Tunas Angkasa

djas Merahputih

 

Indonesia sebagai negara maritim yang luas membutuhkan sebuah Pertahanan Udara yang kuat dan disegani. Dengan wilayah yang sebagian besar terdiri dari lautan maka selain armada Angkatan Laut yang hebat diperlukan pula dukungan Angkatan Udara handal untuk mengawal sebuah operasi tempur di lautan.

tunas-angkasa

Img01. Menaklukkan Angkasa Menjaga Samudera

Semboyan MENAKLUKKAN ANGKASA MENJAGA SAMUDERA adalah sebuah tekad tertinggi untuk mempertahankan kedaulatan wilayah Nusantara. Area Operasi Angkatan Udara RI terbagi ke dalam dua wilayah strategi utama yang disebut Operational Command I dan Operational Command II. Bandara dalam area Operational Command I antara lain: Pekanbaru, Supadio, Halim, Suryadarma, Atang Senjaya dan Adisucipto. Sedangkan yang termasuk dalam area Operational Command II adalah bandara Iswahyudi, Abdulrachman Saleh dan bandara Sultan Hasanuddin.

 tunas-angkasa (1)

img02. Pembagian Wilayah Operasi AURI

Dalam peta di atas terlihat sepintas bahwa bandara Sultan Hasanuddin yang merupakan Skadron 11 “The Thunder” Angkatan Udara RI merupakan markas paling Timur dalam peta geografis Nusantara. Padahal letaknya sendiri masih berada di tengah-tengah wilayah kedaulatan NKRI. Penambahan kekuatan Angkatan Udara sepertinya masih diperlukan untuk memantau dan mempertahankan wilayah Timur Nusantara.

 tunas-angkasa (2)

tunas-angkasa (3)

img03 dan 04 . Pesawat Angkut Tempur Puma

Kekuatan armada tempur Skadron 11 antara lain diperkuat dengan pesawat jet tempur Sukhoi tipe SU-30MK2 dan Helikopter Puma untuk mendukung Logistik dan Angkut Pasukan di lapangan. Pesawat Sukhoi rencananya akan ditempatkan pada 10 skadron yang ada dengan jumlah masing-masing 18 pesawat di setiap skadron. Sehingga total armada Sukhoi akan mencapai 180 pesawat untuk target tahun 2024.

Exercise Pitch Black 2012

img05. Empat Sukhoi dengan kawalan F-16

 Exercise Pitch Black 2012

img06. Menjemput Kedatangan Sukhoi

Dengan rencana masa depan pengembangan kekuatan armada Angkatan Udara yang semakin besar, maka kebijakan strategis tersebut perlu pula didukung dengan ketersediaan sumber daya manusia yang terampil dan mumpuni dalam mengendalikan seluruh peralatan canggih dan moderen tersebut. Negara tentu berharap banyak kepada anak-anak dan pemuda generasi penerus bangsa agar turut mengambil peran dalam rangka perjuangan dan pengabdian kepada tanah air tercinta.

Beberapa bulan yang lalu penulis berkesempatan mengikuti rombongan sebuah Taman Kanak-kanak ke markas pesawat tempur, tepatnya di Bandara Hasanuddin Skadron 11 di perbatasan Makassar dan Maros – Sulawesi Selatan. Antusiasme anak-anak tersebut membuat kita bisa berharap banyak akan tersedianya generasi penerus bangsa yang mampu melanjutkan para pendahulu mereka dalam mempertahankan kedaulatan NKRI, baik di darat, laut maupun udara.

 tunas-angkasa (6)

Img07. Seorang prajurit sedang memberikan penjelasan

Dalam sesi tanya jawab, seorang prajurit menjelaskan nama masing-masing jenis pesawat serta kegunaannya dalam sebuah operasi militer. Ketika sang prajurit melontarkan pertanyaan pada anak-anak dengan kalimat, “Pesawat tempur ini dibuat dari (negara)….??” Seorang anak dengan sigap menjawabnya dengan, “Dari Besi…!!!”. Ha ha ha….  Mungkin pertanyaan tadi seharusnya,”Pesawat tempur ini dibuat di (negara)…??”.  Tapi kembali jawabannya bisa saja, “Di pabrik pesawat..!!” ha ha ha….  Memang serba sulit kalau ngobrol dengan anak seusia mereka. Sang Prajurit hanya bisa tertawa dan melanjutkan penjelasannya serta maksud pertanyaan tadi.

 tunas-angkasa (7)

Img08. Anak-anak begitu antusias

 tunas-angkasa (8)

Img09. Mendengar penjelasan seorang petugas

tunas-angkasa (9)

Img10. Sukhoi dan seorang calon pilot

tunas-angkasa (10)

Img11. Pilot-pilot masa depan Helikopter PUMA

 tunas-angkasa (11)

Img12. PUMA dan “ayahnya”

 

Dalam perjalanan pulang penulis berangan-angan seandainya kekuatan armada tempur negeri ini sebanding atau paling tidak mendekati kemampuan negara terkuat di dunia maka kedaulatan negara dalam segi politik, ekonomi dan budaya tentu bisa terkawal dan terwujud sebagaimana mestinya. Semoga angan-angan ini dapat diraih oleh Tunas-tunas Angkasa yang mulai terpatri dalam jiwa anak Indonesia.

*****

Salam Nusantara,

//djasMerahputih

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

37 Comments to "Tunas Angkasa"

  1. nia  17 February, 2014 at 15:42

    rencana kemarin ingin nonton Singapore Air Show tapi apa daya tepar kalah diserang radang
    tidak menyesal karena mampir Baltyra dapat suguhan men in uniform *rebutan sama yu Lani

    makasih pak Djas

  2. ariffani  15 February, 2014 at 16:28

    lihat pswt itu memang selalu menyenangakan apalagi bs melihat kaalo liat pswt tempur lg latihan.. berasa gmn gitu,,,,,,,

  3. Lani  15 February, 2014 at 14:53

    KANG DJAS : boleh2 sj disebut “emansipasi” wanita…….akan ttp tetep saja aku menolak dgn emansipasi yg kebablasen…….keblondrok ngono, krn dilihat dr “kodrat” nya wanita dan pria itu BERBEDA yo to kang????

  4. djasMerahputih  14 February, 2014 at 07:20

    Trims bantuan pemahamannya Nuchan.

    Kalo soal pangan djas pikir Indonesia bisa menjadi pengekspor beras,
    lebih besar daripada thailand dan vietnam. Tinggal pemihakan pemerintahnya seperti apa
    terhadap petani dan nelayan dalam negeri.
    Kalau produk impor dibiarkan masuk semaunya, sampai kapanpun Indonesia
    tidak akan mampu mandiri dalam hal pangan.

    Pemaksaan secara politis terhadap kebijakan nasional tidak bisa dipungkiri
    walaupun sulit dibuktikan berkaitan dengan wibawa negara dalam pergaulan internasional.
    Kekuatan AB memiliki peran penting untuk meningkatkan wibawa tsb.
    disamping tentunya kekuatan figur pemimpin/presidennya..

    Begitu kira-kira argumen djas terhadap komentar Itsmi.

    Salam Kemandirian,
    //djasMerahputih

  5. Nuchan  13 February, 2014 at 23:38

    Membaca komen Djas ke Itsmi kelihatannya nga nyambung…
    Saya pikir Itsmi mau bilang dibandingkan ngurusin AB, Indonesia saat ini perlu menjaga KETAHANAN PANGAN….daripada KETAHANAN AB…
    Itsmi kasih contoh Jepang karena Jepang negaranya kecil dan lahan kosong sangat sedikit bgt dibandingkan Indonesia tapi mereka Swasembada Pangan….padahal penduduk Jepang masuk 10 terbesar di dunia…..2013 sekitar 127juta…Indonesia 246juta…..
    Untuk apa Ketahanan AB hebat tapi Ketahanan Pangan jebol artinya negara harus mengimpor pangan seperti beras,gula dll dr negara lain…tetap aja negara bakalan ambruk…saat ini Indonesia jor2an impor beras,gula,sapi,dll

    Makanya Itsmi cenderung komen bahwa kita lebih butuh memprioritaskan Pangan…pangan…pangan…
    Presiden Suharto dulu pernah swasembada pangan…khan AB juga butuh makan hehehe kalo semua impor…mau dibawa kemana ini Indonesia?

    Gitu lo Djas…..hehehe…:
    AB perlu kuat tapi sebelum itu urusin perut dulu donk….
    China juga sama..mereka memperkuat pangan dulu….

    Ma kasih artikelnya….

  6. djasMerahputih  13 February, 2014 at 19:54

    Sory, djas masih belum sepaham dengan itsmi..
    Jepang masih belum sekaya Indonesia untuk jadi rebutan (dipalak)….
    Luas wilayahnya saja masih beda jauh… SDM okelah… Jepang salah satu yang terbaik..

  7. Itsmi  13 February, 2014 at 17:03

    Kalau saya tulis memerlukan pangan udh sudah mencakup semuanya kecuali angkatan bersenjata….contoh jepang..

  8. djasMerahputih  13 February, 2014 at 16:46

    Ha ha ha…….Mba Lani, itu yang disebut emansipasi wanita….
    —————————–
    Betul Itsmi, Tentu saja ngga semua anggaran hanya untuk pangan itu kan…??
    Perlu pula untuk pendidikan agar tak gampang dibodohi,
    Perlu pula untuk modal usaha kerakyatan agar tak gampang dimiskinkan
    dan tentu saja Angkatan Bersenjata yang kuat agar tak gampang diperdayai (dipalak).

    Salam Suedjuk,
    //djasMerahputih

  9. Itsmi  13 February, 2014 at 14:08

    Djas, Indonesia masih memerlukan pangan…. bukannya sudah waktu untuk membuat paradigma baru ???

  10. Lani  13 February, 2014 at 09:16

    KANG DJAS : sami2……..berarti sampeyan dan aku sdh pernah ada disana…….merasa kehilangan, orang2 sgt amat kita cintai……….hikkkkkkks……..njur tumpah ayer mataku……..

    yo, jelas dengkul kudu dirawat………..klu ndak, namanya lempoh rak iso mlaku………

    hehehe……….yo lah, bukan hanya kang Anuuu……..yg bs dan boleh melirik yg bening2……….para srikandi jg pada ndak mau kalah……….dr yg dilautan Pasifik ampe lautan Atlantik……..kemungkinan malah lbh ganas dr gigitan ikan hiu kkkkkk……..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.