Bertruk-truk Uang

Toha Adog

 

Seorang teman, dengan kumis seperti sisir dan bulu kaki seperti hutan, mempunyai teori: Ketika Anda bertemu seorang teman lama, semisal di sebuah supermarket atau di sebuah lobi hotel atau di sebuah warung mie Bandung, dan lalu ia bertanya tentang di mana Anda bekerja sekarang, sesungguhnya yang ingin ia ketahui bukanlah tentang seluk-beluk pekerjaan Anda, atau seberapa besar Anda mencintai pekerjaan Anda, atau berbagai pengalaman lucu dan menyenangkan selama Anda bekerja di sana. Tapi yang ingin ia ketahui, tak lebih dan tak kurang, adalah: Sebanyak apa simpanan uang Anda di Bank. Apakah Anda benar-benar layak ada di dunia ini dan seberapa pantas Anda untuk dihormati?

materialism

Percayalah, saat ini kita memang tinggal di dunia yang sangat ganjil. Dan saking ganjilnya, kita tak akan dihargai apabila kita tak punya bertruk-truk uang.

Itulah teorinya. Pendek dan pahit.

Mengutip mendiang Kurt Vonnegut, seorang penulis Amerika, bahwa hidup ini tak lebih dari sebaskom tai.

***

Ukuran hormat yang ditentukan oleh uang, telah membuat nyaris seluruh orang mau melakukan apa saja untuk mengeruknya. Mereka bahkan bersedia melakukannya dengan cara yang paling tak terhormat sekalipun. Mereka membangun berbagai macam usaha dan bisnis dan pabrik yang merusak hutan, udara, air dan tanah. Mereka menebar racun. Mereka kentut dimana-mana. Mereka membunuh sesama manusia dan landak dan ular sanca dan monyet jawa.

Mereka juga bersedia menilep dana publik yang diperuntukkan untuk membangun jembatan, untuk mengatasi kemiskinan dan mengobati penyakit cacingan dan Tuberkulosis.

Dan lalu, ketika mereka akhirnya menjadi kaya raya dan mempunyai bertruk-truk uang, maka mereka akan mendermakan secuil hartanya dan lalu orang-orang akan datang kepadanya, memujanya, mengelu-elukannya dan mencium tangannya. Dan mereka mengklaim dirinya sebagai pemimpin dan penyelamat.

Dan mereka lantas membangun sistem, menciptakan hukum dan peraturan-peraturan dan standar hidup yang menguntungkan mereka, dan lalu mendistribusikan peraturan dan standar hidup ini ke seluruh orang.

Inilah sebaskom tai.

Tapi apakah kita benar-benar rela hidup dalam sebaskom tai?

Apakah kita rela melihat dan mengalami: ketika ribuan orang mengantri zakat (seplastik beras atau sekaleng sembako atau segumpal daging) sambil saling desak dan injak antar sesama, bahkan sampai mati? Apakah kita rela melihat dan mengalami: ketika ribuan orang berdesakan demi limabelas ribu sampai limapuluh ribu rupiah, setiap menjelang lebaran, dari para kaya?

Apakah kita rela melihat orang-orang kaya itu menebarkan uangnya dari helikopter dalam rangka me-launching buku mereka yang berisi petuah-petuah bijak dan motivasi?

Apakah kita rela melihat mereka membagi-bagikan uangnya di jalanan, yang mereka dapat dengan cara brengsek, dengan gaya sok jagoan, agar kita memilih mereka untuk duduk di parlemen atau menjadi gubernur atau menjadi walikota dan semacamnya? Dua puluh ribu sampai lima puluh ribu untuk setiap contreng?

Dan apakah kita rela melihat mereka, para kaya itu, demi strategi bisnis yang sinis, membuat orang-orang mengantri sampai pingsan demi Blackberry setengah harga atau Ipad keluaran terbaru?

Blackberry, Ipad, bayangkan! Kita bahkan tak akan mati tanpanya, namun rela mati demi mendapatkannya.

Begitulah sistem yang ganjil ini bekerja. Setiap detik, dari pagi sampai malam, tanpa henti, dan kita terseret ke dalamnya, kadang tanpa sadar. Kecanduan. Bergantung. Dan seakan tak bisa hidup tanpanya.

Hidup ini benar-benar tak lebih dari sebaskom tai.

Kalau begitu, gulingkan saja baskomnya, kata temanku dengan kumis seperti sisir dan bulu kaki yang seperti hutan itu.

 

august 2012

Toha Adog

 

9 Comments to "Bertruk-truk Uang"

  1. Dewi Aichi  6 February, 2014 at 00:40

    Tajam sekali nih tulisannya mas Adog….dan ini bener-bener nyata ada di lingkungan kita sehari-hari…dikampung-kampung juga gitu, semakin kaya semakin dihormati, apalgi yang suka bagi-bagi duit. Kenapa yaaa…

  2. J C  5 February, 2014 at 11:30

    Hahahaha…ngakak baca komentar pak Djoko…

    Manusia modern memang sekarang semakin diperbudak oleh materi, tolok ukur semua dari materi…

  3. Lani  5 February, 2014 at 01:43

    MAS DJ : wahahahah…………..terbukti to mas?????? Menungso kuwi serakah…………

  4. Dj. 813  4 February, 2014 at 15:48

    Lani Says:
    February 4th, 2014 at 12:14

    Keserakahan pada seorang manusia menjadikan dirinya membabi buta…….

    —————————————————————————————————————–

    Benar yu Lani, sampai nr. 1, 2. 3, diambil Yu Lani semua.
    Serakah amat….
    Belum puas, nr. 5 di ambilnya pulak…..
    Hahahahahahahahahaha….!!!

  5. Lani  4 February, 2014 at 12:35

    AL : gantian ya jd juaranya………hehe

  6. Alvina VB  4 February, 2014 at 12:31

    Ja…no. 1-3 dah diambil sama Ratu Kona…
    Memang bedanya kl di Ind sama di sini ya gitu…kl ketemu teman lama di sini cuma nanya how are you? ttp di Indonesia yg ditanyain kerja dimana? gajinya berapa? tinggal di mana? sudah kawin/ blm? anaknya berapa? kaya lagi ngurus sensus penduduk aza, he..he….

  7. Lani  4 February, 2014 at 12:14

    Keserakahan pada seorang manusia menjadikan dirinya membabi buta…….

  8. Lani  4 February, 2014 at 11:48

    Satoe

  9. Lani  4 February, 2014 at 11:45

    1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.