Pedagang Asongan Masa Kolonial Belanda

Joko Prayitno

 

Pelarangan, penggusuran bahkan pengusiran para pedagang asongan di beberapa stasiun kereta api menjadi topik berita beberapa waktu yang lalu. Ketika stasiun kereta api mulai menampilkan wajah modernitasnya dengan menjaga ketertiban dan keteraturannya maka sesuatu yang dianggap mengganggu harus disingkirkan. Pedagang asongan mungkin sesuatu yang dianggap mengganggu dan harus diusir, dilarang untuk berjualan di stasiun kereta api. Dan digantikan dengan “franchise-franchise” modern yang lebih teratur dan tentunya memiliki pemasukan-pemasukan bagi stasiun yang menguntungkan. Bahkan diberlakukan juga bagi stasiun-stasiun yang memberangkatkan kereta kelas Ekonomi. Atau bisa juga dalam bisnis hal ini untuk meningkatkan pelayanan bagi masyarakat pengguna jasa kereta api terhadap gangguan dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh para pedagang, pengamen, dan para pengais rejeki lainnya di stasiun maupun di dalam kereta api.  Tentunya hal ini menjadi pro dan kontra dalam masyarakat.

de-spoor-kedoe-javanese-railway-1910

Pedagang Asongan di Stasiun Kedoe, Jawa Tengah 1910 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Rupanya pada masa kolonial Belanda, para pedagang asongan di stasiun kereta telah ada untuk mengais rejeki seperti ditunjukkan oleh foto koleksi KITLV. Di Stasiun Kereta Kedoe terlihat seorang ibu-ibu menjajakan makanan di dalam wadah tampah terbuat dari bambu yang disungggi dikepalanya. Melintasi dari gerbong satu ke gerbong lainnya dan akan menjajakan dagangannya kepada penumpang di gerbong kereta, sedangkan di gerbong yang belakang terlihat seorang ibu pedagang sedang menawarkan dagangan mereka berupa makanan kepada para penumpang. Dan terlihat pula penumpang tersebut mengambil makanan yang ditawarkan.

europeanen-in-de-trein-van-de-samarang-joana-stoomtram-maatschappij-vermoedelijk-bij-rembang-1914

Kereta dengan penumpang bangsa Eropa dan Pengemis di Stasiun Juwana Semarang 1914 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Kereta ini kemungkinan bukan kereta yang biasa ditumpangi oleh para bangsawan ataupun masyarakat Eropa, tetapi penumpang pribumi Jawa bahkan China terlihat dari wajah mereka dan pakaian mereka serta mungkin juga dari tanda di gerbong kereta. Ya kereta klas III yang diperuntukan bagi pribumi dan masyarakat kecil lainnya. Memang kereta pada masa kolonial dapat menjadi potret bagi politik rasial masyarakat kolonial Hindia Belanda. Masyarakat Eropa, Bangsawan kaya biasa menggunakan kereta kelas I atau II yang memiliki fasilitas lebih nyaman dibandingkan kereta kelas III.

pedagang-asongan-di-station-depok-sleman-jogjakarta-1925

Pedagang Asongan di Station Depok Sleman Jogjakarta 1925 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Dalam beberapa kesempatan potret masa lampau di stasiun kereta memang terkadang dapat ditemukan pemandangan ini, tidak terkecuali di kereta-kereta Kelas I yang dinaiki para bangsawan maupun Eropa terlihat para pedagang asongan dan bahkan pengemis (gambar 2). Mereka menjajakan dagangannya kepada para penumpang ketika kereta berhenti di stasiun. Hal sama juga terlihat di stasiun Depok (Maguwoharjo) Sleman, Yogyakarta dimana seorang pedagang asongan sedang mendekati kereta yang sedang berhenti untuk menawarkan dagangannya.

Fenomena pedagang asongan telah ada sejak masa lampau ketika Hindia Belanda mulai memodernkan diri. Maka tidak berlebihan juga bila stasiun sebagai tempat berkumpulnya banyak orang menjadi ladang subur untuk mengais rejeki. Hanya saja tindakan manusiawi harus dikedepankan untuk mengatur para pedagang asongan ini untuk masa sekarang, agar konflik sosial tidak menjadi berkepanjangan.

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2014/02/11/pedagang-asongan-masa-kolonial-belanda/

 

29 Comments to "Pedagang Asongan Masa Kolonial Belanda"

  1. Joko Prayitno  23 February, 2014 at 19:28

    SEkarang mungkin sudah banyak menghilang mbak NIa..akibat kebijakan larangan para asongan di kereta dan stasiun….

  2. nia  21 February, 2014 at 10:58

    waktu kecil keluarga saya sering naik kereta KRD/ KRL Semarang – Cepu – Semarang. PASTI kami beli nasi pecel dari penjual yang ikut naik ke gerbong. kalau tidak salah pusatnya di stasiun Kradenan. Hanya makanan ini yg kami berani beli dan makan karena nasi dan sayurannya masih kebul-kebul baru dimasak. kalau makanan lain kami tidak pernah beli karena takut tidak bersih (basi).
    pernah suatu ketika kami kelaparan karena tidak ada penjual pecel ternyata waktu itu sudah ada larangan penjual tidak boleh naik ke gerbong tapi sebenarnya masih bisa beli nasi pecel bungkusan dari jendela gerbong. sayang waktu itu kami tidak tahu. makanan yang sama tapi penyajiannya berbeda jadi beda juga nikmatnya. kalau penjual naik ke gerbong nasi pecel disajikan dengan pincuk dan kita bisa ngobrol-ngobrol dengan penjualnya
    entah bagaimana ceritanya sekarang. sudah lama sekali tidak ke Cepu

  3. Joko Prayitno  21 February, 2014 at 10:19

    Mbak Dewi, Memang seharusnya mereka diatur dan ditata secara manusiawi, diberi akses yang jelas oleh pemerintah maupun pihak stasiun dan terminal agar bisa berkembang…thanks

  4. Joko Prayitno  21 February, 2014 at 10:17

    Saya sepakat mbak Lani, Untuk mengurangi kepadatan kendaraan dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi

  5. Joko Prayitno  21 February, 2014 at 10:08

    Begitulah om Iwan….selain Asongan juga ada kelompok becak dan pemulung, tetapi karena pendampingannya kurang maksimal akhirnya gagal semua….sedih juga

  6. Joko Prayitno  21 February, 2014 at 10:06

    Mas Joseph saya berpikiran setiap ada kemajuan pasti menimbulkan efek terciptanya mata pencaharian baru dan bahkan lebih ekstrim bisa menghilangkan mata pencaharian lama….

  7. Dewi Aichi  21 February, 2014 at 01:58

    Pedagang asongan, menurut saya lho ya, bisa dikatakan sebagain dari budaya kehidupan masyarakat Indonesia. adanya pedagang asongan membuat daya tarik sendiri bagi bangsa Indonesia, keberadaan mereka, merupakan ciri khas dan karakter bangsa. Hanya satu yang perlu diperhatikan, yaitu pedagang asongan tidak boleh mengganggu ketertiban umum, harus menjaga kebersihan, dan tertib. Sepakat dengan komentar pak Iwan Satyanegara Kamah, mereka yang belum sadar akan ketertiban umum, kebersihan, disiplin memang harus dibina. Sebenarnya mereka juga sama dengan pengusaha kecil, mereka hidup dengan cara menciptakan lapangan kerja sendiri, tidak bergantung pada boss atau atasan,mereka mandiri. Tidak berkaitan dengan lapangan kerja yang tidak ada(pemerintah tidak bisa menciptakan palangan kerja bagi SDM yang miliki bangsa ini).Pedagang asongan, angkringan, rumah-rumah makan tenda yang semarak di malam hari, pedagang kaki lima, biarkan saja ada di Indonesia, asal tertib dan tidak mengganggu lingkungan, sejak jaman kolonial Belanda hingga sekarang sudah ada pedagang asongan, yang masih tersisa dan merakyat dalam aura masyarakat kelas bawah yang sederhana.
    Tidak usah dijadikan kayak amerika, Eropa, Jepang, Singapore yang bebas pedagang asongan, membosankan ha ha…tidak ada cerita, biarkan Indonesia tetap ada pedagang asongan, bangsa Eropa, Jepang, dan negara maju lainnya yang sunyi, pasti menikmati kok nuansa dan suasana seperti di Indonesia.

  8. Lani  21 February, 2014 at 00:42

    JP : mmg terkait dgn bisnis sih, tp klu bs dikelola dgn baik dampaknya pasti sgt menyenangkan krn mengurangi kendaraan pribadi dijalur publik………selain itu krn aku sll numpak kereta ktk travel di Eropa……….rasanya efektif banget……..krn semua bs dijangkau……namanya jg berbeda ada yg tram, metro, dan kereta antar kota bahkan luar negeri………….pokok-e seppppppppp

  9. Lani  21 February, 2014 at 00:40

    HAND : moco komentarmu……ngakak sampai hoyag-hayig kursiku……….ono2 wae, tuh pedagang asongan masuk kamar hotel, hopo tumon????? itu mah bukan jualan jajanan……….tp daging mentah seger kinyis2 yak-e wae lo ya……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.