Tentang Minoritas: Ada tapi Tiada

Wesiati Setyaningsih

 

Entah kenapa sering kali kita menganggap apa yang disuarakan oleh sebagian besar orang itu berarti pilihan bagi semua orang. Padahal belum tentu demikian. Ada segolongan kecil orang yang juga harus didengar suaranya.

Setengah tujuh pagi saya sampai di kantor dan duduk di meja saya, melihat jadwal hari ini lalu memikirkan materi yang akan saya sampaikan. Jam tujuh pagi bel masuk berbunyi, briefing dimulai. Kepala Sekolah kami yang sekarang selalu memberikan briefing pagi diawali dengan doa bersama. Yang memimpin doa biasanya guru agama Islam, kalau tidak ada biasanya diganti oleh Wakil Kepala Sekolah. Dan selalu mereka mengawali begini,

“Mari teman-teman kita berdoa lebih dahulu untuk mengawali hari ini. Berdoa menurut kepercayaan masing-masing, Al Fatihah!”

Saya menunduk, berdoa sambil berpikir, mengingat-ingat, bahwa di kantor tidak semua beragama sama. Ada satu dua orang yang beragama lain dan pasti mereka tidak berdoa Al Fatihah. Tapi saya tak berani mengatakan apa-apa. Paling cuma menjadikannya status Fesbuk.

Setelah berdoa Kepala Sekolah menyampaikan informasi-informasi penting. Begitu selesai, saya beranjak dari kursi seraya mengambil laptop dan map plastik berisi buku pegangan, daftar nilai dan agenda mengajar, dan bergegas ke kelas. Melewati kelas-kelas lain sebelum sampai ke kelas saya, ada dua anak yang bertahan di luar kelas meski teman-temannya bergegas masuk kelas begitu melihat saya dan beberapa teman keluar dari ruang guru.

Teman saya, yang berjalan bersama saya bertanya, “Lho kamu kok nggak masuk kelas?”

“Agama, Bu.”

“Oh, iya. Kalo agama kamu di luar kok ya?”

Anak itu tertawa kecil, “Iya, Bu. Sudah biasa terlunta-lunta kok, Bu..”

Saya dan teman saya berjalan menuju kelas kami masing-masing. Benak saya penuh dengan kata-kata anak tadi, “sudah biasa terlunta-lunta”.

Segera kenangan saya berloncatan, dimulai ketika saya duduk di bangku SD dan terheran-heran kenapa waktu pelajaran agama teman-teman saya yang tidak beragama Islam disuruh keluar dari kelas oleh Bu guru agama. Nalar saya sebagai anak kecil mempertanyakan hal tersebut, apalagi ketika Ibu guru agama kemudian mengatakan hal-hal yang sekiranya tidak menyenangkan bila didengar teman-teman saya yang keluar dari kelas itu. Hal itu terjadi di sekitar tahun 80-an.

Di rumah, Bapak saya ribut. Katanya,

“Sekarang ini aneh, upacara hari Senin ndadak pake doa segala. Sudah begitu doa yang dibaca doanya orang Islam. Apa ya yang upacara itu orang Islam semua? Kan enggak! Ngapain pake gitu segala? Mengheningkan cipta saja kan cukup! Neko-neko.”

Mendengar itu Ibu saya bilang, “halah sudah. Nggak usah ribut, nanti kalau kedengaran orang Islam lain dikira kita ini gimana. Sudah lah.”

Nalar saya yang masih anak-anak mulai bertanya-tanya, apakah memang mereka yang minoritas itu tidak perlu dihormati dan pantas saja kalau dianggap tak ada? Mereka ada, tapi dalam banyak sisi dianggap tidak ada.

Waktu berjalan dan saya menjadi dewasa dengan pertanyaan yang bukan hanya tak terjawab tapi semakin menjadi-jadi dan berubah menjadi gugatan tak henti. Apa yang harus saya lakukan? Sebuah kebiasaan yang sudah berjalan sangat lama, tiga puluh tahun lebih, akan dianggap sebagai tradisi dan tidak akan ada keinginan untuk mengubahnya. Kami yang tidak setuju tidak punya keberanian.

majority-rules

Pagi ini di kelas, sambil menunggui murid-murid mengerjakan soal yang saya berikan, benak saya penuh dengan pertanyaan, gugatan dan penyesalan yang berpilin satu sama lain. Saya sangat tertohok dengan ungkapan bahwa bila kita diam saja ketika melihat ketidakadilan maka kita sama saja dengan melakukan ketidakadilan itu. Entah kata-kata siapa, saya lupa.

Pagi ini, setelah muncul sejak lama sekali, pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah pergi itu membuat saya nyesek. Sementara saya tidak bisa melakukan apa-apa selain menulis catatan di fesbuk.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

46 Comments to "Tentang Minoritas: Ada tapi Tiada"

  1. Dj. 813  9 February, 2014 at 21:04

    *** “Sekarang ini aneh, upacara hari Senin ndadak pake doa segala. Sudah begitu doa yang dibaca doanya orang Islam. Apa ya yang upacara itu orang Islam semua? Kan enggak! Ngapain pake gitu segala? Mengheningkan cipta saja kan cukup! Neko-neko.” ****

    —————————————————————————————

    Mbak Wess…
    Dj. senang membaca apa yang ayah mbak Wess ucapkan….
    Seoleh-oleh Dj. bisa dengar sendiri, pernyataan tersebut.

    Sebagai orang asing di Jerman, juga banyak yang mengalami hal yang sama.
    Orang Jerman, menyebutnya ” AUSLAÄNDER ”
    Kalau di terjemahkan secara hurufiah, maka artinya ” orang dari negera lain.
    Dan kata ini sudah menjadi kata makian, karena dianggap sebagai orang yang masih terkebelakang.
    Lain kalau mereka menyebut dengan kata ” FREMDE ” ( orang asing ), itu masih sangat bagus.

    Tapi ini kita juga harus bisa melihat, karena banyak pekerja kasar yang didatangkan dari negara ke tiga.
    Mereka tudak mau menyesuaikan diri dengan lingkungan, walau sudah puluhan tahun, tapi tidak juga bisa
    berbahasa Jerman. Mereka lebih suka memakai bhs mereka sendiri.
    Jadi mereka biasanya mennutup diri.
    Apalagi kalau dengar mereka yang dari Turki atau afrika, mereka hanya berkata, uang Jerman bagus, tapi orangnya tidak. Akhirnya sering terjadi benturan, karena saling merasa takut.
    Takut kalau orang asing semakin berkembang di Jerman.
    Sedang orang asingnya, takut akan apa yang sering terjadi yang dilakukan oleh orang-orang yang anti orang asing.

    Puji TUHAN …!!!
    Sampai sekarang kami tidak mengalami hal-hala yang demikian, karena kami juga selalu berusaha untuk menyesuaikan diri. Walau anak-anak kami berambut hitam dan dari kulit mereka juga bisa dilihat bahwa mereka bukan orang Jerman asli. Olehnya kami selalu ajarkan, agar lebih bersabar dan menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak wajar.

    Dj. pikir ini semua tergantung kepada kita saja, bagaimana kita menyikapinya.

    Saat kecil, karena keluarga beragama islam, jadi Dj. juga belajar ngaji dan baca alquran.
    Olehnya, kadang Dj. berdiri dantara orang asing dan orang Jerman.
    Contohnya, orang turki yang sering mengundang Dj. agar masuk agama islam.
    Dj. jawab, Dj. tahu apa itu, mereka ingin Dj. belajar membaca “alfa tihah “.
    Dj. hanya berkata, dengarkan apa yang Dj. ucapkan, mereka kaget dan selalu bilang, kamu orang islam.
    Dj. jawab dengan tegas, Dj. KRISTEN . . . ! ! !
    Mereka kadang keheranan, bagaimana mungkin ?
    kamu bisa baca alfa tehah dengan baik, kok bilang Kristen….???
    Satu kesempatan, Dj. bacakan surat-surat yang lainnya, mereka sampai geleng kepala.
    Sehingga orang Jerman yang saaat itu duduk disatu meja, dia bekata kepada Dj. dan minta dibelikan alkitab.

    Dalam keluarga besar Dj., baik yang di semarang, pun yang di Surabaya, baik yang islam, pun yang kristen.
    Kami hidup rukun dan tidak pernah mempersoalkan agama.
    Baik juga teman-teman pilot yang islam, kalau mereka kerumah, mereka akan sholat, kami sediakan kamar agar mereka bisa ssholat dengan tenang.

    Mau mayoritas kek, mau minoritas kek, Dj. rasa kita juga turut bertanggung jawab.
    dan jangan hanya menyalahkan orang lain.
    Karena dari tingkah laku kita juga, apakah kita bisa hidup tenang atau tidak.

    Okay, selamat berkarya dan salam manis dari Mainz.
    Semoga sehat, bahagia dan sukses selalu dan menjadi contoh yang baik.

  2. wesiati  9 February, 2014 at 20:50

    komen 43. terima kasih pak effendi. semoga bapak kan keluarga bahagia selalu.

    komen 44. la harusnya saya pake kata apa selain ‘minoritas’ untuk karangan ini? kalo ada alternatif yang bagus nanti saya gantinya.

  3. Matahari  9 February, 2014 at 19:12

    Dinegara kita sering kita dengar kata kata minoritas…diperuntukkan untuk orang orang Cina…dan jarang kita dengar kata minoritas ditujukan untuk orang keturunan India ( seperti para produser sinetron di Indonesia..saya lupa nama…tapi mereka keturunan India)…apalagi Arab……sebenarnya kata minoritas ini kenapa sampai ada?Apakah karena kita yang mengaku pribumi asli sebenarnya cemburu karena sangat banyak orang Cina di Indonesia yang sukses dalam bisnis …study…dll? Mereka kita anggap sebagai saingan sehingga sangat menarik buat kita untuk menyebut mereka minoritas agar mereka merasa kalau mereka itu bukan orang Indonesia asli ? Sehingga kata kata “minoritas “…seperti memberi perasaan “lega “buat kita yang pribumi asli dan orang orang seperti merasa “hebat”ketika di satu artikel atau sesuatu di posting di youtube…lantas berkomen”Mereka kan Cina?””dasar Cina !!!)…Ini sering saya baca di komen berita ini itu……Lantas kalau cina…so what ? Kan mereka pegang passport hijau juga seperti semua WNI..Begitu juga dalam agama…sering dikatakan kita kita ini minoritas? Kenapa sampai disebut minoritas? Apa agar kita merasa bahwa kita ini “secuil pasir”..Tentu tidak…kita ada puluhan juta diseluruh Indonesia ini dan itu tidak sedikit….bayangkan kalau sebuah boeing bisa mengangkut 400 penumpang…berapa juta boeing yang kita butuhkan…Saya benci dengan kata kata minoritas karena hanya membuat masyarakat kita berkelompok kelompok…dan belakangan muncul kaum mayoritas baru yaitu mayoritas korup….dan situlah saya bangga disebut kaum minoritas karena saya tidak korup…(mungkin dulu ketika SMA…korup uang buku…sedikit sedikit kalau tidak…tidak bisa beli parfum walau harga dibawah 5000 rp ..ha ha ha ha )

  4. tjiptadinata effendi  9 February, 2014 at 16:32

    Mbak Westi,saya termasuk salah satu yang minoritas itu mbak. Salam kasih mbak saya terima dalam dalam dihati saya..terima kasih,saya doakan suatu waktu mbak Westi akan tampil sebagai salah satu pemimpin bangsa..entah dibidang apa tidak masalah… Salam hangat dan penuh kasih dari saya sekeluarga. Saya kakek dari 10 cucu mbak..

  5. wesiati  30 January, 2014 at 11:24

    peluk semuanya. khusus buat teman2 yang beragama non muslim, mohon maaf atas ketidaknyamanan yang kami timbulkan selama ini…

  6. Esti  29 January, 2014 at 12:41

    Dear Mbak Wesi : Sing penting Mbak Wesi (dan keluarga) ra melu – melu menghakimi dan tetap menganggap kami yang minoritas ini sodara tanpa sekat atau embel-embel agama. Biarlah agama jadi urusan langsung antar personnya dan Sang Pencipta…*Pelluukk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.