Perayaan Imlek di Museum Benteng Heritage Tangerang

Josh Chen – Global Citizen

 

Satu e-mail muncul di Inbox saya, notifikasi dari salah satu group yang saya ikuti di jejaring sosial. Beritanya adalah undangan dari Bapak Udaya Halim yang disampaikan oleh Ibu Esther Kuntjara, yang mengundang seluruh peserta CCIS conference (Center for Chinese Indonesian Studies) tempo hari, November 2013. Tercantum dua nomor handphone untuk RSVP. Acaranya adalah perayaan Tahun Baru Imlek di Museum Benteng Heritage, Tangerang, tanggal 9 Februari 2014 jam 19:00.

Tentu saja tak berpikir lama, segera saya mengontak dua nomor tsb dengan sms dan konfirmasi untuk ikut hadir. Ingatan saya melayang ketika pertama kali mengunjungi Museum Benteng Heritage di Pasar Lama Tangerang tahun 2011 silam, waktu itu museum belum dibuka untuk umum, namun pak Udaya Halim berbaik hati mengundang beberapa anggota komunitas Peranakan Tionghoa (kemudian hari menjadi ASPERTINA – Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia).

Hari yang ditunggu pun tiba. Saya bersiap berangkat dari rumah sekitar jam 18:30 mengingat jarak dari rumah ke Pasar Lama Tangerang tidaklah jauh dan cukup yakin dengan arus lalulintas di hari Minggu petang tidaklah padat. Ternyata benar perkiraan saya, sampai ke Pasar Lama hanya ditempuh dalam waktu tak lebih dari 20 menit. Hujan deras yang mengguyur membuat jalanan basah dan becek di sekitar Pasar Lama. Saya memarkir mobil di gang sempit yang paling dekat dengan klenteng Boen Tek Bio.

IMG_0064

Hal yang unik dengan Museum Benteng Heritage ini adalah letaknya yang benar-benar di tengah pasar becek dan kotor. Benteng Heritage menjadi seperti mutiara yang bersinar di tengah keruwetan dan aroma khas pasar becek tradisional.

Di depan museum sudah digelar karpet merah yang dialasi plastik untuk mengurangi ketidaknyamanan pengunjung yang hadir. Para tamu disambut lampion-lampion yang bergelantungan di seputaran museum. Ternyata di sekitar museum sudah penuh para hadirin dari berbagai lapisan masyarakat. Busana batik mendominasi dengan aksen beberapa gaya tradisional para penari pengisi acara malam itu.

IMG_0017

IMG_0001

Tak menunggu lama, saya mengisi buku tamu dan masuk. Di ruang pertama sudah disambut dengan meja panjang yang penuh berisi aneka makanan yang masih ditutup plastik. Dari tampilannya sudah terbayang kelezatannya.

IMG_0006

IMG_0004

IMG_0005

Di dalam museum yang ruang geraknya cukup terbatas sudah penuh meja para tamu dan beberapa sahabat sesama peserta konferensi di Semarang bulan November 2013 sudah hadir. Ada Ibu Mely G. Tan, Ibu Hiang Marahimin, Ibu Esther Kuntjara dari Universitas Petra sekaligus CCIS dan beberapa yang lain nampak sedang berbincang asik sekali. Ibu Myra Sidharta hadir belakangan.

IMG_0009

IMG_0033

Acara segera dimulai dengan tetabuhan khas barongsai menyambut tamu (sepertinya) dari pemerintahan. Barongsai beraksi dan disusul atraksi yang lain.

IMG_0023

IMG_0024

IMG_0026

IMG_0027

IMG_0029

IMG_0028

IMG_0014

Tiba-tiba hujan deras mengguyur. Atraksi yang paling memikat adalah tarian naga yang ditarikan di tengah guyuran hujan lebat. Nampak dramatis kelebatan naga di bawah sorot lampu dan siraman hujan, cipratan air dari badan naga dan para pemainnya memperindah tarian itu di tengah suara tetabuhan yang didominasi suara gembreng. Sayang sekali karena keterbatasan ruang gerak, hanya bisa menjepret atraksi itu dari lantai 2 museum.

IMG_0037

IMG_0039

Dan tibalah yang ditunggu oleh seluruh tamu, yaitu makan malam. Hidangan digelar dan para tamu mengambil sendiri beraneka ragam sajian. Ada laksa Tangerang, ada asinan Bogor, ada lontong sayur khas Tangerang (mirip lontong cap go meh), babi panggang merah, sate, pare daging cincang dan masih ada beberapa yang lain. Dan memang rasanya benar-benar membelai indera pengecap! Di tengah acara santap malam, para pemusik yang sudah siap sebelumnya memainkan aneka lagu yang menggoda untuk ngibing. Benar saja, Ibu Hiang Marahimin dan Ibu Lisa turun menjajari para pemain musik sambil ngibing bersama.

IMG_0052

IMG_0060

Beberapa keindahan barang-barang koleksi museum:

IMG_0010

IMG_0012

IMG_0031

IMG_0036

IMG_0056

IMG_0042

IMG_0047

IMG_0045

IMG_0043

Suasana meriah dan hangat. Kami bertukar cerita dan foto-foto dari acara waktu di Semarang tahun 2013. Tak terasa malam semakin larut dan satu per satu tamu meninggalkan tempat. Sungguh acara perayaan Tahun Baru Imlek yang berkesan. Dan terima kasih Bapak Udaya Halim yang menjadi tuan rumah perayaan ini, sekaligus memberikan saya kesempatan sekali lagi mengunjungi tempat eksotis dan cantik dari masa lalu ini.

 

About J C

I’m just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

34 Comments to "Perayaan Imlek di Museum Benteng Heritage Tangerang"

  1. Agus Wahyudi  15 April, 2014 at 10:46

    Senang bisa membaca dan melihat foto-foto ini. Salam.

  2. aylina kartika  1 April, 2014 at 13:32

    Baca tulisan anda sungguh membuat saya menangis terharu karena saya teringat akan orang tua saya yang berasal dari cina Benteng …….

  3. J C  22 February, 2014 at 12:59

    Phie: suwuuunnn…jalanan pasar ditutupi plastik terus baru digelari karpet…bukan karpet ditutup plastik… nggeblak barongsai’ne…

  4. phie  22 February, 2014 at 12:53

    bagus bgt pak lurah poto2nya! meriah ya!

    btw, aku kok mbayangin karpet ditutup plastik opo ra licin bgt ya??? udan meneeehhh…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *