Tenun Cinta

Angela Januarti Kwee

 

Aku bermimpi hal yang sama lagi! Kenapa mimpi itu terus muncul? Orang bilang mimpi adalah bunga tidur. Apa karena aku merindukanmu? Aku melihat seseorang dalam mimpiku. Tapi … apa itu kamu? Aku ragu. Pikiranku kacau. Hatiku gundah tak menentu. Apa yang harus kulakukan?

Aku mengambil secarik kertas. Menumpahkan perasaan yang berkecambuk di dadaku. Aku menulis puisi untukmu. Entahlah, apa ini puisi yang baik. Aku tak pernah menulis puisi sebelumnya.

Ada seseorang kurindukan

itu kamu

tertunda mimpi

ingin kuwujudkan nyata

Memelukmu aku ingin

bercanda

bercerita

bergembira bersama

Ada seseorang kutemui dalam mimpi

itu kamu?

terasa nyata

aku bahagia

bunga bermekaran

harum semerbak penuhi taman

tapi …

itukah kamu?

*

Kurasakan bening kristal jatuh di kedua pipiku. Aku menangis. Kuulangi membaca puisi itu. Airmataku mengalir semakin deras. Oh Tuhan, ada apa denganku?

Ada apa, Adek? Kenapa belum tidur? Kakak mengirimkan BBM. Tentu saja dia tahu aku gelisah. Aku meng-update status dan fotoku. Ada pesan yang ingin kusampaikan. Dia sangat mengerti apa yang kurasakan.

I am dreaming about someone, Kakak. Tapi aku tidak yakin apa itu dia.

Iya sayang. Sudah sekarang tidur lagi ya. Tersenyumlah untuk sambut mimpi indahmu. Jangan berpikir terlalu keras. Jangan lupa berdoa. Perbincangan singkat via BBM yang mampu menenangkan pikiranku.

Aku berdoa pada Tuhan. Hening. Subuh tanpa kebisingan rutinitas orang-orang. Kusampaikan semua isi hatiku. Aku tahu Tuhan sudah mengetahuinya. Seketika aku lega. Aku ingin kembali tidur. Subuh ini masih membuatku mengantuk.

Kacau! Mataku tak mau terpenjam sedikitpun. Lagi dan lagi. Kamu merasuki pikiranku. Ayolah … jangan ganggu aku, sebuah bisikan kecil sebagai permohonan. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Stev … apa kamu juga memikirkanku? Tidak adil rasanya bila hanya aku yang merindukanmu. Stev … aku sudah sampaikan semua permohonanku pada Tuhan. Aku sedang menunggu jawaban-Nya.

*

Kucoba pejamkan mata, kembali ke dunia mimpi sebelum fajar menyingsing. Dalam mimpi aku melihat dirimu. Aku berharap itu benar kamu. Aku berjalan mendekat. Sosok itu tersenyum padaku. Pria berwajah tampan dengan pupil berwarna kecoklatan. Ia mengenakan baju kaos hitam dengan sablon lambang perusahaan. Aku mengenal lambang itu.

“Stev … kamukah itu?”

“Amalia ….” Panggilan ini sangat khas. Hanya kamu yang memanggilku dengan nama ini. Aku yakin itu kamu!

Kamu menyentuh pipiku dengan tanganmu yang lembut. Terasa hangat. Aliran darahku mengalir deras. “Aku rindu kamu, Stev.” Kutatap wajahmu lekat.

“Aku juga. Senang rasanya bisa melihatmu lagi. Kamu sangat cantik!” Pipiku merona. Pasti kamu dapat melihatnya. Aku malu.

“Ikut aku!” kamu menarik lenganku. Hanya dalam sekejap kita berdua berada di satu tempat yang belum pernah kukunjungi. Sebuah kampung dengan rumah panggung yang luas. “Kita di mana?” kamu tidak menjawabnya. Kamu hanya tersenyum dan mengajakku untuk masuk ke rumah itu. Aku melihat beberapa wanita dewasa sedang bekerja. “Ibu-ibu itu sedang melakukan proses menenun,” ujarmu seraya tersenyum padaku. Aku ingat sesuatu. Beberapa hari lalu kamu mengirim pesan dan memberitahu penelitianmu tentang tenun ikat hampir selesai.

Aku merasa aneh. Ibu-ibu itu tidak terganggu dengan kehadiran kami. Mereka tetap sibuk dengan pekerjaannya.

“Stev … ceritakan apa yang menarik dari tenun ikat ini?”

“Serius ingin tahu? Ceritanya sangat panjang, nanti kamu bisa bosan.”

“Tentu saja tidak! Aku akan menyukai apapun yang kamu suka. Apalagi tentang budaya.”

“Jaman dulu, menenun menjadi kewajiban setiap perempuan dari Suku Dayak khususnya sub suku Dayak Desa. Ini dilakukan sebagai tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan akan pakaian serta keperluan adat istiadat. Menenun memiliki keunikan tersendiri, ada nilai seni dan sejarah yang tinggi.”

“Apa sejarahnya?”

“Kamu terlihat sangat penasaran, Amalia.” Kamu mencubit hidungku. Dasar! Masih saja sempat bercanda. Tapi jujur. Candaan seperti ini selalu membuatku rindu padamu.

“Lihat yang dilakukan ibu-ibu itu. Ada yang memintal benang, melakukan proses peminyakan (ngaos), mewarna (mencelup), mengikat motif, menenun dan membuat pakaian adat dari hasil tenunan. Semua yang mereka lakukan tidak sembarang. Dari beberapa tahapan proses menenun tersebut, dilakukan ritual-ritual tertentu yang dipercaya sebagai roh untuk membangkitkan semangat dalam bekerja agar mendapatkan hasil yang memuaskan.”

“Motif-motifnya juga bagus sekali, ya?”

“Tentu saja!” ratusan motif pada kain tenun ikat Dayak ini berasal dari inspirasi, mimpi dan pengetahuan para leluhur yang mengandung makna mendalam sebagai nasihat, petuah, pantangan dan semangat dalam kehidupan keseharian mereka.”

“Aku sangat kagum!”

“Masih banyak hal yang akan membuatmu terkagum-kagum. Aku yakin kamu akan jatuh cinta pada tenun ikat ini.”

“Aku sudah jatuh cinta pada yang bercerita,” balasku sambil bercanda. “bagaimana mereka mendapatkan bahan bakunya?”

“Bahan bakunya hanya benang dan pewarna. Mereka menanam tumbuhan kapas di ladang pada musim sesudah panen. Pewarna bahan alam berasal dari tumbuh-tumbuhan yang diambil mulai dari daun, akar, batang, kulit, buah, umbi dan biji. Ada juga pewarna dari bahan binatang seperti lemak ular sawa, labi-labi dan masih banyak lagi. Kamu bisa membedakan pewarna alam dan kimia dari warnanya. Biasanya warna kain yang menggunakan pewarna kimia warnanya lebih cerah dibandingkan pewarna alam.”

“Aku berharap bisa memiliki satu kain yang mereka buat.” Kamu berpaling padaku. Tersenyum. Mengecup pundak tanganku. “Aku akan membelikan untukmu sebagai hadiah. Sekarang kita harus pulang!”

“Tunggu Stev, aku masih ingin melihat mereka menenun.”

“Cukup Amalia, sudah saatnya pulang!”

Untuk kedua kalinya kamu menarik lenganku. Aku hanya mengikuti langkahmu. Kita melewati sebuah ruang berwarna putih. Tidak ada orang lain. Hanya kita berdua. “Pulanglah Amalia. Lewati pintu itu! Aku harus segera pergi.”

“Stev ….” belum sempat aku melanjutkan perkataanku. Kamu menjauh. Semakin jauh. Tanganku tidak dapat meraihmu. “Stev, jangan pergi!”

Tiba-tiba terdengar bunyi yang begitu keras. Memekakkan telingaku. Gemanya memecah keheningan. Aku segera memasuki pintu itu dan tidak bisa melihat apa-apa lagi.

*

Fajar menyingsing. Sinarnya masuk dari sela jendela kamarku. Suara itu masih menggema keras. Kumatikan  alarm yang berbunyi  dekat tempat tidur. Ternyata aku bermimpi tentang Stev lagi.

Aku membuka laci meja dan mengambil handphone-ku. Kerlipan lampu merah menandakan ada pesan masuk.

Amalia, penelitianku sudah selesai. Aku ingin bertemu kamu pukul 12 siang nanti. Berdandanlah yang cantik. Kita makan siang bersama. Aku merindukanmu.

Seulas senyum menghiasi wajahku. Aku melirik jam waker. Ternyata aku kesiangan. Sudah pukul sembilan pagi. Untunglah ini akhir pekan. Aku tidak perlu takut terlambat masuk kerja.

Aku menuju dapur. Aku merasa haus dan lapar. Mungkin karena aku berjalan terlalu jauh dalam mimpi. Energiku banyak terkuras. Syukurlah ada puding coklat di dalam kulkas. Tanpa pikir panjang aku melahapnya dengan nikmat.

Aku bersiap untuk bertemu Stev. Sudah dua bulan ini dia melakukan penelitian bersama teman-temannya. Aku bangga dengan semangatnya. Dia sangat mencintai budaya Indonesia. Meski aku terlalu sering ditinggalkan untuk penelitian. Aku selalu ingin mendukungnya. Aku termasuk beruntung bisa memilikinya. Tanpa dia sadari, aku banyak belajar kebudayaan darinya. Setiap kali pulang, dia akan sangat bersemangat menceritakan pengalamannya. Lambat laun, aku jatuh cinta untuk mempelajari kebudayaan seperti yang dia lakukan. Meski waktu kerja  kami sangat padat. Tiap kali ada kesempatan, dia selalu mengajakku liburan dan berkunjung ke tempat baru untuk mempelajari kebudayaan dan kehidupan masyarakat setempat. Aku jadi berpikir, apakah mimpi tadi malam adalah bagian dari liburan bersamanya?

*

Ting … tong … bel rumah berbunyi. Aku bergegas untuk membuka pintu. Stev muncul dari balik pintu. Dia sangat tampan dengan kemeja berwarna merah marun berbahan Akrilit. Senyumnya menawan. “Aku merindukanmu,” ujarnya seraya mengecup pipiku.

Kami makan siang di sebuah cafe tepi sungai. Tempatnya tidak mewah. Bisa dibilang kami jarang pergi makan ke restoran dan tempat yang mewah. Aku dan Stev lebih senang menikmati suasana seperti cafe ini. Memandangi sungai yang terbentang luas dan menikmati hembusan angin siang.

“Bagaimana penelitianmu?”

“Menyenangkan! Rasanya tidak ingin pulang. Kami mengunjungi beberapa tempat dengan jarak yang berjauhan. Beberapa ibu bahkan mengajari kami menenun. Sulit sekali. Masyarakat di sana kebanyakan tinggal di rumah panggung.”

“Tunggu … tunggu …, rumah panggung? Aku tadi malam bermimpi kamu membawaku ke sebuah kampung dan masyarakatnya tinggal di rumah panggung.”

“Kamu serius?” Stev terlihat terkejut.

“Dalam mimpi aku melihat ibu-ibu menenun. Kamu juga menjelaskan banyak hal tentang tenun padaku. Kamu bahkan mengatakan akan membelikan kain tenun sebagai hadiah.”

“Aku rasa, aku menepati janjiku.”

“Maksudnya?”

“Sebelum pulang, aku melihat kain tenun dengan motif yang indah. Aku teringat padamu dan membelinya. Tunggu sebentar. Kainnya ada di mobil. Aku ambil dulu.”

Aku hanya terdiam. Kebingungan memikirkan mimpi dan kenyataan yang tengah berlangsung. Aneh. Sangat aneh.

Kamu kembali dengan membawa plastik belanjaan berwarna kuning bertuliskan tenun ikat Dayak.

“Untukmu.”

Aku membuka plastik itu. Sebuah kain berukuran 129 X 224 cm berbahan cotton dengan motif yang sangat indah. Sangat lembut. Warnanya kekuningan.

“Cantik sekali kainnya. Terima kasih, Stev.”

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

(Photo by J. Paradise At Ensaid Panjang Village, Sintang, Kalimantan Barat It tooks a few month to finish this Tenun Ikat for a Dayak Desa woman. – http://reviewfotografi.blogspot.com/2012_04_01_archive.html – )

“Waktu membeli kain ini, ibu yang menenunnya menceritakan kisah tentang motif yang ada pada kain. Kamu lihat, ada tujuh motif dalam satu kain ini. Encerubung, Bujang Pengelala, Merinjan Nyanik, Lingkuk Bekantuk, Tengkang Banang, Seligi Beras dan Kaki Kemabai. Merinjan Nyanik adalah motif tua dan khusus dibuat oleh nenek moyang mereka sejak jaman dulu. Kain bermotif ini digunakan untuk menggendong anak bayi mandi ke sungai dengan harapan bayi tersebut mendapat banyak kelebihan, panjang umur dan berguna bagi keluarga dan semua orang, seperti kegunaan tumbuhan yang dilukiskan oleh motif Merinjan. Tumbuhan yang dimaksud adalah rotan yang jaman dahulu banyak digunakan untuk bahan baku peralatan rumah tangga bahkan mengikat sambungan tiang untuk membuat rumah dan seribu macam kegunaan bagi keperluan manusia.”

“Luar biasa! Sampai sedalam itu makna motif dalam kain ini.”

“Aku membayangkan cinta kita seperti bayi yang diceritakan, panjang umurnya.”

“Stev ….” Tatapanmu sangat berbeda saat ini. Lembut. Matamu memberitahuku sebuah impian besar yang ingin kamu wujudkan untuk ungkapan cintamu.

“Aku mencintaimu, Stev. Aku berjanji untuk menjaga cinta kita.”

“Aku juga mencintaimu, Amalia. Sepenuh hati dan jiwaku.”

“Stev … Apa kamu ada waktu libur setelah penelitian ini?”

“Setelah aku menyelesaikan laporan, aku bisa mengambil cuti. Memangnya kenapa?”

“Kita liburan bersama lagi, ya? Dalam mimpi aku belum selesai menyaksikan ibu-ibu itu menenun. Aku ingin belajar lebih banyak tentang tenun.”

“Aku tahu tempat yang bagus untuk dikunjungi.”

“Serius?” aku tidak bisa lagi membendung rasa gembiraku.

“Ada desa sekitar dua jam dari sini yang kebanyakan masyarakatnya bekerja sebagai penenun. Kita akan ke sana dan tinggal beberapa hari. Bisa jadi tempat itu adalah tempat yang kamu kunjungi dalam mimpi.”

“Aku tidak sabar untuk membuktikannya!” Kami melanjutkan perbincangan dengan makan siang yang menyenangkan.

Mimpi dan kenyataan semuanya indah, terlebih aku belajar tentang kebudayaan.

angela-tenun-dayak

*SCA-AJ.020187*

 

Cerpen ini aku persembahkan untuk My Rainbow yang berulang tahun pada hari ini. Seseorang yang sangat mencintai kebudayaan Indonesia, khususnya kebudayaan Dayak.

Beberapa info tentang tenun ikat aku dapatkan dari : www.tenunikatsintang.com dan Buku Sertifikat Kain (Cerita dan Motif Kain) terbitan Yayasan Kobus bekerjasama dengan Ford Foundation.

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Tenun Cinta"

  1. Dewi Aichi  17 February, 2014 at 22:25

    Wowwwww……romantis sekali Angela…bahagianya si Rambo…eh Rainbow he he…tenun yang indah, ceritanyapun indah penuh kasih….

  2. Alvina VB  17 February, 2014 at 12:45

    Wow, tenunannya cantik banget. Thanks sudah berbagi cerita Angela…

  3. Angela Januarti  15 February, 2014 at 10:09

    Terima kasih James, Pak JC dan Kak HennieTriana Oberst

  4. HennieTriana Oberst  14 February, 2014 at 23:57

    Angela, kisahnya indah, seindah tenunan di atas.

  5. J C  14 February, 2014 at 11:02

    Jalinan kalimat dan ceritamu selalu asik sekali, Angela…

  6. James  14 February, 2014 at 10:26

    SATOE, Tenunan Kasih

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.