu dollar. Untuk seorang single penghasilan 2.200 dollar per bulan sebenarnya cukup untuk hidup sederhana dan standard tapi dari tayangan tersebut diketahui banyak sekali pengeluaran-pengeluaran yang tidak penting sehingga membuat dia deficit 2.300 dollar per bulan, seperti starbuck 50 dollar per bulan, doggy day care 200 dollar, ke restoran 450 dollar per bulan, ke salon, massage dan masih banyak pengeluaran-pengeluaran yang tidak penting lainnya. Semua orang pasti suka dengan gaya hidup seperti ini, masalahnya apakah kondisi keuangan kita mampu untuk memiliki life style seperti itu?

Dalam kehidupan sehari-hari saya juga sering sekali mendengar permasalahan keuangan seperti ini, beberapa rekan kerja yang mendapatkan gaji yang sama dengan saya tinggal di rumah yang besar, kadang-kadang saya berpikir bagaimana dia bisa membayar itu semua, gajinya habis hanya untuk membayar mortgage dan cicilan mobil sedangkan untuk biaya hidup sehari-hari diambil dari gaji istri/suaminya. Jadi untuk vacation sudah tidak ada uang yang tersisa, vacationnya yang dua minggu itu dihabiskan hanya di dalam kota atau paling jauh ke state sebelah yang bisa ditempuh hanya dengan mengendarai mobil.

money is not everythingSalah satu customer service di tempat saya ternyata adalah master degree, sebelumnya saya tidak tahu karena dari knowledge-nya dia tidak seperti lulusan master, malah dia terkesan seperti orang yang sangat bodoh dan sangat malas. Karena dia sering sekali mengeluh tentang uang maka sayapun bertanya mengapa bisa kekurangan uang, setahu saya gajinya 14 dollar per jam, cukup untuk hidup seorang diri, dia bilang karena dia harus bayar student loan-nya dari awal kuliah sampai lulus master yang telah mencapai 100ribu dollar, saya bilang kalau sudah master degree kenapa bekerja di sini, kenapa tidak cari kerja yang lain saja, dia bilang karena susah mencari pekerjaan lain dan di saat yang sama dia harus sudah mulai membayar student loan.

Sudah menjadi hal yang biasa kalau saya masuk ke break room pembicaraan di antara mereka hanyalah seputar uang dan uang, apalagi yang masih sekitar 20-an, biasanya mereka mengeluh gajinya habis untuk bayar rent, cicilan mobil, untuk makan sehari-hari terpaksa harus membawa dari rumah setiap hari, mau beli sandwichpun harus mikir-mikir kira-kira uangnya cukup atau tidak, kadang-kadang bila tiba waktunya gajian uang yang tersisa di bank hanya 5 dollar saja (secara tidak langsung saya pernah mendengar waktu mereka menelpon untuk mengecek account balance). Buat mereka, pembicaraan tentang uang bukanlah sesuatu yang memalukan, bahkan pada saat kita semua mendengar dari cellphone yang di handsfree “your balance is five dollar fifty two cents” kita semua spontan tertawa dan orang tersebut pun ikut tertawa sambil berkata “see, I don’t have money at all, how can I go to the party this weekend”.

Kadang-kadang saya hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang suka kesal karena kehabisan uang karena saya sendiri sudah melewati itu semua di saat masih berumur 20-an, hanya bedanya kalau dulu uang saya benar-benar pas-pasan sedangkan untuk mereka sebenarnya masih banyak pos-pos pengeluaran yang bisa di cut, seperti manicure pedicure yang merupakan keharusan buat mereka, ke salon to get hair done juga merupakan keharusan padahal percuma juga sering-sering ke salon karena rambut mereka hanya terlihat bagus dari luar tapi sebenarnya kalau didekati cukup smelly karena mereka jarang keramas. Cell phone plan yang mereka miliki kira-kira sekitar 100 atau 150 dollar setiap bulan, jumlah yang sangat besar, tidak masalah kalau mereka memiliki uang untuk membayarnya tapi kalau uangnya pas-pasan kenapa tidak memakai pre-paid cell phone saja, rata-rata mereka memiliki iPad atau tablet jadi kenapa tidak membawanya ke tempat kerja, selain itu di sini di mana-mana ada wifi, grocery store, department store, coffee shop, semua menyediakan service free wifi.

There is nothing more beautiful than confident woman, kata Suzie Orman, saya setuju dengan pernyataan ini, kalau untuk masalah percintaan factor luck saya nol persen sehingga saya seperti orang yang tidak punya rasa percaya diri tapi untuk masalah keuangan saya sangat confident, kemampuan saya mengatur keuangan sendiri membuat saya sangat percaya diri bahwa suatu saat hidup saya pasti sukses secara financial. Dia bilang “just because you can afford it, it doesn’t mean you should buy”, our attitude toward money juga ikut menentukan apakah kita termasuk orang yang responsible yang bisa menentukan apakah hidup kita akan bahagia nantinya, pernyataan ini benar sekali.

Saya sudah menjadi tulang punggung buat ibu dan adik saya pada saat berumur 18 tahun, di saat itu di mana teman-teman saya masih menikmati indahnya masa remaja saya sudah harus berhadapan dengan real life, kerasnya kehidupan. Pada saat lulus SMA seorang sepupu saya menawarkan pekerjaan sebagai sekretaris di sebuah perusahaan real estate, perusahaan yang cukup besar tetapi karena direkturnya itu seorang yang sombong sekali jadi sekretaris yang bekerja di sana tidak ada yang bisa bertahan lama, biasanya hanya bertahan hitungan bulan saja. Dari awal saya sudah diperingatkan tentang bagaimana karakter si direktur tersebut, karena saya sangat membutuhkan pekerjaan tentu saja tawarannya saya terima.

Ternyata memang benar, direktur tersebut sangatlah sombong, mungkin karena dia merasa sangat kaya, kalau memanggil karyawannya selalu tidak pernah menyebut nama, hanya “hey kamu, ke sini sebentar”, sangat tidak professional, kalau memberikan dokumen ke saya sering dilemparkan ke atas meja sambil bilang “ketik surat ini” tanpa pernah menyebut nama saya. Ingin sekali rasanya berhenti tapi apa boleh buat, walaupun tidak suka tapi saya harus tetap bekerja demi uang sambil terus berpikir positif siapa tahu kalau sudah berpengalaman bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Gaji yang saya terima tiap bulan saya atur dengan hati2 supaya cukup untuk makan dan biaya sekolah adik saya, tidak pernah saya berpikir untuk bersenang-senang pada saat itu, untuk ke salon pun sisa uangnya sudah tidak ada.

Setiap hari saya berangkat kerja di jam yang sama, di dalam bis pun selalu bertemu dengan orang-orang yang sama, 10 bulan kemudian seorang bapak-bapak berusia sekitar 45 tahun bertanya saya ini bekerja dimana, sebagai apa, kemudian dia bilang seorang temannya mencari staff di bagian HRD, dia butuh cepat karena staff yang lama mendadak resign, kalau saya mau kirim lamarannya melalui dia. Besoknya saya bertemu lagi dengannya di bis, saya berikan lamaran kerja tersebut, agak takut waktu itu, siapa tahu dia bohong tapi kelihatannya orangnya baik.

Ternyata dia tidak bohong, saya bertemu lagi keesokan harinya di bis, dia bilang silakan datang ke kantor tersebut tanggal sekian jam sekian bertemu dengan manager A untuk interview. Pada tanggal yang telah disebutkan sayapun datang untuk interview dan langsung diterima, gaji yang saya terimapun lumayan lebih besar dari yang pertama. Sangat sulit untuk bisa diterima dengan akal, bagaimana mungkin saya bisa mendapatkan pekerjaan dari perkenalan di bis, komunikasi tidak melalui telpon karena di tahun 1993 saya belum ada handphone dan juga tidak punya telpon rumah. Setelah bekerja di tempat yang baru saya tidak pernah bertemu dengan si bapak.

Berbeda dengan company yang pertama, di sini atasan saya sangat baik tetapi tidak dengan karyawan-karyawannya, terutama ada dua sekretaris yang selalu bersikap seolah-olah mereka berdua yang memiliki perusahaan. Karakter karyawan-karyawan di company tersebut sangat sombong, mereka merasa senior dan orang-orang baru selalu diperlakukan seperti orang asing, tidak pernah menegur kecuali saya menegur lebih dahulu, sangat kampungan. Ingin sekali rasanya keluar tetapi apa boleh buat, saya masih butuh uang dan sekali lagi saya harus tetap berpikir positif. Kebutuhan hidup makin meningkat sehingga gaji yang lebih besarpun tetap saja terasa pas-pasan.

Setelah mengikuti berbagai macam pelatihan setahun kemudian saya dipindah ke bagian lain, banyak yang berkomentar kok saya mau-maunya dipindah ke bagian lain dengan pekerjaan lebih banyak tanpa ditambah kenaikan gaji. Seperti biasa pikiran saya tetap positif siapa tahu ini bisa dijadikan batu loncatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Setelah 7 tahun bekerja di company yang kedua, tiba-riba teman saya di company yang lain yang tahu bagaimana kinerja saya menelpon dan bilang kalau di perusahaannya sedang butuh seorang karyawan untuk menangani satu client yang berhubungan dengan cargo, karyawan lama tiba-tiba minta berhenti. Dia bilang sebenarnya kriterianya harus minimal S1 tapi kalau saya mengerti tentang urusan cargo export import kata atasannya tidak masalah.

Hanya dengan satu kali interview saya langsung diterima, gajinya sangat lumayan, membuat saya bisa bernafas sedikit. Kondisi di company ketiga jauh lebih bagus, atasannya baik dan karyawan-laryawan semuanya pun juga baik, bonusnya tiap tahun sangat lumayan, sayapun sering keluar kota (sayang sekali hanya 4 tahun saya bekerja di kantor ini karena saya resign dan pindah ke sini).

Baru sebentar saya menikmati gaji yang lumayan besar tiba-tiba rumah saya terkena banjir, terpaksa saya harus hidup hemat lagi agar bisa membeli rumah lain. Sepertinya selama bertahun-tahun saya bekerja tidak pernah sedikitpun saya memikirkan diri sendiri, semua yang saya miliki selalu dengan suka rela saya bagi dengan ibu dan adik saya, bahkan dulu saya rela tidak bisa membeli baju agar adik saya bisa tetap kuliah.

Sikap saya yang selalu positif dalam memandang hidup ini ternyata secara tidak langsung pada akhirnya membuat rezeki selalu mengalir dengan deras. Pekerjaan yang saya miliki selalu didapatkan dengan mudah, padahal banyak teman saya yang lulusan S1 bahkan master degree hanya bekerja dengan gaji dan posisi yang biasa, walaupun dari luar sepertinya mereka sukses karena memiliki rumah dan mobil tapi sebenarnya semua itu didapat dari bantuan atau warisan dari orang tuanya.

Sudah sewajarnya saya bangga dengan diri sendiri, apa yang saya dapatkan adalah hasil kerja keras saya sendiri, sikap saya yang saya responsible terhadap uang membuat hidup saya terbebas dari utang piutang. Dan setelah saya renungkan ternyata benar apa kata pepatah bahwa rezeki tidak akan ke mana karena memang sudah ada yang mengatur, tentunya selama kita juga bekerja keras, semua uang yang saya keluarkan untuk membantu ibu dan adik saya dulu sepertinya sudah tergantikan pada saat ini berikut dengan bunga-bunganya.

 

21 Comments to "Money"

  1. Awettua  29 January, 2014 at 21:01

    Saya sudah melalui banyak jaman, jaman Jepang, jaman belanda agressor dan jaman Repoeblik Indonesia. Semua jaman memerlukan uang. Kita sedang jelek secara financial, tetap saja perlu uang, dan kondisi sebaliknya tetap saja memerlukan uang. Yang paling penting kita bisa memberlakukan seperti berikut: UANG ITU ADALAH ALAT PEMBAYARAN. JANGAN SAMPAI KITA ITU DIPERALAT OLEH UANG. Seperti ungkapan Money on MY BACK itu rasanya sedikit saja berbeda huruf k menjadi MONKEY ON MY BACK
    Betullll ??
    Semoga semua orang bisa selalu bijak terhadap kebutuhan sendiri, tidak usah meniru siapapun. Pikir sendiri, bijaklah dan nikmatilah yang ada. Do not pawn your future dengan cara meminjam.

    kirim salam,
    Awettua – 2014 / 01 / 29

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.