Kancing Yang Terlepas – Sebuah Resensi

Ulin

 

Ini adalah resensi sebuah novel. Semua berdasarkan sudut pandang saya, perasaan saya, dan pastinya penilaian saya pribadi. Kalau ada di antara anda yang tidak setuju tidak mengapa, saya terbuka untuk pendapat dan koreksi. Bila ada di antara anda yang merasa jengkel, sebal, atau menderita sesuatu selama dan setelah membaca novel ini, kami tidak menanggungnya. Permintaan/pembelian buku dan tanda tangan silahkan ditujukan pada penulisnya langsung. Boleh juga dititipkan pada saya dengan sejumlah jaminan yang tidak kembali.

Bagi anda yang sudah membeli buku ini, akan membacanya, sudah membacanya, atau sekedar ingin tahu tentang buku ini lebih lanjut silahkan bergabung dengan grup berikut:

https://www.facebook.com/groups/187924641566/

kancing-yang-terlepas

Peringatan:

‘Kancing yang terlepas’ memiliki makna filosofis, silahkan anda maknai sendiri. Disamping itu memiliki makna benar-benar lepas, ya…banyak adegan lepas kancing di dalam novel ini. Meskipun tidak erotis, novel KYT ini tidak disarankan untuk dibaca oleh orang lugu, belum baligh, pun anak-anak.

——————————————————

Kancing yang Terlepas sesungguhnya bukan cerita baru. Ini adalah cerita bersambung yang pernah dimuat di sebuah harian di Semarang antara tahun 2010 – 2011. Setelah di-retouch lalu diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Harga resmi yang bisa anda dapatkan adalah Rp 80.000,- dan belum pernah di-diskon hingga kini meskipun bukunya berulangkali sold out di toko Gramedia, di berbagai tempat.

Ini sebuah novel apik karya terbaru dari Handry TM. Release di toko buku Gramedia Indonesia pada akhir Desember 2013 mendekati perayaan Imlek di tahun 2014. Buku setebal 450 halaman ini walaupun sentral ceritanya adalah di kawasan Pecinan Semarang dengan hampir seluruh tokoh ber-ras Tionghoa, namun sangat menggambarkan kondisi Indonesia pada masa cerita ini diambil yaitu tahun 60an.

Ringkasan Cerita

Giok Hong adalah seorang primadona di Gang Pinggir, kawasan Pecinan Semarang. Ia bukan hanya molek – cantik namun juga pintar lagi menggetarkan dengan segala tindak tanduknya. Sejak kecil Ia diasuh oleh Tek Siang dengan berbagai pelajaran dan tata aturan ketat. Hong yang tumbuh mempesona ini bukan hanya anak didik sekaligus primadona di orkes musik Tjahaja Timoer, dia juga kekasihnya—membuat iri banyak pria di kalangan Gang Pinggir.

Namun serangkaian kesalahan terlanjur dilakukan Tek Siang, keputusannya mengumpankan Hong pada sahabatnya malah membuat Giok Hong terjebak dalam kekacauan politik yang melebar. Setelah sempat menghilangnya Hong selama beberapa waktu, munculah Boenga Lily yang dipercaya sebagai jelmaan dari Giok Hong—tetap cantik hanya berubah wajah.

Pada masa sulit menjelang kejatuhan Orde Lama, Boenga Lily pun terlibat dalam pusaran kerumitan yang terjadi, ia diduga seorang mata-mata. Perjalanan Lily yang panjang dan tragis pada akhirnya dibungkam oleh kekuasaan yang lebih besar. Sampai akhir perjalanan Giong Hong, Ia tidak sempat tahu siapa orang tuanya.

 

Great Taste

Novel ini ditulis dengan bahasa yang ringan sekaligus indah di beberapa bagian, renyah di tepian sekaligus lembut dengan krim meleleh di tengah seperti souffle cake, yumm. Sangat menggambarkan era 50an hingga 60an, namun dengan gaya bahasa yang tetap up to date untuk masa kini. Hebatnya lagi, meskipun menggambarkan dengan sangat dekat kehidupan Tionghoa, namun yang menulisnya bukan seorang Tionghoa, bukan pula keturunannya.

Dalam bukunya Penulis menyatakan sudah melakukan penelitian mendalam terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di Gang Pinggir pada masa sebelum kemunculan Orde Baru, bahkan menyusuri sepanjang wilayah tersebut. Di luar realita peristiwa yang ada, Penulis juga mampu menuliskan perasaan sang tokoh dengan penuh penjiwaan. Entah karena Ia seorang yang memiliki perasaan peka atau memiliki kecerdasan emosional atau terlalu sering memperhatikan gerak-gerik orang (jadi hati-hati kalau dia pakai kacamata hitam).

Membaca KYT terasa sangat realistis. Apabila penulisnya mengatakan bahwa kisah yang tertulis adalah kejadian nyata, maka mungkin saya akan mempercayainya. Di bagian akhir cerita terdapat keterangan bahwa sejumlah tokoh namanya merupakan pinjaman dari orang yang ada benar. Bukan hanya itu, tempat dan kondisi politik yang diceritakan pun semua riil.

 

Dejavu

Bagi saya secara pribadi ini adalah novel yang berkesan, bukan hendak menyama-nyamakan tetapi rasanya seperi dejavu karena banyak kesamaan dengan apa yang saya alami dalam hidup. Bertahun lalu saya hendak diangkat anak oleh sepasang suami-istri Tionghoa yang tinggal di daerah Bukit Sari. Mereka memiliki dua orang anak—lelaki semua, sehingga apabila dapat menyayangi seorang anak perempuan merupakan kesenangan bagi mereka.  Saya sudah mengenal pasangan ini beberapa waktu sebelum akhirnya mereka meminta saya untuk masuk ke rumahnya. Hal pertama yang diajarkan Mami ketika saya menginjakkan kaki ke ruang tamu adalah bagaimana kita menghargai hidup dan menghormati Dewa Dapur. Sejujurnya hal detail tentang Dewa Dapur baru saya ketahui saat itu, biasanya saya hanya tahu Dewi Kwan Im, itu pun dari tv.

Penjelasan mengenai Dewa Dapur juga ada di bab awal novel ini, sebuah penjelasan sederhana tetapi saya mbrambang dibuatnya terutama karena teringat nasihat Mami. Saya merasa sedikit jahat karena lama tidak memberi kabar pada mereka. Juga hampir seperti Giok Hong yang diasuh orang lain, sejak menjelang  usia 3 tahun hingga dewasa saya sudah berpindah pengasuhan pada kerabat yang berbeda. Bedanya saya mengenal orang tua saya dengan baik serta tinggal bersama mereka cukup lama, sementara Hong tidak.

Pada bagian ketika Hong “dijamu” Lena menjelang perabuan suaminya, saya teringat lagi hari penyambutan di rumah Mami Tiana, orangtua asuh yang saya ceritakan di atas. Beliau membuatkan saya sup spesial dengan haisom atau teripang, mie panjang umur, opor cap go meh, dan buah segar. Teringat juga setiap saya mampir dari bekerja atau pulang kuliah Mami Tiana selalu berkata, “Ulin, kamu damana*? Kok baru datang. Ayoh ciak** dulu.” Kehangatan Mami Tiana dan kesukaannya terhadap makanan hampir dapat disamakan dengan Cik Lena dalam novel ini, hanya saja Ia tidak jahat. Dahulu saya sering kali diajak wisata kuliner, malam hari. Kami berkendara ke Gang Pinggir-Kampung Kali-Sebandaran, atau mencari jajanan enak di sekitar Klenteng, atau makan nasi ayam di Simpang Lima. Saat Imlek beberapa waktu lalu, setelah membaca habis Buku Kancing yang Terlepas, saya tergugu duduk sendiri di meja makan sambil makan kue keranjang dengan perasaan sedikit pilu, tiba-tiba saya sangat rindu dan ingin makan bakcang kacang merah.

Persoalan dalam keluarga, antara orang tua saya dengan saudara-saudaranya, turut membuat saya terombang-ambing. Tidak menyenangkan rasanya terjebak dalam politik keluarga, terutama sebagai seorang anak yang dianggap lemah dan dipaksa harus mau menjadi lemah. Well, saya dapat memahami perasaan Giok Hong jadinya. Selanjutnya saya diharuskan ikut seorang kerabat dengan sejumlah aturan yang akhirnya membuat saya tidak boleh bekerja, kurang gaul, dan tidak lagi ikut bersama keluarga Mami Tiana. Mungkin juga saya yang tidak siap sebagai anak asuh. Dalam hal ini saya benar merasa seperti kancing yang terlepas dari barisannya. Oh I miss her much more now.

Terakhir, saya sempat diajak menemui seorang guru Bahasa Mandarin. Mami Tiana dan suaminya ingin saya belajar bicara bahasa tersebut. Menurut mereka bahasa adalah salah satu hal yang harus ‘dialirkan’ terus dalam keluarga. Saya diberikan beberapa buku fotokopi dan flash card untuk belajar. Guru tersebut meskipun sudah cukup tua namun tampak bertenaga dan kesannya sangat ramah, Ia bernama Ing Wen. Entah, apakah Ing Wen yang ada dalam buku ini adalah orang yang sama.

Kesimpulannya adalah silakan baca bukunya. Apa yang saya rasakan dan ceritakan bisa jadi berbeda dengan anda. Menjalani proses selalu lebih menyenangkan, setiap orang tentu memiliki sudut pandang masing-masing.

 

* damana = di mana/dari mana

** ciak = makan

 

15 Comments to "Kancing Yang Terlepas – Sebuah Resensi"

  1. Ulin  5 March, 2014 at 10:29

    > Iya Mba Phie, benar.

    > atau saya kenalkan langsung dengan penulisnya, Pak Handoko? bisa dapat tanda tangannya lho

  2. Handoko Widagdo  5 March, 2014 at 07:45

    Ulin, terima kasih untuk resensinya. Sebagai penyuka novel dengan latar belakang keturunan Tionghoa, saya akan mencari novel ini.

  3. phie  22 February, 2014 at 12:08

    mba ulin klo baca cerita yg bikin teringat kenangan lama itu bikin mengharu biru ya. pasti bukunya punya kesan tersendiri

  4. Ulin  20 February, 2014 at 22:41

    hahaha…iya Mas JC, makanya saya kasih peringatan di awal bakalan banyak adegan lepas kancing ^_^

  5. J C  20 February, 2014 at 21:03

    Ulin, weekend kemarin aku sudah beli bukunya dan mulai membacanya. Tidak heran judulnya KANCING YANG TERLEPAS, di halaman-halaman pertama memang kancing tokoh utamanya sudah terlepas semua dan memang jarang dikancingkan…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *