Tuhan

Anwari Doel Arnowo

 

Seingatku pengertian arti Tuhan yang hinggap ke dalam benakku, selalu berubah-ubah selama kurun waktu hidupku. Waktu masa kanak-kanak, sebagian besar ketika aku sudah mampu berkata-kata dengan sekelilingku awalnya aku hanya mendengar dan diam. Itu tidak berarti aku mengerti atau tidak setuju, apalagi menyetujuinya. Boleh dikatakan lebih banyak aku tidak perduli. Maka datanglah ketika, dibicarakan tentang adanya “ancaman” yang dihubungkan dengan pengertian Tuhan yang bisa memasukkan diriku ke dalam neraka, aku menjadi takut dan takuuut sekali.

mightypower

Waktu pergaulan masa sekolahku kujumpai rekan-rekan sekolah yang lain agama atau kepercayaannya, aku malah amat pendiam dan lebih banyak menjadi pendengar saja. Ada saat saya bosan dan tidak mau terlibat pembicaraan yang menyangkut masalah yang satu ini: Tuhan. Tekad saya “Ah, masih banyak waktu memikirkan hal itu, kan aku masih muda belia dan tentu saja masih belum mampu !”.

Ketika menjelang dewasa, aku menjumpai banyak dan ikut terlibat diskusi dengan banyak orang lain yang berbeda asal suku bangsa bahkan berbeda asal bangsa. Terkejut juga mendengar bahwa banyak orang di Negara Komunis seperti Republik Rakyat China itu jumlahnya berjuta-juta yang memeluk agama Islam, bahkan lumayan banyak orang Arab yang beragama Nasrani. Aku jumpai juga orang Indian di benua Amerika mempunyai kepercayaan-kepercayaan yang setara dengan agama. Mereka percaya ada kehidupan setelah meninggal dunia dan bertemu dengan Manitou di Padang Perburuan Kekal yang bisa dinilai seperti surga.

Dari banyak survey, didapati data bahwa orang Jepang menyatakan diri mereka tidak mempercayai agama apapun juga termasuk Tuhan, 65% tidak percaya kepada adanya Tuhan dan 55% tidak percaya kepada Buddha. Anehnya pesta atau karnaval apapun termasuk Natal dan hari besar Kepercayaan Buddha, mereka aktif terlibat langsung ataupun tidak.

Di banyak negara ada yang tidak bisa menerima apabila ditanya: “Apa agama yang anda anut?” Itu adalah pertanyaan tang tidak patut diajukan dan amat kurang sopan sekali. Lain dari kebiasaan kita, orang Indonesia, demikian pentingnya agama sehingga KTP masih ada kolom agamanya. Meskipun beberapa bulan yang lalu sudah dimuat di media bahwa Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama telah menyetujui untuk membiarkan kolom agama dibiarkan kosong saja bilamana itu adalah merupakan keinginan sendiri. Tetapi aku belum mendengar bahwa persetujuan kedua menteri ini sudah didasari dengan Peraturan atau undang-undang.

Sekedar catatan pribadi, sepanjang pengetauanku melihat di negara-negara lain yang pernah aku datangi, kolom agama di kartu identitas itu tidak ada, entah di negara lain yang aku belum pernah menginjakkan kaki. Demikianpun halnya RT (Rukun Tetangga) dan RW (Rukun Warga) secara resmi juga tidak ada. Apakah ini baik atau tidak aku tak mau menuliskan pendapatku, sekarang saja sudah terasa akan ada tuduhan yang nadanya pasti akan merepotkan diriku sendiri, apalagi menjawabnya!

Aku masih percaya akan keberadaan Tuhan. Aku juga ingin ada klarifikasi Tuhan seperti yang sesuai dengan nalarku itu belum tentu sama dengan nalar si Polan. Atau Polan Polan lainnya. Tidak apa-apa! Memang tidak diperlukan pendapat di banyak benda, kondisi dan beragam kenyataan di dunia. Seperti sering aku kemukakan bahwa tidak ada yang sama di dunia ini, termasuk dua orang kembar yang identik sekalipun. Semua berbeda dan aku sadar sekali mengenai ini.

Kemarin ada aku baca bahwa tubuh manusia yang berasal dari sel itupun, selnya tidak sama, malah memiliki genus atau seks. Ingat, spermatozoa pun sebelum bertemu “jodoh”nya bisa pindah tempat dengan cara menggerak-gerakkan bagian “tubuh” spermatozoid seperti manusia berenang. Menimbulan bertambahnya pemikiranku bahwa sprematozoid itu sudah mempunyai energi untuk menggerakkan “tubuh”.

Setelah salah satu dari sekian juta spermatozoid itu bertemu “jodoh”nya, aku berpendapat energi ini mulai berubah, pendapatku sendiri, dengan “bantuan” apa yang disebut dengan nyawa atau ruh. Sekedar catatan saja: aku sudah bertanya kepada dokter-dokter di Indonesia maupun di negeri lain: “Apakah ada istilah kedokterannya (medical term) untuk nyawa, jiwa, sukma atau ruh dan juga spririt?? Sampai saat ini aku belum pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Seperti diketaui di dalam ajaran agama Islam di Indonesia maupun mungkin di negara-negara lain juga, nyawa (ruh) itu baru ditiupkan setelah 3 bulan atau 4 bulan (tergantung yang mengucapkannya) setelah pembuahan “jodoh” pada saat yang aku sebutkan di atas.

Pertanyaan yang timbul di diriku adalah: “Apakah keterangannya tanpa energi atau nyawa atau ruh, hasil pembuahan itu bisa membelah diri setiap 25 menit terus menerus sampai terbentuk janin? Apalagi setelah tiga minggu kemudian sudah terbentuk apa yang kita pahami sebagai tulang punggung dan jantung. Bisakah “jodoh” itu, tanpa modal energi atau nyawa dan ruh itu berubah menjadi janin yang bisa berdegub jantungnya sampai menjadi bayi sempurna yang siap dilahirkan? Inilah mengapa aku mengubah penamaan pertambahan umurku menjadi hari lahir, kutambahkan sendiri dengan masa sepanjang 9 bulan (lamanya masa ibuku mengandung si jabang bayi Awettua) hari lahir 17 Mei, 1938 menjadi 17 Agustus, 1937, disebut Hari Jadi. Umur Hari Lahir 75 tahun dan umur Hari Jadi 76 tahun.

Menghitung secara ini bukan aku yang pertama menghitungnya, tetapi sudah ratusan tahun dilakukan orang, di Tiongkok (China), Korea atau Viet Nam bagian Utara. Pada waktu kehamilan cucuku yang terakhir, dokter melakukan pemeriksaan dengan USG (Ultra Sono Graphy) kehamilan pada bulan keenam (?), dokternya mencoba berkomunikasi menyuruh cucuku yang masih berupa janin mengubah letak tangannya dan anak saya (ibu si janin cucuku itu) melihat janinnya bergerak seperti apa permintaan dokter.

Ada juga catatan dari hasil bacaanku, bahwa bayi yang baru lahir itu mempunyai kemampuan memahami 3 (tiga) bahasa yang berlainan sekaligus. Adalah agar momen itu dimanfaatkan sebaik mungkin dengan membiasakannya sehari-hari. Orang Kanada yang menulis masalah ini menyatakan bahwa bayi bisa menggunakan bahasa Ibu, bahasa Bapak dan bahasa tempat tinggal mereka. Misalnya Ibu asal Indonesia dan Bapak asal Jepang serta mereka tinggal di Montreal, Kanada yang berbahasa Prancis.

Nah kemampuan belajar bahasa ini akan selanjutnya menurun dan puncaknya hanya beberapa tahun saja setelah lahir. Pengalamanku sendiri, waktu umur 60 tahun, belajar berbahasa Arab, aku les guru privat selama 6 bulan, tetapi pada saat ini aku belum mampu berbahasa Arab sama sekali. Sebaliknya seorang manula (manusia usia lanjut) bila ingin menghindari pikun, para dokter yang berpikiran modern amat menganjurkan agar belajar sebuah bahasa baru. Lepas dari ini benar atau tidak, aku memang menganjurkan kawan-kawan sebayaku membuat lebih aktif kerja otaknya agar mengurangi kematian jumlah 10.000 sampai 20.000 sel otak yang terjadi pada setiap harinya. Menunda kematian sel otak akan menyebabkan otak bekerja lebih cergas dan cerdas. Kemungkinan pikun akan menjadi kecil.

Aku tak memberi peluang orang lain menjuluki diriku dengan: Si Pikun. Meskipun kenyataannya nanti begitu, itu kurang sedap!!

Yang tertuang dari dalam hatiku di atas itu tentu saja menjadi bagian kontribusi dan masukan lain-lain yang membuat caraku memahami Tuhan seperti sekarang ini. Cerita fiksi di dalam serial Star Trek yang mengisahkan bagaimana kehidupan di dua dan tiga abad ke depan, sungguh amat banyak menyebabkan pengertianku pribadi mengenai Tuhan menjadi seperti berikut. Di dalam sekian banyak seri film ini (aku sudah pernah menonton lebih dari 200 judul) aku masih melihat beberapa adegan yang mengkaitkan masalah Illahi atau Ke-Tuhan-an yang tidak mampu diterangkan. Bila benar terjadi seperti itu pada dua atau tiga abad mendatang, bukankah yang seperti ini masih sedang aku hadapi dan alami hampir setiap hari, sekarang? Semakin aktif otakku bekerja, semakin banyak data aku olah dengan bantuan otakku. Lebih banyak aku gunakan otak, berpikir dan mengolah data. Maka jumlah masalah yang aku tidak tau, yang bersifat Illahi makin bertambah saja. Berikut ini aku bisa berikan cara berpikir otakku dari waktu ke waktu.

mighty-power

1. Mengapa benda-benda angkasa itu, planet-planet dan bintang-bintang bisa selalu ber”jalan” di lajur rotasi berkeliling dengan pusat pusaran yang tidak sama, tetapi tetap tidak bertabrakan?

2. Dari mana diperoleh energi yang mengakibatkan kerja gravitasi itu bisa berfungsi tanpa henti satu detik sekalipun

3. Mengapa sinar matahari yang memancar dengan panas tinggi itu, tetap terasa panas di Bumi meskipun cahayanya itu telah menempuh jarak sekian jauhnya yang diperkirakan memakan waktu selama satu minggu penuh untuk mencapai Bumi?

4. Mengapa sel otak manusia itu sampai saat ini baru hanya sebagian kecil yang bisa dikenal fungsinya? Bukankah otak adalah pusat pengendali seluruh kehidupan tubuh kita? Serat sel otak itu panjangnya 160.000 kilo meter yang setara dengan EMPAT KALI panjang khatulistiwa yang sekitar 42.000 kilo meter. Anda mungkin bisa mendapatkan tambahan ilmu pengetauan dengan membaca masalah Otak ini di majalah National Gepgraphic Indonesia yang terbaru (Februari 2014). Ini akan sedikit, aku ulangi sedikiiiit sekali, tetapi untuk PERTAMA KALInya aku membaca mengenai bagaimana otak itu melakukan fungsinya dalam menata dan mengelola seluruh kegiatan tubuh di mana otak sendiri berada dan beraktifitas.

Itu adalah tinjauan besaran potensi yang kasat mata maupun yang maya yang pada saat ini saya sadari bahwa semua manusia di dunia ini masih belum mengerti, memahami dan menghayatinya. Bagaimana bisa tercipta seperti itu kompleksnya?? Saya amat mengagumi apa yang ada di alam jagad raya ini.

Desain atau rancangan seperti ini, di mana salah satunya adalah manusia, yang bisa disebut sebagai makhluk yang paling unggul di alam raya ini, masih memiliki keterbatasan pengetauan yang rumit. Demikian rumitnya sehingga manusia tidak mampu memahaminya dengan segala dayanya. Pada titik tidak berdaya seperti inilah aku menjadi mengagumi semua yang ada di dunia dari makhluk, benda angkasa sampai nyawa sekalipun, aku mengatakan bahwa aku masih jauh sampai aku bisa menerangkan apa yang menjadikan aku bertanya-tanya, antara lain SIAPA yang menciptakan semua itu dari tahap pra design sampai perencanaan detail selanjutnya? Seorang kenalanku yang telah lama, sekitar setengah abad bertempat tinggal di negeri lain, menyatakan dirinya sebagai seorang atheist.

Teman-teman lain ketika bertemu dengan dia, bertanya : “Dengan tidak percaya adanya Tuhan, bagaimana kamu bisa menerangkan dari mana asal manusia?”

Sang teman yang atheist itu dengan ringan menjawab: “Dari sel” Para penanya secara beramai-ramai bertanya lagi: “Lalu sel-sel itu dari mana asalnya?”. Kali ini dia menjawab juga dengan enteng: “Aku tidak tau” Para penanya sambil mencibir tertawa mengejek.

Karena aku dengar pembicaraan ini, aku ikut urun rembug: “Begini ya, aku yakin para penanya tadi, mereka sendiri, juga tidak akan mempunyai jawaban yang benar, karena kita semua juga belum tau. Dia ini bukan orang aneh, karena di negaranya sana banyak sekali orang yang sepaham dengan dia dan tidak sepaham dengan para penanya. Cobalah sekali-sekali anda semua pergi ke sana maka anda sendiri semua juga akan dianggap orang aneh. Itulah sebabnya aku tidak mau ikut campur atau meremehkan pendapat, kepercayaan, keyakinan orang lain tentang banyak hal seperti agama, adat-istiadat, tata krama, ketergantungan kepada rokok, narkoba, berpolitik, melakukan perjudian, minum alkohol, bahkan misalnya apapun yang akan dilakukan kerabat dekatku untuk menjadi dukun sekalipun.

Itu aku akui sebagai hak azasi mereka. Aku kan juga manusia seperti mereka, baik yang atheist, beragama maupun yang agnostik. Aku ingin apapun yang damai. Tanpa bertengkar yang menghabiskan waktu dengan hasil nol, malah minus. Menjaga hubungan baik dengan sesama adalah sesuatu yang bukan mudah, memerlukan kebijakan dan kesabaran yang panjaaang.

 

Awettua

26 Januari, 2014

 

24 Comments to "Tuhan"

  1. anoew  5 February, 2014 at 19:02

    “Lalu sel-sel itu dari mana asalnya?”. Kali ini dia menjawab juga dengan enteng: “Aku tidak tau”

    Hahahahaha kok jadi ingat diskusi sama Itsmi, hanya jawabannya saat itu “sains belum menjangkau..” Alamakjaaaan

    Baiklah.

    Dan pertanyaan di artikel ini, nomer 1 – 4, sepertinya juga mudah dijawab. Yaitu, “sains belum menjangkau”

  2. Dewi Aichi  30 January, 2014 at 22:58

    Itsmi, makanya kalau mau traveling berdoa dulu minta keselamatan dan kenyamanan, biar ngga ditanya-tanya, kayak saya nih mau traveling ke Indonesia ngga pernah ditanya tanya dan gnga pernah ditangkap polisi…tampang saya kan imut…kamu tampang komunis sih hahahahahaa…..

  3. Itsmi  30 January, 2014 at 12:55

    Nuchan, tidak heran orang yang hidup di Jawa kalau sudah tua jadi bongkok hahahahaha

  4. Itsmi  30 January, 2014 at 12:53

    Dewi, di indo pernah di keroyok, juga di hotel dulu, krn pegang tangan tentara patrol berhenti dan di tanya macam2, juga agama dan di tuduh komunis. Semalam di kantor polisi….akhirnya polisi minta maaf…. Pulang ke hotel mau di antar kami tolak…. Tidur harus pisah….. di Pakistan juga gawat

    Dewi, banyak kasus, fb… atau social media…. bicara di Baltyra pun itu bisa berakibat…..
    Ke negara beragama, di tanya itu sering terjadi….

    Saya kalau traveling dan sampai di Schiphol Amsterdam atau di Eropa, benar benar baru rasa aman……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.