Mawar Plastik

Anik – Kediri

 

Kalau orang tak tahu pasti mengira mereka adalah sepasang adik kakak. Bukannya wajahnya mirip, namun baju yang mereka kenakan selalu kembar. Mainan yang dimiliki Risa juga dimiliki Dina. Sebenarnya mereka berdua bukanlah saudara, setetes darah mereka pun juga tak menunjukkan bahwa mereka mempunyai ikatan saudara. Orang tua Risa selama ini menganggap Dina sebagai anaknya. Ada yang perlu digaris bawahi yaitu dianggap bukan diangkat. Dina masih mempunyai orang tua dan keluarga yang utuh. Keadaan ekonomi Dina memang tak seberuntung keluarga Risa yang berkecukupan. Risa adalah anak dari seorang dokter tersohor di kotanya, sedangkan Dina hanyalah anak pedagang kecil-kecilan. Semua ini tak membuat Risa menjauhi Dina, justru hubungan mereka sangat erat. Dina juga sering menginap di rumah Risa.

Semua itu berubah setelah usia mereka menginjak dewasa. Tawa membeludak mereka bersama-sama kini jarang terdengar, bahkan hampir tak pernah lagi setelah usia mereka menginjak dewasa. Bukannya sibuk dengan urusan masing-masing namun Risa lah yang kini mulai menjauhi Dina.

Terakhir ucapan Risa yang masih Dina ingat itu sangat menusuk perasaanya “Aku malu kalau lama-lama sama kamu, aku baru sadar kamu tidak secantik teman-temanku, kamu tidak kaya seperti teman-temanku”

“Sekarang kamu tidak pernah ke rumah Risa lagi, Nak” Ibu Dina berkata lembut sambil duduk di samping anaknya. Ibunya membuyarkan ingatannya saat itu.

“Eh.. iya bu” Dina gelagapan menjawab ucapan ibunya.

“Ada masalah ya?” Tanya ibu tiba-tiba. Ibu Dina merasakan kegalauan anaknya beberapa minggu terakhir ini.

“Nggak lah bu, ibu kan tahu sendiri kalau Dina dan Mbak Risa nggak pernah berantem sejak kecil” Dina mengelak walaupun dalam hatinya ada penolakan untuk mengucapkannya.

“Syukurlah nak, ibu senang mendengarnya” Ibu Dina tersenyum mendengar kebohongan anaknya tanpa dia ketahui.

“Minggu depan Mbak Ninis nikah Din, kamu datang kan ke pernikahannya?” Dina terlihat lega mendengar ibunya tak menyebut nama Risa lagi.

“Iya bu, nanti bareng sama ibu”

“Kenapa tidak sama Nak Risa, dia pasti juga datang” dugaannya salah. Ternyata ibunya tetap menyebut nama gadis itu.

“Dina pengen sama ibu saja” Dina hanya tersenyum kecil menutupi perasaannya yang sebenarnya. Jawaban Dina menyisakan pertanyaan untuk ibunya. Ibu Dina tak tahu apa sebenarnya penyebab dari kerenggangan anaknya dengan anak tetangganya itu. Ibu Dina hanya diam, tak ingin menanyakan lebih jauh lagi tentang masalah anaknya. Dia lebih mengenal anaknya yang selalu cerita dengannya, saat ini mungkin Dini ingin menyendiri begitulah fikirnya.

“Nak Risa baru pulang sekolah?” Ucap ibu yang membuat Dina kaget dan segera melihat gadis berpakaian seragam melewati depan rumahnya.

“Iya tante, mari tante..” Jawabnya singkat dan senyumnya yang terlihat dipaksakan membuat ibu Dina tahu bahwa yang dikatakan Dina kalau mereka baik-baik saja adalah sebuah kebohongan besar.

“Biasanya kalau ketemu kamu di depan teras pasti dia berhenti dulu menemui kamu kan Din, hari ini dia terlihat berbeda” Ibu memang sengaja memancing anaknya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Ibu..” Panggil Dina. Ibu Dina menoleh melihat anaknya yang sudah bercucuran air mata.

“Kamu kenapa Nak?” Dina dibelai lembut oleh ibunya.

“Jika aku sudah tak memiliki teman, ibu masih mau kan menemaniku?”

“Tanpa kamu minta pun ibu akan menemanimu Nak”

***

“Tahun depan Risa sudah lulus, niatnya saya mau kuliahkan dia di Akademi Kebidanan. Maklumlah, kami kan keturunan dokter jadi kami juga ingin melihat anak kami sukses di bidang kesehatan” Ungkap Mama Risa saat berkunjung ke rumah Dina.

“Semoga Mbak Risa bisa meraih cita-citanya tante” Dina menjawab dengan pelan.

“Itu pasti lah Din, kamu tahu kan kalau Risa itu cantik, putih, pintar, papanya juga bisa menuruti semua keinginannya. Dia mau kuliah di luar negeri pun pasti kami sanggup membiayainya. Ohya.. apalagi baru-baru ini banyak cowok yang mau melamarnya. Kebanyakan sih pengusaha gitu”

“Wahh.. saya baru dengar ceritanya dari tante”

“Mungkin Risa nggak enak cerita sama kamu, kan selama ini nggak ada cowok yang deketin kamu, sedangkan Risa kan banyak yang deketin. Dia takut kalau kamu tersinggung”

Serasa ada petir menyambar hatinya di siang ini. Orang yang selama ini dia tahu baik sifatnya  jauh berbeda dari yang dia tahu dulu. Sombong pun dulu tak pernah, kini rentetan cerita mewahnya tak pernah ada satu pun yang absen di ceritakan kepada keluarga Dina.

“Dina masih mau konsentrasi ke sekolah dulu Mbak, lagian masalah jodoh kan sudah ada yang ngatur” Ibu Dina tahu perasaan Dina saat ini.

“Tapi kalo saya punya anak cantik dilamar orang nggak ada salahnya dong dik” Mama Risa tetap tak mau kalah.

Dina dan ibunya hanya tersenyum. Mereka tahu ucapan apapun tak bisa mengalahkan cerita Mama Risa karena memang mereka tak mempunyai hal yang bisa dipamerkan. Walaupun ada, ibu Risa tak pernah mau banyak berbicara di depan orang lain.

“Sudah sore, saya pulang dulu. Dina.. jangan lupa kalau ada waktu main ke rumah”

“Iya tante” Dina tersenyum saat mengantar Mama Risa ke teras rumah.

“Kamu nggak perlu memikirkan ucapan tadi nak” Dina melihat Ibunya duduk di sofa. Dia melangkah mendekati ibunya. Tubuhnya yang lemah mendarat di pangkuan ibunya.

“Dina sadar kok bu kalau Dina tidak secantik Mbak Risa jadi Dina juga tak sepantasnya iri dengan dia”
“Bukan itu nak, cantik itu dari hati bukan dari wajah”

“Cantiknya hati itu tidak terlihat bu, sedangkan cantiknya wajah Mbak Risa semua orang pun tahu”

“Suatu saat nanti pasti kamu tahu maksud ibu nak”

***

“Kamu nggak ikut foto nak?” Tanya Ibu Dina saat di pernikahan Mbak Ninis tetangganya.

“Nggak Bu, paling nanti fotonya sama Mbak Risa.. aku malu Bu kalau terlihat tidak secantik dia”

“Ayo foto sama ibu saja” Dina menggeleng menjawab ajakan ibunya.

“WEEEKKKK” Suara aneh itu terdengar jelas di telinga Dina dan ibunya.

“Apa itu bu?” Dina kebingungan dengan sumber suara itu.

“Dina.. lihat itu Nak Risa”

Ternyata Risa muntah didekat pintu masuk. Semua orang memandanginya dengan heran.

“Mbak Risa” Ucap Dina sambil membantu Risa berjalan ke kamar mandi. Risa memandang Dina dengan lemah.

Keadaannya yang semakin lemah membuat dia harus dilarikan ke rumah sakit.

Beberapa menit kemudian Dina heran melihat Mama Risa.

“Tante kenapa?” Tanya Dina saat tahu mama Risa menangis setelah keluar dari ruangan Risa dirawat. Mama Risa memeluk Dina dengan erat.

“Apa salah tante, Dina? Sampai tante mendapat hukuman ini?”
“Kenapa Mbak Risa Tante? Ada apa?

“Risa hamil Din”

“HA..HA..MILLL”

Dina berjalan masuk ke ruangan Risa. Dia melihat Risa menangis. Meskipun akhir-akhir ini mereka berdua tak bersama lagi tapi Dina tetap bisa merasakan apa yang di rasakan Risa.

Tangis mereka berdua beradu di ruangan itu. Mereka hanya saling pandang.

“Keluar Din.. keluaaarrr”

“Mbak, aku disini nemenin Mbak Risa”
“Aku nggak butuh kamu Din, aku malu”

“Mbak…”
“Aku bilang keluaarrr”

***

“Kamu masih ingat perkataan ibu kan Nak?”
“Yang mana bu?”
“Cantik itu dari hati”
“Iya Bu”

mawar plastik

“Cantik dari wajah itu seperti mawar plastik nak, memang mempesona indahnya tapi dia tidak bisa harum, lama-kelamaan akan rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Beda dengan cantik dari hati. Mawar asli itu harum dan lebih indah dari mawar plastik, jika nanti dia sudah layu dimakan usia pasti banyak orang yang tetap menginginkan dia tumbuh lagi”

“Aku sekarang mengerti maksud ibu saat itu, aku tak akan pernah malu lagi bu” Dina tersenyum dan memeluk ibunya.

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

9 Comments to "Mawar Plastik"

  1. Anik  10 February, 2014 at 16:15

    Kalimat deskripsi yang mana mbak? Aku belum mudeng hehee.. Kapan2 kalo ada waktu mbak blog ku tak urus. lupa2 trus .

  2. Liana  9 February, 2014 at 17:30

    Anik, kalimat deskripsinya diperjelas ya. Pasti nanti lebih bagus lagi! Aku buka blogmu, tapi gak bisa join, pake google plus, donk…

  3. Anik  8 February, 2014 at 21:18

    @anoew: baru kali ini mendengar tawon plastik bisa mengentup haha.
    @dj: saya lagi sibuk dengan banyak ujian. Soalnya saya sudah kelas 3 smk. kalau orang tidak pernah terlihat itu apakah disebut mawar? Dan apakah maksudnya?

  4. Dj. 813  5 February, 2014 at 21:35

    Mbak Anik…
    Terimakaksih…
    Cerita yang bagus….
    Kamana sekarang Mawar ya,kok lama tidak pernah muncul lagi….

    Salam manis dari Mainz.

  5. anoew  5 February, 2014 at 18:51

    Weh, yang mengentup / menyengat mbak Risa itu pasti tawon plastik. Nggak heran sih, mawar plastik dientup tawon plastik, ya jadinya fiberglass. HA HA MILL.

  6. Anik  5 February, 2014 at 17:39

    @djasmerah: oke sama-sama. Senangnya kalau bisa menulis yang memberi manfaat untuk orang lain
    @jc: dempulan plastik? Apakah itu operasi plastik?
    @alvina:

  7. djasMerahputih  5 February, 2014 at 13:22

    Ha ha ha… Mawar Plastik akan dikunjungi oleh Kumbang Plastik pula….
    Just be Your Self…!!

    Thaks artikelnya Anik.

    Salam Kompak,
    //djasMerahputih

  8. J C  5 February, 2014 at 11:38

    Tapi sekarang demam Korean wave dimana percontohannya baik cowok ataupun cewek (terutama cewek) mayoritas rata-rata dempulan plastik…

  9. Alvina VB  5 February, 2014 at 08:57

    Plastic roses…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.