Kenangan Valentine’s Day

Wesiati Setyaningsih

 

Ada kenangan hari Valentine di masa SMA yang benar-benar tak terlupakan. Kalau itu tentang diberi hadiah sama pacar, itu biasa. Tapi ini berbeda.

Ceritanya waktu itu saya kelas 3 SMA. Tepat di hari Valentine tahun itu, jadwal mata pelajaran di kelas saya malah dua mata pelajaran yang mengerikan meski bagi anak IPA sekalipun: Matematika dan Fisika. Buat saya dua mapel itu dua kali mengerikan  karena selain saya tidak mudeng dua mapel itu, gurunya juga galak minta ampun. Guru Fisika waktu itu Pak Win namanya, tinggi besar, berkumis dan ganteng. Suaranya yang menggelegar saja sudah  membuat mengkeret. Apalagi kalau tidak bisa menjawab, nadanya makin tinggi.

Jadi tiap kali beliau memberi pertanyaan, serasa saya terkencing-kencing. Bagaimana lagi? Saya sama sekali tidak paham Fisika. Saya sudah les pada guru, sudah diajarin sahabat juga pacar saya yang anak A1 (Fisika), tapi tetap tidak bisa juga. Memang sudah nasib saya yang salah jurusan, harusnya saya masuk IPS saja, tapi saya masuk A2 (Biologi).

Jam berikutnya, mata pelajaran Matematika, tidak kalah mengerikan. Padahal gurunya perempuan, imut dan cantik. Bu Endang, namanya. Cuma kalo mengajar, sama sekali tidak ada senyum sedikitpun. Bahkan selintas candaan pun sangat jarang ada, kalau saya tidak boleh mengatakan tidak pernah. Tidak cuma buat saya, teman-teman saya pun sebagian besar takut minta ampun. Bahkan ada sebuah kejadian di mana teman saya pingsan waktu disuruh mengerjakan soal di depan kelas oleh beliau. Entah karena dia sedang tidak sehat atau memang ketakutan, yang jelas ketika dia sedang berusaha menulis jawaban soal di papan tulis dengan diomel-omeli guru tersebut, tiba-tiba dia pingsan.

***

Nah, ceritanya hari itu tanggal 14 Pebruari. Pagi-pagi saya menulis di papan pengumuman yang ada di depan kelas dengan:

“Happy Valentine’s day. Semoga di hari kasih sayang ini kita tidak mendapat kemarahan.”

Beberapa teman tersenyum geli, sementara beberapa yang lain malah takut kalau guru  malah marah-marah karena tulisan itu. Saya cuek saja. Meski beberapa dari mereka sibuk bilang, “Hapus!” pada saya, nyatanya tak ada yang mau menghapus tulisan itu sendiri. Jadi saya anggap mereka setuju saja dengan tulisan tersebut.

Jam pelajaran dimulai dan sampailah di jam pelajaran Fisika. Seperti biasa Pak Win menerangkan materi hari itu, lalu memberikan soal, dan langkah berikutnya setelah memberikan soal adalah ngomel panjang lebar karena hampir satu kelas tidak ada yang bisa mengerjakan soal yang diberikan. Jangankan mengerjakan soal, menjawab pertanyaan pancingan dari beliau saja tidak ada yang bisa.

Maka mulailah beliau memarahi kami semua. Tidak dengan kata-kata kasar, hanya menasehati panjang lebar dengan nada sedikit tinggi, sebagai ungkapan kekesalan karena capek menjelaskan tapi respon yang datang tidak sesuai harapan. Sambil bicara ini itu Pak Win melangkah mendekati pintu, lalu seperti ditarik oleh tulisan di papan pengumuman, beliau menoleh. Terbacalah tulisan saya tadi oleh Pak Win.

Tiba-tiba beliau tertawa. Entah karena beliau beragama Katolik atau memang karena beliau memaklumi even kasih sayang seperti ini, beliau kembali berdiri di tengah-depan kelas dan mengatakan,

“Saya tadi nggak marah kan ya?”

Sontak anak-anak yang sudah mengkeret takut, kini ikut tertawa. Tidak seperti di hari lain di mana kami dicekam ketegangan, hari itu kami bergembira di pelajaran Fisika. Sungguh sebuah berkah.

Setelah pelajaran Fisika, teman sebangku saya yang kebetulan ketua kelas berkata,

“Hapus! Habis ini Bu Endang. Nanti dimarahi, lho!”

Saya diamkan saja. Saya pikir Pak Win saja tidak marah, pasti Bu Endang juga tidak marah. Dan pada waktunya pelajaran Matematika, Bu Endang masuk kelas dengan bibir mengerucut seperti biasa, lalu melakukan prosedur standar : menjelaskan – memberikan soal – ngomel. Suaranya yang melengking memenuhi kelas. Dan seperti apa yang terjadi pada Pak Win, Bu Endang juga melangkah ke dekat papan pengumuman tadi dan membacanya.

“Apa ini?”

Nada marahnya naik oktaf.

“Itu perayaan orang Nasrani. Jangan suruh semua orang merayakan…” dan seterusnya, saya sudah lupa. Intinya beliau marah dan sangat-sangat tidak suka membaca tulisan itu karena beliau Muslim dan tidak selayaknya hal tersebut diberlakukan untuk beliau juga. Sepertinya beliau mengira teman saya yang Nasrani yang menulis tersebut.

Ketika beliau bertanya, “Siapa yang nulis itu?” saya mengangkat tangan. Tampak wajah beliau terkejut karena justru saya yang Muslim yang melakukannya.

Jujur waktu saya menulis itu, saya tidak berpikir bahwa Valentine’s day itu cuma harinya kaum Nasrani saja. Waktu itu saya masih remaja dan hal-hal yang berbau kasih sayang rasanya memenuhi kehidupan saya. Apa lagi yang lebih penting daripada berkasih sayang? Dalam kepala saya: tidak ada! Jadi saya tulis itu tanpa mempedulikan masalah agama seperti yang disampaikan Bu Endang. Saya juga tidak memaksa siapa-siapa untuk tidak marah. Saya cuma berdoa agar tidak ada yang marah. Tapi malah Bu Endang marah luar biasa.

Akhirnya saya hapus tulisan tersebut di bawah pelototan Bu Endang, masih dengan benak yang dipenuhi ketidakpahaman kenapa Beliau harus sedemikian marahnya. Ketika pelajaran Matematika berakhir, teman-teman satu kelas ribut. Beberapa, seperti teman sebangku saya yang sudah mengingatkan untuk menghapus, menyalahkan saya.

“Dibilangin juga apa!” kata mereka.

Tapi beberapa cuma tertawa saja dan mengatakan bahwa memang sudah karakter Bu Endang suka marah-marah. Menurut mereka saya tidak salah apa-apa.

***

Di hari Valentine ini, saya teringat kenangan itu dengan rasa geli. Masa SMA memang tak mudah dilupakan. Namun, hal-hal yang dulu membuat saya kesal, gundah, sekarang saya kenang dengan perasaan yang berbeda. Dulu saya kesal juga, sekarang saya tertawa-tawa mengenang itu semua.

Valentines-Day

Dan bagi mereka yang menganggap hari kasih sayang ini berlebihan, ya jangan merayakan. Tidak usah ribut melarang orang lain yang ingin merayakan. Toh kalau mau berkasih sayang bisa tiap hari.

Bagi yang ingin merayakan, rayakan saja dengan sewajarnya dan tidak usah memaksa orang lain untuk ikut merayakan. Karena kita memang butuh momen-momen khusus untuk menyatakan cinta kita sebagai kejutan, agar hidup tidak terjebak dalam rutinitas.

Akhirnya, selamat hari kasih sayang. Semoga semua mahluk berbahagia dan memiliki sebab-sebab kebahagiaan. Begitu saja doa saya untuk semuanya.

“Mari berkasih sayang.”

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

21 Comments to "Kenangan Valentine’s Day"

  1. Dj. 813  19 February, 2014 at 20:51

    Mbak DA…
    Semoga cepat sembuh dan sehat selalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.