Buku Doa

Fidelis R. Situmorang

 

Pertamanya disambut dengan doa oleh setiap orang yang berada di dekatnya, mensyukuri bahwa satu kehidupan lagi telah hadir di dunia.

Kehidupan diawali dengan doa. Dan apa yang dimulai dengan doa, akan diakhiri dengan doa.

Amir Sjarifoeddin Harahap lahir pada tanggal 27 April 1907 di Medan. Ia merupakan anak sulung dari pasangan Djamin Baginda Soripada Harahap dan Basunu Boru Siregar. Amir tumbuh sebagai anak lelaki yang cerdas.

Amir menempuh pendidikan dasar di Medan, lalu melanjutkan ke Leiden dan Haarlem, Belanda, dan kemudian kembali lagi ke tanah air, menyelesaikan pendidikan hukumnya di Batavia.

Selama mengenyam pendidikan di Belanda, Amir mulai mengenal dunia pergerakan yaitu pada saat ia aktif berorganisasi di Perhimpunan Siswa Gymnasium di Haarlem.

Ketika kembali ke tanah air, Amir semakin aktif dalam dunia pergerakan. Semangat anti kolonialismenya kian menyala. Bersama Sanusi Pane, ia menggagas berdirinya Jong Bataks Bond, dan turut berpartisipasi dalam Kongres Pemuda ke-2, Oktober 1928. Kongres tersebut kemudian menghasilkan apa yang kita kenal dengan Sumpah Pemuda. Amir menjabat sebagai bendahara pada kepanitiaan di kongres pemuda waktu itu.

Sebagai aktivis, Amir juga dikenal sebagai tokoh yang berjuang menggunakan media massa. Banyak sudah media masa saat itu di mana dia menjadi pemimpin redaksinya.

Tahun 1931, Amir ikut mendirikan Partai Indonesia (Partindo), partai berazaskan ajaran Bung Karno, Marhaenisme. Di sini ia mulai akrab dengan pandangan politik tokoh-tokoh gerakan kiri.

Aktivitas politik Amir yang bersifat radikal membuat pemerintah kolonial Belanda berang. Pada tahun 1933, Amir ditangkap dan dihukum 18 bulan penjara karena tulisan-tulisan di majalah Banteng yang dipimpinnya dianggap menghina pemerintah. Hukuman tersebut dijalaninya di penjara Salemba, kemudian dipindahkan ke Sukamiskin. Setelah bebas, gerak politiknya diawasi dengan ancaman pengasingan.

Selain pada politik, Amir memiliki perhatian yang sangat besar pada bidang bahasa. Ia bergiat memperjuangkan pemakaian bahasa melayu yang kemudian disepakati bersama dengan sebutan bahasa indonesia. Pada juni 1938, ia menjadi pembicara pada Kongres Bahasa Indonesia di Solo. Makalah yang dia sampaikan adalah: “Adaptasi kata-kata asing dan konsep-konsep ke dalam bahasa Indonesia.” Ia juga adalah salah satu ketua redaksi majalah sastra Poedjangga Baroe. Di situ ia menulis karangan-karangan tentang politik internasional.

Di tahun 1943, pada masa penjajahan Jepang, kembali ia harus merasakan dinginnya lantai penjara karena kegiatan-kegiatannya yang menentang penjajahan. Ia ditangkap intelijen militer Jepang, kemudian ditahan di penjara Cipinang, Jakarta, lalu dipindahkan ke Kalisosok, Surabaya. Setahun kemudian, Amir dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Militer Jepang, namun hukuman tersebut tidak dilaksanakan setelah adanya pembelaan Soekarno. Ia kemudian dipindahkan ke penjara Lowok Maru, Malang.

Setelah Proklamasi kemerdekaan, oleh Presiden Soekarno, Amir diangkat menjadi Menteri Penerangan pada kabinet pertama Republik Indonesia secara in-absentia. Pada saat itu ia sedang berada dalam tahanan Jepang. Kemudian pada tanggal 2 Oktober ia baru dapat melaksanakan tugas-tugasnya sebagai menteri.

Pada masa pemerintahan berikutnya, dalam kabinet Sjahrir, Amir menjabat sebagai menteri penerangan dan pertahanan. Lalu ketika pemerintahan Sjahrir jatuh pasca penandatanganan persetujuan Linggar Jati, ia dipercayakan menjadi perdana menteri merangkap menteri pertahanan. Namun setelah perundingan Renville yang mengalami banyak penolakan, termasuk oleh menteri-menteri di kabinet koalisinya, ia mengundurkan diri sebagai perdana menteri.

Pada tanggal 30 Agustus 1948, Amir menyatakan dirinya bergabung dengan PKI. Lalu dalam hitungan waktu yang tidak lama setelah ia bergabung, terjadilah kemelut politik di Madiun.

Amir Sjarifuddin, sebagai salah satu tokoh partai, pada saat peristiwa Madiun meletus, sedang berada dalam perjalanan tur ke beberapa kota, mengkampanyekan program partai.

Tentang peristiwa itu ia berkata, “Perjuangan yang kita lakukan sekarang tidak lebih tidak kurang daripada gerakan untuk mengoreksi jalannya revolusi. Revolusi menurut pendapat kita tetap berwatak nasional, yang dapat disebut revolusi borjuis demokratis. Konstitusi kita tetap sama; bendera kita tetap merah putih; sedang lagu kebangsaan kita tidak lain daripada Indonesia Raya.”

Pada tanggal 1 Desember 1948, Amir Sjarifoeddin ditangkap. Ditahan di Yogyakakarta, kemudian dipenjarakan di Solo.

Beberapa hari sebelum hari Natal, tanggal 19 Desember 1948, sekitar tengah malam, di pemakaman desa Ngalihan, Amir Sjarifuddin dieksekusi tanpa proses pengadilan.

Beberapa warga desa diperintahkan menggali sebuah lubang besar di hadapan Amir dan kawan-kawannya. Suara cangkul menghujam tanah mencabik-cabik wajah sunyi sang malam.

“Saya mau diapakan?” tanya Amir.
“Saya hanya menjalankan perintah,” jawab tentara yang akan mengeksekusinya.
“Apa saya boleh menulis surat untuk istri saya, biar ia tahu?” kata seorang tahanan yang lain.
Sang eksekutor tidak keberatan. Lalu para tahanan menulis surat terakhir untuk keluarga tercinta.

Sebelum dieksekusi Amir meminta waktu untuk berdoa. Kemudian ia menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Internationale. Lalu suara letusan senjata terdengar memecahkan sunyi malam. Tubuhnya ambruk. Malam kembali senyap. Ia ditembak mati dengan tangan memegang satu buku doa.

buku-doa

Kututup buku tentang Amir Sjarifoeddin dan meletakkannya di atas meja. Kisah tragis tentang seorang anak manusia yang mati di tangan saudara sebangsanya sendiri.

Tiba-tiba aku teringat pada gadis di rumah sakit yang selalu memegang buku doa di samping ranjang ibunya. Bagaimana kabar ibunya sekarang?
Lalu kupanjatkan doa untuk ibunya.

 

11 Comments to "Buku Doa"

  1. Fidelis R. Situmorang  11 February, 2014 at 22:11

    @djasMerahputih: Iya, Pak… Semoga saya dan generasi berikutnya bisa memetik pelajaran dari sejarah kelam perjalanan bangsa kita.

    Makasih, Pak. Saya jadi inget Jas Merah Bung Karno

    @Pak tjiptadinata effendi: Iya, Pak… Saya sendiri sedang belajar melihat pada sisi kemanusiaan dan perjuangan setiap para pendiri Republik ini, bukan pada partai-partai atau kelompoknya. Terima kasih, Pak. Mohon bimbingannya.

    @Mbak ariffani: Terima kasih, Mbak. Seneng Mbak Afiffani mampir ke oret2an kecil ini.

    @Mbak Esti: RIP Amir Sjarifoeddin Harahap

    @

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.