Jogja Menangis, Sebab FPI Merobek Jantung Toleransi

Alfred Tuname

 

Sri Sultan Hamengkubuwana ke-X menyambut baik para pendatang ingin ke Jogja, sejauh mereka menghargai nilai-nilai dan tradisi Jogja. Masyarakat diaspora itu telah menganggap Sultan sebagai bapak. Karenanya, Jogja pun dikenal sebagai City of Tolerance. Tetapi kenapa Jogja menangis..?

Jogjakarta, Jogja, telah lama dikenal sebagai Indonesia mini. Suku bangsa dari Sabang sampai Marauke ada di Jogja dan menjadi bagian dari masyarakat Jogja. Di Jogja, mereka bekerja, belajar bahkan ada yang sudah tinggal menetap. Hidup masyarakat ini sangat damai dan saling menghargai satu sama lain.

Namun, kini City of Tolerance sudah mulai terkena “bom” intolerance. Bom itu mulai terjadi ketika kelompok atas nama nilai-nilai agama tertentu membongkar paksa patung Manusia Akar di Titik Nol Jogja. Patung itu merupakan karya seni kontemporer yang menambah citra estetis kawasan budaya dan pariwisata itu. Kini patung itu telah dicabut dan menyisahkan rasa kesal dan marah sebagian besar masyarakat yang mencintai Jogja. Hal itu dimulai dari Titik Nol, Jogja.

 

Titik Nol

Satu tempat yang paling dikenal di Jogja adalah Titik Nol. Tempat ini sering dikunjungi oleh setiap orang yang pernah datang ke Jogja. Warga Jogja pun sering berkumpul di tempat ini untuk menikmati suasana malam kota yang indah dan damai. Memang, di Titik Nol, kota Jogja sangat indah.

Letak Titik Nol berada di daerah sekitar perempatan di ujung selatan jalan Malioboro. Para era tahun 1970-an hingga 1980-an tepat di tengah perempatan itu terdapat air mancur kota. Di situlah letak Titik Nol.

Di kawasan Titik Nol ini, terdapat bangunan-bangunan bersejarah. Di antaranya adalah Benteng Vredeburg, Monumen Serangan Umum 1 Maret, pasar Bringharjo, Istana Kepresidenan Gedung Agung, Kantor Pos, Stadsklok, Kantor Arusansi Nill Maastschappij dan de Javasche Bank (sekarang gedung BNI), dan Kantor de Indische Bank (sekarang kantor perwakilan Bank Indonesia). Bangunan-bangunan ini merupakan saksi bisu horison sejarah Jogjakarta.

Saat ini, kawasan Titik Nol ini telah menjadi pusat kawasan bisnis pariwisata dan budaya Jogja.

Sebutan Titik Nol berkenaan dengan makna filosofis. Emha Ainun Najib mencoba  memaknai Titik Nol ini dengan nama awal jalan dimana Titik Nol itu berada, yakni jalan Margo Mulyo. Bahwa, “jika telah melakukan keutamaan hidup dan menyebarkannya, manusia akan mencapai kemuliaan” (tempo.co, 13/04/2012). Boleh jadi, nol berarti kekosongan (sunya), kemuliaan, dimana manusia lepas bebas dari keterikatan duniawi.

Dalam budaya timur, khususnya Hindu India, angka nol merupakan angka yang mistik. Angka nol berarti kekosongan. Kosong berarti semadi, yoga, kedamaian, ketenangan dan keheningan. Dengan kondisi ini, setiap orang dapat menilai dan merefleksikan hidupnya. Setiap orang yang ingin melihat setinggi apa pencapaian hidupnya, ia harus memposisikan dirinya di Titik Nol ini (bdk. Gde Aryantha Soethama, 2010). Karena itulah, kawasan ini sering dijadikan tempat berkumpul, bercerita, hening et cetera bagi warga Jogja yang ingin menemukan keseimbangan di tengah penatnya rutinitas.

Bagi masyarakat Jogja, Titik Nol juga menunjukan garis imaginer matematis yang menghubungan sumbu-sumbu simbolik dalam mistisisme Jawa. Titik Nol dalam titik pertemuan antara garis imaginer Gunung Merapi (sebalah Utara kota Jogja), Keraton Yogyakarata dan Pantai Selatan. Titik Nol pun menjadi simbol keramat yang penting dijaga keberadaanya oleh semua orang yang mencintai Jogja.

 

Zero Tolerance

Di tengah kecintaan banyak orang akan Jogja yang damai, kelompok tertentu justru datang merusaknya. Kelompok ini merusak citra Jogja tepat di jantung kota Jogja, Titik Nol.

Di Titik Nol, dengan alasan dogma agama, ormas Front Pembela Islam (FPI) memaksa pembongkaran patung artistik Manusia Akar yang telah lama berada di Titik Nol. Ormas ini terus menerus menteror kepala UPT Malioboro, Syarif Teguh, untuk melenyapkan patung Manusia Akar itu.

manusia-akar

(Patung Manusia Akar, Alfred Tuname)

Patung Manusia Akar sebenarnya sebuah ungkapan dan teguran kepada manusia untuk sadar dan mencintai lingkungan. Patung ini berwarna kemerahan, berkaki manusia dan bertubuh akar yang meranggas di antara kaki berotot itu. Karya kreatif seniman-seniman Jogja pada Event Bienalle Jogja 2011 ini pun diberi nama “Tropic Effect”. Karena, manusia di iklim tropis ini sudah terlalu kebablasan merusak lingkungan dan hutan, seakan manusialah yang paling perkasa di bumi ini.

Tetapi, di mata FPI patung ini adalah simbol kemusrikan. Dengan alasan porno dan cabul, mereka mendesak dan mencabut patung ini. Bagi FPI, tidak ada muatan estetik pada karya seni patung “Tropic Effect” itu. Patung itu sudah lama berada di Titik Nol, tetapi baru akhir-akhir ini mereka mendesak untuk dibongkar. Ironisnya, mereka justru melakukan itu dengan cara menteror. Jika patung itu musrik, bukankan seharusnya mereka mengajukan keberatan itu sejak pemasangannya dan dengan cara yang humanis demokratis? Ada yang aneh di sini.

Terlepas dari situ, sikap FPI ini sudah keterlaluan. Dengan alasan dogma, FPI tidak memiliki sikap toleransi sama sekali. Islam yang kita kenal adalah Islam yang damai; Islam yang rahmatan lil’ alamin. Islam menghargai satu sama lain. Toleransi Islam dibangun di atas alasan-alasan menghormati kebebasan berpendapat dan berkeyakinan (hurriyyah alra’yi wa al-i’tiqad) dan komitmen untuk hidup berdampingan secara damai (ta’ayusy/coexistence) (Irwan Masduqi, 2011). Islam yang toleran, termasuk menghargai karya seni. Tetapi islam “aliran” FPI ini sesungguhnya telah menistai agama Islam itu sendiri. FPI mengaburkan nilai-nilai islami yang agung.

Rekam jejak FPI di negeri ini sudah sering merusak nilai toleransi bangsa Indonesia. FPI terlalu konsisten dengan sikap tidak toleran itu (consistency of intolerance). Tentu, masyarakat Jogja pun sangat tersinggung dengan consistency of intolerance of FPI ini. Citra Jogja sebagai City of Tolerance telah dicoreng oleh FPI. Parahnya, itu terjadi di sumbu keramat kota Jogja, Titik Nol. Zero tolerance di Titik Nol Jogja.

Sebagai infantri agama, FPI seharusnya mengusung pesan-pesan damai. Tidak pantas FPI merusak humanitas agama dengan perbuatan-perbuatan yang merusak. Ada cara yang lebih dialogis dan humanis jika ingin menyuarakan ketidaksetujuan atas aktivitas pun karya tertentu. Biarlah aparatus negara yang melakukan “kekerasan” atas nama negara, jika memang aktivitas pun karya melukai semangat kebersamaan. FPI tidak bisa melakukan tindakan sewenang-wenang.

Zero tolerance di Titik Nol Jogja sudah menunjukkan betapa biadab dan sewenang-wenangnya FPI terhadap kemanusiaan. Mereka sejatinya telah menistakan nilai-nilai agama dan merusak kebersamaan. Negara harus mengambil sikap tegas atas kelompok ini. Tidak boleh ada toleransi terhadap intoleransi. Jangan sampai ada “negara” di dalam negara yang berhak menggunakan kekerasan dan teror. Pemerintah harus tegas terhadap kelompok-kelompok yang tidak toleran ini, sebab hanya dengan itulah Pancasila tetap kokoh. Atas nama demokrasi, negera pun harus adil.

 

12 Februari 2014

Alfred Tuname

http://www.weeklyline.net/humaniora/20140213/jogja-menangis-sebab-fpi-merobek-jantung-toleransi.html

 

Artikel terkait:

Suara Preman Adalah Suara Tuhan (http://baltyra.com/2012/09/05/suara-preman-adalah-suara-tuhan/)

Negeri Preman Berjubah (http://baltyra.com/2012/05/22/negeri-preman-berjubah/)

 

 

193 Comments to "Jogja Menangis, Sebab FPI Merobek Jantung Toleransi"

  1. NAT  28 May, 2014 at 14:49

    FPI layak diberantas sebelum menjadi Boko Haram Indonesia………..

  2. Alfred Tuname  20 April, 2014 at 21:25

    bang Abdullah, setuju.. FPI adalah musuh dalam daging. Tentu ia harus dibakar dan dilenyapkan. Sebab, jika dibiarkan ia akan berkembang jadi tumor yang dapat meresahkan tubuh nasionalisme bangsa ini… salam nasionalisme.

  3. Abdullah  19 April, 2014 at 04:57

    FPI sudah layak dianggap teroris karena tindak tanduknya meresahkan masyarakat. Sudah saatnya pemerintah menindak tegas organisasi semacam FPI.

  4. Nova  7 April, 2014 at 10:27

    Di Poso (Sulteng) dan Ambon justru lebih parah. Jejaring suatu umat beragama minoritas di NKRI, tetapi mayoritas di Dati II tersebut justru melakukan massacre, tidak mencabut patung tetapi mencabuti nyawa manusia secara massal dan menimbulkan konflik agama. FPI bikin masalah, mereka juga buat masalah.
    Dan problem disana ini adalah berbasis pada jejaring keagamaan mereka hingga Salatiga di Jateng. Seorang dosen di Universitas Tompotika (Luwuk) sudah melakukan riset untuk S-2 tentang kasus Poso, silakan dicek hasil riset beliau di Fak FISIP UGM.

  5. Agoes Soesanto  1 April, 2014 at 15:30

    Sebagai Orang Jogya Asli, saya merasa malu pada dunia melihat prilaku FPI ( orang asli indonesia ) yg dengan teganya menghancurkan dan memprovokasi bangsa dan negara ini. Ingat bro kita hidup di Indonesia bukan di negara Arab yg kental dengan hukum Islam, klo aturan itu kamu gunakan silakan jd warga negara Arab sana. Dasar preman kampungan loe.

  6. bangdul  1 April, 2014 at 15:18

    Jangan merusak citra bangsa sendiri, hargai dan hormati has asasi orang lain, jangan sedikit2 sedikit bilang pornografi. klo FPI bilang pornografi suruh jelas’in dari memandangnya dari sudut mana. Sy kasihan melihat orang yg pola fikirnya ideot seperti itu. Kita ini negara Hukum jgn bikin aturan sendiri. wis Pokok’e aku sangat tdk setuju dgn pemikiran FPI yg kampungan.

  7. an**nglufpi  1 April, 2014 at 00:20

    FPI sok sok mau mengatur negara neh lama2.. yg porno bukan patungnya, cuman otak lu aja yg kepornoan.. liat patung begitu uda dibilang porno.. tolol ga punya otak lu FPI

  8. Evelinne  30 March, 2014 at 23:35

    FPI baji**an
    Buat o agama sendiri
    Jangan pake kedok islam
    Nanti kamu yang bang**t yang lain kena
    Kasian
    Kamu yang lebih mirip sama anj*** yang suka “jajan”
    Pergi aja jauh2
    Dasar teroris
    ANJ*** LOE

  9. frans lanang alviano  3 March, 2014 at 23:50

    Sebuah tindakan picik,menggunakan agama sebagai sarana untuk menjajah. Membinasakan kebhinekaan Indonesia sama dengam menyulut api perang dengan kami bagian yang mencintai indahnya kebhinekaan

  10. meilina  26 February, 2014 at 23:41

    patung itu dibilang porno, jd mikir porno nya di sebelah mana ya? mungkin porno nya ada di pikiran mereka sendiri. macam buruk rupa cermin di belah. pikiran fpi sendiri yg negatif tp mencari kambing hitam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.