Di Antara Gunung Kelud dan Mike Tyson

Osa Kurniawan Ilham

 

Berbicara mengenai cincin api di Indonesia, tentu saja saya tidak bisa menghilangkan Gunung Kelud dalam kosa kata di benak saya. Bagaimana tidak? Saya adalah asli orang Kediri, dilahirkan di Kediri, sebuah kota kecil yang berada di kaki Gunung Kelud. Walau banyak orang bilang bahwa Gunung Kelud berada di wilayah Blitar, tetangga Kediri tapi toh Kediri juga berada di salah satu sisinya.

Gunung Kelud memang diciptakan Tuhan untuk memberi kesuburan bagi wilayah di sekitarnya. Abu vulkaniknya laksana pupuk subur bagi tanah Kediri melengkapi aliran Sungai Brantas yang seakan diciptakan Tuhan untuk mengairi tanah Kediri. Jadi tidak heran kalau tanaman tebu tumbuh subur di tanah Kediri. Tidak heran juga kalau tanaman budidaya kopi, kakao dan vanili tumbuh subur di daerah Plosoklaten dan Sepawon yang memang terletak di kaki Gunung Kelud.

Waktu masih di kelas 2 SMP, saya pernah mengikuti perkemahan Pramuka di Sepawon situ. Hawanya sejuk dan kami berkemah dikelilingi oleh perkebunan kakao dan vanili. Saya ingat, waktu mengikuti acara penjelajahan saya sempat penasaran dengan tanaman kakao itu sehingga tangan saya memetik salah satu buahnya lalu secara sembunyi-sembunyi kami belah di dalam tenda untuk melihat isi buahnya. Waduh, ternyata saya sudah menjadi pencuri saat itu. Ampuni saya, Tuhan. Maafkan saya, Pak Petani.

Selain menyuburkan, Gunung Kelud juga mengerikan kala dia meletus. Waktu saya kelas 1 SMA, saat itulah saya merasakan hebatnya daya letusan Gunung Kelud. Ini yang mau saya bagikan kepada Anda.

10 Februari 1990. Pada hari Sabtu itu saya masih bersekolah di kelas 1 SMA Negeri 2 Kediri yang berlokasi di Jalan Veteran Kediri, kira-kira 30-an km sebelah barat Gunung Kelud. Karena anak kelas 1 masuk kelas pada siang hari, maka seperti biasanya dengan mengendarai sepeda saya pun berangkat ke sekolah. Sesampai di sekolah aktivitas pun dimulai dengan obrolan dengan sesama teman. Yang paling saya ingat, tema obrolan pada hari itu mengenai Mike Tyson yang besok harinya akan bertanding di Tokyo, Jepang. Harap maklum, pada tahun-tahun itu pertandingan tinju Mike Tyson memang menjadi satu-satunya hiburan bagi kami semua.

  image001

Sumber: www.wikipedia.org

Lalu kelas pun dimulai sesuai jadwal. Beberapa jam kemudian suasana menjadi gelap, langit pun terlihat mendung. Tidak menyadari apa yang tengah terjadi, kami pun tidak menghiraukan suasana alam saat itu. Mungkin saja hujan memang akan turun, seperti hari-hari sebelumnya. Tapi alangkah terkejutnya kami setelah mengetahui bahwa bukan air yang menetes di jendela kelas tapi debu dan abu tipis berwarna putih yang lambat laun menutupi jendela kaca kelas kami sehingga membuat gelap suasana kelas. Karena gelap kami pun menyalakan lampu untuk menerangi suasana kelas.

Mungkin karena juga terkejut, guru kami menghentikan pelajaran untuk sementara dan kami menggunakan kesempatan itu untuk pergi keluar. Di luar gedung, kami menyaksikan sebuah pemandangan yang baru pertama kali kami jumpai seumur hidup kami. Dari langit yang hitam itu, bertebaranlah abu dan debu-debu tipis berwarna putih keperakan yang bisa membuat mata kami kelilipan. Abu yang kami lihat dan raba, persis seperti abu dan debu sekam dari tempat pembakaran batu bata.

Saat itu, informasi dari media belum segencar sekarang sehingga perlu waktu beberapa menit untuk menyadari bahwa itu adalah debu dan abu dari letusan gunung berapi. Benar saja, beberapa lama kemudian guru kami mengumumkan bahwa Gunung Kelud telah meletus dan kami akan segera dipulangkan lebih dini. Walaupun berada di tengah-tengah suasana hujan abu, kami pun senang karena bisa segera pulang. Dasar anak ABG.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya terus menerus diguyur oleh hujan abu. Untung saya mengenakan topi, itu pun beberapa kali mata saya kelilipan abu karena saya memang tidak berkaca mata. Tapi pemandangan di kiri kanan jalan memang berubah sama sekali dibandingkan saat saya berangkat sekolah tadi siang. Sekarang, hampir semua genting rumah berwarna putih oleh debu vulkanik Gunung Kelud. Demikian pula rumah saya yang berada di desa Mrican, gentengnya juga dipenuhi oleh abu Gunung Kelud. Praktis tidak ada orang berlalu lalang dalam suasana seperti itu. Tidak ada anak-anak yang bermain-main di sore hari itu. Bahkan saya dan adik-adik juga dilarang keluar rumah oleh bapak dan ibu.

Keesokan harinya, Minggu 11 Februari 1990 Mike Tyson dijadwalkan tetap akan bertanding melawan James “Buster” Douglas di Tokyo walaupun Kediri dan Blitar tengah mengalami kesusahan sebagai dampak dari letusan Gunung Kelud. Jangankan di Tokyo, di Kediri saja pertandingan Mike Tyson masih menjadi perbincangan hangat, padahal Gunung Kelud sudah tidak hanya hangat lagi tapi malah semakin memanas.

Pulang dari gereja, saya bertemu dengan seorang senior yang sudah menjadi mahasiswa. Alih-alih menonton pertandingan Mike Tyson, kami sepakat untuk mengunjungi teman mahasiswa yang tinggal di kampung lereng Gunung Kelud untuk melihat kondisi keluarganya. Kami pun segera berangkat.

Jalanan Kediri memang sedang sepi saat itu. Hujan debu memang sudah berakhir, tapi jalanan tetap sepi. Sepertinya hampir semua warga Kediri sedang menonton tinju di televisi. Sebuah pilihan yang lumayan jitu, ketimbang harus keluar rumah dengan resiko sesak nafas dan mata kelilipan karena debu yang beterbangan.

Dengan sepeda motor kami pun melaju ke arah timur. Menyeberangi Sungai Brantas lewat jembatan baru, lalu terus ke timur ke arah wilayah Pesantren lalu terus ke arah Wates dan Plosoklaten. Pemandangannya sama, jalanan berdebu dan genting rumah berwarna putih keperakan karena debu. Beruntung, kaca helm melidungi mata kami dari debu yang beterbangan.

Kami terus melaju ke arah timur, ke arah lereng Gunung Kelud. Tidak dinyana, semakin ke timur debunya ternyata juga semakin tebal. Kami sempat berbincang, bagaimana kalau kami kembali ke Kediri saja. Tetapi akhirnya kami tetap sepakat untuk meneruskan perjalanan.

Semakin ke timur semakin mengerikan pemandangannya. Debu begitu tebalnya, saya taksir hampir setengah meter tebalnya. Di beberapa tempat mulai tampak pemandangan rumah-rumah kayu atau berdinding bambu yang mengalami kerusakan berat. Ada beberapa atap rumah yang rubuh karena tidak kuat lagi menanggung beban berat dari tebalnya debu dan abu vulkanik.

 image002

Sumber: http://foto.detik.com/readfoto/2007/10/02/161909/836934/473/1/

Perjalanan semakin terhambat oleh tebalnya debu di jalan dan abu yang beterbangan di udara mengganggu penglihatan. Jalanan semakin lengang dan sepi. Dan tiba-tiba dari sebuah rumah yang kami lewati kami dengar sorakan riuh rendah dari penghuninya. Tampaknya Mike Tyson sudah memukul KO lawannya, begitu pikir kami.

Beberapa puluh meter kemudian, di sebuah wilayah yang tidak mungkin lagi kami lewati keluarlah beberapa orang dari sebuah rumah. Kami sempat menguping pembicaraan mereka, “Wah, Mike Tyson sudah nggak ada tajinya lagi. Dia berhasil dipukul KO.” Bayangkan, dalam keadaan kesusahan pun orang masih bisa-bisanya dengan tenang menonton pertandingan tinju.

Mendengar itu kami pun menghentikan laju sepeda motor kami. “Apa, Mike Tyson bisa dipukul KO?” Setelah berdiskusi sebentar, kami menilai bahwa tidak mungkin melanjutkan perjalanan. Medan semakin berat, debu semakin tebal dan kami tidak membawa bekal apa-apa. Ditambah dengan berita kekalahan Mike Tyson, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Kediri, pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, kami dilapori banyak orang bahwa Mike Tyson memang benar-benar bisa dikalahkan. Ajaibnya, si leher beton itu dipukul KO oleh James Douglas di ronde ke 10. Anehnya, tidak ada seorang pun di rumah atau kampung yang menanyakan pengalaman kami mendekati lereng Gunung Kelud yang baru saja meletus itu. Serasa bahwa Gunung Kelud meletus sebenarnya tidak lebih penting dari kekalahan seorang Mike Tyson di ring tinju.

 image004

 Sumber: www.theguardian.com

Itulah memori saya tentang letusan Gunung Kelud di tahun 1990 itu. Tapi siapa mengira bahwa letusan Gunung Kelud saat itu ternyata tercatat secara unik dalam sejarah?

Letusan Gunung Kelud di tahun 1990 itu ternyata tidak berhenti dalam sehari saja. Tanpa kami sadari, letusan 1990 itu termasuk letusan yang sangat dahsyat. Sejarah mencatat bahwa saat itu Gunung Kelud meletus aktif dalam kurun waktu 45 hari. Dimulai dari 10 Februari 1990; saat kami akhirnya dipulangkan lebih cepat dari sekolah; dan dinyatakan berakhir pada tanggal 13 Maret 1990. Wikipedia mencatat bahwa letusan ini mengakibatkan korban jiwa lebih dari 30 orang dan menghasilkan kira-kira setinggi 7 km material berupa jatuhan tephra dan aliran lava pijar.

 

Catatan akhir:

Tahun 2007 Gunung Kelud kembali meletus. Para ahli meyakini bahwa letusan kali ini akan lebih hebat dari sebelumnya. Tapi alih-alih meletus hebat, terjadilah fenomena unik. Material perut bumi yang keluar ternyata berhasil menghambat letusan itu, gantinya muncullah anak gunung Kelud. Orang-orang sekarang menamakannya Gunung Tunggul Argo.

Fenomena ini mengubah wajah Gunung Kelud. Danau kawah Gunung Kelud yang dahulu indah berwarna hijau, ketika pada tahun 2011 kami mengunjunginya ternyata sudah lenyap tak berbekas, digantikan oleh seonggok material hitam yang tiada lain adalah anak Gunung Kelud.

Sekarang Gunung Kelud menunjukkan peningkatan aktivitasnya. Apakah akhirnya akan benar-benar meletus pada tahun ini?

image005

Sumber: www.id.wikipedia.org

gunung-kelud

Sumber: www.travelplusindonesia.blogspot.com

 image009

Sumber: dokumentasi pribadi saat berkunjung di tahun 2011

 

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 12 Februari 2014)

 

13 Comments to "Di Antara Gunung Kelud dan Mike Tyson"

  1. Dewi Aichi  19 February, 2014 at 06:33

    pak Osa, terima kasih kisah kenangan tentang letusan gunung Kelud, seperti saya juga punya kenangan saat Merapi meletus di November 1994, saat itu juga aku ngga tau apa-apa, yang jelas aku melihat banyak korban meninggal dan luka berat akibat awan panas. Bahkan teman saya yang berasal dari dusun Turgo, satu kampung terkena awan panas, saat berkumpul pada pesta pernikahan, sedih sekali , sirine dari truk2 yang membawa korban juga masih saya ingat, kebetulan kampung saya juga dekat RSU, yang mana para korban dibawa ke RSU itu dalam keadaan mengerikan, luka melepuh sekujur tubuh. Saya menyempatkan diri napak tilas tahun 2008, ke barak-barak pengungsian untuk bencana gunung Merapi saat meletus, dikawasan Pakem, kalasan, dan sekitarnya.

  2. Lani  19 February, 2014 at 03:53

    HAND : ok, jd itu jawabanmu…….masuk akal, bukan pakai klenik ini dan itu………krn mmg dua tanaman itu yg bs dan mampu hidup diabu vulkanik? Opo perlu bibit nanas soko Hawaii ta?????

  3. Handoko Widagdo  18 February, 2014 at 10:39

    Begini jawaban saya tentang kedelai dan gunung Kelud. Saat itu, pasca letusan G Kelud tahun 1990, semua lahan tertutup abu vulkanik. Jadi tidak banyak tanaman yang bisa ditanam. Nah salah satu proyek FAO menyarankan bertanam kedelai dan nanas sebagai tanaman pionoeer di lahan yang dipenuhi abu vulkanik. Jadi bukan menanam kedelai di puncak Kelud supaya tidak meletus. Klenik.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *