“Ditutup” Setelah Dibuka

Hariatni Novitasari

 

Pagi ini, saya mendadak harus ke Jakarta karena ada pelatihan menulis. Acara jam 9 pagi sampai dengan 11 siang. Karenanya, saya memutuskan untuk mengambil penerbangan Garuda paling pagi, 5.30 (GA 303). Meskipun kemarin sudah city check in, saya berangkat dari rumah jam 3.30 pagi karena masih tetap harus mengambil boarding pass. Ketika keluar dari rumah, taksi sudah menunggu di luar. Saya agak terkejut mendapati taksi yang akan saya tumpangi kotornya minta ampun. Sopir taksi lalu cerita kalau itu adalah abu vulkanik Gunung Kelud. Saat itu, saya baru sadar kalau debu-debu halus turun dari atas. Dalam perjalanan saya sempat berpikiran bagaimanakah penerbangan hari ini. Apakah akan di-cancel atau hanya delay atau tidak ada perubahan.

Nah, hari ini sebenarnya adalah hari pertama pengoperasian kembali bandara lama Juanda yang kini namanya telah menjadi Terminal 2 Bandara Juanda. Bandara ini dikhususkan hanya untuk penerbangan internasional dan Garuda untuk domestik karena terminal 1 sudah dianggap terlalu penuh sesak. Berbeda dengan terminal 1, di terminal 2 ini, para pengantar bisa masuk sampai ke dalam. Dan ruang check in lebih terbuka dibandingkan dengan yang lama. Jadi, dari ruang check in ke gate, penumpang harus berjalan keluar dulu dari tempat masuk dia.

photo

Pesawat parkir yang penuh debu

Jam 4 pagi, saya sudah sampai di bandara. Bandara sudah ramai dengan orang. Para calon penumpang sudah ramai masuk gerbang check in. Sudah lumayan mengular. Rupanya, karena hari ini pengoperasian pertama, ada semacam seremoni yang dilakukan oleh pihak Angkasa Pura. Ada gamelan dan juga tari-tarian untuk menyambut para calon penumpang. Beberapa penumpang mendapatkan kalung bunga melati dan beberapa mendapatkan goodie bag. Saya sempat protes kepada petugas karena acara ini. Mereka bilang ke saya tidak usah kuatir karena ini hanya butuh waktu 15 menit.

photo(1)

Penumpang yang antri ke ruang check-in

Setelah selesai check in, saya langsung menuju Gate 1 karena saya ingin tidur sejenak sebelum boarding.  Eh, begitu sampai di Gate 1, di dalamnya – selain kursi tunggu – ada kursi-kursi dan meja bundar sebagai layaknya di acara pesta itu. Ada juga beberapa hidangan di meja. Yang membedakan ruang tunggu di terminal baru ini dengan yang lama adalah ada TOILET-nya! Hehehehe. Kalau di terminal lama, harus keluar dulu kalau pengen kencing. Ada juga coffee shop di pojok ruang tunggu. Ya, lumayan-lah.

Beberapa saat setelah saya duduk, para tamu undangan peresmian mulai datang. Ada pejabat Angkasa Pura, pemerintah provinsi, para wartawan, dan juga para cowok-cewek yang berdandan ala Cak dan Ning Surabaya. Mereka banyak yang membawa rangkaian bunga, dan bahkan kendi untuk dipecahkan di seremoni. MC mengumumkan kalau di penerbangan perdana (paling awal, pukul 5.10 AM) jurusan Makassar akan ada seremoni pengalungan bunga kepada para flight attendants dan para penumpang. Salah satu penumpang yang akan dapat kalungan bunga adalah salah satu pejabat dari NTT.

photo(3)

Ruang Tunggu Gate 1 Garuda

 

photo(5)

Berdandan ala Cak dan Ning Surabaya

Suasana sudah sangatlah meriah. Para tamu mulai mencicipi hidangannya. Tidak ketinggalan para penumpang juga dipersilahkan mencicipi hidangan. Lumayan, ada nasi pecel, rawon, dan juga bubur ayam.

photo(4)

Pecel gratis

Ketika saya sedang di ruang tungggu inilah, saya ketemu dengan kakak kelas jaman S1 dulu, Teddy. Dia akan pergi ke Jepang untuk ikut training selama satu minggu. Kami semestinya akan terbang dengan pesawat yang sama. Sudah sekitar 10 tahun kami tidak bertemu. Lumayan lama kami mengobrol tetapi belum ada tanda-tanda pesawat kami siap diterbangkan. Lalu, salah satu pegawai Garuda yang di badge-nya ada nama “TAUFIK” mendekati beberapa penumpang yang sedang bergerombol. Dia mengatakan kepada kami kalau belum bisa memastikan penerbangan hari ini karena di Jogjakarta juga penuh dengan abu. Pada saat yang bersamaan, sudah ada himbauan dari BMG Australia untuk membatalkan semua penerbangan pagi itu.

Lalu, kamipun membunuh waktu sambil mengobrol di coffee shop di ruang tunggu itu sambil menunggu pemberitahuan dari pihak Garuda. Di coffee shop itu, sudah ada beberapa calon penumpang yang duduk-duduk di sana; seorang ibu dari Banjarmasin yang mau pulang kampung setelah rapat di Bali, tiga orang brondong Finlandia yang sedang menunggu penerbangan ke Denpasar, dua orang cewek berkacamata yang entah akan kemana, empat orang bapak-bapak yang akan ke Jakarta, dan beberapa orang lainnya. Sebagai seorang senasib, kami pun akhirnya jadi saling mengobrol menunggu nasib kami masing-masing. Saya memesan secangkir coklat panas. Jam 7.30 ada pengumuman dari Garuda kalau penerbangan saya (303) dan tiga penerbangan lainnya (305, 307, dan 309) dibatalkan dan para penumpang boleh refund tiket mereka.

Teddy dan saya akhirnya pamit kepada calon penumpang lainnya yang penerbangan mereka belum jelas, termasuk sama tiga brondong Finland yang masih galau dengan nasibnya. Saya bilang ke mereka tidak usah kuatir karena Garuda akan memberikan kompensasi kepada mereka – entah hotel atau refund seperti kami. Saya bilang, “Welcome to Indonesia and enjoy the holiday.”

photo(2)

Penumpang yang antri refund

Ketika saya sampai di tempat antrian refund, alamakkk antriannya panjang sekali. Garuda ada dua line antrian. Semuanya sudah penuh sesak dengan orang-orang yang mengantri. Untungnya, Teddy dan saya kemudian juga bertemu dengan orang-orang yang lumayan asyik buat ngobrol. Salah satunya cowok dari Makassar yang namanya Yaslam (ngintip dari tiketnya, hehehe) dan koko-koko dari Surabaya. Akhirnya obrolan sampai kemana-mana. Mulai dari liburan koko-koko itu ke café hippies di Brazil sampai dengan obrolan masalah foto. Sebenarnya, lumayan membunuh waktu kami refund tiket yang hampir tiga jam itu, hehehe. Jam 10.30, semua urusan saya sudah beres di bandara. Dan, yang memang patut diacungi jempol adalah proses refund terjadi dengan tertib dan aman. Tidak ada huru-hara dari penumpang karena kami semua sadar ini adalah kejadian alam, bukan kesalahan dari airlines dan dianggap sebagai force majeure. Ketika saya meninggalkan bandara ini, ada pengumuman kalau bandara ditutup sampai dengan waktu yang belum bisa ditentukan dan penerbangan untuk Jum’at, 14/02/2014 dibatalkan semua.

 

16 Comments to "“Ditutup” Setelah Dibuka"

  1. arrifani  18 February, 2014 at 16:43

    wah.. berarti bsok kalo pulng ke sby naek garuda domestik dr bandara lama donkkk….

    pecelnya menggoda iman sekaliii….

  2. Dj. 813  17 February, 2014 at 22:57

    Mbak H.N.
    Satu pengalaman yang baik, mana dapat makan segala.
    Nikmati sambil ngobrol dengan teman lama,memang asyik.
    Ingat Juanda, jadi ingat, kami makan pisang goreng, entah habis berapa piring.
    Karena nungggu terlalu lama.
    Sampai yang dipesenin ( pelayannya ) bengong…. hahahahahaha…!!!
    Salam manis dari Mainz.

  3. Dewi Aichi  17 February, 2014 at 22:08

    Elnino…wah…bersyukur banget ya dirimu, jiannn…nyaris ikut kalang kabut dengan ditutupnya bandara akibat letusan gunung Kelud.

  4. elnino  17 February, 2014 at 21:54

    Wah, Mon, untung Kamis sore aku udah balik dari Sby. Pesawat jam 17.10 mundur, baru bisa boarding jam 18.00-an. Sama mbak2 yg jual bandeng asap Bogajaya dikasih tau, hari ini penerbangan terakhir Garuda di Terminal 1, mulai besok di Terminal 2. Syukuuur aku balik sore itu, lha malamnya ada berita Kelud njeblug. Coba aku pulang Jumat, wah beda ceritanya…mumet gak bisa balik Jkt

  5. anoew  17 February, 2014 at 20:27

    Mon, bisnis purwaceng bisa terhambat nih kalau begini. Lha gara-gara abu, rejeki purwaceng jadi kelabu. Parah wis.

    @Kang Josh, kowe yang “teracuni” dengan judul artikel ini. Lha mosok masalah dibuka trus ditutup kok bisa bikin ngeres jiaaaaaaaan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.