Mengenang Mandela dalam Demokrasi Kita

Alfred Tuname

 

Demokrasi selalu menjadi sesuatu yang bagus (good thing), meksipun Plato sendiri tidak memandangnya sebagai sesuatu yang penting pada zamannya.  Sesuatu yang bagus itu terletak pada fundamen idealnya an sich yakni kebebasan (eleutheria) (Bernard Crick, 2002). Perjuangan politik Nelson Mandela didasarkan atas sesuatu yang kurang pada demokrasi Afrika Selatan, yakni kebebasan.

nelson-mandela

Demokrasi selalu mengandaikan adanya logika kurang (logic of lack). Logika kurang ini melahirkan perjuangan politik untuk menyentuh kondisi kebebasan yang luruh dalam demokrasi. Belenggu keterpenjaraan rakyat Afrika Selatan oleh sistem apartheid adalah ketakhadiran kebebasan pada rezim demokrasi. Kebebasan itu menjadi ketakmungkinan dalam ideologi politik kaum nasionalis Afrikaner (Afrikaner Volkseenheid) dan Partai Nasional (Nasionale Party).

Akan tetapi situasi keterpenjaraan itu menjadi condition of possibility lahirnya sosok heroik bagi rakyat Afrika Selatan dan figur inspiratif masyarakat dunia. Dia adalah Nelson Mandela.

 

Pemimpin Demokratis

Masa kecilnya, Nelson Mandela dikenal sebagai pembuat masalah (trouble maker). Title kecil “pembuat masalah” itu diambil dari nama tengahnya, Rolihlahla. Ia bernama Madibadari klan terhormat, Xhosa dan bernama Nelson setelah ia bersekolah. Nama khas Eropa itu diberikan oleh seorang guru yang terinspirasi oleh pahlawan angkatan laut kerajaan Inggris (bdk. Elleke Boehmer, 2008). Nama Nelson Rolihlahla Mandela menjadi nodal point yang menandakan perlawanan, derajat sosial tinggi dan heroisme dalam dirinya. Nelson Mandela, kemudian ia dikenal, berkembang dari anak “pembuat masalah” menjadi seorang pemimpim berprinsip.

Nelson Mandela menjadi pemimpin berprinsip tidak lepas dari getir perjalanan hidupnya yang luar biasa. Ia menjadi satu-satunya tahanan politik terlama (selama 27 tahun). Perjuangannya adalah membebaskan orang Afrika Selatan dari rezim politik rasisme (apartheid). Ia pun dibebaskan pada tahun 1990. Dalam bukunya “Long Walk To Freedom” (1995), ia menulis, “i have walk that long road to freedom… but i can rest only for a moment, for with freedom come responsibilities, and i dare no linger, for my long walk is not yet ended”. Kebebasan Nelson Mandela dari penjara bukan saja sebuah keterlepasan belenggu pribadi, tetapi juga merupakan hadiah bagi kebebasan rakyat Afrika Selatan dan dunia. Serentak, Nelson Mandela menjadi ikon perdamaian dunia. Bagi dunia yang selalu dilanda kesengsaraan dan kemelaratan, kekebasan dan keadilan bukanlah mitos. Nelson Mandela sudah membuktikannya.

Bukti perjuangan Nelson merupakan pengakuan hak-hak kemanusiaan. Fidel Castro (1991) pernah menulis “if one wanted an axample of an absolutely upright man, that man, that example would be Mandela”. Nelson Mandela benar-benar menjadi figur pemimpin yang benar-benar pejuang kemanusiaan. Dia adalah simbol perjuangan politik. Perjuangan politik Nelson Mandela adalah persamaan hak untuk semua; tanpa perbedaan ras, kelas pun jender. Inilah demokrasi itu, seperti pengertian demokrasi menurut Jaques Rancière. “Democracy is properly speaking an act of political subjectivization that disturbs the police order by polemically calling into question the aesthetic coordinates of  perception, thought, and action” (Jacues Rancière, 2005). Di sini, Nelson Mandela menjadi aktor politik yang mendobrak sistem pemerintahan (the police order) dan ideologi politik yang rasis.

Sebagai pemimpin, prinsip mulia demokrasi dan kebebasan selalu ia dengungkan pada setiap kesempatan berbicara. Tentang ini, Richard Stengel dalam bukunya “Mandela’s Way” (2008) menulis, “he knows that a transformational leader does not talk about poll or votes or tactics but about principles and ideas”. Nelson Mandela-lah pemimpim transformasional itu. Sebagai pemimpin transformasional, ia mampu membesaskan warga Afrika Selatan keluar dari politik apartheid yang menyengsarakan. Pada masa transisi, ia menggawangi demokrasi sehingga menciptakan masyarakat Afrika Selatan yang  benar-benar damai. Bagi Afrika Selatan, demokrasi sejati juga lahir dari kekuatan untuk memaafkan. Demokrasi sulit meretas jika rasisme dan kekerasan masih beranak-pinak.          

 

Mandela bagi Kita

Nelson Mandela telah berpulang pada tanggal 05 Desember 2013. Sekarang sudah sebulan lebih pejuang demokrasi itu kembali ke asal kedamaian.

Bagi bangsa Indonesia, demokrasi tanpa rasis merupakan warisan Nelson Mandela meski tanpa surat wasiat. Nelson Mandela adalah simbol perdamaiann dunia. Perjuangannnya harus menjadi inspirasi bagi pemimpin-pemimpin negeri. Bahwa menjadi pemimpin adalah buah dari perjalanan panjang mengangkat hak-hak rakyat yang terabaikan (non part dalam istilah Rancière).

Rakyat Indonesia sudah terlalu lama mendambakan pemimim yang benar-benar memperhatikan nasip rakyat. Rakyat belum bebas dari derita kemiskinan dan penderitaannya. Di tengah penderitaan itu, para pemimpin negeri ini sibuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Korupsi, kolusi dan nepotisme masih saja menjadi bagian dari kerja para pemimpin. Maka, dengan sendirinya terjadi dikotomi antara kelompok masyarakat yang sangat miskin dan kelompok masyarakat yang sangat kaya. Ketidakadilan ini merupakan “new apartheid” dalam demokrasi ekonomi kita.

Demokrasi ekonomi yang merata masih menjadi utopia akut bangsa ini. kekayaan bangsa ini hanya dinikmati oleh oleh para pemimpin berikut kroni-kroninya. Actus politik tidak lagi untuk mendistribusikan kekayaaan bangsa secara merata, melainkan hanya berhenti pada penimbunan kelompok tertentu. Pemimpin politik bangsa ini masih memiliki pola pikir “disktriminatif” dalam konteks pembangunan ekonomi.

Kontestasi politik 2014 nyaris sudah di depan mata. Rakyat Indonesia harus benar-benar membuka mata, pikiran dan hati untuk memilih pemimpin-pemimpinnya, baik di legislatif maupun di eksekutif. Pemimpin yang harus kita pilih seharus pemimpin yang akrab dengan perjuangan rakyat. Pemimpin itu adalah pemimpin yang sudah lama berjuang bersama rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat itu sendiri. Pemimpin yang lahir dari kelompok bermodal ekonomi hanya akan menyengsarakan rakyat. Sebab, kepentingan pemimpin seperti itu adalah akumulasi kepentingan ekonominya sendiri.

Pemimpin yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri adalah pengecut. Ia adalah Brutus yang mengkhianati rakyatnya sendiri. Brutus selalu memilih jalan pintas untuk jadi pemimpin, yakni dengan modal ekonominya ia mempengaruhi politik. Padahal, di tengah krisis kepemimpinan, bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang berani. Pemimpin yang berani seperti Nelson Mandela, sebab ia mendekonstruksi segenap ketakmungkinan dalam demokrasi. Selain berani, Nelson Mandela adalah inspirasi bagi pemimpin otentik. Pemimpin otentik adalah pemimpin yang selau bersama dengan rakyat dan mengangkat harkat derajat rakyat itu sendiri. Karena itulah Nelson Mendala pernah mengatakan “pretend to be brave dan you not only become brave, you are brave” (Richard Stengel, 2008). Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang berani. Itu saja.

 

Awal Tahun 2014,

Alfred Tuname

 

8 Comments to "Mengenang Mandela dalam Demokrasi Kita"

  1. Lani  29 January, 2014 at 07:12

    Aku pilih kang Djas jd pemimpin pasti semuanya bisa BERANI………..

  2. J C  28 January, 2014 at 20:33

    Saya beruntung hidup di abad orang-orang hebat! Mandela, Bill Gates, Lady Diana, Pope John Paul II, Pope Francis…

    Eh, tapi memang “SELALU ADA PILIHAN” ya…

  3. Dj. 813  28 January, 2014 at 00:02

    Banyak manusia yang mengumbar janji.
    tapi setelah memimpin, toch hanya kepentingan diri sendiri yang diutamakan….
    Nah ya,namanya juga manusia.
    Dj.malah salut dengan Ahmad dineja, saat memimpin Iran.
    Walau banyak tantangan, tapi dia memberi contoh dengan hidup sederhada.
    tanpa kemewahan.
    Salam,

  4. alfred Tuname  27 January, 2014 at 20:30

    Perjuangan Madiba selalu menginspirasi dan menjadi teladan banyak orang…. salam Baltyra semuanya… hehehe

  5. Handoko Widagdo  27 January, 2014 at 17:20

    Meski beliau ada di Afsel, tetapi teladannya sampai juga ke pelosok Indonesia.

  6. Alvina VB  27 January, 2014 at 10:31

    Djas, ditambahin ya…
    BERANI bilang NOOOOOOOOOOOOOOO utk KORUPSI, KOLUSI & NEPOTISM

  7. djasMerahputih  27 January, 2014 at 09:24

    “……Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang berani. Itu saja.!”
    —————————————-

    BERANI berkata jujur
    BERANI membuka topeng
    BERANI berkata TIDAK
    BERANI tidak populer
    BERANI tapi CERDAS!!
    ……………………. ( silakan ditambah sendiri… )

    RIP Mandela
    Salam anak Negeri,
    //djasMerahputih

  8. djasMerahputih  27 January, 2014 at 08:57

    SATOE: LOVE MANDELA

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.