Perjalanan Terakhir (11)

Wesiati Setyaningsih

 

“Kita mau minta bantuan siapa?”

“Kita? Kamu aja kali. Yang Kung enggak.”

Aku tertawa mendengar Yang Kung bercanda.

“Yang Kung bisa aja,” aku terbahak.

“Memang kamu saja yang bisa bilang ‘lo aja kale, gue enggak’? Yang Kung ikut tertawa.

Beberapa saat kami menuntaskan tawa.

“Siapa orang ini?”

Yang Kung memandang ke sebuah arah. Ada Ibu di ruang tamu, sedang bicara pada Bu Nina. Banyak guru yang datang, tapi memang aku tak melihat Bu Nina. Entah kenapa aku tak kecewa meski sebenarnya aku ingin beliau ada di upacara pemakamanku. Semakin waktu berjalan, dengan didampingi Yang Kung, aku makin mudah melepaskan segala sesuatu. Semua terasa makin ringan saja.

Dan seperti yang dikatakan Yang Kung, sore itu Bu Nina datang ke rumah menemui Ibu, bersama beberapa pelayat yang tidak sempat datang siang harinya, atau baru saja mendengar kabar setelah pemakaman berlangsung.

Dia mendengar kabar ketika sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota bersama keluarga mengunjungi mertuanya. Duduk di tikar yang masih tergelar di ruang tamu, Bu Nina sesekali mengusap matanya dengan tissue.

“Dia anak baik,” katanya pada Ibu.

Kulihat Ibu sudah tidak menangis lagi. Entah air matanya sudah kering atau memang hatinya sudah rela melepas kepergianku. Yang jelas hingga sore ini Bapak terus menemani. Tetangga kiri kanan juga masih bergantian datang ke rumah seolah berusaha agar Ibu tidak kesepian.

“Dia anak baik,” gumam Bu Nina.

Entah sudah berapa orang mengatakan hal ini dalam sehari ini.

“Dia selalu perhatian kalau saya sedang menerangkan. Kalo ada tugas, dia kerjakan dengan tekun. Benar salah itu tidak penting buat saya. Justru niatnya yang saya lihat. Dan Robi benar-benar bersemangat mengerjakan tugas di pelajaran saya. Dia kerjakan sampai selesai, baru dia ngobrol sama temannya. Tidak seperti teman-temannya yang suka ngobrol dulu sampai kerjaannya nggak selesai-selesai.”

“Ibu ngajar apa?”

“Bahasa Inggris.”

“Sepertinya Robi suka pelajaran bahasa.”

“Mungkin. Tapi menurut teman-teman guru mapel lain, Robi memang rajin kok, Bu. Sama dengan di pelajaran saya, dia kerjakan dulu tugasnya sampai selesai. Memang tidak selalu benar semua. Tapi setidaknya dia kerjakan sampai selesai. Kami semua suka dengan dia.”

Ibu tersenyum.

“Dia tau Ibunya susah payah membiayai sekolahnya. Saya single parent sejak ditinggal Bapaknya waktu dia kelas 3 SD.”

“Oh,” Bu Nina melirik ke arah Bapak yang ada di situ juga.

Ibu tersenyum.

“Kami bercerai waktu itu. Sekarang gara-gara Robi meninggal malah Bapaknya balik ke sini lagi, nemenin saya. Begitulah,” Ibu mengangkat bahu,”mungkin menyesal.”

Bu Nina tersenyum.

“Semoga semua baik adanya. Tapi Robi baik-baik saja, tidak nakal meski tidak ada bimbingan dari Bapaknya,” suaranya direndahkan.

“Ada Eyang Kakungnya yang selalu mendampingi dia. Seperti jadi pengganti Bapaknya.”

“Sekarang Eyangnya di mana?”

“Sudah meninggal tahun lalu.”

“Oh.”

“Sudah tua, Bu. Sudah kena diabetes sejak lama. Itu yang terbaik.”

“Ibu tabah sekali.”

“Dari luarnya memang seperti itu, “ Ibu tersenyum, “dalamnya cuma saya yang tahu.”

Bu Nina mengangguk.

“Baru saja saya harus mengatasi kehilangan saya atas Bapak. Itu juga belum sembuh benar. Sekarang saya harus kehilangan anak saya satu-satunya. Padahal hidup saya cuma untuk dia sekarang.”

Bu Nina tertunduk kelu.

“Saya paham. Saya yang gurunya saja kehilangan. Apalagi Ibu.”

Ibu mengangguk lemah.

“Saya masih ingat Sabtu kemarin dia mencium tangan saya. Anak-anak memang suka manja, minta cium tangan pada para gurunya. Harusnya Sabtu itu jam terakhir saya ngajar di kelas dia. Tapi karena rapat persiapan mid semester, jam terakhir hilang. Tapi waktu pulang dia ketemu saya di depan ruang guru. ‘Bu salam dulu,’ katanya. Dia cium tangan saya.”

Bu Nina mengusap matanya.

“Ternyata itu pertemuan saya terakhir dengan dia.”

Ibu ikut mengusap mata.

“Maaf, saya menambah kesedihan Ibu.”

Ibu tersenyum meski aku tahu matanya basah.

“Nggak pa-pa. Kalo tidak diutarakan jadi beban malah. Dikeluarkan saja, Bu.”

Ibu yang harusnya dihibur malah menghibur orang lain.

“Saya akan selalu ingat tentang Robi. Selama saya menjadi guru, baru kali ini saya kehilangan murid saya seperti ini. Pernah ada murid yang meninggal, tapi karena sakit. Dan kebetulan saya tidak mengajar. Kalau Robi, kebetulan saya ngajar, meski baru beberapa bulan.”

“Minta maaf kalo ada salah-salahnya Robi.”

Bu Nina menggeleng.

“Tidak ada. Robi anak yang baik. Contoh yang baik untuk teman-temannya. Selalu menghormati guru, juga menjaga hubungan dengan teman-temannya. Saya tahu temannya tidak banyak. Tapi dia menjaga agar tidak melukai perasaan siapapun.”

“Ibu wali kelas Robi?”

Bu Nina mengangguk.

“Saya tahu dari teman-temannya. Anak-anak suka curhat sama saya,” kata Bu Nina sambil tersenyum.

“Robi pernah curhat juga?”

Bu Nina menggeleng.

“Sepertinya dia anak yang tertutup. Atau mungkin memang dia merasa tidak punya beban apa-apa. Semua dibawa senang saja.”

“Semoga begitu. Saya sering kuatir dia memendam rasa kecewa pada Bapaknya yang meninggalkan dia.”

Bu Nina mengerutkan dahi.

“Saya kira tidak, ya. Entah kalau saya tidak tahu. Tapi Robi tampak ringan saja menjalani hidupnya. Mungkin peran Eyang Kakungnya cukup besar, ya?”

Ibu mengangguk.

“Eyang Kakungnya itu orang yang bijaksana. Bisa memberikan nasehat dengan tepat dan bijak. Saya selalu menyandarkan diri pada beliau. Robi juga punya banyak waktu untuk bertukar pendapat dengan Eyang Kakungnya karena saya sering meninggalkan dia sama Eyangnya. Saya  jarang melihat Robi sedih atau kesal. Dia mampu menguasai emosinya.”

“Eyang Kakungnya sudah membimbing dia jadi anak yang mapan secara emosi. Beda dengan anak-anak lain. Saya melihatnya juga begitu. Dia tampak beda dengan anak seusianya,” Bu Nina ikut menambahkan.

“Cuma saya nggak tau juga, sejak Yang Kung-nya meninggal kan dia nggak ada teman bicara lagi. Saya takutnya dia jadi gimana, gitu.”

“Enggak, kok. Dia baik-baik saja di sekolah. Sebenarnya kalo ada bandel-bandelnya sedikit, itu biasa untuk anak seusia dia. Tapi Robi baik-baik saja. Agak cenderung tertutup, saya lihat. Tapi belum sampai menimbulkan masalah.”

Ibu terdiam.

“Very tadi datang?”

Ibu mengangguk, “datang.”

“Baguslah. Bagaimana dia, baik-baik saja?”

Ibu menggeleng.

“Enggak lah, Bu. Dia ketakutan sekali.”

“Selain itu dia pasti merasa bersalah. Di kelas dia paling dekat sama Robi. Jarang saya lihat dia jalan sama teman lain. Ke mana-mana sama Robi. Kata anak-anak pulang sekolah suka makan mie ayam depan Rumah Sakit sama Robi juga. Sekarang Robi meninggal gara-gara dia. Saya malah kuatir dia stress karena terpukul. Ada dua hal yang pasti mengganggu pikirannya. Rasa bersalah dan kehilangan yang luar biasa.”

Ibu mendengarkan Bu Nina sambil menerawang.

“Saya sebenarnya kasian sama Very. Anak orang kaya, tapi Ibunya mendidik dengan sangat keras. Penampilannya berantakan. Dia sering ke sini, kok. Juga pagi itu.”

“Jadi Very ke sini?”

“Iya. Very pagi-pagi sudah ke sini. Kebetulan saya tidak membuatkan sarapan buat Robi. Saya sudah janjikan nasi kuning tapi lupa. Waktu Very ke sini saya sudah bilang sama Robi, jangan pergi main karena Senin besok kan mid tes. Tapi waktu saya pulang mereka sudah tidak ada. “

last-journey

“Oh, begitu.”

“Saya nungguin Robi pulang, tau-tau dikabari kalo Robi sudah meninggal. Saya nggak tau harus gimana. Saya bahkan tidak ke Rumah Sakit saking gemetar. Ditemani tetangga-tetangga saya nunggu di rumah. Robi yang waktu saya tinggal baik-baik saja, tau-tau pulang ke rumah ini sudah jadi jenazah.”

Ibu mengatakannya tanpa air mata yang deras seperti tadi pagi. Malah Bu Nina yang sekarang tak henti mengusap air matanya.

“Sudah nasib saya mungkin ya, Bu. Ditinggal anak saya dengan cara seperti itu. Kalo nurutin hati saya sudah pingsan-pingsan. Tapi saya kembalikan lagi pada Yang Di Atas. Saya bolak-balik sendiri hati saya. Toh nanti saya juga mati. Ini cuma masalah siapa yang duluan.”

“Ibu benar. Sungguh Ibu besar hati menghadapi ini semua.”

“Habis mau bagaimana. Saya nggak bisa terus-terusan begini. Sudah habis air mata saya sejak pagi.”

“Saya paham.”

“Untungnya Very datang di makam. Pas saya sudah bisa mengatasi perasaan saya. Pas saya sudah bisa menyadarkan diri kalo hidup ini memang sementara. Kalo tidak sudah habis anak itu saya maki-maki,” kata Ibu sambil tersenyum.

“Jadi Ibu tadi gimana sama Very?”

“Nggak gimana-gimana. Dia nangis-nangis minta maaf, ya saya maafkan. Mau gimana? Kalo memang sudah takdirnya, biarpun Robi cuma tiduran di kamar dan enggak pergi sama Very, ya tetap saja dia meninggal pada saat itu. Buat apa saya marah sama Very?”

“Ibu sungguh luar biasa.”

“Sebenarnya saya cuma nggak tau mesti gimana. Kalo saya balik lagi, akhirnya hanya kesadaran bahwa kita pasti mati. Itu saja. Dan kapan kita mati, kan nggak bisa ditunda-tunda. Saya bilang, jangan pergi, eh Robi pergi juga. Apa karena dia pergi lantas dia meninggal? Kan tidak. Dia meninggal bukan karena dia pergi sama Very, tapi karena memang takdirnya begitu.”

Bu Nina mengambil tissue yang baru dari kemasannya.

“Malah saya yang sedih kalo begini. Saya terharu melihat ketabahan Ibu.”

Ibu tersenyum.

“Kalo nggak begini, saya malah hancur sendiri, nanti.”

“Benar. Semoga Robi perjalannnya lancar karena Ibunya sudah ikhlas.”

“Amin.”

Tak lama kemudian Bu Nina pamit pulang. Aku dan Yang Kung berdiri di samping Ibu dan Bapak yang berdiri berdampingan mengantar kepergian Bu Nina.

“Ternyata Bu Nina memang sayang sama kamu,” kata Yang Kung.

“Enggak cuma aku. Tapi sama semua orang.”

“Aku tahu. Dan sepertinya kamu akan butuh bantuan dia.”

“Kenapa?” aku menoleh heran.

“Kamu tau tidak dia suka menulis?”

Aku menggeleng.

“Aku taunya dia suka membaca. Dia suka menceritakan apa yang dia baca di depan kelas. Kami suka kalo dia lagi cerita. Satu kelas pada diam semua. Beda kalo lagi diterangin. Suka pada ribut.”

Yang Kung tertawa.

“Kenapa begitu?”

“Enggak tau. Anak-anak suka malas kalo pelajaran. Kalo diceritain aja senang.”

“Dan sebenarnya dia juga suka menulis.”

“Masak?”

Yang Kung tidak menjawab, hanya menatap ke sebuah arah. Aku melihat Bu Nina sedang duduk di teras rumah bersama suami dan anak-anaknya.

“Gimana tadi di sana?” tanya suaminya.

Dua anaknya sedang bermain-main di sekitar mereka berdua.

“Aku belum pernah melihat wanita setegar itu. Luar biasa, “ jawab Bu Nina seraya menggelengkan kepalanya.

“Ibunya tidak terpukul?”

“Pasti. Siapa tidak terpukul kalo anak satu-satunya meninggal, padahal dia janda cerai, ayahnya juga baru saja meninggal tahun lalu. Kalo tidak kuat sudah pingsan-pingsan.”

“Dan Ibu itu tidak?”

“Aku tidak tahu bagaimana dia waktu mendengar Robi meninggal. Tapi ketika aku layat tadi dia sudah baik-baik saja.”

“Sudah tidak menangis?”

“Masih, sih. Sedikit. Tapi tidak histeris atau apa. Sudah bisa bicara dengan tenang, kok.”

“Hebat, ya. Bukankah itu bisa kamu tulis jadi cerpen atau novel? Katanya mau ikut lomba nulis cerpen dan novel di majalah wanita.”

Bu Nina mengangkat bahu.

“Belum tau mau nulis gimana.”

“Loh, itu bagus, lho. Perempuan yang tegar ditinggal anak satu-satunya.”

“Lantas konfliknya dimana?”

“Konflik batin, dong. Dia ingin mengutuk Tuhan atas hal ini, tapi dia tidak bisa, akhirnya dia cuma bisa pasrah dengan keadaan.”

“Kurang menarik.”

“Kamu bisa membuatnya jadi menarik.”

“Belum mood.”

“Kapan akan mood?”

“Enggak tau.”

“Payah.”

“Biarin.”

Suami Bu Nina menatap istrinya tajam. Bukan marah, tapi lebih pada dia ingin menyelami hati istrinya.

“Apa yang membuatmu ragu untuk menulis?”

Bu Nina hanya mengangkat bahu.

“Kamu pasti tahu kenapa. Hanya saja kamu tak ingin mengatakannya.”

Bu Nina tak juga menjawab.

“Kenapa?” desak suaminya. “Kamu merasa apa yang kamu tulis itu tidak bagus?”

Mata Bu Nina terarah pada suaminya.

“Atau kamu merasa semua ini akan sia-sia karena tulisanmu pasti akan kalah di lomba?”

Dahi bu Nina berkerut seperti berpikir.

“Atau kamu merasa bahwa apa yang kamu lakukan akan sia-sia karena tidak akan jadi lagi seperti tulisan-tulisanmu yang lain?”

Bu Nina menarik nafas dalam.

“Jangan desak aku,” katanya.

Suaminya menggeleng.

“Tidak. Aku tidak mendesak. Pertanyaan tadi itu aku tujukan sama kamu untuk kamu jawab sendiri, pada dirimu sendiri. Kapanpun kamu mau. Aku tidak menagih jawaban apapun.”

“Baguslah,” kata Bu Nina seraya berdiri.”Sekarang waktunya makan. Aku panasi dulu masakan dari Ibu tadi.”

Aku menoleh pada Yang Kung.

“Jadi Bu Nina juga suka menulis.”

Yang Kung mengangguk.

“Lantas kenapa dia tidak mau menyelesaikan tulisannya?”

“Dia mau. Tapi tidak bisa.”

“Tidak bisa? Tidak ada tulisan yang tidak selesai. Semua selalu selesai,” bantahku.

“Dia belum bisa melawan dirinya sendiri. Dia selalu kalah sama dirinya sendiri.”

“Kalah?” gumamku. “Kenapa bisa begitu?”

“Kamu sendiri kenapa?”

Aku terdiam seperti dihentakkan pada kenyataan bahwa semasa hidup aku pun menyembunyikan tulisan-tulisanku.

“Aku..” kurunut lagi peristiwa yang lalu, juga percakapan bersama Yang Kung yang baru saja lewat.

“Selalu ada suara-suara yang melemahkanku.”

“Suara orang yang mentertawakanmu itu, kan?”

“Benar.”

“Nah, Bu Nina juga. Dia mendengar suara yang melemahkannya. Tapi dia tak mampu melawannya.”

“Lantas apa hubungannya denganku?”

“Kamu tidak punya ide apa-apa?”

Aku diam dan berpikir. Apa kiranya yang bisa dilakukan Bu Nina sehubungan dengan kisahku.

“Kamu bisa meminta dia menuliskan ini semua.”

“Ini semua?”

Yang Kung mengangguk.

“Sejak dari aku pergi sama Very sampai pembicaraan kita ini?”

Senyum Yang Kung merekah saat dia mengangguk lagi.

“Hebat kan?”

Aku ternganga. Itu ide yang luar biasa. Tapi,

“Apa dia mau?”

“Pasti mau kalo kamu memintanya.”

“Caranya?”

“Kan kamu sudah tau caranya.”

Aku berbinar senang. Namun lagi-lagi aku kembali ragu.

“Kalo dia menolak?”

Yang Kung tampak mulai kesal.

“Robi, terus terang, inilah hal terakhir yang harus kamu selesaikan. Untukmu dan untuk Bu Nina?”

“Kalo tidak?”

“Perjalananmu akan tersendat.”

“Apa?” aku terlonjak kaget sekaligus mulai kuatir.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Perjalanan Terakhir (11)"

  1. wesiati  10 February, 2014 at 21:00

    mbak lani,
    saya percaya reinkarnasi. jadi saya percaya kita semua pasti pernah mengalami mati. mungkin di kehidupan sebelumnya, mas Lurah dan Dewi Mugiyem itu teman-teman sepermainan saya, atau bahkan kami kakak adik, who knows? mugakno podo edane. wkwkwk…

  2. Lani  10 February, 2014 at 05:42

    WESIATI : wahahaha…….Dewi, sm lurahe…….sampai lenger2, kepingin ngerti dgn pengalaman mati dan urip meneh……..lain kali klu arep mati meneh kondo2 yo……………trs kirim kabar nangkone iki pie?????? kkkkkkk………jangan2 nek kepenak njur kabeh milih mati hehehe…………

  3. wesiati  9 February, 2014 at 20:47

    bukan near lagi. tapi death experience malah. haha…
    Dewi : nggo opo butuh wifi en update status? tinggal pake energi aja semua orang langsung paham. (sok tau)

  4. J C  8 February, 2014 at 21:52

    Tuh kecurigaan Dewi sama dengan aku…jangan-jangan dirimu pernah mengalami near death experience dengan semua dialog itu…

  5. Dewi Aichi  8 February, 2014 at 18:11

    Wah..jangan-jangan Wesiati pernah mati ya..bisa cerita seperti ini he he….di sana ada wifi ngga ya Wes….jadi bisa update status gitu….

  6. Lani  8 February, 2014 at 01:41

    hahaha………..pentulise kebret!

  7. wesiati  7 February, 2014 at 19:41

    empat.

  8. Esti  6 February, 2014 at 10:40

    Nomer telu

  9. Lani  6 February, 2014 at 09:52

    Semakin menarik………selak ora sabar nunggu sampai minggu depan……….

  10. Lani  6 February, 2014 at 09:22

    1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.