KRI Usman Harun atau KRI Donna Harun

Iwan Satyanegara Kamah

 

Singapura negeri yang hidup dari simpanan uang orang-orang Indoenesia. Ada sekitar IDR 1.600.000.000.000.000 uang WNI (setara APBN 2013 kita) yang tersimpan di luar negeri. Entah di Singapura ada berapa persen. Maling-maling koruptor kita, senangnya makan pagi nasi Padang di sana. Rumah sakit di sana isinya orang Indonesia. Babu juga banyak dari sini. Enak negeri itu, hidup dari bunga, simpanan dan dinamika orang Indonesia.

Ketika kena asap kebakaran hutan di Sumatera sehari saja, mereka ngamuk dan parahnya, presiden Anda (bukan saya) minta maaf. Padahal, teriak Ahok, “Lebay! Kena asap sehari marah, dikasih oksiden rain forest-nya Sumatera sepanjang tahun gak pernah terima kasih. Gratis lagi!” Beda ‘kan antara Ahok dan presiden Anda?

Ketika kita menamakan kapal perang kita dengan ‘KRI Usman Harun’, mereka marah dan minta diganti (ganti dengan KRI Donna Harun? Ya gak mungkin!). Mungkin saja mereka mengusulkan jangan pakai nama Usman dan Harun, dua patriot yang membom gedung di kawasan Orchard saat konfrontasi dulu dan dihukum gantung di penjara Changi 1968. Indonesia marah. Soeharto berang (dia panglima Dwikora, proyek ganyang Malaysia-nya Soekarno). Tapi gagal. Usman dan Harun tetap digantung oleh PM Lee Kuan Yew dan mati. Pulangnya… “Heroes welcome!”

Ketika PM Lee Kuan Yew pertama kali ke Indonesia 1973, Soeharto “memaksa” Lee Kuan Yew untuk menabur bunga di pusara Usman dan Harun di TMP Kalibata. Kelihatan dalam foto, Lee setengah hati dan bete sambil nabur kembang di kuburan dua patriot (tapi ‘teroris’ di mata Singapura). “Ah, masa bodoh”, batin Soeharto.

hatta

Sejak Usman dan Harun dihukum gantung, Bung Hatta marah besar kepada Singapura. Hatta berjanji tak mau menginjakkan kakinya lagi di Singapura sejak 1968. Seminar, simposium atau sekedar en route ditolak dan tak dilakukannya. Janji itu ditepati sampai Bung Hatta wafat Maret 1980.

Andai semua orang Indonesia seperti Bung Hatta, matilah Singapura…

 

61 Comments to "KRI Usman Harun atau KRI Donna Harun"

  1. Itsmi  12 February, 2014 at 03:51

    Iwan nah pelajari dong apa yg terjadi di tahun 46….

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  12 February, 2014 at 01:00

    Sejarah hitam apa lagi, Itsmi? Yang saya tahu sejarah Indonesia terbuka lebar untuk dianalisa. Bahkan kurun 1965-69 kita bebas mengkajinya. Hanya saja masalah tanggungjawab sejarah kita tidak ada. Terutama untuk seputar 1965.

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  12 February, 2014 at 00:58

    Human factor tetap penting Itsmi. Buat apa peralatan canggih tetapi pengendalinya bodoh…! Singapura sedang krisis masalah pelatihan militernya karena kasus tentara Singapura ranselnya dibawain babu Indonesia.

  4. Itsmi  11 February, 2014 at 23:37

    Iwan, ada benarnya tapi Human faktor jaman teknologi sudah kurang artinya… karena sekarang kurang main tindis knop…. dan tentunya pendidikan…

  5. Itsmi  11 February, 2014 at 23:35

    Iwan, koreksi dikit mengenai Indonesia – Belanda.

    Indonesia banyak untungnya menutup peristiwa2 seperti waktu “bersiap” ini sejarah hitam buat Indonesia…..

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  11 February, 2014 at 20:40

    Iya dong, Om Joseph. Sampeyan sendiri belajar di negeri Belanda. Ya sudah, kita tutup masa lalu. Apa Om Joseph ungkit ungkit kekejaman Belanda selama di sana? Ya ndhak lha…

    Kita jangan diperangkap masa lalu.

    Bawa diri kita dan anak-anak menatap masa depan. Karena kesana kita pergi.

  7. J C  11 February, 2014 at 20:37

    Mas Iwan, muanteeeeepppp…

    Aku setuju dalam banyak hal, sejarah satu negara atau satu periode memang harus terjadi dan digenapi. Tanpa terjadinya satu peristiwa, kita semua tidak seperti hari ini. Aku memilih: forgive, forget dan move on…

  8. IWAN SATYANEGARA KAMAH  11 February, 2014 at 20:18

    Singapura mencoba membawa kita untuk mengenang dan mengungkit masa lalu.

    Indonesia tidak pernah lagi mempermasalahkan bagaimana Belanda menghormati pahlawan atau veteran yang membunuhi rakyat Indonesia. Juga kita tak lagi ungkit dengan Jepang menghormati pahlawan mereka. Padahal Indonesia menerima perlakuan kejam saat perang.

    Sudahlah… tutup masa lalu…

    Buka dan tatap masa depan.

  9. IWAN SATYANEGARA KAMAH  11 February, 2014 at 20:16

    Seharusnya masalah sensitifitas sosok Usman Harun sudah berakhir sejak Lee Kuan Yew menabur bunga di makam mereka.

    Kita tidak bisa hidup di alam masa lalu. Indonesia sudah melupakan (dalam arti menutup halaman hitam) dengan Belanda dan Jepang juga Inggris.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.