[Di Ujung Langit – Zaijian Wo de Ai] Pangeranku

Liana Safitri

 

FRANKLIN menjalankan mobil perlahan-lahan sambil melihat ke kanan dan ke kiri, berharap menemukan Lydia. Hatinya cemas. Lydia sama sekali tidak mengenal daerah ini, bagaimana kalau tersesat? Franklin memaki-maki diri sendiri karena begitu gegabah. Seharusnya Franklin bisa memahami perasaan Lydia yang terluka karena sedang bermasalah dengan Tian Ya. Kenapa harus membuat Lydia terkejut?

Lydia merasa akan jatuh pingsan. Kakinya sakit karena terlalu lama berjalan, tenggorokannya kering karena kehausan, dan perutnya perih karena kelaparan. Tapi dompet Lydia ada di dalam tas dan tertinggal di mobil Franklin. Hanya ponsel di saku baju Lydia yang terus-menerus berbunyi dan tidak diangkat. Lydia tahu itu dari Franklin.

Tin… tin…! Sebuah mobil berhenti tepat di samping Lydia.

“Ni zai gan shenme?” (你在干什么, Kau sedang apa?)

“Papa…” Lydia sangat terkejut melihat Tuan Li. Tuan Li terheran-heran dengan keadaan Lydia yang penuh keringat, wajahnya merah kepanasan, apalagi jalan kaki sendirian. Lydia merasa malu, tapi memaksakan diri tersenyum. “Aku sedang menunggu taksi.”

“Ayo aku antar saja!”

Lydia mengikuti Tuan Li masuk ke mobil.

“Tadi aku dari supermarket lalu melihatmu. Kau mau pulang?”

“Tidak! Aku tidak mau pulang!”

“Kau mau ke mana?”

Lydia tak segera menjawab. Tuan Li menduga pasti sedang ada masalah. Beberapa saat kemudian Tuan Li berkata, “Jangan pedulikan apa yang dikatakan orang-orang di luar. Gosip itu akan segera menghilang kalau kita tidak menanggapi.” Rupanya Tuan Li juga tahu tentang berita di koran tentang Lydia dan Tian Ya.

Nyonya Li sangat senang melihat suaminya bersama Lydia. “Oh, Lydia! Aku tak menyangka kau akan datang! Kemarilah!” Nyonya Li menarik Lydia ke ruang tengah. Seperti kegemarannya memasak, Nyonya Li selalu mempunyai kue yang disajikan untuk tamu yang datang ke rumah. Pada saat itu Tian Ya keluar dari kamar. Lydia dan Tian Ya bertukar pandang tapi keduanya tak menyapa. Tian Ya mengambil segelas air lalu kembali ke kamar lagi. Tuan Li maupun Nyonya Li dapat merasakan suasana canggung yang muncul di antara Lydia dan Tian Ya.

Nyonya Li mengajak Lydia mengobrol ke sana kemari, namun menghindari topik berita yang muncul di koran. Lydia menanggapi dengan tidak bersemangat. Nyonya Li menatap Lydia dan baru menyadari ada yang aneh. “Lydia, wajahmu pucat sekali! Apakah kau sakit?”

“Tidak. Aku hanya sedikit pusing.”

“Ya ampun! Mengapa kau tidak bilang? Sepertinya aku masih punya simpanan obat…” Nyonya Li sibuk mencari di kamarnya.

Nyonya Li menyuruh Lydia menginap di rumahnya malam itu. Awalnya Lydia menolak, tapi Tuan dan Nyonya Li terus memaksa. Lagi pula Lydia juga kebingungan, ia enggan pulang ke rumah karena masalahnya dengan Franklin. Jadi meski Lydia dan Tian Ya masih tidak saling bicara, Lydia tidur di kamar Tian Ya, sedangkan Tian Ya tidur di ruang tamu. Pertama kalinya Lydia menginap di rumah keluarga Li, Lydia merasa seperti kembali ke masa lalu menjadi seorang gadis kecil. Malam yang tenang merangkak dengan perlahan-lahan. Saat semua orang sedang beristirahat melepas lelah setelah seharian beraktivitas, ada yang mengetuk pintu rumah keluarga Li. Tuan dan Nyonaya Li heran, siapa yang bertamu selarut ini? Malahan sudah hampir pagi. Tian Ya yang tidur di sofa ruang tamu juga terbangun. Ia ingin mengabaikan dan kembali tidur, tapi pintu digedor makin keras. Dengan mata yang masih mengantuk Tian Ya membukakan pintu. Rasa kantuk Tian Ya hilang begitu melihat siapa yang datang. Franklin.

“Apa Lydia ada di sini?” tanya Franklin.

“Siapa Tian Ya?” Tuan Li bertanya dari dalam.

Ketika Tuan dan Nyonya Li keluar dari kamar, Tian Ya dan Franklin sedang beradu pandang dengan tegang.

“Dia Franklin, kakak Lydia.” Tian Ya berkata pada Tuan dan Nyonya Li yang baru pertama kali bertemu Franklin.

Franklin diantar ke kamar tempat Lydia tidur. Nyonya Li berusaha memberi penjelasan. “Tadi sore suamiku bertemu Lydia yang sedang menunggu kendaraan umum, lalu mengajak Lydia mampir ke rumah kami.”

Franklin melihat Lydia sedang tidur nyenyak. Dari foto yang terpajang di dinding, Franklin tahu kalau itu adalah kamar Tian Ya. Hati Franklin memanas. “Maaf, adikku sudah merepotkan! Sekarang aku akan mengajaknya pulang!”

Tuan Li mengerutkan alis, “Lydia sedang tidak enak badan. Lagi pula sekarang sudah jam dua dini hari! Kulihat kau juga tidak bawa mobil, sebaiknya tunggu sampai pagi. Tian Ya akan mengantar kalian pulang sambil berangkat ke kantor.”

“Tidak usah! Kami pulang sekarang saja.” Franklin berkata dingin. Tanpa menghiraukan Tuan dan Nyonya Li, Franklin duduk di pinggir tempat tidur. Ia mengulurkan tangan meraba dahi Lydia, memeriksa suhu tubuhnya. Gerakan Franklin membuat Lydia terbangun. Saat membuka mata dan melihat Franklin ada di dekatnya, Lydia mengira ia sedang bermimpi. Franklin sangat marah karena Lydia ada di rumah Tian Ya, tapi setelah tahu Lydia sakit ia jadi melunak.

“Kakak…” Lydia kembali limbung dan jatuh di kasur. Franklin buru-buru menopang tubuhnya. “Ayo kita pulang, nanti aku panggilkan dokter!”

Tuan Li berusaha menghalangi, “Kau benar-benar akan membawa Lydia pulang dalam keadaan begini? Lihatlah, bahkan untuk berdiri saja mungkin ia tidak sanggup!”

“Aku tak bisa membiarkan Lydia tidur di rumah orang lain, ini akan menjadi kebiasaan buruk!”

Lydia merasa malu dan tidak enak hati pada Tuan dan Nyonya Li. Ia buru-buru berkata, “Aku baik-baik saja. Mama dan Papa tidak perlu khawatir. Kalau ada waktu aku pasti kemari lagi.”

Ketika mendengar Lydia memanggil Tuan dan Nyonya Li dengan sebutan “papa” dan “mama”, telinga Franklin langsung memerah. Ditambah lagi melihat betapa baiknya sepasang suami istri itu pada Lydia, Franklin tak tahu lagi perasaan apa yang kini menguasai hatinya. Ternyata di luar rumah, tanpa ia ketahui ada sebuah keluarga yang sangat memperhatikan Lydia, memperlakukan Lydia seperti anak mereka sendiri. Cemburukah ia?

Franklin berjongkok membelakangi Lydia. “Naiklah ke punggungku!” Belum sempat Lydia bereaksi, Franklin sudah menarik kedua tangan Lydia dan melingkarkan ke lehernya. Tian Ya yang sejak tadi duduk mendengarkan dari ruang tamu, hanya bisa diam melihat Franklin keluar menggendong Lydia. Tian Ya kesal dan marah tanpa alasan.

Franklin menyusuri jalanan yang sunyi sambil menggendong Lydia. Kepala Lydia bersandar di bahu Franklin. Franklin sangat khawatir, mencari Lydia ke mana-mana. Dan karena terburu-buru ia sampai meninggalkan mobil di rumah Eugene. Franklin datang ke rumah Tian Ya hanya dengan berjalan kaki.

“Kalau aku menikah denganmu…” suara Lydia bagaikan serpihan daun kering yang jatuh ke tanah dan terbang ditiup angin, nyaris tak terdengar. “Apakah aku masih bisa terus mengarang?”

Franklin berhenti melangkah. Ada kesedihan yang menusuk hati Franklin karena ia tahu kalimat ini tak mudah diucapkan Lydia.

“Ya…”

Sedetik kemudian Franklin merasakan ada sesuatu yang hangat menetes dan mengalir di lehernya, air mata.

Setelah sarapan, Lydia sudah ditunggu Franklin dan kedua orangtuanya di ruang keluarga. Lydia merasa waswas, menebak akan ada sesuatu yang terjadi. Lydia duduk di sebelah Franklin.

Pak Yudha berkata dengan suara berat, “Pernikahanmu dengan Franklin akan dilangsungkan bulan depan.” Kalimat ini seperti sebuah tongkat yang dipukulkan ke kepala Lydia dengan keras. Dalam hati ia berteriak menolak, namun tak mampu membuka mulut. Seluruh tenaga Lydia telah disedot habis hingga tak menunjukkan reaksi apa-apa.

Lydia mengurung diri di kamar seharian. Apa yang dibicarakan Pak Yudha masih tak dapat dicerna otaknya. Ia duduk di lantai, mengabaikan Franklin yang mengetuk pintu kamar. Lydia menatap langit yang sudah mulai gelap melalui jendela. Seolah ada sebuah kekuatan besar yang mendorong Lydia bangkit berdiri. Ia menyambar jaket dan mengenakan sepatu.

Lydia berdiri termangu di depan gedung SKY School. Semenjak bertengkar dengan Tian Ya dua hari yang lalu, ia belum datang kemari lagi. Apakah Tian Ya masih mau mendengar apa yang ingin Lydia katakan? Ketika Lydia sedang berpikir begitu, seseorang keluar dari salah satu ruang kelas. Mereka saling bertatapan.

“Aku tak bisa mengajar di sini lagi…”

“Aku tahu. Tidak apa-apa. Mungkin kau memang tidak cocok bekerja di SKY School. Semoga kau dapat pekerjaan yang lebih baik.” Tian Ya menanggapinya dengan tenang, seolah-olah memang sudah tidak membutuhkan Lydia.

Lydia menarik napas dalam-dalam lalu berkata lagi, “Aku akan menikah dengan Kakak!” Lydia menunggu apa yang akan dikatakan Tian Ya, tapi ekpresi wajah Tian Ya sulit ditebak.

“Oh, benarkah?” Tian Ya tersenyum samar. “Ini hal yang membahagiakan. Aku rasa Franklin orang yang sangat baik. Dia akan menjagamu, kau akan hidup bahagia bersamanya. Aku ucapkan selamat.”

Hanya begitu saja? Ucapan selamat! Ini bukanlah yang diinginkan Lydia dari Tian Ya. Mengapa Tian Ya tidak peduli? Sekali lagi Lydia terluka. Ia menelan ludah, “Baiklah Tian Ya, aku harap kau bisa hadir di acara pernikahan kami!” Setelah berkata begitu Lydia meninggalkan Tian Ya tanpa menoleh lagi.

 

Beberapa hari kemudian Brenda datang ke rumah Tian Ya bersama Johnny.

“Li Tian Ya, dasar brengsek, kau!” Baru saja membuka pintu, Tian Ya sudah dimaki oleh Brenda.

“Ada apa?” Tian Ya bertanya heran.

Brenda mengatur napasnya yang tersengal-sengal sebelum melanjutkan, “Tahukah kau Lydia akan menikah dengan Franklin?”

“Ya. Lydia ingin aku datang ke pesta pernikahannya. Apakah kalian dapat undangan juga?”

Brenda menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Ia marah sekaligus kecewa pada Tian Ya. Ia berteriak, “Lydia menyukaimu! Lydia mencintaimu, Tian Ya! Dia datang menemuimu waktu itu berharap agar kau mencegahnya menikah dengan Franklin!” Brenda marah sekali.

Johnny memegang lengan Brenda berusaha menenangkannya. “Brenda, jangan berteriak-teriak seperti itu! Malu didengar orang!” Johnny membuka tas mengeluarkan beberapa majalah dan diberikannya pada Tian Ya. “Di sini ada puisi karangan Lydia. Bacalah, kau akan mengerti!” Tian Ya menerima semua majalah itu dengan bingung. Di kamarnya, Tian Ya membuka-buka majalah yang diberikan Johnny. Ada banyak sekali puisi Lydia yang selalu disertai kalimat persembahan untuk seseorang.

 

-Teruntuk seseorang yang jauh di sana, namun selalu tersimpan di lubuk hati.

-Bagi dia dimanapun berada, aku selalu mengingatnya.

-Untuk mengenang masa kecil kami yang penuh warna.

-Kepada seseorang yang ingin selalu bersama, namun takdir tak izinkan jua.

 

-Bagimu yang pergi tinggalkan sejuta asa

meskipun gunung dan lautan memosahkan kita

Akan ada suatu masa

yang bersiap menyambut pertemuan berikutnya

 

-Pada seseorang yang selalu membuatku rindu,

Dapatkah kau mendengar syair pilu

dari ruang kosong yang kusisakan untukmu?

 

Kalimat persembahan itu semua ditujukan pada Tian Ya. Kemudian Tian Ya menemukan puisi berjudul Kepada sang Bintang yang Bertahta di Langit Hati. Dibacanya puisi tersebut berulang-ulang. Hati Tian Ya seperti dicambuk. Dari Li untuk Li, puisi ini ditulis oleh Lydia untuk Li Tian Ya! Dengan tangan bergetar Tian Ya membuka laci meja belajar, mengambil sapu tangan yang diberikan Lydia dulu dan masih disimpan hingga sekarang. Tulisan LILY bukan hanya berarti bunga lili, tapi juga merupakan singkatan nama LI tian ya-LYdia! Tian Ya terenyak ke sandaran kursi. Lydia sudah lama menuliskan nama Li Tian Ya dalam hatinya, di mana-mana, berharap Tian Ya bisa memahaminya sendiri. Tapi Tian Ya tidak peka.

“Aku adalah penggemarmu, pembaca tulisanmu sejak dulu, yang selalu menerima persembahan karyamu, tapi tidak pernah memahami isi hatimu…”

Perlahan-lahan Tian Ya mulai mengenali perasaan itu.

tong_hua

Ponsel berbunyi.

Ketika Lydia mendekatkannya ke telinga, terdengarlah suara nyanyian.

Ni ku zhao dui wo shuo

你哭着对我说

Tong hua li du shi pian ren de

童话里都是骗人的

Wo bu ke neng shi ni de wang zi

我不可能是你的王子

Ye xu ni bu hui dong

也许你不会懂

Cong ni shuo ai wo yi hou

从你说爱我以后

Wo de tian kong xing xing dou liang le

我的天空星星都亮了

(Kau berkata kepadaku sambil menangis

kalau semua dongeng itu hanyalah bohong.

Aku tak dapat menjadi  pangeranmu.

Mungkin kau tidak mengerti, sejak kau mengatakan cinta padaku,

Di langitku, bintang-bintang memancarkan cahaya…)

 

Lydia tak sanggup berkata-kata. Itu adalah penggalan lagu Tong Hua (). Ia tahu ke mana dirinya harus pergi sekarang…

Taman Hati.

Sudah sepuluh tahun Lydia tidak datang ke tempat ini. Di sana tidak ada siapa-siapa. Keadaan taman tak berubah sedikit pun. Nostalgia menyerbu masuk memenuhi hati dan pikiran Lydia, membuatnya sesak.

Tiba-tiba ada seseorang yang memeluk Lydia dari belakang.

“Duibuqi…! Duibuqi Lydia… Wo zhende hen baoqian…” (对不起对不起, 我真的很抱歉, Maaf…! Maaf Lydia… Aku sungguh menyesal…)

Seluruh tubuh Lydia serasa membeku.

Seperti di masa lalu, Lydia dan Tian Ya duduk di atas rerumputan. Masing-masing merasa pilu oleh pengakuan yang terlambat.

“Aku akan menikah…”

“Tidak boleh!”

Lydia mendesah putus asa. “Lalu aku harus bagaimana? Aku masih ingat dengan kisah Pemuda Gembala dan Gadis Penenun yang kau ceritakan dulu. Sepertinya kita akan menjadi Niu Lang dan Zhi Nu yang kedua.”

“Aku tidak mau seperti Niu Lang dan Zhi Nu! Kita lebih baik daripada mereka! Kau harus menentang pernikahan gila ini. Asal kau tidak bersedia, Franklin juga tidak mungkin menyeretmu ke pelaminan!” Tian Ya bersikeras.

“Mungkin saja! Aku lebih tahu kakakku dibandingkan siapa pun!”

Lydia dan Tian Ya kembali terdiam.

“Dan kau sendiri, apa yang akan kau lakukan?” tanya Lydia akhirnya.

“Aku akan bicarakan masalah ini dengan mama dan papa.”

“Apakah mereka menyetujui hubungan kita?”

“Tentu saja! Mama dan papaku sudah mengaanggapmu seperti anak sendiri, Lydia.” Tian Ya menggertakkan gigi, “Kalau tidak bisa juga, kita terpaksa pergi dari sini!”

Lydia tersentak, “Apa katamu? Tidak! Aku tak bisa melakukan itu! Kita jangan bertindak sembarangan, Tian Ya!”

Aku tak mungkin hidup tanpa Kakak…

“Kalau begitu bagaimana denganku?” Tian Ya menatap Lydia dengan tajam.

“Wo bu yao likai ni…” (我不要离开你, Aku tak mau meninggalkanmu…)

 

16 Comments to "[Di Ujung Langit – Zaijian Wo de Ai] Pangeranku"

  1. Dewi Aichi  19 February, 2014 at 10:14

    Kayaknya bakal menikah deh sama kakaknya…Tian telat sih…

  2. Liana  19 February, 2014 at 09:21

    Wah, enak itu! Tapi di Indo sudah hampir 5th lebih tv swasta tidak tayangkan drama Taiwan. Yang ada cm Korea. Saya juga suka Korea, tapi pengen ada selingan Taiwan. Kangen, masa jaya-jayanya drama Taiwan dulu…

  3. Liana  19 February, 2014 at 09:16

    Kok “viewed” nya jadi melonjak tajam? Tumben… Apa gara-gara “TONG HUA”-nya Michael Guang?

  4. [email protected]  19 February, 2014 at 09:16

    Hahaha…. di singapura… tiap sabtu dan minggu di rumah omanya istriku…. pasti nonton drama taiwan…. 2jam lah….

    bisa mati gila nonton itu…. ya gitu itu….

  5. Liana  19 February, 2014 at 09:03

    Pak Handoko : Maunya saya juga begitu
    [email protected]… : Whaaa… suka nonton drama Taiwan, ya??? Tapi ini kolaborasi Taiwan-Indonesia. Hehehe

  6. [email protected]  19 February, 2014 at 08:04

    kan alur cerita film taiwan gituh tuh…. si jahat jadi baik, udah baik jadi jahat lagi trus baik lagi trus MATI!!!…

    yah….
    berhubung satu itu dari taiwan…. pasti deh ada yang mampus

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.